NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Mumi Kamar Kampus dan Angkot Jedag-Jedag

"Non! Bangun, Non! Astaga, ini anak apa simulasi mati suri, sih?!"

Bi Aeni, asisten rumah tangga senior sekaligus pemegang sabuk hitam dalam menghadapi kebebalan keluarga Saputra, sudah sampai pada tahap putus asa tingkat dewa.

Di depannya, Thania Arshila Sella Saputra—gadis 19 tahun yang cantiknya kelewatan, tapi bakat budeknya kalau tidur juga kelewatan—masih bergulung nyaman di balik selimut bulu angsa. Sella tidur dengan posisi telentang pasrah, mirip mumi yang sedang menikmati masa pensiun.

PRANG! PRENG! PRONG!

Bi Aeni memukul-mukul panci penggorengan tepat di samping telinga Sella. Hasilnya? Nihil. Sella cuma mendengkur halus, seolah suara hantaman logam itu adalah simfoni pengantar tidur orkestra klasik dari Paris.

"Aduh Gusti... cantik-cantik kok kalau tidur kayak kebo kena bius. Padahal Bapaknya bekas tentara. Kalau Tuan ada di sini, Non Sella sudah dikirim ke barak wajib militer pakai meriam!" gerutu Bi Aeni sambil berkacak pinggang. Napasnya kembang kempis menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.

Matanya melirik mik karaoke nirkabel milik Sella di atas meja rias. Kilat licik melintas di mata tua Bi Aeni. Tanpa babibu, ia menyalakan mik itu, menggeser tombol volume dan echo ke tingkat maksimal, lalu menempelkan corongnya tepat di depan hidung Sella.

"NON! BANGUN GAK?! KALAU GAK BANGUN, SAYA SIRAM PAKAI BENSIN TERUS SAYA BAKAR HIDUP-HIDUP JADIIN BARBEQUE DI HALAMAN BELAKANG!"

Suara menggelegar bergaung memantul di dinding kamar. Sella tersentak. Matanya terbuka lebar, nyawanya seolah baru saja ditarik paksa kembali ke raga dari Galaksi Bimasakti. Ia mengerjap linglung, menatap langit-langit kamar dengan jantung yang berdegup seperti musik disko.

"Bibi ngapain, sih? Berisik banget. Sella lagi mimpi dapat tepuk tangan standing ovation pas pameran desain baju di Paris, tahu!" gumam Sella dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Ia nyaris menjatuhkan kepalanya lagi ke bantal, tapi Bi Aeni dengan sigap menyentak bantal itu hingga kepala Sella terantuk kasur.

"Heh, Non! Jangan mimpi terus, hidup Non itu aslinya komedi! Sekarang bangun atau saya pecat Non jadi anak majikan saya!" teriak Bi Aeni sarkas. "Cepat siap-siap ke bandara! Tuan sama Nyonya sudah berangkat duluan sejam yang lalu. Mereka sudah empet tingkat kuadrat nungguin Non!"

Sella masih mengumpulkan sisa-isa kesadarannya yang tertinggal di Paris. "Bandara?"

Matanya perlahan bergulir melirik jam dinding di atas meja rias. Detik itu juga, pupil matanya melebar seukuran koin pecahan seribu perak. Jarum jam menunjuk tepat ke angka tiga sore.

"HAH?! JAM TIGA SORE?!"

Sella melompat dari kasur seolah pantatnya baru saja disengat tawon. "KENAPA BIBI GAK BILANG DARI TADI?!"

"Bibi sudah bangunin dari zaman purba, Non! Dari disiram air suci sampai dipukulin panci sakti, Non Sella-nya aja yang betah banget ngerumpi sama malaikat di mimpi!" balas Bi Aeni tak mau kalah.

"Sella kan sudah bilang, bangunin Sella, Bi! Jangan sampai ketinggalan pesawat! Tuan putri cuma mau merem sepuluh menit habis begadang teleponan semalaman sama Erlangga gara-gara deg-degan mau berangkat kuliah mode di Paris hari ini, ini kenapa jadi kebablasan sampai jam tiga sore?! Duh, bisa dicoret dari Kartu Keluarga ini!"

Tanpa sempat mandi atau sekadar menggosok gigi, Sella langsung menyambar asal hoodie cokelat longgar dan celana jins pendek yang tergeletak di atas kursi. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyisir rambut sebahunya menggunakan jari, lalu memoles liptint pink ke bibirnya secara membabi buta agar tidak terlihat seperti zombi kelaparan yang baru bangkit dari kubur.

