Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilasan Jingga dan Sinar Biru di Studio Foto
Hari-hari berlalu cela senja sore ini bergulir jauh lebih indah dari yang sempat Arkan bayangkan. Entah sudah berapa lama pria itu kehilangan waktu hanya untuk sekadar bernapas lega, atau mungkin sekadar mencuri waktu untuk menghirup udara bebas tanpa dibayangi aroma antiseptik.
Selama ini, seluruh hidupnya tersedot habis oleh rutinitas sebagai seorang dokter. Memegang teguh sumpah medis yang ia ucapkan beberapa tahun lalu rupanya menuntut sebuah harga yang mahal ia kehilangan waktu untuk dirinya sendiri.
Arkan sudah terbiasa dengan kesendirian. Kesehariannya berjalan monoton, seolah tak pernah diwarnai oleh keindahan spektrum jingga senja ataupun pelangi. Jangankan untuk berkencan, untuk memulai sebuah perkenalan baru saja ia enggan. Beberapa bulan terakhir ini garis hidupnya terasa begitu rumit. Namun, ia tidak berharap orang lain datang untuk menyembuhkan lukanya ia hanya ingin menjadi perantara kesembuhan bagi orang lain agar mereka tidak perlu merasakan kepedihan yang sama dengannya.
Seharusnya sore ini Arkan beristirahat di rumah, mengingat malam nanti ia harus kembali memimpin tugas jaga malam di rumah sakit. Namun, ia baru teringat ada beberapa berkas data yang belum dikumpulkan untuk keperluan tugas dinas mendatang.
Karena tidak memiliki pilihan ataupun kawan yang bisa dimintai pertolongan instan, sore ini ia terpaksa memarkirkan mobilnya di depan sebuah studio foto digital. Ia harus menegakkan badan di depan lensa kamera, mengambil pasfoto terbaru dengan latar belakang biru untuk melengkapi data administrasi rumah sakit yang mendesak.
Di tempat yang sama, Aira baru saja memarkirkan sepeda motor matiknya tepat di pelataran studio foto tersebut. Sambil melepas helm, jemarinya bergerak merapikan rambut pendek yang sedikit berantakan, lalu meraih ponsel dari dalam saku rok sekolahnya. Luka akibat jatuh pun sudah sepenuhnya sembuh meskipun meninggalkan bekas luka yang tidak bisa hilang pada kakinya.
Rencananya sore ini sangat sederhana ia ingin mencetak beberapa lembar foto Arkan yang sengaja ia unduh diam-diam dari akun Instagram pria itu. Foto-foto tersebut rencananya akan ia pajang di sudut kamar, bersandingan dengan lampu tidur yang baru saja ia beli.
"Bang, mau cetak foto, dong," ujar Aira riang sembari mengempaskan tubuhnya di bangku tunggu yang tersedia.
Pria muda yang tengah berjaga di balik meja konter mendongak, menatap Aira dengan dahi berkerut. "Bang? Matamu tidak salah lihat? Aku ini masih bujangan, tahu!"
Aira tersentak, mengerutkan keningnya begitu mengenali wajah di hadapannya. "Lho, Bayu? Sedang apa kamu di sini?"
"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Ini studio foto milik keluargaku. Mau apa kau ke sini?" balas Bayu dengan nada ketus yang tak kalah sengit.
Bayu adalah teman satu sekolah Aira di tempat barunya. Sejak hari pertama kepindahannya, cowok itu telah menjelma menjadi sosok yang teramat jahil. Bayu seolah selalu memiliki seribu satu cara untuk menggagalkan rencana Aira dan membuatnya naik darah.
Kelakuan keduanya sebenarnya tidak jauh berbeda, persis seperti kucing dan tikus. Jika Aira ketahuan mencuri mangga atau jambu di pohon belakang sekolah, maka Bayu akan menjadi orang pertama yang melaporkannya kepada wali kelas. Sebaliknya, jika Aira memergoki Bayu tengah merokok di toilet pria saat jam pelajaran, gadis itu tidak akan segan memotretnya sebagai barang bukti untuk diserahkan ke ruang bimbingan konseling.
