Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11,Meminta bantuan.
Di dalam kamar yang sederhana namun tertata rapi itu, Li Yun duduk di kursi dekat jendela, sebuah buku tebal terbuka di tangannya. Sinar matahari sore menyelinap masuk, menyentuh halaman-halaman kertas yang sudah sedikit menguning. Ia membaca perlahan, menikmati keheningan yang jarang ia dapatkan sejak berada di sini — tidak ada teriakan, tidak ada cambuk, tidak ada suara yang menyalahkannya atas segala hal yang terjadi. Hanya dia, buku di tangannya, dan ketenangan yang perlahan ia temukan kembali.
Namun ketenangan itu terhenti seketika saat terdengar ketukan di pintu — tiga kali, cepat dan tegas, seakan pemiliknya tidak sabar menunggu diizinkan masuk.
Li Yun mengerutkan kening, meletakkan bukunya perlahan. "Masuk."
Pintu terbuka, dan sebelum ia sempat berdiri, sosok Li Hua sudah melangkah masuk, menarik tangan Qiao'er yang tampak cemas di belakangnya. Gadis itu tidak menunggu dipersilakan, ia langsung berjalan menuju kursi di hadapan meja, lalu duduk dengan tenang seakan tempat itu sudah lama menjadi miliknya.
Li Yun berdiri mematung sejenak, lalu menutup pintu perlahan, berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh tanya. "Ini bukan tempat sembarangan didatangi."
Li Hua menatap sekeliling ruangan, tersenyum tipis. "Boleh aku masuk?" tanyanya seolah tidak mendengar pertanyaan pria itu tadi.
"Kau sudah masuk," jawab Li Yun mendekat, lalu duduk di kursi di hadapannya, menatapnya lekat-lekat. Qiao'er berdiri di samping tuannya, menunduk hormat, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun.
"Bagaimana kamarmu?" tanya Li Hua santai, menatap rak buku di sudut ruangan. "Apakah kau suka tinggal di sini?"
Li Yun diam sejenak, lalu menjawab pelan, "Lebih baik daripada tidur di gudang kayu yang gelap dan berbau lembap. Setidaknya di sini aku bisa melihat langit."
Li Hua mengangguk pelan, seakan memahami makna di balik kalimat sederhana itu. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap mata pria itu.
"Bagaimana ujianmu?" tanya Li Yun tiba-tiba, memotong keheningan. "Apakah kau gagal dan dihukum?"
Alis Li Hua terangkat tinggi. Ia tertawa kecil, suara tawanya jernih dan ringan, mengisi ruangan itu. "Kenapa kalian berdua sama saja? Qiao'er tadi juga bilang begitu. Apa kalian meremehkan kemampuanku?"
Li Yun terdiam, tidak menjawab.
"Tentu saja hasilnya sangat memuaskan!" lanjut Li Hua dengan bangga, matanya berbinar cerah. "Bahkan Nyonya Besar sangat bangga padaku. Dan Shi Yin... ah, wajahnya masam sekali, seakan menelan buah yang belum matang. Aku berhasil membuatnya kesal tanpa perlu mengucapkan satu kata pun yang kasar."
"Baguslah," ucap Li Yun pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat tanpa disadari. "Lalu apa tujuanmu mencariku? Kau bukan datang hanya untuk bercerita tentang ujian, bukan?"
Li Hua menarik napas panjang, menegakkan punggungnya. Tatapannya berubah menjadi serius.
"Pangeran," mulainya tegas. "Bolehkah kau menyuruh pengawal bayangan pribadimu mengambil gantungan giok identitasmu, lalu meletakkannya di kamar Shi Yin? Dan berpura-pura seolah gantungan itu hilang?"
Li Yun menatapnya tak percaya. Ia tertawa sinis. "Kau tahu betapa berharganya benda itu? Tanpa giok itu, siapa pun bisa meragukan kedudukanku. Jika hilang, aku bisa dituduh menyamar, ditangkap, dihukum... Kau mengerti risikonya?"
"Aku mengerti," jawab Li Hua tenang.
"Kalau begitu bagaimana mungkin kau memintanya?" Li Yun berdiri, suaranya meninggi sedikit. "Bagaimana aku bisa membuktikan siapa diriku jika benda itu tidak ada padaku?"
Li Hua tidak mundur sedikit pun. Ia menatapnya lurus. "Tenang, Pangeran. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Kita hanya meminjamnya sebentar. Hanya untuk memberikan pelajaran pada kakak kembarmu yang sok cantik itu."
"Shi Yin..." gumam Li Yun, duduk kembali di kursinya. "Apa yang telah dilakukannya padamu?"
Li Hua menunduk sejenak, menatap jemarinya yang saling bertautan di pangkuan. "Dia mengambil gelang giok merah pemberian Ibu. Gelang yang Ibu pasangkan sendiri di pergelanganku."
"Kau punya perhiasan lain, bukan?" Li Yun mengerutkan dahi. "Kenapa harus merebut kembali barang itu dari tangan Shi Yin? Bukankah itu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri?"
Li Hua mengangkat wajahnya, matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa digoyahkan.
