NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : Tamparan Kenyataan

    Khafi baru pamit pulang menjelang malam setelah Bi Yanti memberikan kabar bahwa panggilan teleponnya akhirnya membuahkan hasil.

Kiara sedang dibantu Bi Yanti tiduran di brankar lagi setelah ke toilet saat pintu kamar rawatnya terdorong heboh. Mama Kiara masuk dengan raut panik dan bersalah yang terlihat pekat sekali di wajahnya.

Napasnya terengah-engah, tas mewahnya bahkan hampir terlepas dari bahunya.

​"Maaf, sayang... Maaf Mama baru datang," bisik Mamanya gemetar. Wanita itu mendekati brankar, membungkuk, dan mencium puncak kepala Kiara berulang kali.

​Napas sang Mama tersendat saat matanya menangkap selang infus yang menancap di punggung tangan mungil anaknya. Dengan jemari yang gemetar, ia mengusap wajah pucat anak tunggalnya itu. "Maaf... maafin Mama ya, Kia..."

​Kiara selalu lemah jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Pertahanannya runtuh. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengangguk pelan terkesan kaku. "Nggak apa-apa... aku nggak apa-apa, Ma," jawabnya pelan dengan suara parau.

​Lalu, pelukan hangat yang sangat ia rindukan itu akhirnya kembali dirasakan. Sebuah pelukan yang ironisnya baru bisa ia dapatkan saat Mamanya merasa bersalah.

Malam itu, Mama Kiara benar-benar menginap, menjaga dan menemani malam Kiara yang sunyi. Katanya ia juga akan mengambil cuti agar bisa merawat dirinya sampai sembuh.

Saat menyuapi Kiara makan malam pun, Sang Mama bercerita bahwa Papanya tidak bisa tiba-tiba pulang karena urusan bisnis di Singapura tidak bisa ditinggalkan secara mendadak. Kiara hanya mengulas senyum masam, memalingkan muka tanpa berniat membalas. Ia sudah tidak kaget, pun tak lagi peduli.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Keesokan paginya, suasana kamar rawat inap yang sepi mendadak hangat ketika pintu terbuka. Mama Khafi melangkah masuk membawa rantang makanan beraroma harum masakan rumah.

​Awalnya kedua wanita dewasa di ruangan itu sama-sama kaget. Mama Kiara yang sedang melipat kain lap tertegun melihat kehadiran orang asing, sementara Mama Khafi sedikit tersentak mendapati keberadaan sosok yang dicarinya sejak kemarin.

​Mereka berkenalan singkat. Percakapan yang terjalin terasa sangat kaku dan dibalut basa-basi dingin. Bagaimanapun juga, Mama Khafi masih menyimpan rasa sakit hati yang mendalam melihat bagaimana Kiara ditelantarkan hingga demam dan dehidrasi parah.

Mama Khafi mendekat ke arah Kiara yang badan dan wajahnya baru saja selesai di lap oleh Mamanya. "Hai, sayang... Udah enakan badannya, Nak? seger banget Tante liatnya," sapanya sambil mengusap pelipis Kiara pelan untuk merasakan hawa tubuh anak gadis itu.

"Udah agak mendingan dari pada kemarin, Tante bawa apa nih pagi-pagi udah heboh banget?" Dengan nada yang antusias Kiara bertanya kepada Mama Khafi agar suasana sendu yang tiba-tiba terasa segera cepat hilang.

Dengan gerak tangan yang cekatan, Mama Khafi membongkar semua yang ia bawa. Rantang pertama dibuka yang isinya ada bubur nasi dengan kaldu kuning bikinan langsung tangannya.

"Kiara sudah sarapan, Bu?" alih-alih bertanya langsung ke anak yang berada di depannya, ia malah bertanya kepada Ibu dari anak gadis yang sangat ia sayangi ini.

Mama Kiara tersentak karena tidak menyangka dilibatkan "Sudah, tapi cuma masuk tiga suap, kata Kia rasanya hambar dan pahit,"

Kali ini, ia mengalihkan pandangan ke arah Kiara. "Berarti belum diminum lagi obatnya?"

Kiara membalas dengan gelengan kepala pelan, Mama Kiara hanya menghela napas berat melihatnya. Lalu ia memisahkan rantang yang lain. "Ini saya bawa sarapan lebih, siapa tahu Ibu belum sempat sarapan karena baru ngurus Kiara, jadi dimakan dulu aja."

Mama Kiara menerima uluran rantang makanan berisi kupat tahu dengan saos kacang dan kerupuk dari tangan Mama Khafi. Dengan gumaman terima kasih, ia segera memakannya.

Kiara melihat Mamanya yang menikmati hasil masakan Tante Siska dengan diam, pandangannya teralihkan saat tangan Mama Khafi yang terulur dengan sendok terhenti di depan bibirnya. "Coba Ara rasain dulu sedikit, ada rasanya dan cocok nggak di lidah?"

Kiara terdiam sejenak, merasa sungkan harus disuapi tapi tidak menampik rasa hangat yang muncul. Dengan pelan dia membuka mulutnya, menerima suapan itu. "hmmm, enak! Masakan Tante emang Best banget!" ucap Kiara dengan mata berbinar.

Mama Khafi menghembuskan napas lega karena makanannya diterima oleh lidah anak gadis yang sedang sakit itu. Kali ini dengan senyum lembut yang terpatri di bibirnya, tangannya yang kembali menyuapinya sambil sesekali meniupinya pelan.

​Gantian Mama Kiara yang membeku di tempatnya. ​Dengan sudut matanya, ia menyaksikan betapa luwesnya Mama Khafi memperlakukan Kiara. Wanita itu tanpa canggung mengusap sudut bibir anaknya yang terkena tumpahan bubur, merapikan selimut Kiara, mengikat rambut panjang gadis itu dengan lembut, hingga memastikan obatnya diminum dengan benar.

​"Nanti sore katanya Khafi sama anak-anak kelas mau ke sini jenguk kamu, Ra," ucap Mama Ghibran hangat sambil mengusap kepala Kiara. "Makannya dari pagi dia heboh banget minta Tante yang bikinin sarapan buat kamu, karena katanya makanan sore yang dari rumah sakit aja kamu muntahin kemarin."

Kiara mengulum senyum sungkan. "Makasih banyak ya, Tante. Maaf juga karena Kiara malah ngerepotin lagi. Padahal kemarin Ara udah bilang ke Khafi buat bilangin ke Tante jangan repot-repot jenguk ke rumah sakit lagi." omelnya dengan nada tidak enak.

Mama Khafi menggeleng sambil membenarkan bantalan tidur Grizelle. "Nggak ada kata merepotkan di kamus Tante buat kamu, Nak. Yang penting Ara sehat lagi ya. Biar makin ramai kita omelin Khafinya barengan kayak kemarin-kemarin."

Kiara tertawa pelan menanggapi ucapan Tante Siska yang selalu membuatnya terhibur, ia selalu merasakan dadanya menghangat kala disayangi seperti ini.

Sementara Mamanya sendiri hanya bisa terdiam, menggenggam iPad di pangkuannya dengan jemari yang mendingin—merasa tertampar oleh kehangatan wanita lain kepada anak kandungnya sendiri.

   ​Menjelang siang, reaksi obat membuat mata Kiara terasa berat. Tak butuh waktu lama sampai gadis itu tertidur pulas dengan napas teratur. ​Melihat Kiara sudah lelap, Mama Kiara yang sedari tadi bersikap sok sibuk memoles layar iPad-nya akhirnya mendongak.

​Mama Khafi yang sedang merapikan Rantang di atas meja perlahan menoleh. Tatapannya tak lagi seringan saat berbicara dengan Kiara tadi—kini lurus, tegas, namun tetap anggun.

​"Ibu... Mamanya Kiara, ya?" sapa Mama Khafi pelan, memecah keheningan kamar.

​Mama Kiara membetulkan posisi duduknya, tersenyum canggung. "Iya... Saya Mamanya Kiara. Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih banyak ya, Bu... Katanya kemarin Ibu yang repot-repot bantu urus administrasi dan nungguin Kia di sini."

​Mama Khafi berjalan mendekat, menduduki kursi di sisi ranjang yang berhadapan langsung dengan sofa tempat Mama Kiara duduk.

​"Sama-sama, Bu. Saya lakukan itu karena saya sudah menganggap Ara seperti anak sendiri," jawab Mama Khafi dengan nada tenang namun sarat penekanan. "Lagipula... kemarin kasihan sekali Ara. Suhu badannya hampir empat puluh derajat, dehidrasi berat, dan tidak ada satu pun anggota keluarganya yang bisa dihubungi."

​Wajah Mama Kiara seketika memucat. Ia menunduk sebentar, menggigit bibir bawahnya. "Saya... saya ada meeting mendesak kemarin, Bu. Saya pikir Kia cuma demam biasa karena kelelahan..."

​Mama Khafi menghela napas pelan, menatap lurus ke dalam mata wanita di depannya.

​"Anak seumur Kiara itu udah nggak butuh alasan, Bu," potong Mama Khafi lembut, namun kata-katanya menusuk tepat di ulu hati. "Kemarin katanya Ara nekat sekolah dalam keadaan menggigil hebat cuma karena satu hal... dia takut merasa kesepian di rumahnya sendiri yang terlalu besar."

​Mama Kiara tercekat. iPad di tangannya perlahan meluncur turun ke atas pangkuan.

​"Anak perempuan itu perasaannya halus, Bu," lanjut Mama Khafi lagi, menatap wajah lelap Kiara yang damai. "Jangan sampai nanti saat Ibu sudah punya waktu untuk dia... Ara-nya yang justru sudah terbiasa tanpa kehadiran Ibunya."

​Ruangan itu seketika hening total. Kalimat terakhir dari Mama Khafi menggantung di udara, membuat Mama Kiara bungkam seribu bahasa dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan rasa malu dengan tamparan kenyataan yang membuat penyesalan yang teramat sangat menyesakkan dadanya.

​Melihat reaksi itu, Mama Khafi tidak berniat memperpanjang ketegangan. Ia merapikan tasnya, lalu tersenyum tipis—kembali pada ketenangannya yang biasa. bahkan di rumahnya sendiri pun padahal dia jarang bersikap anggun seperti ini.

​"Saya pamit dulu ya, Bu. Nanti sore anak-anak dari sekolah mau datang jenguk. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan titip pesan," ucap Mama Khafi lembut seraya mengusap bahu mama Kiara pelan sebelum melangkah keluar dari kamar rawat.

​Sepeninggalan Mama Khafi, ruangan kamar inap itu kembali hening. Mama Kiara berjalan untuk mendekati brankar Kiara, duduk di sebelahnya dengan hati yang teramat sesak. Ia menatap punggung tangan anaknya yang tertancap selang infus, lalu memandangi wajah lelap Kiara.

Kata-kata 'Jangan sampai saat Ibu punya waktu... Ara-nya justru sudah terbiasa tanpa Ibunya' terus berputar hebat di kepalanya, meninggalkan gumpalan penyesalan yang kian menghimpit dada.

"Maaf, Kia. Mama nggak pernah bermaksud untuk bikin kamu merasa begini, tapi... tapi Mama juga nggak tahu harus gimana selain dengan bersikap kaya gini." isaknya dengan lirih keluar pelan, kedua telapak tangannya segera menutupi wajah yang terlihat lelah sejak kemarin malam.

Sungguh, Ia sangat bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!