"Dunia kok rasanya sempit sekali, ya? Kenapa harus bertemu denganmu lagi, sih? Bosan tahu, seperti tidak ada figuran yang lain saja di hidupku," gerutu Aira sebal.
"Eh, enak saja! Yang datang ke sini itu kau, lalu kenapa malah mengumpat dunia sempit? Yang ada itu otakmu yang sempit!" balas Bayu tidak terima.
"Tahu begitu, lebih baik studio ini dijual saja biar aku yang beli. Supaya kamu bisa pindah ke planet lain dan berkumpul bersama kembaranmu sesama alien!" omel Aira berapi-api.
Bayu bangkit dari kursinya, berkacak pinggang. "Enak saja mau main beli! Studio ini sudah turun-temurun milik keluargaku. Kalau kamu tidak berniat mencetak foto di sini, lebih baik pergi sana jauh-jauh! Hus, hus!"
Aira mengembuskan napas kasar. Ia melirik ke sekeliling, menyadari beberapa pelanggan lain di dalam studio mulai memperhatikan perdebatan mereka. Di mata Bayu, Aira memang hampir tidak pernah terlihat seperti gadis feminin pada umumnya karena kelakuannya yang terlampau nekat dan tangguh seperti anak laki-laki.
"Ya sudah, aku tetap mau mencetak foto di sini! Studio lain jaraknya jauh!" ketus Aira akhirnya mengalah.
"Masih butuh jasaku juga ternyata? Dasar tidak punya malu," cibir Bayu.
"Enak saja! Memangnya kamu sendiri punya kemaluan, hah?" semprot Aira tak mau kalah.
Kalimat spontan dari mulut Aira seketika memicu gelak tawa dari para pelanggan dan karyawan lain yang berada di ruangan itu. Wajah Bayu langsung memerah padam akibat ulah teman sekolahnya yang kelewat blak-blakan tersebut.
"Awas kau, ya! Cetak saja fotomu sendiri sana!"
"Oke, sini biar aku yang operasikan komputernya. Tapi gratis, bagaimana?" tantang Aira sengit.
Perdebatan panas itu baru terhenti saat seorang fotografer senior keluar dari ruang studio studio sambil membawa kartu memori kamera menuju komputer utama, diikuti oleh seorang pria lain yang berjalan di belakangnya.
"Bayu, kenapa kamu malah ribut di luar? Bukannya melayani pelanggan dengan baik, malah membuat kegaduhan sampai terdengar ke dalam ruang foto," tegur fotografer itu seraya menduduki kursi kerjanya.
"Ini ada anak aneh datang ke sini malah minta sumbangan," adu Bayu asal.
"Eh, enak saja! Fitnah! Aku ke sini mau mencetak foto, tahu!" sanggah Aira cepat.
"Sudahlah, Bayu. Dia itu pelanggan, jangan malah diajak ribut. Sana selesaikan pekerjaanmu yang lain," lerai fotografer itu menengahi.
Bayu hanya bisa berdecak sebal, memberikan tatapan tajam yang langsung dibalas oleh pelototan tak kalah mengerikan dari Aira.
Aira kemudian beralih membuka galeri ponselnya, bersiap mengirimkan berkas foto melalui sambungan bluetooth ke komputer studio. Namun, ia mendadak dilanda kebingungan. Memilih foto Arkan yang akan dicetak ternyata bukan perkara mudah, sebab visual dokter muda itu tampak sempurna di setiap sudut pengambilan gambar. Aira bahkan menyimpan hampir ratusan foto Arkan baik yang ia unduh dari media sosial maupun yang ia potret diam-diam secara candid.
"Cepat kirim fotonya, biar kau bisa segera pergi dari sini," desak Bayu yang kini sudah duduk bersandar sambil memainkan gim di ponselnya.
"Ck, tidak sabaran sekali, sih! Tunggu sebentar, aku sedang bingung memilihnya. Habisnya, wajahnya tampan semua," gumam Aira jujur.
