"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminjam Tangan Musuh
Pendar lampu meja di dalam bunker bawah tanah terasa lebih redup malam ini, membiarkan bias cahaya dari deretan monitor kerja Belladona mendominasi ruangan. Liam Jeren berdiri bersandar pada meja kayu di belakang hacker itu. Tangannya yang panjang memegang secangkir kopi hitam panas, membiarkan uapnya menyapu kacamata bening yang ia kenakan. Kemeja hitamnya yang sempat dikoyak oleh Leo beberapa jam lalu telah diganti dengan kaos taktis abu-abu yang bersih.
Di wajah barunya, tidak ada lagi sisa-sisa air mata atau ketakutan dari drama di pergudangan utara. Yang tersisa hanyalah tatapan mata elang yang begitu dingin, mengawasi barisan baris kode pemrograman yang meluncur deras di layar monitor.
"Leo pikir dia bisa pulang dan tidur nyenyak setelah menguji nyaliku," Liam bersuara, nada rendahnya beresonansi dengan ketenangan yang kejam. "Dia tidak tahu, setiap detik yang dia habiskan bersamaku di bawah hujan tadi adalah waktu yang kau butuhkan untuk mengunci sinyal perangkatnya."
Belladona terkekeh pelan, jemarinya tidak berhenti menari di atas papan ketik mekanik dengan kecepatan yang mengagumkan. "Waktu anak buahnya menggeledah mobil lu, mereka gak sadar kalau gua udah nembakin malware suar via bluetooth jarak dekat ke ponsel mereka. Begitu mereka masuk ke dalam SUV dan ponsel itu terhubung ke jaringan internal laptop kerja Leo... boom. Pintunya terbuka lebar untuk gua."
Sebuah grafik lingkaran di layar utama Belladona mendadak berubah warna dari merah menjadi hijau terang, menampilkan struktur folder direktori dari laptop milik tangan kanan Gaizka Wijaya.
"Gua udah masuk ke dalam sistem ThinkPad milik Leo," Belladona memutar kursi rodanya sedikit, menatap Liam dengan binar mata yang licik. "Pria itu sangat rapi. Dia menyimpan semua catatan keuangan, nomor rekening samaran, sampai riwayat obrolan gelap Gaizka dengan para kartel di dalam folder terenkripsi tingkat tinggi. Jadi, apa dekorasi yang mau kita tambahin di dalam istana rapinya ini, Liam?"
Liam meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia melangkah mendekat, membungkuk sedikit di samping bahu Belladona sembari menatap tajam ke arah layar.
"Buat seolah-olah dia sedang bersiap memotong leher Gaizka dari belakang," perintah Liam dingin. "Susun sebuah skenario transfer fiktif. Gunakan nomor rekening bank Swiss yang biasa digunakan oleh Kartel Naga Merah saingan terbesar bisnis Gaizka di wilayah barat. Masukkan nominal yang cukup besar untuk membuat mata Gaizka buta karena amarah. Mungkin... seratus lima puluh miliar rupiah."
Belladona bersiul kecil, mengagumi kekejaman taktik psikologis Liam. "Seratus lima puluh miliar sebagai uang muka untuk membocorkan jadwal kapal Gorgon Star kemarin malam? Skenario yang sangat masuk akal. Gaizka lagi stres berat karena kehilangan pasokan senjatanya, dan dia lagi butuh kambing hitam buat disalahin."
Jemari Belladona kembali bergerak dengan ritme yang konstan. Di bawah kejeniusannya, dokumen-dokumen palsu mulai tercipta dengan presisi yang tidak bercela. Ia merekayasa slip transfer digital internasional lengkap dengan stempel enkripsi perbankan Swiss yang tampak sangat otentik. Tidak hanya itu, Belladona juga menyisipkan beberapa baris obrolan teks palsu yang telah dimodifikasi tanggalnya, memperlihatkan percakapan antara akun anonim milik Leo dengan perwakilan Kartel Naga Merah mengenai koordinasi sabotase tangki solar kapal logistik di Pelabuhan Utara.
Semua bukti palsu itu disembunyikan di dalam folder riwayat sistem yang paling dalam di laptop Leo, tempat yang dijamin akan langsung memicu kecurigaan jika dicari oleh tim IT internal Wijaya Group, tapi terlihat seolah-olah Leo sengaja menyembunyikannya di sana agar tidak ketahuan oleh Gaizka.
"Langkah terakhir," Liam meluruskan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman tipis yang sangat kejam terukir di bibir pucatnya. "Kirimkan surel anonim dengan enkripsi Phantom ke komputer pribadi Gaizka di ruang kerjanya. Beri dia umpan petunjuk bahwa ada tikus dalam selimut yang menjual informasinya demi uang seratus lima puluh miliar."
"Selesai," ucap Belladona sembari menekan tombol enter dengan penekanan yang mantap. Di layar monitor, sebuah bilah kemajuan menunjukkan status transfer data telah mencapai seratus persen. "Surel dikirim. Bukti sudah tertanam. Sekarang kita tinggal nonton sirkus berdarah dari balik layar."
____________________________________
Keesokan paginya, di dalam kantor utama lantai teratas gedung Wijaya Group, atmosfer udara terasa begitu membeku. Gaizka Wijaya berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar komputernya dengan napas yang memburu pendek dan berat. Sepasang matanya yang merah dan dipenuhi urat-urat kemarahan membaca surel anonim yang melampirkan beberapa lembar dokumen rahasia.
Tangan gemuk Gaizka gemetar saat ia membuka lampiran slip transfer bank Swiss yang mencantumkan nama samaran yang ia tahu persis hanya digunakan oleh Leo untuk transaksi luar negeri. Di bawahnya, tertera angka nominal yang sangat fantastis, dikirimkan tepat dua hari sebelum kapal senjata Gorgon Star meledak menjadi abu.
