TAMAT!!
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Manis di Balik Layar
Malam perayaan di restoran rooftop pribadi itu meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi Reina dan Jino. Setelah sekian lama berkubang dalam intrik keluarga aristokrat, serangan siber, hingga drama cemburu buta yang menguji mental, malam itu menjadi momen rehat yang sempurna. Keduanya pulang ke penthouse dengan hati yang ringan, seolah beban hidup yang bertumpuk-tumpuk selama beberapa bulan terakhir menguap begitu saja.
Keesokan paginya, suasana di dalam penthouse terasa jauh lebih santai. Sinar matahari pagi memantul sempurna di atas lantai marmer putih, sementara aroma kopi segar menguar dari arah dapur.
Reina baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit rambut basahnya. Ia mengenakan kaus longgar bergambar kucing peliharaan dan celana piyama katun yang nyaman. Dengan langkah santai, ia berjalan menuju ruang tengah tempat meja kerjanya berada.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika ia melihat layar laptopnya menyala terang. Padahal, semalam ia yakin betul sudah menutup seluruh aplikasi dan mematikan perangkat tersebut sebelum tidur.
Dahi Reina mengerut tajam. Ia mempercepat langkahnya, lalu berdiri di depan meja kerja. Di layar laptopnya, tidak ada draf novel wuxia yang biasa ia ketik. Yang ada justru sebuah halaman dasbor NovelToon miliknya dengan sebuah notifikasi pesan dari pihak editor utama, serta sebuah dokumen terlampir berformat PDF dengan judul yang sangat mencolok: [KONTRAK EKSKLUSIF ADAPTASI DRAMA SERI & WEBTOON - WEST MEDIA GROUP].
Reina tertegun. Manik mata cokelatnya membelalak lebar. Ia membaca isi surat kontrak digital tersebut berulang-ulang, memastikan dirinya tidak salah baca atau sedang berhalusinasi di pagi hari.
Novel wuxianya—"Gadis desa dan Lima Pangeran Tsundere"—resmi dibeli hak adaptasinya oleh salah satu rumah produksi raksasa di bawah naungan West Media Group untuk diangkat menjadi serial drama televisi dan komik webtoon nasional!
Belum sempat Reina mencerna kejutannya secara utuh, suara derap langkah kaki mendekat dari arah belakang. Sepasang lengan kokoh melingkar pas di pinggangnya, dan dagu yang berat bersandar nyaman di bahunya. Aroma parfum maskulin yang khas langsung memenuhi indra penciumannya.
"Bagaimana kejutannya, Nyonya West?" bisik Jino tepat di telinga Reina, suaranya terdengar begitu lembut dan sarat akan kebanggaan. Pria itu sudah rapi mengenakan setelan jas kerja lengkap, siap berangkat ke kantor, namun ia menyempatkan diri mampir ke meja kerja istrinya terlebih dahulu.
Reina berbalik dengan cepat, menghadap ke arah Jino sementara tangannya masih memegang erat meja kerja. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya.
"J-Jino..." ucap Reina tergagap, menunjuk layar laptopnya. "Ini... apa maksudnya? Kontrak adaptasi drama seri? Sejak kapan pihak West Media Group melirik novelku? Padahal baru kemarin malam aku tamatkan!"
Jino tersenyum miring—sebuah seringai bangga yang amat menawan. Ia merapikan sehelai rambut basah yang menempel di dahi Reina dengan jemari hangatnya.
"Sejak penulisnya adalah istriku," jawab Jino santai. "Tentu saja aku tidak akan tinggal diam melihat mahakarya sehebat itu terkubur hanya di platform membaca daring. Tim pengembang media kami sudah memantau statistik pembacamu sejak minggu pertama. Novel itu memiliki potensi pasar yang luar biasa. Jadi, aku langsung meminta divisi media menaikkan status kontraknya ke tingkat adaptasi komersial."
Reina tertegun sejenak, lalu mendengus pelan, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyumen lebar yang merekah di wajahnya. "Curang! Kamu menggunakan kekuasaan CEO-mu untuk melakukan nepotisme secara terang-terangan!"
"Bukan nepotisme," ralat Jino tenang, merapatkan jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi ruang tersisa. "Itu namanya bentuk apresiasi suami terhadap bakat istrinya yang luar biasa. Lagi pula, berdasarkan data pembaca, novelmu memang menduduki peringkat pertama nasional. Jadi, tawaran kontrak itu murni karena kualitas tulisanmu, bukan sekadar karena kau adalah istriku."
Mendengar pujian tulus itu, dada Reina berdesir hangat. Rasa bangga dan haru bercampur jadi satu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Jino, menatap manik mata kelam pria itu lekat-lekat.
"Terima kasih, Jino," bisik Reina tulus. "Aku bahkan tidak pernah bermimpi ceritaku bisa diadaptasi seluas ini."
Jino menundukkan wajahnya, mengecup singkat bibir Reina penuh sayang. "Kau pantas mendapatkannya, gadis desa."
Berita mengenai kontrak adaptasi webtoon dan drama seri novel Gadis desa dan Lima Pangeran Tsundere dengan cepat menyebar luas di kalangan industri kreatif dan media nasional. Dalam hitungan hari, nama Reina Lunox mendadak menjadi sorotan publik. Akun media sosial pribadinya diserbu oleh jutaan penggemar setia yang mengucapkan selamat sekaligus penasaran siapa aktor papan atas yang akan memerankan karakter sang pangeran angkuh di layar kaca nanti.
Alih-alih merasa tertekan dengan popularitas mendadak tersebut, Reina justru menikmati setiap prosesnya. Ia mulai sering diundang dalam sesi rapat pra-produksi bersama tim produser dan sutradara West Media Group untuk memberikan masukan terkait pengembangan karakter serta alur cerita adaptasinya.
Pada suatu siang, di ruang rapat eksekutif lantai tertinggi gedung West Corporation, Reina duduk di kursi utama di sebelah kepala produser. Ia sedang menjelaskan detail visualisasi karakter pangeran kelima dalam cerita wuxianya yang memiliki sifat paling dingin dan arogan.
"Karakter pangeran kelima ini harus digambarkan memiliki tatapan tajam, tidak banyak bicara, tapi diam-diam sangat bucin pada sang tokoh utama wanita," jelas Reina profesional di hadapan para staf kreatif.
Di ujung meja rapat, Jino West duduk menyimak seluruh pemaparan istrinya dengan kedua tangan dilipat di dada. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal, mendengarkan Reina berbicara dengan sorot mata penuh kekaguman. Bagi Jino, melihat istrinya bersinar dan memegang kendali penuh di dunia kreatif adalah pemandangan paling indah di dunia.
Beberapa staf rapat yang melirik ke arah sang CEO sempat merasa ngeri karena mengira bos besar mereka sedang serius menilai kinerja. Padahal, di dalam kepalanya, Jino justru sedang berpikir: Astaga, istriku terlihat sangat keren saat sedang galak begitu. Rasanya aku ingin segera membawanya pulang ke penthouse sekarang juga.
Sesi rapat akhirnya selesai menjelang sore hari. Satu per satu staf kreatif mulai membereskan berkas mereka dan meninggalkan ruang rapat, menyisakan Reina dan Jino yang masih duduk berdua di ruangan yang luas tersebut.
Reina menghela napas lega, merapikan catatan kecilnya, lalu meregangkan kedua tangannya ke atas untuk melepas penat. Ia menoleh ke arah Jino yang berjalan mendekatinya dari ujung meja.
"Bagaimana penampilanku tadi?" tanya Reina bangga, mengangkat dagunya sedikit. "Aku terlihat seperti produser profesional, kan? Tidak kelihatan seperti gadis desa kikuk lagi."
Jino berhenti tepat di hadapan Reina. Ia merengkuh pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Reina hingga menempel erat padanya.
"Kau selalu terlihat sempurna di mataku, sejak hari pertama kita bertemu sampai detik ini," bisik Jino lembut tepat di depan bibir Reina.
Reina tersenyum manis, melingkarkan tangannya di leher Jino. "Rayuanmu semakin hari semakin canggih ya, Tuan CEO."
"Itu bukan rayuan, Nyonya West. Itu adalah fakta mutlak."
Jino menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman hangat yang menyegarkan di tengah kesibukan sore hari itu.
Di luar jendela gedung, matahari mulai terbenam, memancarkan rona keemasan yang membungkus langit kota metropolitan. Segala intrik masa lalu, pertengkaran konyol, hingga badai cemburu kini telah sepenuhnya berganti menjadi harmoni kebahagiaan yang utuh. Reina Lunox, sang penulis web novel berbakat, dan Jino West, sang Tuan Muda angkuh yang telah bertekuk lutut, menulis kisah hidup mereka sendiri—hari demi hari, penuh warna, abadi, dan bahagia selamanya.