Bayu mendengus remeh tanpa mengalihkan pandangan dari layar gim. "Halah, tampan apaan. Paling kau cuma mau mencetak foto oppa-oppa plastik, kan?"
"Sembarangan! Kau itu yang gagal operasi plastik! Mulutmu benar-benar tidak ada filternya ya, mau aku pecat jadi karyawan?" ancam Aira asal.
"Terserahlah. Malas aku berdebat denganmu, bikin lelah saja."
"Aku juga lelah... lelah mengejar dia yang tidak kunjung memberikan kepastian," curhat Aira tiba-tiba dengan nada melow.
"Hei! Tidak usah malah curhat colongan di sini!" seru Bayu ketus.
Aira mengerucutkan bibir, menatap sebal ke arah temannya. Namun, fokusnya teralih saat mendengar percakapan dari meja kasir di sebelah mereka.
"Ini filenya hanya di-burning ke dalam CD saja kan, Dok? Tidak perlu dicetak di kertas foto?" tanya sang fotografer.
"Iya, Mas. Cukup dimasukkan ke dalam CD saja," jawab sebuah suara bariton yang terdengar sangat familier di telinga Aira.
Aira menoleh cepat. Matanya langsung berbinar begitu mendapati sosok pria berkaus kasual yang tengah berdiri menunggu di depan meja kasir.
"Kak Arkan!" sapa Aira dengan nada riang yang kentara, melupakan urusan cetak fotonya sejenak.
Arkan yang merasa namanya dipanggil menoleh. Ia sedikit terkejut mendapati keberadaan gadis remaja yang tempo hari merayunya di ruang tindakan rumah sakit kini tengah duduk di kursi pelanggan.
"Kamu... sedang apa di sini?" tanya Arkan mendatar.
"Mau mencetak foto, Kak. kak Arkan sendiri baru selesai foto ya? Pasti tampan sekali!" cerocos Aira antusias.
Arkan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar sembari merogoh dompet dari saku celananya, tepat saat sang fotografer menyerahkan kepingan CD yang sudah selesai diproses.
"Berapa semuanya, Mas?" tanya Arkan.
"Tiga puluh lima ribu rupiah, Dok."
Arkan menarik selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah, lalu menyerahkannya ke atas meja konter.
"Kembaliannya berikan saja pada anak sekolah yang di sebelah sana," ucap Arkan tenang. Tanpa menunggu respons lebih lanjut atau berpamitan pada Aira, pria itu langsung membalikkan badan dan melangkah lebar keluar dari studio.
"Eh, Kakak! Tunggu!" teriak Aira bersiap bangkit dari kursinya.
Arkan memilih mempercepat langkahnya menuju mobil. Ia sengaja merelakan uang kembalian itu untuk Aira daripada harus meladeni rentetan kalimat ajaib dari gadis remaja yang entah mengapa selalu muncul di hadapannya belakangan ini.
"Neng, ini uang kembaliannya. Kamu adiknya Dokter Arkan, ya?" tanya sang kasir menyerahkan sisa uang.
Aira menerima uang tersebut dengan senyum lebar. Lumayan untuk tambahan uang jajan, batinnya riang. Tanpa memedulikan urusan cetak fotonya yang tertunda, Aira bergegas memasukkan uang itu ke saku dan berbalik arah untuk mengejar Arkan.
"Hei, Alien! Mau ke mana kau? Jadi mencetak foto tidak?!" teriak Bayu begitu melihat Aira menyambar helmnya.
"Besok-besok saja cetak fotonya! Aku mau mengejar jodoh dulu, takut keburu ditikung orang di tikungan depan!" sahut Aira keras. Ia segera memakai helm, menghidupkan mesin motor matiknya, dan langsung memacu kendaraan membelah jalanan demi menyusul mobil Arkan yang mulai menjauh.
Bayu hanya bisa menatap kepergian Aira dengan gelengan kepala penuh kekesalan. "Dasar kampret si Aira! Sudah membuat keributan dan bikin malu, sekarang malah pergi begitu saja. Awas ya, besok di sekolah akan kubalas dendam!" gumam Bayu sebal sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
Bersambung__
_____