NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8,1

Yamada berbalik, membelakangi monster besar itu. Punggungnya terasa sangat tidak aman, sangat terbuka, tapi dia memaksa kakinya untuk berjalan. Satu langkah, dua langkah, meninggalkan tiga bangkai serigala dan monster besar itu.

Namun setelah beberapa langkah, sekitar lima meter, dia berhenti. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya, rasa penasaran yang mengalahkan rasa malasnya untuk pertama kalinya.

"Hei." Dia memanggil tanpa berbalik.

Monster itu menatap punggungnya.

"Kalau aku kembali nanti... kalau aku sudah ingat, atau kalau aku sudah naik level dan tidak Level 1 lagi..." Yamada menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya, ke arah monster itu. "...kau harus menjawab semua pertanyaanku. Tidak boleh pakai jawaban 'belum waktunya' lagi. Jawab semuanya. Siapa aku, siapa kakakku, siapa kau, kenapa aku ada di tubuh ini."

Monster itu tertawa, tawa yang menggema di hutan, tawa yang membuat puluhan mata merah di kejauhan yang masih mengintai itu sedikit mundur ketakutan.

"Kalau kau masih hidup sampai saat itu, kalau kau bisa kembali ke pusat Hutan Elaria dengan kakimu sendiri, aku akan menjawab semuanya. Bahkan hal yang tidak kau tanyakan."

Yamada tersenyum kecil, senyum tipis yang penuh tantangan.

"Itu terdengar seperti tantangan. Dan aku benci tantangan, tapi aku lebih benci penasaran."

"Memang itu tantangan." Jawab monster itu. "Tantangan dari masa lalu untuk masa depanmu."

Yamada berbalik dan pergi, berjalan tertatih-tatih, menyeret pedang kayu setengahnya, menuju cahaya kecil dari rumahnya di kejauhan, meninggalkan monster besar itu berdiri diam di antara pepohonan, menatap punggungnya hingga hilang ditelan kegelapan.

Beberapa menit kemudian, dengan luka di lengan dan punggung yang perih, dengan pakaian mantel yang robek di beberapa tempat, Yamada kembali mendekati rumahnya. Lampu di ruang tengah masih menyala terang.

Namun dia tidak langsung masuk. Dia berhenti di belakang sebuah pohon besar di halaman belakang, pohon yang sama yang tadi pagi menjadi tempat latihan Elena.

Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang mengganjal di pikirannya, selain rasa sakit dan lelah.

"Kenapa dia membiarkanku pergi?" Gumamnya pelan pada dirinya sendiri dan pada teman sekamarnya di dalam kepala.

Karena dia mengenalmu. Dia bilang kau masih sama seperti dulu. Jawab Yamada yang asli.

"Justru itu yang aneh." Yamada menatap langit malam yang berbintang, mencoba berpikir jernih. "Kalau dia benar-benar mengenalku, seharusnya dia tahu aku berbahaya. Atau setidaknya... merepotkan. Kenapa dia melepaskan sesuatu yang berbahaya dengan mudah?"

Berbahaya? Kau? Level 1 melawan Level 80? Suara itu bertanya tidak percaya.

Yamada tersenyum, senyum malas yang jenius, meskipun wajahnya pucat.

"Aku jenius. Pemalas yang jenius itu berbahaya. Karena orang jenius yang rajin bisa ditebak, dia akan bekerja keras. Tapi orang jenius yang malas... tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan untuk menghindari kerja keras. Bahkan meledakkan gunung pun akan dia lakukan kalau itu membuatnya bisa tidur lebih lama."

Dan malas. Jangan lupa malasnya. Tambah suara itu, sedikit tertawa.

"Jangan merusak suasana dramatisnya." Balas Yamada.

Kesadaran kedua tertawa kecil, tawa yang tulus, tawa pertama yang benar-benar ringan sejak mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di dalam kegelapan dan saling mencurigai karena warning sistem, suasana di antara keduanya, di dalam satu kepala, terasa lebih ringan, lebih seperti teman.