"Leo..." desis Gaizka, suaranya parau dan bergetar oleh kombinasi antara rasa tidak percaya dan amarah yang meluap-luap bagai magma. Pria yang ia besarkan dari jalanan, pria yang ia percayai untuk memegang seluruh rahasia kotor dinastinya, ternyata telah menjualnya pada musuh terbesarnya demi seonggok dolar.
Gaizka menekan tombol interkom di mejanya dengan kasar. "Panggil Leo ke ruanganku sekarang. Sendirian!"
Sepuluh menit kemudian, Leo melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajahnya yang seperti biasa, tenang, waspada, dan memancarkan kecerdasan rubah yang licik. Ia membawa map berisi laporan perkembangan pelacakan latar belakang Liam Jeren yang semalam ia tugaskan pada Viper.
"Tuan Gaizka, saya punya informasi baru mengenai—"
BRAAAK!
Gaizka menghantamkan asbak kristal raksasa di mejanya ke arah Leo. Asbak itu melesat, melintasi ruangan dan hancur berkeping-keping setelah membentur dinding tepat beberapa sentimeter di samping kepala Leo. Pria bermata rubah itu tersentak mundur, matanya melebar melihat wajah bosnya yang sudah berubah menjadi hitam keunguan karena amarah sepenuhnya.
"Cepat buka laptopmu, Bajingan!" raung Gaizka, suaranya menggelegar membelah keheningan ruangan.
Leo mengerutkan keningnya, tidak memahami situasi yang sedang terjadi. Dengan tangan yang agak kaku, ia meletakkan ThinkPad miliknya di atas meja Gaizka, menyalakannya, dan memasukkan kata sandinya. Sebelum ia sempat menggerakkan kursor, Gaizka sudah merenggut laptop itu dengan kasar, membalikkan layarnya ke arah Leo, dan menampilkan folder sistem tersembunyi yang baru saja diakses oleh tim IT internal Gaizka atas perintah surel anonim tadi.
Saat matanya menangkap gambar slip transfer seratus lima puluh miliar dari Kartel Naga Merah dan transkrip obrolan palsu tentang sabotase pelabuhan, seluruh darah di wajah Leo seketika surut. Ia mendadak merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan itu lenyap.
"T-Tuan Gaizka... ini fitnah! Ini semua tidak benar!" Leo tergagap, suaranya pecah karena kepanikan yang riil. "Saya bersumpah demi nyawa saya, saya tidak pernah menerima uang ini! Seseorang telah meretas perangkat saya! Ini pasti kerjaan Liam Jeren, bajingan itu—"
"Cukup!" Gaizka menarik sebuah revolver berlapis krom dari balik laci mejanya, senjata yang sama yang telah merenggut nyawa orang tua Elikai empat bulan lalu. Moncong hitam berkaliber besar itu kini diarahkan tepat di antara sepasang mata rubah milik Leo.
"Liam Jeren hanyalah anak manja penakut yang semalam menangis di bawah todongan senjatamu, Leo! Kamu sendiri yang melaporkannya padaku tadi pagi!" Gaizka mendengus kejam, tatapannya membakar sisa-sisa kesetiaan yang pernah ada. "Kamu pikir aku bodoh? Kamu meledakkan kapalku agar aku kehilangan kekuatan finansial, lalu kamu berencana menggunakan uang dari Naga Merah ini untuk menggulingkanku dari kursi Wijaya Group, kan?!"
"Tidak, Tuan Gaizka! Saya mohon, dengarkan saya dulu—" Leo mundur selangkah, tangannya terangkat ke udara. Namun, pintu ruang kerja di belakangnya mendadak mendobrak terbuka.
Dua algojo bertubuh raksasa berseragam hitam langsung menerjang masuk atas kode dari Gaizka. Tanpa ampun, mereka memiting kedua lengan Leo ke belakang, menendang lipatan lututnya hingga tangan kanan Gaizka itu ambruk berlutut di atas karpet mahal.
Gaizka menurunkan moncong revolvernya sedikit, tidak langsung menembak. Senyum sadis terukir di wajah tambunnya. "Mati terlalu mudah untuk pengkhianat sepertimu, Leo. Seratus lima puluh miliar itu... aku ingin tahu di mana kamu menyembunyikan sisa kuncinya. Bawa dia ke ruang bawah tanah. Siksa dia sampai dia memuntahkan isi perutnya!"
"Tuan Gaizka! Ini jebakan! Liam Jeren itu! Dia adalah Shadow—" Jeritan histeris Leo tersumbat saat salah satu algojo menghantamkan gagang pisau ke rahangnya, membuat mulutnya berdarah. Tubuh Leo yang lemas diseret keluar dari ruangan, meninggalkan jejak goresan sepatu bot di atas karpet.
_______________________
Beberapa kilometer dari tempat kejadian, di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir rapi di seberang gedung Wijaya Group, Liam Jeren menurunkan teropong kecil dari matanya setelah melihat melalui jendela lantai teratas bahwa Leo telah diseret dalam kondisi tak berdaya.
Sebuah senyuman tipis, dingin, dan penuh dengan kepuasan yang kejam terukir sempurna di wajah barunya. Tangan kanan Gaizka telah dipatahkan oleh paranoianya sendiri.
"Nikmati malam panjangmu di dalam sel, Leo," bisik Liam sembari memakai kembali kacamata titaniumnya dan memicu mesin mobilnya meluncur membelah jalanan ibu kota dengan bunyi yang mantap.