NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Makan Malam Pertama

Adrian masih berdiri di dekat tangga, seketika Nadira menoleh ke arahnya. Untuk beberapa detik, pandangan mereka bertemu. Nadira yang biasanya mengenakan seragam perawat kini terlihat sangat berbeda. Ia mengenakan pakaian sederhana yang telah disiapkan Gunawan, rambutnya dibiarkan terurai setelah mandi.

Adrian terdiam beberapa saat. Kali ini ia benar-benar memperhatikan wanita itu bukan sebagai perawat yang setiap hari merawatnya, melainkan sebagai seorang perempuan yang sangat cantik.

Nadira mengernyit ketika menyadari Adrian terus memandanginya. "Ada apa?"

Adrian segera mengalihkan pandangan. "Tidak ada."

"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?"

"Aku hanya..." Adrian berhenti sebentar. "Tidak terbiasa melihatmu tanpa seragam."

Nadira tertawa kecil. "Memangnya kalau pakai seragam aku jelek?"

Adrian langsung menggeleng. "Bukan begitu."

"Jadi?"

Adrian hanya terdiam.

Nadira semakin penasaran, tetapi akhirnya hanya tersenyum. "Sudahlah."

Gunawan yang melihat interaksi keduanya dari sofa hanya menggeleng sambil menahan senyum. "Kalau kalian sudah selesai saling memandang, bagaimana kalau kita makan?"

Nadira langsung tersipu. "Om..."

Adrian pun berjalan menuju ruang makan. Di sana sebuah meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan. Sup hangat, ayam panggang, sayuran, nasi, buah-buahan, hingga makanan penutup tersusun rapi.

Nadira membelalakkan mata. "Ini untuk kita bertiga?"

Gunawan tertawa. "Pelayan di rumah ini selalu memasak banyak."

"Ini bukan hanya banyak," gumam Adrian. "Tapi ini seperti untuk satu keluarga besar."

Gunawan tersenyum. "Anggap saja, kita memang keluargamu."

Adrian terdiam sejenak, kata-kata itu sederhana... tapi mampu membuat suasana menjadi hangat. Mereka akhirnya duduk bersama, kini Adrian makan di meja makan dengan layak.

Tidak ada petugas yang mengawasi. Tidak ada obat yang dipaksa masuk ke mulutnya, dan tidak ada jeruji besi. Hanya ada makanan hangat dan dua orang yang memperlakukannya seperti manusia biasa.

Nadira beberapa kali memperhatikan Adrian. "Kamu makan yang banyak."

Adrian menatapnya. "Aku bisa makan sendiri."

"Aku tahu," jawab Nadira dengan santai.

"Kalau begitu jangan terus melihatku."

Nadira tersenyum. "Aku hanya memastikan kamu tidak pingsan secara tiba-tiba."

Gunawan terkekeh. "Adrian, kamu harus maklum, keponakanku memang seperti itu."

Adrian mengangguk kecil. "Saya sudah terbiasa, Om."

Nadira spontan menatapnya. "Sudah terbiasa, apa maksudmu?"

Adrian terdiam, ia hampir saja mengatakan bahwa selama berada di rumah sakit, Nadira memang selalu cerewet dalam merawatnya. Tapi ia memilih diam.

Gunawan kemudian meletakkan sendoknya. "Untuk sementara, kalian istirahat saja dengan tenang disini." Tatapannya menjadi serius. "Besok pagi, Om akan menemui Direktur rumah sakit."

Nadira langsung menatapnya. "Om mau datang ke rumah sakit?"

"Ya."

"Sendirian?"

Gunawan tersenyum tipis. "Tentu tidak." Ia melirik salah satu pengawal yang berdiri tidak jauh dari ruang makan. "Om akan membawa tim hukum dan beberapa orang yang bisa membantu melakukan audit."

Adrian langsung ikut berbicara. "Bagaimana dengan orang-orang yang mengejar kita tadi?"

Gunawan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Itu semua sudah diurus."

Adrian mengernyit. "Maksud Om?"

"Mereka tidak akan mengejar kalian lagi."

"Jadi sudah ditangkap?"

Gunawan mengangguk pelan. "Sebagian sudah diamankan oleh orang-orang Om. Sisanya sedang dicari."

Adrian terdiam dan mengangguk.

"Om juga sudah mengamankan rekaman CCTV dari beberapa titik yang kita lewati. Mobil yang mengejar kita juga sudah dilacak."

Mata Adrian menyipit. "Kalau begitu, kita bisa menggunakannya sebagai bukti."

"Benar." Gunawan menatap Adrian dengan serius. "Tapi kita harus berhati-hati. Miranda pasti akan melakukan apa pun agar bukti itu hilang."

Adrian mengepalkan tangannya. "Dia tidak akan berhenti."

"Aku tahu." Gunawan menghela napas. "Karena itu besok kita akan mulai membongkar semuanya. Rumah sakit, dokter yang terlibat, transfer uang, sampai orang-orang yang diperintah Miranda."

Nadira menatap keduanya. "Kalau begitu... besok semuanya mungkin berubah."

Adrian menoleh kepadanya. "Ya." Tatapan mereka bertemu. "Dan setelah itu, aku akan kembali mengambil apa yang menjadi hakku."

Nadira tersenyum kecil. "Aku percaya kamu pasti bisa."

Adrian terdiam, kalimat itu kembali membuat dadanya terasa hangat. Selama ini ia hanya mendengar satu kalimat yang sama. Namun sekarang ada seseorang yang mengatakan... aku percaya kamu.

Setelah makan malam selesai, Gunawan berdiri. "Sudah malam, sebaiknya kalian beristirahat lebih dulu." Ia menatap Adrian. "Besok akan menjadi hari yang panjang."

Kemudian ia menoleh kepada Nadira. "Kamu juga. Jangan terlalu memikirkan rumah sakit malam ini."

Nadira mengangguk. "Baik, Om."

Adrian ikut berdiri. "Terima kasih Om sudah mau membantu kami."

Gunawan tersenyum. "Jangan berterima kasih, kalian tidak bersalah. Sudah seharusnya Om membantu."

Mereka kemudian berjalan menuju tangga. Nadira naik lebih dulu, sementara Adrian berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Sebelum memasuki kamar, Nadira menoleh. "Adrian."

"Hm?"

"Selamat malam."

Adrian menatapnya beberapa detik. "Selamat malam, Nadira."

Nadira tersenyum sebelum masuk ke kamarnya.

Pintu tertutup, Adrian masih berdiri di depan kamar beberapa saat. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

Keesokan paginya...

Di rumah persembunyian Gunawan, sejak pukul enam pagi, Gunawan bersama beberapa pengawalnya sudah meninggalkan rumah.

Tujuannya hanya satu... Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat. Gunawan ingin bertemu langsung dengan Direktur rumah sakit sekaligus membawa tim hukum untuk mulai membuka semua kebusukan yang selama ini disembunyikan.

***

Di rumah persembunyian, suasananya justru jauh lebih santai. Nadira berdiri di dapur sambil mengenakan celemek. Rambut panjangnya diikat asal, sementara tangannya sibuk memotong daun bawang.

Di sampingnya, Adrian berdiri memperhatikan sebuah wajan besar di atas kompor. "Apa lagi yang harus aku lakukan?" tanyanya.

Nadira menoleh. "Kamu?" ucapnya sejenak berpikir. "Kamu bisa masak?"

Adrian terdiam, lalu tersenyum tipis. "Sedikit."

Nadira mengangkat alis. "Sedikit itu seperti apa?"

"Memasak air," jawabnya polos.

Nadira menahan tawa. "Maksudmu kamu cuma bisa merebus air?"

Adrian mengangguk serius.

Nadira akhirnya tertawa kecil. "Seorang Direktur Utama perusahaan besar ternyata tidak bisa memasak."

"Bukan tidak bisa, aku hanya terlalu sibuk," jawabnya datar.

"Alasan yang cukup menjadi alasan," jawab Nadira sambil menggelangkan kepala.

Adrian mendengus kesal. "Memangnya aku salah?"

Nadira kembali tertawa. "Hahahaha..."

Adrian menatapnya beberapa detik. Sudah lama sekali ia tidak mendengar tawa seperti itu. Tawa yang tidak dibuat-buat, tawa yang membuat suasana terasa lebih santai.

"Sudahlah, daripada kamu hanya berdiri... lebih baik bantu aku."

"Bantu apa?" tanya Adrian datar.

Nadira menyerahkan spatula kepadanya. "Pegang ini."

Adrian menerima spatula itu. "Lalu?"

"Masukkan nasi."

Adrian mengambil nasi dari mangkuk besar, kemudian memasukkannya ke dalam wajan. Namun terlalu banyak, nasi hampir tumpah ke lantai.

"Adrian!" teriak Nadira.

"Kenapa?" tanya Adrian terkejut.

"Itu kebanyakan!" jawab Nadira dengan tegas.

Adrian buru-buru mengambil sebagian nasi dengan tangannya. Nadira langsung memegang pergelangan tangannya.

"Jangan pakai tangan!"

Adrian menatap tangan Nadira yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Keduanya terdiam, jarak mereka begitu dekat. Nadira baru menyadari posisinya. Ia segera melepaskan tangannya.

"Maaf."

Adrian menggeleng. "Tidak apa-apa."

Wajah Nadira sedikit memerah. "Sudah... lanjutkan."

Adrian kembali mengaduk nasi.

Beberapa menit kemudian, aroma bawang putih dan kecap mulai memenuhi dapur. Nadira menambahkan telur, potongan ayam, daun bawang, dan sedikit merica.

"Adrian, tambahkan kecap."

"Berapa banyak?"

"Secukupnya."

Adrian mengambil botol kecap. "Secukupnya itu berapa?"

Nadira menghela napas. "Sedikit."

Adrian menuangkan kecap, terlalu banyak.

Nadira membelalakkan mata. "Ya ampun!"

Adrian menatap wajan. "Kenapa?"

"Itu bukan sedikit!"

"Kamu tadi bilang secukupnya."

Nadira memegangi dahinya. "Kamu benar-benar tidak bisa memasak."

Adrian justru tersenyum. "Setidaknya sekarang aku sudah belajar."

Nadira menatapnya, senyum kecil muncul di wajahnya. "Ya sudah. Kita selamatkan nasinya."

Mereka berdua akhirnya sibuk mengaduk nasi goreng bersama. Namun tiba-tiba...

Adrian batuk. "Uhuk... uhuk..."

Nadira langsung panik. "Adrian!"

"Aku tidak apa-apa."

"Asapnya terlalu banyak."

Nadira segera mematikan kompor lalu membuka jendela dapur. Adrian masih batuk kecil.

Nadira mengambil segelas air. "Minum dulu."

Adrian menerimanya. "Terima kasih."

Nadira menatapnya dengan khawatir. "Kamu jangan terlalu memaksakan diri. Luka punggungmu belum sembuh."

"Aku hanya membantu memasak."

"Kalau kamu jatuh lagi bagaimana?" tanya Nadira kesal.

Adrian tersenyum kecil. "Kan ada kamu."

Nadira langsung terdiam mendengar ucapan Adrian.

"Kalau aku jatuh, kamu pasti menangkapku," jelas Adrian sambil terus menatap Nadira.

Wajah Nadira langsung memerah. "Adrian..."

Adrian tertawa pelan. "Hahahaha..."

Nadira melihat pria itu benar-benar tertawa. Nadira ikut tersenyum. "Akhirnya kamu bisa tertawa juga."

"Aku juga manusia, jadi pasti bisa tertawa," jawabnya sedikit ketus.

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!