Namun Yamada masih memikirkan satu hal, satu hal yang membuat senyumnya menghilang lagi.

Monster itu mengatakan dirinya adalah seseorang yang sudah pernah datang ke dunia ini, seseorang yang pernah memanggil tubuh ini.

Tetapi bagaimana mungkin? Dia, Yamada yang pendatang, baru pertama kali berada di dunia ini, baru tiga hari.

Atau...

mungkin tidak. Mungkin bukan pertama kali.

Ketika Yamada akhirnya memberanikan diri memasuki rumah, suasana di dalam langsung berubah total.

Ibunya yang dari tadi duduk di ruang tengah dengan wajah cemas, berlari menghampirinya dengan air mata.

"Yamada! Ya Tuhan! Kau pergi ke mana?! Ibu mencarimu ke mana-mana! Pintu belakang terbuka!"

"Aku baik-baik saja, Bu. Hanya keluar sebentar, cari angin malam." Jawab Yamada, mencoba terdengar santai, meskipun mantelnya robek dan ada darah kering di lengannya.

"Kau pergi ke mana dengan baju seperti ini?!" Ibunya memegang bahunya, memeriksa luka-lukanya dengan panik.

"Keluar sebentar." Ulangnya.

Ayahnya muncul dari belakang, dari ruang kerjanya. Wajahnya yang biasanya tegas dan tenang, kini terlihat tegang. Tatapannya langsung jatuh pada pakaian Yamada yang robek, luka gores di lengannya, dan pedang kayu patah yang masih dipegang Yamada.

"Kau bertarung." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Suara ayahnya berat.

Yamada diam, tidak bisa berbohong, karena bukti ada di tubuhnya.

Ayahnya mendekat, langkahnya berat, dan memegang lengan Yamada yang terluka, melihat goresan cakar itu.

"Dengan apa kau bertarung? Siapa yang melukaimu?"

"Monster." Jawab Yamada jujur, karena tidak ada alasan untuk berbohong lagi.

Wajah ayahnya berubah, dari tegang menjadi pucat.

"Monster? Monster apa? Di mana? Di kebun belakang?"

Yamada menunjuk ke arah hutan yang gelap di luar jendela, ke arah Hutan Elaria.

"Hutan Elaria. Di pinggirannya."

Wajah ayahnya langsung pucat pasi, seperti tidak ada darah lagi di wajahnya. Ibunya menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

"Kau pergi ke sana?! Setelah Ayah bilang jangan pernah ke sana lagi?! Kau tahu itu tempat terlarang! Kau bisa mati!"

"Maaf." Jawab Yamada pelan. Kata maaf yang tulus, karena dia tahu dia membuat mereka khawatir.

"Kau hampir mati! Lihat lukamu!" Ibunya hampir menangis, mengambil kain bersih untuk membersihkan lukanya.

Yamada terdiam, membiarkan ibunya membersihkan lukanya yang perih.

Ayahnya menatapnya lekat-lekat, dengan tatapan yang berbeda dari tadi pagi. Tatapan yang penuh ketakutan, tapi bukan ketakutan pada Yamada, ketakutan pada sesuatu yang lain.

Kemudian bertanya, dengan suara yang pelan tapi bergetar,

"Monster apa yang kau lihat? Jelaskan bentuknya. Satu per satu."

Yamada menyebutkan monster-monster yang dia lawan, dengan suara lelah. "Horned Direwolf. Tiga ekor. Level 12. Mata merah, tanduk hitam, bulu hitam. Aku mengalahkan mereka dengan... dengan menjatuhkan pohon."

Ayahnya mendengarkan, mengangguk, wajahnya masih tegang tapi masih bisa diterima, karena Horned Direwolf memang monster yang kadang keluar dari hutan, meskipun jarang.

