NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergolakan batin

Akhir pekan datang begitu cepat, membawa secercah warna baru di tengah hari-hari berat yang tengah dijalani Haruna. Kirana, yang mendapatkan kabar lengkap dari kedua orangtuanya tentang kondisi Nek Lasmi dan keputusan besar yang diambil sahabatnya, tak bisa tinggal diam.

Begitu mendengar berita itu, ia langsung bergegas menuju gubuk Haruna tanpa menunggu waktu lebih lama, hatinya dipenuhi kekhawatiran sepanjang perjalanan.

Sesampainya di depan gubuk, Kirana mengetuk pintu yang sedikit terbuka, mendapati pemandangan yang membuat dadanya terenyuh... Haruna sedang duduk di tepi ranjang, dengan sabar menyuapi Nek Lasmi sesendok demi sesendok bubur hangat, sesekali mengusap sudut bibir neneknya yang belepotan dengan lembut menggunakan kain kecil.

"Haruna," panggil Kirana pelan dari ambang pintu, suaranya bergetar menahan haru melihat pemandangan itu.

Haruna menoleh, dan seketika wajahnya berubah cerah melihat sahabatnya berdiri di sana. "Kak Kirana!" serunya, meletakkan mangkuk bubur ke atas meja kecil sebelum bangkit menghampiri.

Kedua sahabat itu langsung berpelukan erat. Namun di tengah pelukan hangat itu, tanpa disadari air mata Haruna mengalir begitu saja, membasahi pundak Kirana.

Selama ini ia selalu berusaha tegar di depan siapa pun, namun kehadiran Kirana yang begitu tulus seolah membuka kembali segala beban yang selama ini ia pendam sendirian.

"Kenapa nangis?" tanya Kirana lembut, mengusap punggung sahabatnya yang bergetar.

"Nggak apa-apa, Kak. Cuma... kangen aja," jawab Haruna, buru-buru menghapus air matanya, mencoba tersenyum meski matanya masih basah.

Kirana melepaskan pelukannya, lalu berjalan menghampiri ranjang Nek Lasmi, berjongkok di sampingnya dengan senyum hangat. "Nek, apa kabar? Kirana kangen banget sama Nenek."

Nek Lasmi hanya bisa menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca. Mencoba tersenyum meski separuh wajahnya masih kaku, tangannya yang lemah bergerak pelan seolah ingin menyapa balik.

"Nenek udah mendingan kok, Kak. Tinggal terapi rutin aja tiap minggu," jelas Haruna, duduk di sisi lain ranjang.

"Syukurlah," ucap Kirana lega, menggenggam sebentar tangan Nek Lasmi dengan penuh kasih sayang sebelum kembali menatap Haruna. "Har, Kakak bikinin minum dong, haus banget nih abis buru-buru ke sini."

"Oh iya, sebentar, Kak," Haruna segera bangkit menuju dapur, menyiapkan dua gelas teh hangat sebelum kembali membawanya ke ruang tengah tempat Kirana duduk menunggu di kursi kayu dekat ranjang Nek Lasmi.

"Nih, Kak," Haruna menyerahkan segelas teh, lalu duduk di samping sahabatnya.

Kirana menerima gelas itu, namun matanya menatap Haruna dengan serius. "Har, Kakak denger dari Mama, katanya kamu mutusin buat nggak lanjut kuliah? Itu... beneran?"

Haruna terdiam sejenak, menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, Kak. Haruna udah putusin itu."

"Tapi kenapa, Har? Itu kan beasiswa penuh, kesempatan langka banget. Kamu udah kerja keras bertahun-tahun buat dapetin itu," Kirana mencoba memahami, meski nada suaranya menyiratkan kekhawatiran yang sama seperti Pak Broto.

Haruna menoleh ke arah Nek Lasmi yang terbaring di ranjang, tatapannya melembut penuh kasih sayang. "Nenek itu segalanya buat Haruna, Kak. Beliau yang selamatkan Haruna waktu dibuang orangtua sendiri, rawat Haruna sampai sebesar ini dengan susah payah. Sekarang giliran Nenek yang butuh Haruna, gimana caranya Haruna bisa ninggalin beliau sendirian demi mimpi Haruna?"