"Koper Sella mana, Bi?! Sella harus susul mereka sekarang!" seru Sella panik, sambil memakai sepatu kanan-kiri yang hampir tertukar posisi.

"Sudah dibawa Nyonya! Katanya kalau dalam dua puluh menit Non belum menampakkan batang hidung di bandara, Non bakal ditinggal dan resmi jadi penjaga rumah kosong!"

"Ck! Kelamaan ngomongnya, Bi! Bye!"

Wushhh!

Sella melesat keluar kamar seperti roket gagal produksi yang kehilangan kendali. Ia tak memedulikan wajah bantalnya, tujuannya cuma satu: Bandara Soekarno-Hatta sebelum tiket pesawatnya hangus menjadi abu.

****

Baru sepuluh menit Sella duduk dengan gelisah di dalam taksi, suara sialan yang paling dihindari oleh seluruh umat manusia di jalan raya terdengar dari bawah mobil.

PSSSSSSSST... DUG... DUG... DUG...

"Kenapa, Pak? Jangan bilang Bapak lagi buang angin dengan efek suara?" tanya Sella, menatap waswas punggung sopir taksi yang mulai bergerak gelisah.

Si bapak menggaruk kepala yang tidak gatal sambil menatap kaca spion. "Kayaknya ban belakang bocor, Neng. Duh, apes tenan..."

Sella melirik jam tangannya. 15.10. Jantungnya serasa mau melompat keluar lewat tenggorokan. "Pak, saya cuma punya waktu sebentar sebelum pesawat saya terbang ke Eropa! Tolong, Pak, seret aja mobilnya sampai bandara! Anggap aja kita lagi syuting film aksi!"

Pak Sopir keluar, mengecek ban, lalu kembali dengan wajah layu tak berdarah. "Kena paku, Neng. Gede banget, kayak paku keramat. Maaf ya, Neng turun aja di sini, cari angkutan lain."

Sella turun ke trotoar dengan perasaan campur aduk antara ingin menangis beneran dan ingin menelan paku tersebut hidup-hidup. Ia mencoba mencegat taksi lain yang lewat, tapi semuanya penuh atau sengaja mengabaikannya.

Di saat mentalnya berada di ambang kehancuran, sebuah angkot hijau dengan modifikasi lampu disko dan musik jedag-jedug volume penuh melintas di depannya. Tanpa pikir panjang tentang gengsi, Sella langsung melompat masuk ke pintu belakang yang terbuka.

"BANG! BANDARA, BANG! GAS POL SEPERTI SEDANG DIKEJAR DEBT COLLECTOR!" teriak Sella.

Di dalam angkot yang pengap dan berbau parfum kopi murahan itu, Sella baru sadar ia tidak sendirian. Ada seorang gadis mungil berseragam SMA yang sedang meringkuk sibuk dengan ponselnya di pojok kursi.

"Amel?" panggil Sella sangsi.

Gadis itu mendongak. Matanya yang bulat langsung berbinar panik. "Kak Sella?!"

Amel adalah adik kandung Erlangga—cowok yang statusnya masih abu-abu antara pacar atau sekadar teman berkomitmen dengan Sella. Amel ini bocah ajaib berusia 13 tahun, si jenius yang lompat kelas hingga sudah duduk di bangku SMA.

"Tumben Kakak naik angkot eksotis begini? Mana koper-kopernya?" tanya Amel heran.

"Koper sudah disita Mama ke bandara, Mel. Dompet sama HP juga ketinggalan di kamar! Kakak cuma bawa badan, baju tidur, sama doa restu dari Bi Aeni ini," curhat Sella dramatis sambil mengusap dadanya. "Kamu sendiri ngapain di angkot begini?"

"Mobil jemputan Amel bannya bocor juga, Kak. Kayanya hari ini paku lagi musim panen di jalan raya," jawab Amel polos.

Belum sempat Sella menanggapi kemalangan mereka yang seragam, angkot itu tiba-tiba mengerem mendadak hingga tubuh keduanya terjungkal ke depan.

CIIIIIITT!

Pintu angkot yang sempit itu mendadak penuh. Tujuh cowok bertampang preman pasar dengan seragam SMA kedodoran, ditemani dua siswi dengan riasan wajah menor yang lebih mirip lenong keliling, merangsek masuk. Suasana angkot seketika berubah mencekam, bau matahari langsung mendominasi ruangan.

Salah satu siswi yang rambutnya dicat merah menyala seperti cabai kering langsung menunjuk hidung Amel dengan kuku palsunya.

"Heh! Lo cewek tengil yang nampar gue di gerbang sekolah tadi, kan?!"

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!