Namun ketika Yamada menyebut monster terakhir— dengan suara yang lebih pelan—

"...dan satu lagi. Makhluk besar, hampir tiga meter, seperti serigala tapi berdiri, dengan tiga tanduk hitam seperti mahkota di kepalanya. Mata merah menyala. Dia... dia bisa berbicara."

Wajah ayahnya berubah total. Bukan lagi pucat, tapi putih seperti kertas. Matanya membelalak, napasnya tertahan.

"Apa katanya? Apa yang dia katakan padamu?" Tanya ayahnya dengan cepat, memegang kedua bahu Yamada dengan erat, cengkeraman yang kuat.

"Dia memanggil namaku." Jawab Yamada. "Dia tahu namaku."

Ayahnya membeku. Cengkeramannya di bahu Yamada mengencang.

"Dan?" Suara ayahnya hampir tidak terdengar, berbisik.

"Dia mengatakan bahwa dia yang membawaku kembali. Bahwa sudah waktunya aku mengingat siapa diriku."

Ruangan menjadi sunyi senyap. Lampu minyak di ruang tengah berkedip karena angin yang masuk dari pintu yang terbuka.

Yamada memperhatikan ekspresi ayahnya. Ekspresi yang belum pernah dia lihat sebelumnya, bahkan di ingatan sisa tubuh ini. Ketakutan yang murni, ketakutan yang dalam, ketakutan seorang ayah yang melihat hantu masa lalunya kembali.

"Jadi kau tahu." Kata Yamada pelan, menyimpulkan dari ekspresi ayahnya. "Ayah tahu siapa makhluk itu."

Ayahnya tidak menjawab. Tangannya masih memegang bahu Yamada, tapi gemetar.

"Ayah." Panggil Yamada lagi.

Pria itu mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, matanya memerah.

"Jangan pernah pergi ke hutan itu lagi." Ulangnya, dengan suara yang bergetar, perintah yang sama seperti tadi pagi, tapi kali ini dengan nada yang jauh lebih putus asa. "Jangan pernah lagi. Apapun yang terjadi, jangan pernah masuk lebih dalam dari pinggiran. Berjanjilah padaku, Yamada. Berjanjilah."

"Kenapa? Apa yang ada di hutan itu? Siapa makhluk itu? Kenapa Ayah terlihat sangat takut?" Yamada bertanya, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

"Karena..." Ayahnya berhenti, menatap mata Yamada, mata anaknya yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu, mata yang kini berisi dua jiwa.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Yamada yang baru ini, dia melihat ketakutan yang jelas, yang tidak disembunyikan, di wajah ayahnya yang selalu terlihat kuat dan tegas.

"...makhluk itu seharusnya sudah mati. Kami membunuhnya lima tahun lalu. Aku sendiri yang menusuk jantungnya."

Yamada menyipitkan mata, tidak mengerti.

"Apa maksudmu? Siapa yang membunuhnya?"

Ayahnya menatapnya, dengan air mata yang mulai menggenang di matanya yang tajam.

"Makhluk itu..." Napasnya berat, terengah-engah. "...adalah alasan kenapa kakakmu meninggal lima tahun lalu. Alasan kenapa malam itu rumah kita terbakar. Alasan kenapa ibumu menangis setiap malam selama setahun."

Yamada membeku. Otaknya berhenti bekerja.

Kakak? Kakak laki-laki? Dia tidak pernah tahu dia punya kakak. Tidak ada foto kakak di rumah. Tidak ada yang pernah menyebut kakak.

Kesadaran kedua, Yamada yang asli, tiba-tiba diam. Sangat diam. Diam yang tidak wajar, diam yang kosong.

Yamada memegang kepalanya, karena tiba-tiba rasa sakit kepala yang tadi di hutan datang lagi, lebih kuat, dipicu oleh kata 'kakak'.

Kemudian sebuah ingatan muncul, bukan kilasan paksa dari monster tadi, tapi ingatan yang muncul dari dalam tubuhnya sendiri, dari dalam jiwa aslinya, ingatan yang terkubur dalam-dalam.

