Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Saat hari mulai siang barulah mata Akila terbuka, yang ia temukan lebih dulu adalah suasana kamar tidur yang luas dan sangat mewah.
Akila segera duduk, ia tak lupa kalau ia kini kembali berurusan dengan William.
Akila mau pergi dari sana, kepalanya juga sakit sekali dan berat. Akila mengingat jelas kalau lehernya disuntikkan cairan oleh William.
"Pria gila itu..."
Pintu kamar terbuka menampilkan William yang berdiri dengan wajah dingin.
"Sudah bangun ya, mau pergi? Memangnya bisa?" Tanya William terdengar mengejek.
Ditangan William ada segelas air dan juga obat.
Akila langsung bangkit hendak pergi dari kamar itu sebelum pikiran jahat milik William muncul dan melakukan hal aneh pada Akila.
"Kau mau kemana? Siapa yang mengizinkanmu boleh pergi dari sini? Kau tak akan kemana-mana!" Ucap William mencelak satu tangan Akila.
William menariknya cukup kasar hingga Akila duduk kembali di ranjang itu.
"Minum obat ini!" Perintah William.
"Tidak sudi!" Tegas Akila.
William mencengkram rahang Akila lalu memasukan satu butir obat dengan cara yang memaksa.
Cuih!
Akila meludah sebelum menelan obat itu.
"Keras kepala sekali." Ucap William.
William cukup geram saat satu butir obat terbuang.
"Itu obat untuk menetralisir sisa cairan yang masuk ke tubuhmu, jika tidak kepalamu akan sakit dan juga..."
"Mungkinkah aku percaya? Oh, haruskah aku percaya? Kau itu penjahat." Ucap Akila emosi.
Akila mau berdiri tapi kembali ditarik oleh William, kali ini cara William lebih ekstrim. Ia memasukan satu butir obat ke mulutnya sendiri kemudian ia menekan tubuh Akila dengan tubuhnya.
William memaksa Akila menelan pil obat itu dengan mulutnya sendiri.
Air itu mendorong Akila menelan obat yang berasal dari mulut William.
Akila langsung duduk, ia terbatuk-batuk sedangkan senyum William terbit.
Tadinya ia tak berniat memaksa tapi Akila yang sedikit bertingkah. Tapi ulah Akila yang membuat William begitu.
Akila berhenti terbatuk saat William mengusap punggungnya dengan lembut.
"Jangan menyentuhku!" Ucap Akila dengan tatapan penuh emosi menepis kasar tangan William.
William terkekeh kecil.
"Apa yang salah? Memangnya masih ada bagian yang belum pernah ku sentuh?" Tanya William.
Akila semakin dibuat geram, ia mau menampar wajah William tapi lebih dulu William tahan.
"Jangan membuatku marah Akila. Aku bisa menyeret Sari hingga mati di bawah kakiku dan terlebih aku tak pernah main-main dengan ancaman ku." Ucap William.
Tangan Akila terkepal, jelas tak boleh jika William menemukan Sari.
Akila yang tadinya bertatapan dengan William kini segera membuang tatapannya, tangan milik Akila yang tidak digenggam William segera mengusap bibirnya yang sempat bersentuhan dengan bibir William.
"Aku tidak mau berada dalam lingkaran yang sama denganmu lagi." Ucap Akila.
William mengukir senyum kecil, ia melepaskan tautannya ditangan Akila.
"Kau tak akan pernah bisa lepas dariku. Aku akan menikahimu, kau harus jadi istriku." Ucap William.
"Apa kau masih waras? Kau ingin menikahiku? Kau lupa ya siapa aku dimasa lalu bagimu? Mungkinkah aku dengan suka rela mau menikah dengan pria mengerikan sepertimu?" Tanya Akila berharap William mengerti setiap ucapan yang keluar dari mulut Akila.
"Ini bukan tentang kewarasan karena bagiku, aku membutuhkanmu dan aku ingin kau jadi istriku. Tak ada alasan lain selain aku ingin." Ucap William.
"Aku yang tidak ingin! Lebih tepatnya aku tidak sudi!" Balas Akila.
William menatap wajah cantik milik Akila, wanita itu malah semakin cantik setelah akhirnya kembali bertemu.
