Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di usir
Dua hari berlalu. Dan, selama itu juga Fio tak melihat Gio lagi. Namun, kata – katanya yang ingin menikahinya masih terngiang. Hal itu membuat Fio susah tidur. Beruntung, dua hari ini dia libur.
Rencananya, pagi ini Fio ingin ke panti. Tapi sayang, dia malah bangun siang.
“Ck, ini tidak benar!” umpatnya sembari mengacak – acak rambutnya sendiri.
Sebelumnya, dia tidak pernah merasa begini. Fio selalu bisa menata hati. Menahan keinginan dan tidak brutal saat ada orang yang menyenggolnya. Fio tahu diri. Ia juga bisa menahan emosi, termasuk menahan rasa di hati.
“Hei, jl4l4ng! Keluar lu!”
“Enak ya, bangun siang di rumah orang!”
Teriakan itu terdengar sampai dalam kamar Fio. Dia bergegas bangkit dari ranjang dan berlari keluar. Paman Arif sedang tak ada di rumah. Kemarin, dia pamit ke Kalimantan untuk urusan dokumen tambang. Dia pergi sendirian, tidak bersama Gala. Dan Paman Arif meyakinkan Fio untuk datang tepat waktu saat pernikahan.
“Tenang, Non Dara. Jangan masuk!” Pak Budi menahan perempuan itu. Tapi, Bukan Dara namanya kalau bisa dinasehati.
“Lepas Pak,” ucap Fio saat sudah berada di bawah. Ia menatap Dara. “Paman sedang tidak ada di rumah.”
“Gue tahu. Justru karena Papa sedang tidak di rumah. Makanya, gue ke sini.”
Fio melipat kedua tangannya di dada. “Mau ngusir saya lagi?”
“Iya lah. Mau ngapain lagi emangnya gue ke sini kalau bukan untuk itu. Lagian, lu muka tembok banget sih. Udah berapa kalu di usir, masih aja tinggal di sini. Udah dua puluh tahun, Fio. Dua puluh tahun lu nikmatin kekayaan Bokap gue. Seharusnya, gue yang disayang Papa bukan lu. Gue yang anak kandung Papa. Sedangkan, lu Cuma ponakan.”
Fio menerima kemarahan Dara. Sejak dulu, selalu begitu. Fio hanya diam saat Dara marah – marah. Tapi, jika Dara sudah main tangan baru Fio bertindak. Namun, tidak untuk membalasnya melainkan menghindar saja.
“Aku sudah beberapa kali pergi dari rumah ini, tapi Paman sendiri yang memintaku untuk tinggal lagi di sini.”
“Ya karena lu p3lacur. Gue yakin, Bokap gue kena pelet. Atau tiap malam lu ng4ngkang di depan dia. Iya kan?”
“Tutup mulut kamu, Dara!” Aku ikut marah. “Itu tuduhan keji.”
Dara tertawa sinis. “Jaman sekarang, mana ada yang memberi tanpa pamrih. Dan, gue yakin Bokap gue ga sedermawan itu, termasuk sama lu. Lu cuma jadi tameng dia buat dapetin apa yang dia mau.”
Kalau itu, Fio tahu. Saat ini pun sudah terjadi. Arif tidak peduli perasaannya terhadap Gala. Arfi juga menutup mata jika Gala memiliki s3x menyimpang dan meniduri banyak wanita diluaran sana, tapi dia tetap meminta Fio untuk segera menggelar pernikahan.
“Dara!”
Seseorang memanggilnya dari belakang. Perempuan yang sama angkuhnya dengan Dara karena dia adalah ibunya, mantan istri Paman Arif yang diceraikan tepat setelah Fio masuk rumah sakit karena patah tulang akibat dibuang olehnya ke sumur yang cukup dalam. Ketika itu, Fio baru sebulan tinggal bersama Arif paska tragedi yang terjadi pada orang tuanya.
“Cepat, bereskan barang – barangmu. Sekarang, rumah ini milikku!” ucapnya sombong.
Fio mengernyit. “Tunggu! Apa Paman Arif tahu tentang ini?”
Fio menatap Pak Budi. Pak Budi menggeleng. “Saya tidak tahu, Non.”
“Saya harus telepon Paman Arif dulu.” Fio mengambil ponselnya dan hendak men dial nomor Arif, tapi tiba – tiba Dara merebut benda itu.
“Gue dan Mama yang berha atas rumah ini. Gue anaknya dan Mama istrinya. Ga perlu tanya Papa lagi.”
“Tapi, ini tidak benar. Saya harus bicara dengan Paman dulu. Berikan ponselnya!”
“Enggak,” jawab Dara dengan wajah menyebalkan.
Sungguh, Emosi Fio benar – benar diuji. Rasanya, dia ingin mengeluarkan kebisaan ilmu bela dirinya untuk dua wanita ini tapi itu tidak mungkin. Fio masih waras dan tak akan membuat suasanya semakin kacau.
“Kembalikan Dara! Itu ponselku,” pintaku lembut.
“Enggak, kalau lu coba – coba telepon Papa. Tapi, gue bakal berikan ponsel ini kalau lu pergi sekarang juga.”
Inhale
Exhale
Fio berusaha menenangkan diri dengan menarik napas pelan dan mengeluarkannya dalam.
“Baik, saya akan pergi. Tapi berikan dulu ponsel saya.”
Lagi – lagi, Dara menggeleng. “Enggak, nanti lu telepon Papa. Sekarang sana, cepat berkemas!”
Fio menatap Pak Budi. Dia tidak punya kendali, apalagi Pak Budi. Ini bukan rumahnya, Arif juga bukan ayahnya. Selama ini, Fio hanya menumpang. Walau, sebelumnya sudah lama Fio pamit untuk mencari tempat kos sendiri. Namun, Arif selalu menolak. Dan, akhirnya ini jalannya.
Fio berkemas. Dia menuruni anak tangga sembari menenteng kopernya. Tampak, Dara dan ibunya duduk bersantai di sofa. Ketika melihat Fio dengan kopernya, dia langsung menyeringai dan memberikan ponsel Fio dengan cara melemparnya.
Hap
Untung saja, Fio tangkas. Dengan cepat, dia menangkap benda itu dan tepat.
“Didikan bokap gue emang ga pernah salah, tapi untuk membiarkan lu berada di rumah ini. Itu salah,” kata Dara lagi. “Dan, sebelum itu terjadi. Gue harus ambil alih.”
“Silakan!” jawab Fio. “Saya tidak pernah tertarik dengan harta Paman.”
Fio keluar. Namun, Pak Budi menahan.
“Non, jangan pergi! Nanti kalau Pak Arif kembali, saya bilang apa?”
“Ya, bilang apa adanya.”
“Tapi, Non …?” Pak Budi tercekat. Dia bingung dan tak tahu ingin mengatakan apa.
Sementara, Fio tetap berjalan keluar, diiringi Dara dan ibunya di belakang untuk memastikan. Fio berjalan menuju mobil. Mobil miliknya yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri.
“Eh, enak aja lu mau bawa mobil ini. Ga ada satu barang pun yang lu bawa dari rumah ini.”
“Mobil ini saya beli dari hasil kerja saya sendiri,” balas Fio.
Dara tertawa. “Hasil jerih payah? Jerih payah yang mana? Semuanya dari Bokap gue. Makan lu, sekolah lu. Bahkan, kerjaan lu juga dari Papa. Jadi, mobil ini juga milik kita.”
“Sumpah, Non Dara dzalim sama anak yatim,” bisik Bibi yang berdiri di samping Pak Budi.
Dara menoleh dan kembali memerintah. “Bi, buka kopernya! Periksa, siapa tau ada barang berharga yang dia bawa.”
Untuk ini, Fio emosi. Dia menarik kopernya sendiri dan membukanya. “Lihat! Tidak ada yang saya bawa kecuali pakaian yang saya beli sendiri. Pu4s!”
Dara tertawa.
Fio menutup kopernya lagi dan menariknya. Dia pamit pada Pak Budi dan Bibi, lalu pergi. Yang penting, ponselnya sudah di tangan. Banyak hal – hal penting di sana termasuk kontak … Gio.
Entah mengapa, justru yang terlintas di kepala Fio malah Gio. Bukan, Gala yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Fio menatap ponselnya. Dia melihat nomor dan nama Gio yang tertera di layarnya. Nomor dan nama yang diketik sendiri oleh si empunya nama.