"Karena walaupun aku adalah Nona Kedua di rumah ini, aku selalu merasakan bahwa kasih sayang keluarga kepadaku berbeda dengan yang diterima Shi Yin. Aku sadar mereka membuangku sejak bayi, dan hanya terpaksa membawaku kembali karena membutuhkanku. Tapi gelang itu... itu adalah hadiah pertama yang kuterima dari Ibu. Hadiah yang diberikan kepadaku, bukan kepada pengganti siapa pun."
—Padahal bukan sekadar hadiah, batinnya. Aku tidak suka milikku dirampas oleh orang lain begitu saja. Dan sekalian memberi pelajaran pada gadis belagu itu agar tahu bahwa tidak semua hal bisa ia ambil sesuka hatinya.
Li Yun terdiam. Ia mendengar suara hati gadis itu — jujur, tajam, jauh lebih tegas daripada kata-kata yang terucap. Bibirnya menyebutkan kasih sayang, tapi hatinya bicara tentang keadilan dan harga diri. Gadis ini berbeda dari yang ia kira.
"Baiklah..." ucap Li Yun perlahan, lalu tiba-tiba matanya melebar. Ia menatap Li Hua tak percaya. "Dari mana kau tahu kalau aku punya pengawal pribadi yang bergerak dalam bayang-bayang?"
Li Hua tersenyum santai, seakan itu hal yang paling wajar di dunia. "Bukankah semua Pangeran pasti dilindungi oleh pengawal yang punya kemampuan bela diri tinggi?"
—Lagipula, di semua drama kolosal dan novel tentang Pangeran kejam sepertimu, pasti ada pengawal bayangan yang setia sampai mati, tambahnya dalam hati.
Li Yun mengerutkan dahi lebih dalam. Drama... kolosal... novel? Apa itu? pikirnya bingung. Ia belum pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.
Li Hua segera berdiri, menyadari ia hampir tergelincir mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya. "Sudahlah, Pangeran! Aku harus pergi tidak baik gadis baik-baik seperti ku kelamaan di kamar pria."
Ia bergegas menuju pintu, lalu tiba-tiba berhenti, berbalik kembali ke arah meja. Ia mengeluarkan bungkusan kertas cokelat dari balik lipatan bajunya, meletakkannya di atas meja kayu itu dengan lembut.
"Ini," ucapnya sambil tersenyum lebar. "Aku ambil dari aula tadi. Katanya kue ini enak, buatan koki istana. Aku sudah mencoba satu, rasanya sangat lezat. Bagikanlah dengan pengawalmu itu."
Tanpa menunggu jawaban, ia melambaikan tangan, lalu menarik Qiao'er keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Pintu tertutup pelan di belakang mereka, menyisakan Li Yun sendirian menatap bungkusan itu.
Ia meraih bungkusan itu perlahan, membuka lipatan kertasnya. Di dalamnya tersaji beberapa potong kue berbentuk indah, masih terlihat segar, mengeluarkan aroma manis yang lembut.
"Kue..." gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Tiba-tiba bayangan bergerak di sudut ruangan. An Fu muncul dari balik tirai jendela, berlutut sejenak sebelum berdiri tegak.
"Nona Kedua cukup pintar," ucap An Fu sambil menatap kue itu. Ia mengambil sepotong, lalu memakannya perlahan.
Li Yun menatapnya tajam. "An Fu..."
An Fu menelan kue itu dengan cepat, tangannya terhenti di udara. "Maaf, pangeran... tadi Nona Kedua bilang, ini juga untukku."
Li Yun menghela napas panjang, tidak marah, justru tersenyum tipis. Ia merogoh pinggangnya, mengeluarkan gantungan giok emas yang terpasang di sana — benda yang melambangkan identitasnya sebagai Pangeran Negeri Tang Liang. Mengkilap indah terkena cahaya matahari, ukiran naga di atasnya tampak hidup.
"An Fu," panggilnya tegas.
"Hamba siap, pangeran."
"Lakukan seperti yang diperintahkan Li Hua," ucapnya sambil meletakkan giok itu di atas meja. "Sisipkan di kamar Shi Yin, tepat di tempat gelang merah itu disimpan. Biarkan mereka menemukannya sendiri."
An Fu mengangguk hormat, meraih giok itu dengan hati-hati. "Baik, Pangeran."
"Dan An Fu..."
An Fu berhenti melangkah, menoleh kembali.
"Jangan biarkan siapa pun melihatmu," tambah Li Yun pelan, matanya menyala dengan kilatan penasaran. "Aku ingin melihat sendiri... bagaimana caranya gadis itu memberikan pelajaran."
"Hamba akan berhati-hati," jawab An Fu, lalu dalam sekejap ia lenyap kembali ke dalam bayangan, seakan tidak pernah ada di sana.
Li Yun duduk sendirian di kamar itu, menatap pintu yang tertutup. Di luar sana, angin sore berhembus lembut, membawa dedaunan kering berputar di halaman. Ia tersenyum sendiri.
Gadis ini memang menarik, batinnya. Kau tidak hanya ingin mengambil kembali milikmu, Li Hua. Kau ingin membalas dengan cara yang tidak ada yang bisa menyalahkanmu. Baiklah... aku akan menemanimu bermain.
Ia meraih sepotong kue yang tersisa, memakannya perlahan. Manis, lembut, persis seperti senyum gadis itu tadi.