"Aku akan mengurus pernikahan kita dan..."
"Aku tidak mau!" Tegas Akila.
William mendadak emosi, selama ini tak ada yang menolaknya. Bahkan jalang saja mungkin rela menyerahkan diri tanpa harus dibayar untuk mendesah di atas ranjang William.
Faktanya William itu tampan sekali walau minusnya ada di tingkah gilanya.
"Aku tidak pernah menerima penolakan dari siapapun." Ucap William.
"Aku tak peduli, aku tetap tak ingin menjadi istrimu! Jika kau masih ingin balas dendam padaku, maka cari saja siapa yang telah membunuh Mommy mu itu!" Ucap Akila.
Tiba-tiba William mencengkram rahang Akila membuat Akila meringis.
Jelas tekanan di rahang Akila sakit.
Akila memegangi kedua tangan William yang kini mencengkram Akila.
"Sakit." Ucap Akila.
"Dulu lebih sakit kan? Kenapa? Sudah lama kau belum terdidik oleh hal yang sakit ya? Dan..."
Akila bisa menjauhkan tangan William, ia berontak mau lari tapi William kembali menarik Akila kali ini ia memangku Akila.
Tangan William memeluk pinggang Akila.
Akila merasa frustasi dengan cara William bertingkah.
"Kau katakan saja maumu, aku tidak ingin ada disisimu William. Jika kau mau menikah maka cari saja wanita lain tapi jangan aku. Hanya orang yang tak berakal yang akan menikahi wanita yang sudah kau sakiti!" Ucap Akila.
Dengan santainya William berucap.
"Anggap saja begitu." Singkat William.
Akila mulai berontak, ia mendorong dada William agar William mau melepaskannya.
Beberapa detik setelahnya Akila terlepas dari William saat William dengan sengaja membiarkan Akila menjauh darinya.
William bangkit berdiri.
"Aku pastikan akan membunuh Sari jika kau pergi dari ku bahkan menolak menikah dengan ku." Ucap William.
Akila mengepalkan tangannya, William akan pergi membuat Akila meraih sebuah vas bunga lalu melemparnya ke pintu.
Prang!!
Hancur sudah vas bunga itu tepat di sisi kaki William.
William menoleh lalu tersenyum kecut.
"Ya emosi saja karena aku tak pernah main-main kalau sedang mengancam." Ucap William dengan tenang.
William keluar seraya menutup pintu itu.
Akila frustasi, rambutnya ia jambak saat melihat jam mulai siang. Sudah berapa jam ia meninggalkan dua Anaknya.
Akila terus berpikir sampai akhirnya ia kepikiran dengan ponsel miliknya, dimana tas Akila? Dimana? Apakah mungkin ada bersama dengan William?
Akila panik, ia yang hendak keluar dari kamar itu tapi malah berakhir menginjak beling dari vas bunga yang ia pecahkan karena emosi pada William.
"Akhhh!" Akila meringis, ada darah di lantai itu karena beberapa beling menusuk kaki Akila.
Tidak, bukan sakit yang lebih Akila pikirkan tapi ini tentang tas miliknya. Bagaimana kalau Sari menelponnya dan William yang mengangkat panggilan itu?
Ah Akila sungguh frustasi dan lelah berpikir. Semua karena William.
Saat Akila sampai di bawah, ia menemukan William tengah bicara dengan Reno.
"Berikan tasku!" Ucap Akila dengan langkah yang tak stabil.
Ia benar-benar panik kalau sampai William tahu tentang dua Anak kembarnya.
William yang sedang fokus bicara jadi memutar tubuhnya karena kedatangan Akila.
Ada darah di lantai itu.
William bisa melihat dengan jelas kalau darah itu datang dari kaki Akila.
"Berikan tas milikku!" Ucap Akila lagi dengan suara yang sedikit meninggi.
"Bodoh!" Ucap William saat mengingat vas bunga yang pecah karena ulah Akila.
William mendekat lalu menggendong tubuh Akila ke arah sofa.
"Lepas!" Ucap Akila berontak.
William berjongkok, ada Reno yang datang dengan kotak obat.
Beberapa beling menempel disana, Akila melihat cara William mengambil beling di kakinya.
