Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Menganga
---Happy Reading---
Dania merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sangat keras. Dia tidak menyangka hari pertama yang membuatnya bersemangat malah berakhir nestapa.
Kepalanya terasa sangat kalut layaknya lampu kamarnya yang padam tak bercahaya. Ukiran megah langit-langit sejenak mengalihkan perhatiannya, namun mereka tidak bisa menandingi gemetar hebat tangannya.
Pelan-pelan Dania mulai memejamkan matanya, berusaha menghitung detak jantung yang ia rasakan dari sentuhan telapak tangan di dadanya. Satu, dua, tiga, seterusnya sembari menarik nafasnya seirama dengan angka di batinnya.
"Huuuuuh...." Dania menggenggam erat tangannya yang gemetar.
"Tenanglah Dan, tidak ada yang terjadi. Dia hanya berusaha ramah. It's okey... Kamu masih Dania yang dulu," ucapnya masih berusaha mengatur nafas yang semula memburu.
Dania menghabiskan lebih dari setengah jam untuk menenangkan dirinya dari peristiwa yang tak mengenakan tadi sore. Mungkin bagi sebagian orang, kejadian itu tidak terlalu mengganggu. Tapi tidak untuk Dania. Baginya, walau hanya interaksi jarak dekat dengan lawan jenis, bisa membangunkan luka yang tidak pernah terobati.
Karena itulah, ia merasa sangat bersyukur saat Jax memintanya pisah kamar. Bagaikan menemukan oasis di tengah gurun, kelegaan itu membuatnya bertahan di tengah kesepian.
"Tunggu! Aku belum menyiapkan makan malam buat Jax," seketika matanya terbuka dan lansung berlari ke arah dapur.
Padahal sebelumnya kepalanya dipenuhi kilatan kenangan yang menyeramkan, kini ia malah bersenandung riang sembari memakai celemek biru mudanya.
"Masak apa ya?" Jemarinya saling mengait satu sama lain. "Mungkin....pasta?" Dirinya masih tidak menyadari ekspresi yang dia keluarkan saat ini. Senyum lebar, manis, dan pipi yang ranum sangat cocok untuk orang yang sedang jatuh cinta.
Mungkinkah karena tadi Jax menolongnya?
Dania memang terlalu perasa. Hanya dengan aksi yang bisa dibilang biasa saja itu, ia sudah menganggapnya sesuatu yang sangat keren dan berkharisma.
"Ternyata sekampus sama suami nggak terlalu buruk, hahaha!" Celotehnya.
Namun di tengah senandung riangnya, Jax mengirim pesan yang membuat Dania seketika meletakkan spatulanya. Mood bagusnya mendadak merosot sampai ujung kakinya.
"Benar, apa yang bisa aku harapkan darinya? Cuma buang-buang waktu saja."
Dania mematikan kompornya, merapikan pasta yang sempat ia keluarkan dari bungkusnya, dan membuang air yang hampir mendidih.
Aku bakalan sama pacarku lagi. Nggak usah pakai acara nungguin segala.
Itulah isi chat dari Jax.
Lalu, Dania masuk kekamar dan menguncinya. Dengan gerakan yang grusak-grusuk ia mengambil laptopnya untuk membuat materi ajar yang terbengkalai karena peristiwa senonoh tadi sore.
Dengan persiapan yang matang, cemilan di sisi kanan dan kopi di sisi kiri, Dania siap berperang. Jemarinya yang telah usang selama 6 bulan, kini ia paksa untuk bekerja tanpa pemanasan. Pundaknya yang mulai tegang, ia pijat berulang kali agar tak menganggunya bergerak gesit.
Semua usahanya ia kerahkan agar bisa terfokus dan tidak memikirkan suaminya lagi.
Satu jam tiga jam lima jam berlalu ketika ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari Jax. Namun sepertinya hati Dania sangat bebal. Ia malah tidak berhenti membayangkan adegan biru antara Jax dan pacarnya.
"Haish!!!!!"
Duk duk duk
Dania melempar keyboard eksternalnya dan memukul-mukulkan kepala imutnya di meja.
"Stop Dania!!! Dasar ngeres!!!!"
"Dan stop mikirin dia!!! Jax pasti lagi seneng-seneng sekarang."
