Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18. Cemburu saat Dia Bersama Wanita Lain
Hari itu langit cerah, namun hatiku justru terasa kelabu mendung. Aku berjalan menuju ruang arsip fakultas untuk mengambil berkas yang diminta ketua kelompok, berniat lewat lorong lantai satu yang biasanya sepi dan tenang. Namun saat langkah kakiku hampir sampai di tikungan, suara tawa halus terdengar dari arah ruang istirahat dosen yang pintunya terbuka sedikit. Langkahku terhenti seketika. Jantungku yang tadinya berdetak tenang, tiba-tiba berpacu kencang, seakan tahu bahwa ada sesuatu yang tak menyenangkan sedang menantiku di sana.
Dari celah pintu yang terbuka, terlihat sosok Arga berdiri di dekat meja. Dan di hadapannya, berdiri seorang wanita yang begitu cantik, berpakaian anggun, dengan senyum yang menawan di bibirnya. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya—bukan mahasiswi di kelasku, bukan pula staf yang biasa kulihat di fakultas. Wanita itu berdiri begitu dekat dengan Arga, tangannya sesekali menyentuh lengan kemejanya dengan santai, seakan hal itu adalah hal yang lumrah dilakukan di antara mereka. Dan yang membuat dadaku terasa perih dan sesak tak tertahankan... Arga tidak menolak. Ia tidak menarik diri. Ia justru tersenyum tipis, menatap wanita itu dengan tatapan yang hangat, dan sesekali mengangguk sambil tertawa pelan mendengar ucapan wanita itu.
Darah seketika berdesir panas di seluruh tubuhku. Tanganku mengepal erat di sisi tubuh, kuku menancap hingga telapak tanganku terasa sakit. Napasku menjadi pendek dan tidak beraturan, seakan udara di sekitarku tiba-tiba menjadi tipis dan tak cukup untuk bernapas. Rasa cemburu yang begitu tajam dan getir seketika menyergap dadaku, melukai setiap sudut hatiku yang sedari tadi mulai tumbuh rasa percaya. Siapa dia? Mengapa dia boleh berdiri sedekat itu dengannya? Mengapa Arga membiarkannya? Bukankah dia milikku? Bukankah ada janji di antara kami?
Pikiran-pikiran buruk berputar liar di kepalaku. Aku ingin sekali berjalan masuk, bertanya, menuntut penjelasan. Namun kakiku terasa berat terpaku di tempat, tak sanggup melangkah maju maupun mundur. Aku hanyalah mahasiswinya. Tak ada siapa pun yang tahu hubungan kami. Aku tak punya hak untuk cemburu, tak punya hak untuk bertanya, tak punya hak untuk melarang. Aku hanya bisa berdiri diam di balik dinding, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang perlahan hancur berkeping-keping.
Wanita itu tertawa lagi, lalu mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemeja Arga yang sedikit miring. Gerakannya begitu akrab, begitu intim, seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama sekali. Dan Arga... ia hanya diam membiarkannya, bahkan tersenyum tipis berterima kasih. Saat itulah, rasanya aku tak sanggup lagi melihat lebih jauh. Air mata perlahan mulai menggenang di pelupuk mataku, siap jatuh kapan saja. Dengan langkah yang tergopoh-gopoh dan berusaha tak bersuara, aku berbalik dan pergi secepat mungkin, menjauh dari tempat itu, menjauh dari pemandangan yang menyakitkan itu.
Aku berlari menuju taman belakang yang sepi, tempat di mana kami pernah berbicara setelah kesalahpahaman dulu. Di sana, di bawah pohon rindang yang sama, akhirnya aku jatuh terduduk dan membiarkan air mata jatuh membasahi pipiku. Dadaku sesak luar biasa, perihnya tak tertahankan. Apakah selama ini aku hanya satu di antara wanita lain di hidupnya? Apakah janji perjodohan ini tak berarti apa-apa baginya? Apakah aku terlalu naif untuk percaya bahwa aku istimewa?
Hatiku bertanya-tanya tanpa jawaban. Rasa cemburu itu begitu kuat hingga menutup akal sehatku. Aku lupa bahwa aku tak tahu siapa wanita itu, aku lupa bahwa aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku hanya melihat apa yang tampak di mata, dan langsung menghukumnya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat dengan tergesa-gesa. Aku buru-buru menyeka air mataku, berusaha terlihat tenang, namun wajahku pasti masih terlihat pucat dan bengkak. Saat mendongak, Arga berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, seakan baru saja berlari mencariku. Matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekhawatiran sekaligus kebingungan melihatku yang sedang berusaha menahan tangis.
"Lisna? Kau di sini... kenapa matamu merah? Apa yang terjadi?" tanyanya pelan namun cemas, mendekat sedikit namun tetap menjaga jarak.
Aku menunduk dalam, tak berani menatap matanya. "Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya... teringat hal yang menyedihkan. Bapak tidak perlu memedulikannya."
Arga terdiam sejenak, seakan menyadari sesuatu. Ia menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada yang lembut namun tegas. "Kau melihatku tadi bersama wanita itu di ruang istirahat dosen, bukan?"
Kata-katanya langsung mengenai sasaran. Aku tak bisa menyangkalnya, hanya diam membisu, namun air mata justru semakin deras jatuh membasahi pipiku.
"Dia adalah sepupuku, Lisna. Saudara kandung dari ibuku," ucapnya pelan namun jelas, seakan ingin memastikan setiap kata itu masuk ke dalam hatiku. "Dia baru saja pulang dari luar negeri dan mampir ke kampus sebentar untuk menemuiku. Dia memang orang yang terbuka dan akrab, itulah sebabnya dia bersikap begitu. Dan merapikan kerah bajuku itu... hal yang biasa dilakukan keluarga, bukan? Dia seperti kakak perempuanku sendiri."
Aku mendongak perlahan, mataku yang berkaca-kaca menatapnya ragu. "Sepupumu... benar-benar sepupumu, Pak?"
"Benar, Lisna. Tak ada yang lain. Percayalah," jawabnya mantap, tatapannya begitu jujur dan tulus hingga tak ada ruang lagi untuk keraguan. "Dan kalau kau perhatikan, aku pun tak membalas sentuhannya. Aku hanya tersenyum karena itu adalah keluargaku. Tapi hatiku... hatiku tak pernah berpindah ke mana pun dari dirimu. Mengapa kau langsung berpikir yang buruk tanpa menanyakan padaku terlebih dahulu?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam dan malu. Aku menunduk dalam, air mata kesedihan berubah menjadi air mata rasa bersalah. "Maafkan saya, Pak... saya... saya melihatnya dan langsung merasa cemburu. Saya takut... takut kalau ada wanita lain yang lebih dekat denganmu daripadaku. Takut kalau aku bukan satu-satunya di hatimu."
Arga tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian dan kelembutan. Ia melangkah mendekat sedikit, lalu berbisik pelan, "Cemburu itu tanda cinta, Lisna. Dan aku senang kau merasakannya. Tapi percayalah... tak ada wanita lain di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu. Sepupuku itu pun tahu tentang kita. Dia bahkan menantikan hari pertunangan kita. Dia senang akhirnya aku menemukanmu."
Kata-katanya perlahan menyembuhkan luka yang baru saja tercipta di hatiku. Rasa sesak itu perlahan menghilang, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa sekaligus rasa malu yang mendalam karena telah berprasangka buruk padanya. Ternyata... sekali lagi, itu hanyalah kesalahpahaman yang lahir dari rasa takut kehilangan. Dan rasa cemburu yang tadi begitu menyakitkan, kini berubah menjadi pengingat bahwa perasaanku padanya memang begitu dalam dan begitu nyata.
"Maafkan saya, Pak..." ucapku pelan, menatapnya dengan tulus. "Saya berjanji akan belajar lebih banyak percaya padamu. Saya takkan lagi langsung berprasangka buruk hanya karena apa yang saya lihat sekilas."
Arga mengangguk lembut. "Dan aku juga akan berusaha lebih menjaga batas, agar kau tak lagi merasa cemas. Kita berdua harus belajar memahami dunia masing-masing, tanpa melupakan bahwa kita punya satu sama lain di hati."
Sore itu, di bawah pohon yang sama, aku belajar satu hal yang sangat berharga: cemburu itu bukan musuh. Ia adalah bukti bahwa cinta itu ada. Namun cemburu tanpa kepercayaan dan tanpa komunikasi hanya akan melukai satu sama lain. Dan mulai hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri—setiap kali rasa cemburu datang, aku takkan langsung lari dan bersembunyi. Aku akan bertanya, mendengarkan, dan percaya. Karena hatiku tahu, di balik segala ketakutan dan keraguanku, ada dia—pria yang takdirnya telah menyatu denganku, dan takkan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikannya, sebagaimana takkan pernah ada pria lain yang bisa menggantikannya di hatiku.
bersambung...