Kirana terdiam, tak mampu membantah ketulusan yang terpancar jelas dari mata sahabatnya itu. Meski keduanya tidak saling terikat dengan hubungan darah. Namun, kedekatan mereka jauh lebih lekat dan jauh lebih dalam dari dugaan siapapun.

Namun tanpa disadari keduanya, Nek Lasmi yang sejak tadi berbaring diam ternyata mendengar jelas seluruh percakapan itu. Perlahan, air mata mulai menggenang di sudut matanya, mengalir turun membasahi bantal yang menopang kepalanya. Dadanya terasa begitu sesak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.

Selama ini, ia selalu berdoa siang malam agar Haruna bisa meraih semua mimpinya, bisa menjadi orang sukses seperti yang selalu diucapkan cucunya sejak kecil. Namun kini, keadaannya yang lumpuh dan tak berdaya justru menjadi penghalang terbesar bagi masa depan gadis yang telah ia besarkan dengan segenap cinta itu.

Dengan susah payah, Nek Lasmi mencoba menggerakkan bibirnya yang kaku, berusaha keras mengeluarkan suara. "Ha... Ha... na..." gumamnya terbata, suaranya begitu lemah dan tak jelas.

Mendengar suara itu, Haruna langsung menoleh cepat, bergegas mendekati ranjang neneknya. "Nek? Nenek kenapa? Nenek mau ngomong apa?"

"Kul... kuli... ah..." Nek Lasmi terus berusaha, matanya menatap lekat wajah cucunya, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang begitu penting. "Ja... jangan... Ne... Nek..."

Namun kata-kata itu keluar begitu kacau dan terputus-putus, membuat Haruna sama sekali tak bisa memahami maksud sebenarnya yang ingin disampaikan neneknya.

"Nenek mau bilang apa? Haruna nggak ngerti," Haruna menggenggam tangan neneknya erat, mencoba membaca gerak bibirnya yang tak lagi simetris, namun tetap saja tak berhasil menangkap makna di baliknya.

Melihat usahanya yang sia-sia, Nek Lasmi semakin menangis. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi. Kirana yang berdiri di samping Haruna pun ikut merasa haru melihat pemandangan menyayat hati itu, tak tahu harus berbuat apa selain diam menyaksikan.

Dalam hati Nek Lasmi yang kini hanya bisa terbaring tak berdaya, terselip sebuah rasa putus asa yang begitu dalam. Ia teringat kembali seluruh perjalanan hidupnya bersama Haruna... bagaimana ia dulu berjuang sendirian membesarkan bayi yang tak diinginkan siapa pun, bagaimana ia rela bekerja keras hingga tua renta demi memastikan cucunya bisa hidup layak dan meraih pendidikan setinggi mungkin.

Namun kini, di saat cita-cita besar itu hampir tergenggam sempurna di tangan Haruna. Tubuhnya yang lumpuh justru menjadi belenggu yang menahan cucunya untuk terbang meraih mimpi. Perasaan bersalah itu begitu menyayat, hingga jauh di lubuk hatinya, tanpa sepengetahuan siapa pun, Nek Lasmi mulai berharap agar Yang Maha Kuasa segera mengambil nyawanya.

Bukan karena putus asa pada hidupnya yang susah dan penuh dengan cobaan. Melainkan karena tak ingin lagi menjadi penghalang bagi masa depan cerah yang seharusnya menjadi hak cucu kesayangannya itu. Masa depan, yang sudah Haruna perjuangkan selam bertahun-tahun dengan susah payah.

"Nek, udah, jangan maksa ngomong dulu. Istirahat aja, ya," ucap Haruna lembut, mengusap air mata di pipi neneknya dengan ibu jarinya.

Sama sekali tak menyadari pergolakan batin yang sedang terjadi jauh di dalam hati wanita tua yang begitu ia cintai itu.

Nek Lasmi akhirnya terdiam, hanya bisa menatap Haruna dengan pandangan penuh kasih sekaligus duka yang tak terucapkan. Sementara isak tangis yang tertahan terus bergetar dalam dadanya yang rapuh, membawa doa bisu yang begitu berat untuk dipanjatkan seorang nenek kepada Tuhannya.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!