Ucapan memang mudah sekali untuk dikatakan. Tapi hatinya benar-benar tidak bisa bohong. Berulang kali ia menengok jam dindingnya untuk mengecek waktu yang telah berlalu. Bahkan aroma kopi yang sudah habis tidak bisa menenangkannya sama sekali.
Tanpa menahan keinginannya lagi, Dania menyambar hp yang ia geletakkan di meja kerjanya. Dengan cepat ia mengetik pesan secara beruntun hanya untuk menanyakan kapan suaminya akan pulang. Tak berhenti di situ, Dania juga menelpon Jax berulang kali seperti debt kolektor yang menagih utang.
Sampai ia tersadar bahwa yang ia lakukan itu sangat bodoh. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Jax yang tidak pernah peduli tentangnya akan memberikan kabar cuma-cuma.
'Berhentilah menganggap suamimu akan mencintaimu, Dania. Berhentilah sekarang juga!'
Dengan segala pertimbangan yang tidak ada habisnya, Dania memutuskan untuk tidur saja. Ia beranggapan dengan memejamkan matanya maka otaknya akan beristrahat dari aktivitas yang melelahkan itu.
Akan tetapi usahanya sia-sia.
Dia tidak bisa menipu dirinya untuk tidak peduli dengan anak itu.
"Baiklah, kali ini saja."
Dania menerjang rasionalnya, ia mengunjungi setiap bar yang pernah ia kunjungi untuk menjemput Jax yang mabuk. Tapi semua tak ada hasilnya.
'Apakah dia sudah ke hotel?'
Kalau begitu bukankah Dania seharusnya berhenti disitu saja? Kalau sampai dia menemui Jax dalam keadan bercumbu, hancurlah semua benteng pertahanannya.
Langkah kakinya sempat terhenti karena tak ingin menemukan fakta tersebut.
'Sekalian saja! Kalau memang aku harus melihatnya, itu lebih baik. Jadi aku akan berhenti mengharapkannya.'
Cari mati? Mungkin itu kata yang tepat. Tapi Dania benar-benar tidak berdaya. Seolah tubuhnya bergerak sendiri, ia terus menerjang segala sesuatunya hanya demi satu kalimat 'Jax tidak benar-benar brengsek.'
Satu per satu Dania datangi setiap hotel terdekat. Ia bertanya pada semua resepsionis tentang tamu yang bernama Jax namun masih saja jejaknya tak ditemukan.
'Apakah dia berada di tempat pacarnya? Kos? Kontrakan?'
"Haruskah aku menggrebek semua kos-kosan di kota ini?" Dania sudah kehabisan tenaga. Tekad kuat yang ia bawa dari rumah telah hilang terbawa gelapnya malam hari.
Dia hentikan laju mobilnya. Sejenak ia gunakan waktunya untuk mengatur kembali nafasnya. Dia sudah terlalu impulsif karena menuruti isi hatinya tanpa memprosesnya lagi. "Mungkin sampai sini saja," ucapnya.
Kelelahan bercampur dengan muak, melahirkan ketidakpedulian.
Tapi benarkah Dania bisa menghapus rasa pedulinya begitu saja? Sepertinya tidak.
Terbesit pikiran berbahaya yang ia hiraukan selama keluar dari rumah. Dia menepis pikiran itu dengan menjejal ide bahwa Jax sedang bersama dengan pacarnya. Bagaimana kalau tidak?
Bergegas, ia belokkan setirnya dan menancap gasnya agar dirinya tidak terlambat.
"Ku mohon.... Semoga tidak terjadi."
Dania berdoa di setiap hembusan nafasnya sembari tetap memfokuskan diri ke jalanan.
Sampai akhirnya ia tiba di lokasi, jembatan besar di kotanya di tengah jalan.
Jantungnya berdegup kencang ketika matanya menangkap sosok Jax yang sedang berdiri menatap jauh sungai dalam. Sorot matanya terlihat sangat lirih berbanding terbalik dengan gemuruh petir yang menyambar jantung Dania.
"JAX!!!!!"
Teriaknya.
Brakkk!
Dania membanting pintu mobilnya dan berlari sekencangnya menuju suaminya yang berdiri tersenyum simpul kearahnya.
"Dania? Selamat datang," ucapnya tanpa merasa bersalah.
Plak!!!!
Suara tamparan itu sangat kencang namun Jax masih bisa tersenyum ke arah Dania yang menangis.
.
.
.
wkwkwk... jax minggir dulu yess...