Seorang anak laki-laki yang lebih tua, mungkin 19 tahun, dengan wajah yang sangat mirip dengannya, tapi lebih dewasa, lebih gagah, dengan senyum yang hangat, sedang mengacak-acak rambutnya dengan sayang.

"Jangan menangis, Yamada. Kakak ada di sini. Kakak akan selalu melindungimu. Tidurlah, besok kakak ajari cara memegang pedang yang benar."

Kemudian api hitam. Api hitam yang sama.

Darah yang menggenang.

Jeritan ibu yang memanggil nama kakaknya.

Dan sebuah suara berat dari dalam api hitam itu, suara monster bertanduk tiga itu, berkata dengan jelas,

"Aku akan kembali untuk mengambil adikmu. Adikmu sudah dijanjikan padaku sejak lahir. Lima tahun lagi, aku akan kembali."

Yamada terhuyung, hampir jatuh, berpegangan pada meja.

"Ugh..." Erangannya pelan.

Ibunya segera memegang tubuhnya, panik.

"Yamada! Yamada! Kau kenapa?! Lukamu sakit?!"

Yamada tidak menjawab. Air mata tiba-tiba mengalir dari matanya, deras, tanpa bisa ditahan. Air mata panas yang mengalir di pipi yang terluka.

Dia sendiri tidak tahu kenapa dia menangis. Dia, Yamada yang pemalas, yang bahkan tidak menangis saat mati ditabrak truk, kini menangis dengan deras.

"Aku..." Tangannya menyentuh wajahnya yang basah oleh air mata. "...kenapa aku menangis? Aku tidak sedih... aku tidak..."

Kesadaran kedua menjawab dengan suara bergetar, suara yang juga sedang menangis di dalam kepala, suara anak kecil yang kehilangan kakaknya.

Karena aku ingat. Aku ingat semuanya sekarang. Kakakku... Kakak Ren... dia mati melindungiku. Dia mati karena monster itu ingin mengambilku.

Yamada menutup matanya, membiarkan air mata itu mengalir, membiarkan kesedihan yang bukan berasal dari kehidupannya sendiri, kesedihan milik tubuh ini, milik jiwa asli ini, mengalir keluar.

Dan untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi...

dia merasakan kesedihan yang bukan berasal dari kehidupannya sendiri, kesedihan yang jauh lebih dalam dan lebih tulus daripada kemalasannya.

[System synchronization: 64% -> 68% - Increased due to emotional resonance.]

[Memory fragment unlocked: The Older Brother.]

[Host's previous memory has been restored: 15%.]

Yamada membuka mata yang masih basah oleh air mata. Di hadapannya, jendela sistem yang tadi error, kini muncul kembali dengan warna biru yang tenang, bukan merah.

Di hadapannya muncul satu kalimat, dengan tulisan putih yang dingin.

[Five years ago, on the night of the black fire, the host died.]

Yamada terdiam, napasnya tertahan, air matanya berhenti. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Apa?

Kemudian sistem, seolah-olah ingin memastikan dia mengerti kengerian itu, menampilkan kalimat berikutnya, dengan jeda yang menyiksa.

[Current body should not be alive. Soul should have departed 5 years ago.]

Yamada menatap tulisan itu, dengan mata yang masih basah, dengan tubuh yang masih gemetar karena tangisan orang lain.

Dan akhirnya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada monster Level 80 di hutan, jauh lebih mengerikan daripada hitungan mundur 29 hari.

Mungkin...

dia bukan orang pertama yang menggunakan tubuh ini sebagai wadah. Mungkin tubuh ini sudah lama kosong, sudah lama mati, dan dia... dia dan Yamada yang asli hanyalah penyewa kedua dan ketiga.

Mungkin pemilik pertama tubuh ini, kakak dari jiwa yang ada di dalam kepalanya, masih ada di suatu tempat, menunggu untuk kembali juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!