Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Berhadapan
Naya memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Rasa panik yang luar biasa menguasai seluruh sendinya. Ia harus kabur dari ruangan ini sekarang juga. Naya sungguh mulas.
Namun, baru satu langkah Naya berbalik...
Brak!
Naya menabrak dada seseorang yang baru saja melangkah masuk membawa cangkir kopi.
"Waduh! Eh, Naya? Haloww." Dion menyeimbangkan pegangannya pada cangkir kopi, lalu menatap Naya yang wajahnya pucat. Dion mengernyit heran melihat gelagatnya.
"Eits, mau kemana? Kok tergesa-gesa banget kayak dikejar hantu?"
"I-iya... eh m-maksudnya, enggak, b-bukan—" sahut Naya terbata-bata dengan suara gemetar, berusaha menyelinap lewat samping tubuh Dion.
"Ya emang hantu, tuh liat tatapannya." Dion terkekeh sendiri. "Lho, kok mau pergi? Enggak jadi?" Dion malah sengaja bergeser menutupi jalan Naya, lalu tertawa kecil. "Tunggu deh, biasanya kan si Lady yang mondar-mandir ke sini. Kok sekarang jadi kamu? Disuruh ya? Waduh, memang tuh Ladybird kebiasaan banget nyuruh-nyuruh orang!"
Dion menggeleng-gelengkan kepala, lalu memasang wajah penuh selidik seraya tersenyum menggoda. "Tapi btw... Gea di ruangan lagi ngapain, Nay? Dia udah makan siang belum? Tadi pas gue lewat kok mukanya makin jutek, tapi lucu. Dia ada nanyain ak--gue enggak?"
Serius Dion sulit untuk berkata aku pada orang lain, tapi Dion ingat kalau Gea bilang kebiasaan Naya berbicara memakai aku-kamu.
Naya yang kepalanya makin berdenyut panik hanya bisa menyahut asal, "E-enggak tau, Kak..."
"Halah, gengsi pasti tuh si Gea," kekeh Dion sok tahu. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Dion memegang kedua bahu Naya dari belakang, lalu mendorong tubuh kecil gadis itu pelan maju ke depan--persis seperti mendorong gerbong kereta api mainan--kembali berhadapan tepat di depan meja Ibra.
"Nih, mumpung orangnya ada!" seru Dion sok asyik. Tangannya dengan santai mengambil map dari genggaman Naya yang kaku, lalu menaruhnya tepat di atas meja Ibra. "Pak Ibra, eh maksudnya pak Rafael, ini Naya dari Admin mau minta tanda tangan sama stempel."
Ibra berdiri kaku di balik mejanya. Matanya menatap lurus pada Naya yang makin menunduk gemetar, lalu berganti menatap Dion dengan pandangan yang kesal juga dingin. Namun, demi menahan agar Naya tidak makin panik di depan Dion, Ibra memilih diam. Padahal Ibra ingin sekali menampol wajah Dion.
Jemari tangannya meraih pena, membubuhkan tanda tangan dengan gerakan cepat, lalu menempelkan stempel resmi divisi engineering.
Stak!
Suara stempel yang beradu dengan meja membuat Naya sedikit berjengit kaget, jangankan Naya, Dion saja sampai latah. "Ayam-ayam. Pelan-pelan anjir, bikin kaget, tambah takut nanti si Naya ini."
Ibra tak menyahut dan menyodorkan kembali berkas itu, menatap Naya dengan mata yang sarat akan rasa kesal, atau lebih tepatnya sedikit emosi, sebab terus dihindari.
"Sudah," ucap Ibra singkat dan datar.
"Nah, beres kan! Gitu aja beres kok, meskipun si hantu emang mengerikan" goda Dion lagi seraya mengambil map itu dan menyerahkannya kembali ke tangan Naya yang dingin.
Naya menerima map itu dengan jemari gemetaran. Namun, sebelum Naya sempat berbalik, Dion yang dasarnya sok akrab dan tidak tahu apa-apa malah kembali berkicau santai di sebelah Naya.
"Eh iya, Nay, lo tahu enggak?" Dion menunjuk Ibra dengan dagunya tanpa dosa. "Ini si hantu alias Pak Rafael ini nih yang nemuin kertas nota kamu yang hilang seminggu lalu. Yang kamu tanyain waktu itu, si anak ajaib. Nah, ini dia orangnya!"
Deg!
Napas Naya terhenti seketika, lagi. Iris matanya membelalak lebar, jantungnya seperti melompat keluar.
Kertas itu... Nota itu... I-Ibra yang menemukannya?