Akila mau emosi tapi kakinya baru terasa lebih sakit saat William menekan untuk mengambil beling yang lebih kecil.
Akila membuang tatapannya, itu cukup menyakitkan.
Reno terlihat memberikan kotak obat membuat William mengusap darah disana dengan alkohol. William juga membalut kaki Akila dengan perban saat beling sudah tak ada lagi.
Sikap itu jelas berbeda dari William yang dulu.
"Aku membuang tasmu, jika kau ingin menelpon Sari maka aku bisa memberikan ponselku padamu. Aku juga perlu memberikan hukuman pada Sari yang telah membawamu pergi dari ku selama ini." Ucap William seraya mengangkat kepalanya membuat tatapan mereka bertemu.
Akila terdiam, keduanya masih bertatapan sampai akhirnya Akila yang memutuskan tatapan itu dari William.
"Sari tidak salah, aku yang ingin pergi dari pria iblis sepertimu." Ucap Akila.
William terkekeh kecil mendengar ucapan Akila yang membela Sari.
"Oh, jadi aku harus menghukummu saja begitu?" Tanya William mengangkat satu alisnya dengan tatapan yang masih fokus pada wajah Akila.
Kembali mata Akila menatap William lagi.
Keduanya diam. Jika Akila menatap benci pada William maka William menatap untuk menunggu jawaban Akila.
Sampai akhirnya Akila berucap.
"Apa kau tak mengerti bahwa aku bukan pembunuh Mommy mu? Aku benar-benar tidak membunuhnya. Bahkan malam itu Mommy mu," Akila mendadak menjeda ucapannya sendiri.
Apakah kejadian yang sudah lama itu ia ceritakan saja?
William seperti menunggu kelanjutan dari ucapan Akila.
"Lanjutkan Akila!!." Ucap William dengan tegas.
'Mommy mu dan aku masih sempat bicara. Dia masih hidup saat itu bahkan aku masih mengingat semua cerita yang keluar dari mulutnya.' ucap Akila membatin.
Terlihat William mengeraskan rahangnya melihat diamnya Akila.
"Bicaralah Akila!" Tegas William.
Akila menjawab lagi.
"Malam itu aku membantu Mommy mu keluar dari mobil itu, dia memang terluka. Aku dan dia juga sempat bicara. Kami..."
"Jangan berbohong!" Sela William.
Akila menatap muak pada William yang tak pernah percaya padanya.
"Terserah jika kau tak percaya, karena aku tidak meminta kau mempercayai ku. Aku hanya ingin dibebaskan saja. Biarkan aku pergi." Ucap Akila.
Kali ini tangan Akila digenggam oleh William.
"Akila."
"Coba katakan padaku, siapa yang mengemudi mobil itu hingga kecelakaan terjadi? Siapa wanita yang bersama denganmu malam itu?" Tanya William dengan raut wajah serius.
Bagaimana ini? Haruskah Akila jujur siapa yang mengemudi malam itu?
Akila menatap William dengan tatapan penuh kebencian. Ia tahu jika ia mengaku, William akan memburu Kiara dan Kevin. Tapi di sisi lain, jika ia tidak mengaku, William akan terus menyiksanya.
"Aku..." Akila menggigit bibirnya.
"Katakan!" desak William.
Akila menghela nafas panjang. "Aku akan memberitahumu siapa yang mengemudi malam itu. Tapi kau harus berjanji melepaskanku setelah itu."
William tersenyum miring. "Kau tidak dalam posisi untuk membuat perjanjian, Akila."
"Kalau begitu aku tidak akan mengatakan apapun!" tegas Akila.
William mengeraskan rahangnya. Ia menatap Akila dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita ini benar-benar berbeda dari yang dulu. Ia lebih berani, lebih keras kepala.
"Baiklah," ucap William akhirnya. "Aku berjanji akan melepaskanmu jika kau mengatakan yang sebenarnya."
Akila menatap William dengan curiga. "Kau bersumpah?"
"Aku bersumpah demi ibuku," ucap William dengan nada serius.
Akila terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
"Wanita yang mengemudi malam itu adalah Kiara Mason. Adik tiriku. Dan Kevin Edmund, tunanganku, adalah saksi yang berbohong untuk melindunginya."
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .