"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Kamar bernuansa merah muda lembut itu diselimuti keheningan yang sedikit canggung. Cahaya pagi membias hangat menembus tirai tipis, menciptakan pendar-pendar keemasan di atas lantai kayu yang bersih.
Di atas ranjang king-size berseprai sutra, Orion Leander Ashford duduk bersandar pada headboard. Pandangan mata birunya yang dalam tertuju lurus pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat, di mana suara gemercik air terdengar dari dalam.
Lean memijat pangkal hidungnya yang mancung, helaan napas berat lolos dari bibir tegapnya. Kata-kata Collins di meja makan tadi masih bergema samar di kepalanya.
Apa benar Glow hamil?
Pikiran itu sempat melintas secara absurd di benaknya, mengingat betapa paniknya Glow saat melihat berita pagi tadi. Namun di balik kecemasan konyol soal kehamilan yang jelas-jelas secara biologis mustahil terjadi tanpa adanya penyatuan intim, benak Lean perlahan ditarik kembali pada rentetan kejadian kelam kemarin malam—alasan sebenarnya mengapa berita pembunuhan Leonardo DiCaprio memuat detail yang begitu mengerikan di televisi.
°°
Beberapa jam sebelum Lean melangkah masuk ke penthouse milik Rebelda, sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor berhenti di sebuah gudang tua terisolasi di pinggiran New York.
Di dalam ruangan berbau besi dan debu itu, Leonardo DiCaprio berada dalam kondisi terikat pada sebuah kursi besi. Wajah pria itu sudah babak belur, sudut bibirnya mengucurkan darah segar.
Di hadapannya, Lean berdiri tegap bagaikan malaikat maut berpakaian jas mahal, sementara dua anak buah kepercayaan kakeknya—Dariush Chase Ashford—berdiri di kegelapan dengan sarung tangan medis yang sudah terpasang.
"Tolong... Lean! Ampuni aku! Aku tidak punya dendam padamu!" jerit Leonardo dengan suara serak menahan ketakutan yang teramat sangat.
Lean tidak menjawab. Pria Ashford itu memutar sebuah rekaman video di ponselnya dengan ekspresi yang membeku tanpa emosi. Di dalam layar, tampak rekaman panas yang menampilkan sosok wanita mirip sekali dengan Glow dalam situasi intim bersama Leonardo.
"Video ini..." desis Lean rendah, suaranya mengandung ancaman membunuh yang teramat pekat. "Anak buahku sudah mengecek rekayasa digitalnya. Ini hanya editan murah buatanmu untuk menghancurkan nama baik Glow."
Namun, Leonardo yang merasa sudut jalurnya sudah tertutup justru tertawa histeris dengan wajah meremehkan. Pria itu menyemburkan ludah berdarah ke lantai, matanya berkilat penuh kedengkian.
"Editan?!" pekik Leonardo dengan nada memprovokasi. "Kau boleh membohongi dirimu sendiri, Lean! Tapi kenyataannya, Pearl Glow Hurt adalah wanita yang sudah kuinginkan dan kutiduri berkali-kali! Dia itu bekas milikku! Silakan kau pungut sampah yang sudah bekas kupakai itu!"
DEG.
Kalimat murahan dan menjijikkan itu menghantam tatanan kesabaran Lean hingga hancur berkeping-keping.
Seketika itu juga, jiwa pembunuh terliar di dalam darah Ashford milik Lean meledak tanpa ampun. Memang benar, di malam pertama mereka di Maladewa, Lean pernah melemparkan pertanyaan provokatif soal apakah Glow pernah tidur bersama Leo.
Saat itu, Glow tidak memberikan jawaban pasti dan justru mengalihkan pembicaraan. Bagi Lean, entah Glow masih suci atau pernah disentuh oleh pria lain di masa lalunya sebelum mengenal dirinya, Lean tidak peduli pada status itu.
Namun, mendengar seorang pria bajingan menyebut istrinya sebagai "sampah bekas" dengan nada menghina... hal itu adalah dosa terlarang yang tidak akan pernah dimaafkan dalam hukum keluarga Ashford.
Glow berharga. Glow adalah istrinya. Glow adalah poros dari kedamaian hidupnya yang kacau. Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang boleh merendahkan kehormatan wanitanya.
Lean tidak sudi mengotori tangannya sendiri untuk memukul lidah kotor pria itu lebih lama. Pria tegap itu melangkah mundur, meraih ponselnya, dan menekan panggilan kepada pengawal pribadi kakeknya.
"Grandpa Dariush..." bisik Lean dingin ke dalam saluran telepon. "Ada satu bangkai menjijikkan yang berani menyebut menantu keluarga Ashford sebagai sampah. Tolong eksekusi dia sekarang juga. Buat dia tidak bisa lagi melihat atau menyimpan organ apa pun yang pernah menginginkannya."
Perintah itu adalah vonis mati mutlak. Malam itu juga, tim forensik rahasia milik kakeknya mengeksekusi Leonardo secara sadis—mencabut kedua bola matanya yang pernah menatap Glow dengan niat kotor, dan menguras seluruh organ dalamnya tanpa menyisakan sedikit pun jejak kemanusiaan.
CEKLIK.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan seluruh bayangan kelam dan kenangan pertumpahan darah di kepala Lean.
Flashback terhenti seketika.
Glow keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama Sutra longgar berwarna krem. Rambut cokelatnya yang masih basah terurai di bahu, dan wajah cantiknya tampak sedikit lebih segar meskipun sisa-sisa rasa mual masih berbekas tipis di pelipisnya.
Glow mengernyitkan dahinya heran saat menatap Lean yang masih terduduk melamun di atas ranjang dengan pandangan kosong menatap pintu.
"Kenapa?" tanya Glow datar, melangkah mendekati meja rias untuk meraih handuk kecil.
Lean masih terdiam, matanya mengikut pergerakan Glow dengan raut wajah tegang yang tidak biasa.
"Kau sakit?" tanya Glow lagi seraya menatap pantulan suaminya dari cermin meja rias.
Lean menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa cemas dan kebingungan konyol akibat ucapan Collins tadi mendadak menyeruak kembali di kepalanya. Pria tegap itu melepaskan sandarannya, maju ke tepi kasur, dan menatap Glow dengan sorot mata yang amat serius—serius hingga terlihat agak bodoh.
"Apa... apa benar kau sedang hamil, Pearl?" tanya Lean dengan nada suara yang bergetar cemas. "Ayo kita periksa ke dokter sekarang juga... agar bayimu bisa mendapatkan nutrisi yang baik dan kita bisa mengetahui apakah bayinya sehat atau—"
"Aku tidak hamil!" pangkas Glow cepat dengan nada ketus dan tatapan tajam yang menghujam langsung ke arah Lean.
Glow memutar tubuhnya, memegang handuk di tangannya seraya menatap suaminya seolah Lean baru saja kehilangan seluruh akal sehatnya.
"Dan aku tidak bisa hamil hanya dengan memeluk guling atau memegang tanganmu saat tidur!" tegas Glow pedas.
DEG.
Kalimat tajam itu seketika menghentikan ucapan Lean. Pria tegap itu mematung di tepi kasur, mulutnya sedikit terbuka saat menyadari betapa konyolnya kepanikan yang baru saja ia tunjukkan di depan istrinya sendiri.
Wajah tegap Orion Leander Ashford seketika berubah memerah padam hingga ke ujung telinganya. Pria yang di dunia bawah tanah begitu ditakuti bagaikan iblis berdarah dingin itu kini mematung bagaikan patung batu di tepi kasur.
Pengakuan polos nan pedas dari Glow menghantam telak gengsinya, menyadarkan Lean betapa bodoh dan absurdnya kepanikan soal kehamilan yang baru saja ia lontarkan.
Glow yang menatap perubahan ekspresi suaminya tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Ada rasa geli yang teramat sangat melihat bagaimana pria tegap dengan tatapan mata sehitam jurang ini bisa mendadak tampak begitu polos dan serba salah di hadapannya.
"Kenapa diam, Pria Bengkel?" goda Glow seraya melangkah pelan mendekati ranjang, melipat kedua tangannya di dada. "Kau pikir aku ini membelah diri bagaikan amuba hingga bisa mengandung anakmu begitu saja tanpa kau menyentuhku sedikit pun?"
Lean meneguk ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Binar mata biru es milik sang penguasa Ashford itu kini bergetar hebat—sebuah respons ketakutan alami yang hanya bisa dipicu oleh satu-satunya wanita di muka bumi ini.
Pernikahan mereka sudah berjalan tepat satu bulan. Tiga puluh hari melewati malam-malam penuh pergulatan batin di bawah satu atap, berbagi kehangatan selimut yang sama, namun terpisah oleh dinding gengsi dan batasan ketat yang tak kasatmata.
"A-aku hanya memastikan..." bisik Lean gagap, suaranya yang biasanya berat dan penuh dominasi kini berubah menjadi begitu tipis dan bergetar. "Karakter saudaramu itu sangat menyebalkan. Dia bicaranya begitu yakin sampai-sampai aku..."
"Sampai-sampai otak mesummu langsung panik?" pangkas Glow cepat, kini menyunggingkan senyuman tipis yang teramat manis namun berbahaya di depan wajah Lean.
Glow mendudukkan dirinya di tepi kasur, tepat di samping Lean. Jarak mereka kini terkelupas habis. Keharuman aroma sabun mandi buah dan kesegaran vanila dari kulit Glow langsung menginvasi indra penciuman Lean, membuat napas pria itu tertahan seketika di kerongkongan.
Lean menegang kaku. Kedua tangan tegapnya berpegangan erat pada tepi seprai, menahan diri agar tidak melakukan gerakan serobot yang konyol. Namun, keheningan yang merayapi kamar bernuansa merah muda itu mendadak berubah menjadi begitu intens, membakar, dan sarat akan ketegangan emosional yang belum pernah mereka lewati sebelumnya.
Lean memiringkan tubuhnya perlahan, menatap lurus ke dalam iris mata cokelat Glow yang hangat. Di balik kepura-puraan dan cangkang luarnya sebagai polisi terlatih, Glow pun bisa merasakan debaran jantungnya sendiri melonjak gila-gilaan.
"Pearl..." panggil Lean dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi teramat rendah, serak, dan penuh kerinduan yang ditahannya selama satu bulan penuh.
"Hm?"
Jemari kekar Lean yang berkapalan perlahan terangkat. Dengan ketakutan murni dan kecanggungan yang amat sangat, jemarinya mengusap lembut helai rambut cokelat di dekat telinga Glow, lalu turun menyapu garis rahangnya yang halus. Touch itu dingin di awal, namun seketika menyebarkan gelombang panas yang memabukkan ke seluruh sel tubuh Glow.
"Satu bulan..." bisik Lean, mengikis jarak di antara mereka sentimeter demi sentimeter. "Kita sudah menikah selama satu bulan, Pearl..."
Glow membeku, matanya membelalak tipis saat menyadari ke mana arah tatapan mata biru Lean tertuju. Pria itu menatap bibir merah muda Glow yang agak basah—sebuah godaan mutlak yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari jauh.
Tanpa menunggu balasan kata-kata dari Glow, Lean menundukkan kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak janji suci pernikahan mereka diucapkan satu bulan lalu... bibir Orion Leander Ashford menyentuh lembut bibir Pearl Glow Hurt.
DEG!
Sensasi manis, hangat, dan pekat seketika meledak di dalam rongga dada mereka berdua. Kecupan pertama itu dimulai dengan begitu canggung dan ragu-ragu. Lean menempelkan bibirnya dengan teramat hati-hati—seolah Glow adalah porselen paling rapuh di dunia yang bisa hancur hanya dengan satu desakan kasar.
Napas Glow tertahan sepenuhnya. Matanya terpejam secara refleks saat merasakan usapan lembut bibir Lean yang mulai bergerak pelan, menuntut dan menyerap setiap kehangatan di bibirnya.
Ciuman itu tidak lagi terasa kaku; dalam hitungan detik, sentuhan hangat itu berubah menjadi pagutan manis yang intens, mengeringkan seluruh akal sehat yang dimiliki sang agen wanita terlatih tersebut.
"Mph..." lenguh Glow pelan di sela-sela ciuman mereka, kedua tangannya refleks terangkat dan mencengkeram erat bahu tegap Lean untuk mencari tumpuan.
Desahan halus itu bagaikan bensin yang menyiram kobaran api di dalam dada Lean. Rasa possessif dan gairah suami yang terkunci rapat selama satu bulan meledak tanpa ampun. Ciuman Lean berubah menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh kelaparan terselubung.
Pria tegap itu miring ke depan, mendorong tubuh mungil Glow hingga terlentang perlahan di atas kasur empuk.
Di bawah naungan tubuh tegap suaminya, Glow pasrah. Dadanya naik-turun memburu seiring dengan ciuman panas Lean yang kini merayap turun menyapu garis rahang hingga ke leher mulusnya.
Namun, kecanggungan murni seorang pria yang baru pertama kali menyentuh wanitanya kembali menguasai Lean.
Dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang terbakar memerah hebat, tangan kekar Lean yang gemetar perlahan bergerak turun dari pinggang Glow, merayap naik menembus kain piyama sutra krem tersebut.
Jemari besarnya yang canggung mencoba menyentuh dan meremas pelan bagian dada Glow yang kenyal di balik kain tipis itu.
Glow tersentak hebat saat merasakan remasan canggung dan gemetar dari tangan tegap suaminya. Pipi Glow seketika merona merah padam luar biasa, dadanya bergemuruh bagaikan dihantam badai.
Lean menghentikan gerakan tangannya sejenak, menatap Glow yang kini terengah-engah di bawahnya dengan mata berembun dan bibir yang sedikit bengkak akibat ciumannya. Rona merah di wajah tampan Lean menyebar hingga ke lehernya, memperlihatkan betapa gugup dan polosnya pria Ashford itu saat ini.
Pria tegap itu menundukkan kepalanya sedikit, menyandarkan dahi hangatnya pada dahi Glow. Hembusan napas beraroma mint yang panas menyapu wajah istrinya.
Dengan kejujuran murni, tanpa tameng kesombongan atau pura-pura lugu lagi, Orion Leander Ashford menatap lurus ke dalam mata istrinya dan bertanya secara terang-terangan:
"Pearl..." bisik Lean dengan suara serak yang begitu berat dan memohon. "Boleh aku... meminta hakku sebagai suamimu malam ini?"
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