Jadi, apa maksudnya semua ini? Kenapa seperti ada benangnya, ada jalannya, ada sesuatunya. Yang aneh, yang tidak masuk akal, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan.
Rasa kaget dan kebingungan bergulung jadi satu, membuat dada Naya makin dihantam panik yang hebat.
Tepat di saat ketegangan itu membakar dada Naya, pintu kaca ruangan engineering kembali terdorong terbuka.
Nadya melangkah masuk sambil memegangi perutnya yang masih agak sensitif sejak kemarin. "Yon, kopi gue mana—"
Belum sempat Nadya menyelesaikan kalimatnya, Naya yang sudah tidak sanggup menahan rasa sesak di dadanya langsung menerobos keluar. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyilangkan tangan di dada, dan berjalan cepat melewati Nadya begitu saja tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun.
Nadya tertegun, menghentikan langkahnya dan menoleh bingung menatap punggung Naya yang menghilang di balik pintu kaca.
"Lho? Itu anak admin yang kemarin di klinik, kan?" Nadya mengernyit heran, lalu menatap Dion dan Ibra bergantian. "Kenapa tuh anak? Kok jalannya nunduk banget kayak abis dimarahin? Ketakutan gitu mukanya."
Dion terkekeh santai sambil mengambil dan menyerahkan cangkir kopi ke Nadya, sama sekali tidak menyadari atmosfer mematikan di ruangan itu.
"Biasa, Nad. Kayaknya tadi dimarahin sama Ibra," sahut Dion asal dengan nada bercanda. "Atau enggak, tadi digigit Ibra makanya ngacir ketakutan."
"Mulut lo ya, Yon," cetus Nadya sambil menggelengkan kepala. Tertawa geli mendengar lelucon Dion.
Namun, ketika pandangan Nadya bergulir ke ujung ruangan, tawa Dion menguap begitu saja. Nadya mendapati Ibra masih berdiri mematung di balik mejanya. Tangannya mengepal erat di atas meja dengan raut wajah yang amat pekat, terluka, dan penuh keputusasaan saat menatap pintu kaca yang baru saja tertutup.
Nadya menyipitkan mata. Candaan konyol Dion barusan makin menguatkan kecurigaannya. Sejak kemarin, ada yang aneh. Naya, gadis itu selalu takut dan bahkan tergesa. Seolah takut pada Ibra, seolah ada cerita, seolah ada rahasia yang sedang terjadi di antara kepala divisinya dan si junior admin.
Dan Nadya bukan satu-satunya yang curiga, sebab sejak awal Dion juga sudah notice tentang keduanya. Tapi Dion tidak yakin, Ibra, sahabatnya itu akan selalu bercerita kalau ada sesuatu, tapi ini tidak, yang artinya, Dion meyakini bahwa pandangannya saja yang berlebihan melihat Naya yang seperti menghindari Ibra.
Setidaknya begitu, Dion berpikir kalau Naya pernah diamuk Ibra, mungkin, entah dimana. Dan Naya ketakutan karena itu. Iya, pasti begitu.
***
Sepanjang hari Ibra tidak fokus dengan pekerjaannya, ia banyak melamun dan menatap layar komputer dengan kosong. Sungguh, berhadapan dengan Naya, membuatnya sangat sulit mengendalikan diri.
Sialan, kenapa dia harus berada di situasi semacam ini. Ibra sungguh mengutuk semuanya, termasuk dirinya sendiri. Sehingga, tanpa sadar Ibra berdecak dengan kerasnya, membuat semua atensi tertuju padanya.
"Kenapa?" tanya Dion, yang kesulitan dengan pekerjaannya, menoleh dengan satu alis terangkat.
Nadya dan yang lain pun begitu, memutar bangku mereka menghadap Ibra yang wajahnya nampak sangat kusut.
Ibra pun berdehem. "Enggak, mau bersin, tapi gagal." Jawaban itu, aneh, tidak masuk akal, diluar nalar. Tapi tetap lucu, dan Dion jadi orang pertama yang menyemburkan tawa.
"Bahkan bersin pun menolak."
"Leader kita kayaknya lagi burnout," kata Nadya, disetujui oleh yang lain.
"Terserahlah." Ibra beranjak, namun sebelum pergi ia meraih ponselnya. "Saya keluar sebentar," ujarnya.
Setelah pintu tertutup, Dion dan Nadya saling berpandangan dan saling mengangkat bahu. Biarlah.
Di luar, tepatnya di smoking area, Ibra mengetikkan pesan pada Papa. Tentang semua yang terjadi, apapun. Karena jujur, Ibra tak tahu harus mengadu kepada siapa lagi. Ia juga merasa terlalu kekanakan, seperti bukan dirinya yang selalu tahu arah tujuan.
Sembari menunggu Papanya mengangkat telepon, Ibra menyalakan sigaretnya, memantik ujungnya seraya menghisap dalam-dalam benda bernikotin itu. Menghembuskan asap yang berterbangan, terbawa angin.
Sampai suara Papa terdengar, Ibra pun menceritakan, dari sudut pandangnya, secara yang ia lihat, dan yang ia rasakan. Dan Papa, kembali memberi masukkan, yang entah akan Ibra mengerti, atau tidak sama sekali.
***
Naya di kubikelnya pun sama, banyak melamun. Sampai Gea yang duduk tak jauh darinya memundurkan kursi, mengibaskan tangan tepat di depan wajah Naya.
"Nay! Naya!"
Naya tersentak kaget, hampir saja menyenggol cangkir teh di mejanya. "E-eh? Iya, Kak Gea?"
Gea menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu kenapa? Kok melamun?"
"Enggak kok, Kak... cuma ini, agak capek aja," bisik Naya pelan. Ia menunduk, menyembunyikan jemarinya yang dingin di balik meja.
Bagaimana bisa ia fokus jika otaknya terus menayangkan ulang kejadian di ruangan engineering? Nama itu—Pak Rafael Ibra. Nota yang hilang. Dan tatapan mata Ibra yang sarat akan pertanyaan juga kekesalan.
Semuanya berputar di kepalanya. Jadi selama ini, orang yang ditakutinya, orang yang mencarinya, orang yang malam itu adalah orang di divisi sebelah, sekaligus atasannya. Selama lebih dari seminggu Naya memang tidak pernah mencari tahu siapa Ibra di perusahaan. Yang ia tahu, mereka hanya satu kantor, itu saja.
Katakanlah bahwa Naya naif, bodoh, apapun itu. Tapi Naya benar-benar tidak ingin tahu ataupun penasaran pada sosok bernama Ibra itu.
"Ya udah, istirahat dulu aja. Kebetulan Kak Lady, Marina lagi rapat sama Bian juga, urusan kerjaan sama divisi lain," ujar Gea sambil mengetik pelan di papan ketiknya, lalu menoleh lagi dengan cengiran, sangat tipis. "Btw, Nay... tadi pas kamu ke ruangan sebelah, si Dion ada ngomongin aku enggak?"
Naya mengedip lambat, berusaha memproses pertanyaan Gea di tengah benaknya yang riuh. "Mmm... ada, Kak. Kak Dion nanya Kak Gea udah makan siang apa belum. Katanya muka Kak Gea makin jutek."
Mata Gea membelalak, lalu buru-buru memalingkan wajahnya ke layar monitor dengan pipi yang mendadak merona. "Dih! Gaje banget."
Dan anehnya, selama satu minggu ini Gea mulai bicara, lebih banyak dari sebelumnya. Juga, Dion, yang hampir setiap ada waktu, menghubunginya.
"Oh, iya, Nay, itu tadi Bian ada kasih makanan," tunjuk Gea. "Katanya ayam ketumbar itu kesukaanmu, kalian deket, ya, sekarang?" Gea berucap dengan nada menggoda.
Naya menggeleng. "Enggak, Kak, aku sama Kak Bian cuma sering cerita aja, kok. Bukan deket kayak gimana-gimana." Naya mengklarifikasi.
Gea manggut-manggut saja. Meski benar, jika ayam ketumbar adalah makanan kesukaannya, yang sering ibunya buat di rumah. Tapi entah kenapa, mencium aromanya membuat Naya menghembuskan napas, ada keanehan dari aroma yang biasanya ia sukai itu.
Sementara itu, di smoking area kantor yang sepi dan berangin. Ibra menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas, menghembuskan asap rokoknya ke udara tebal-tebal. Ponsel di genggamannya masih menempel di telinga, menyalurkan suara berat sang Papa dari seberang telepon.
Usai mendengarkan semuanya, Ibra mematikan sambungan. Semakin ia mendengar celotehan Papa, semakin terguncang dirinya.
Ibra membuang napas berat seraya mematikan puntung rokoknya, menyadari bahwa bom waktu di antara dirinya dan Naya kini resmi berdetak jauh lebih cepat dan akan jauh lebih cepat ketika ada sesuatu di dalam diri Naya.
Yang artinya, siap atau tidak, semua akan ada dsn tidak ada.
Makasih thor lanjut up ya