Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Hening menyergap sejenak setelah cakar logam raksasa itu mencengkeram atap gerbong. Suara gesekan logam yang memekakkan telinga merambat turun melalui tiang-tiang penyangga, membuat lembaran baja hasil modifikasi Leo berderit kencang seolah hendak tercabut dari rangkanya. Namun, alih-alih serangan lanjutan dari monster bawah tanah atau pasukan komando korporasi, cakar tersebut tiba-tiba melonggar. Logam itu mendesis mengeluarkan sisa uap hidrolik, lalu menarik diri ke atas, hilang terserap kembali oleh badai salju dan kegelapan ngarai es.
Di dalam kabin gerbong Vanguard, lampu-lampu darurat yang tadinya sempat padam akibat lonjakan kejutan elektromagnetik perlahan-lahan menyala kembali. Pendaran biru dari The Core Engine berdenyut stabil, memompa kembali tenaga ke seluruh sirkuit reaktor buatan Leo.
Leo menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan, menjatuhkan tubuhnya ke kursi operator dengan peluh dingin membasahi pelipisnya. Tangannya yang belepotan oli gemetar pelan saat ia merapikan kabel-kabel panel kontrol yang berserakan.
"Sial... apa itu tadi?" gumam Leo, suaranya parau. "Makhluk itu... atau mesin apa pun itu—hampir meremukkan sirkuit pendingin utama kita. Kalau ia menekan satu detik lebih lama, reaktor tua ini pasti sudah meledak."
Ren tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak di dekat konsol utama, matanya menatap tajam ke arah langit-langit gerbong yang kini meninggalkan bekas penyok yang cukup dalam. Wajahnya tetap dingin, tanpa ekspresi, tetapi di dalam dadanya kalkulasi sistem terus berputar cepat, menganalisis sisa-sisa energi asing yang sempat terekam oleh sensor. Ancaman di dunia es ini jauh lebih besar dan kompleks daripada sekadar regu patroli korporasi biasa. Korporasi Aether bukan satu-satunya kekuatan yang menguasai bayang-bayang dunia atas.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tegang. Kereta Vanguard kembali melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalur rel alternatif yang melingkar menjauh dari ngarai berbahaya tersebut. Suara derit roda baja yang berpadu dengan dengung mesin reaktor kini terdengar jauh lebih tenang, menciptakan ritme konstan yang menemani keheningan di dalam gerbong.
Untuk meredakan ketegangan yang masih tersisa di udara, Ren berjalan pelan ke sudut kecil gerbong yang difungsikan sebagai area logistik darurat. Ia membuka salah satu ransel jatah militer yang ia ambil dari gudang stasiun beberapa waktu lalu. Dari dalam kemasan vakum yang kedap udara, ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk bundar berwarna putih kekuningan dengan taburan gula bubuk di atasnya—sebuah kue sus beku peninggalan era lama yang berhasil bertahan dari dinginnya badai. Kue itu sudah agak keras, tetapi isi krim di dalamnya masih bisa dinikmati setelah dihangatkan sebentar di dekat pipa pembuangan uap reaktor.
Ren menggigit kue sus tersebut pelan. Teksturnya renyah di luar namun lembut di bagian dalam, memberikan rasa manis buatan yang kontras dengan sisa-sisa aroma mesiu di dalam kabin. Ia mengunyahnya dalam diam, berdiri bersandar pada dinding baja sambil mengamati Leo yang masih sibuk mengetik barisan kode di layar terminal.
Leo melirik sekilas ke arah Ren, lalu mendengus pelan saat melihat kaptennya itu dengan santainya memakan kue di tengah situasi hidup dan mati.
"Kau masih sempat-sempatnya makan kue di saat kita baru saja lolos dari maut?" ucap Leo setengah tidak percaya, memutar bola matanya malas. "Ngomong-ngomong, tadi sebelum alarm kita berbunyi karena gangguan aneh di ngarai, kau sempat menggumamkan sesuatu tentang rencana kita selanjutnya. Apa katamu tadi? Merekrut peretas?"
Ren menelan suapan terakhir kue susnya, lalu meneguk sedikit air dari tabung portabel. Ia melangkah mendekati meja konsol, meletakkan sisa bungkus ransum di samping tumpukan perkakas, lalu menatap lurus ke arah mata Leo.
"Kita butuh informasi," kata Ren dengan nada datar yang tegas. "Korporasi Aether bergerak di atas sistem jaringan digital terenkripsi. Setiap kali kita mencoba mendekati pos terdepan mereka, pergerakan kita selalu terbaca oleh radar pusat. Kita tidak bisa terus-terusan berjalan buta hanya dengan mengandalkan insting dan kekuatan fisik."
Leo mendengus sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Peretas? Hacker? Kau pikir mencari seorang peretas di dunia yang sudah hancur lebur ini semudah membalik telapak tangan, Kapten? Jaringan internet global sudah runtuh sejak hari es abadi turun. Yang tersisa hanyalah jaringan lokal tertutup milik korporasi atau kelompok kriminal bawah tanah. Tidak ada orang waras yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk membobol pelindung data Aether Corp, apalagi bergabung dengan kereta rongsokan kita!"
"Ada," balas Ren singkat, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Leo mengerutkan keningnya, menatap Ren lekat-lekat. "Siapa?"
Ren tidak langsung menjawab. Ia menunjuk ke arah layar pemindai frekuensi radio jarak jauh yang terpasang di sudut konsol—modul tambahan yang dirakit Leo menggunakan komponen sirkuit pos militer sebelumnya. Di atas layar hitam tersebut, sebuah garis gelombang sandi elektronik yang sangat tipis dan tersembunyi tampak berdenyut pelan, berulang dalam pola tertentu yang tidak dikenali oleh algoritma standar militer.
"Sinyal itu," ujar Ren pelan. "Ia memancarkan enkripsi berulang menggunakan frekuensi gelombang pendek yang sengaja disembunyikan di balik sinyal gangguan cuaca. Sinyal itu berasal dari Sektor 7—pos terdepan yang dikuasai oleh sindikat kriminal pasar gelap di reruntuhan Kota Bawah."
Leo terdiam. Matanya beralih dari wajah Ren ke layar monitor, mengamati pola gelombang sandi tersebut. Sebagai seorang mekanik yang paham betul seluk-beluk sirkuit komunikasi, ia langsung mengenali karakteristik enkripsi itu. Itu adalah tanda tangan digital dari seorang Data-Ghost—istilah yang digunakan di dunia bawah untuk menyebut para peretas bayangan yang hidup dari menjual informasi rahasia korporasi demi uang atau perlindungan.
"Kota Bawah..." gumam Leo, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih serius. "Kau tahu tempat itu kan, Ren? Sektor 7 bukan tempat sembarang orang bisa masuk. Tempat itu adalah sarang para penyelundup, pembunuh bayaran, dan sindikat pasar gelap yang tidak segan-segan memenggal kepala siapapun yang menginjakkan kaki di wilayah mereka tanpa izin. Tempat itu dikuasai oleh faksi The Iron Jackals."
"Aku tidak peduli siapa yang menguasai tempat itu," potong Ren dingin. "Yang aku butuhkan adalah akses ke dalam basis data pusat Aether Corp. Dan orang yang mengirimkan sinyal sandi itu tahu cara membukanya."
Leo mendengus pelan, mengusap rambut birunya yang sedikit berantakan. Ia tahu, berdebat dengan Ren adalah hal yang sia-sia begitu pemuda itu sudah mengambil keputusan. Di balik ekspresinya yang dingin dan pendiam, Ren memiliki ketetapan hati yang keras kepala—keras kepala yang lahir dari kepedihan dan dendam yang belum tuntas.
"Baiklah, baiklah," kata Leo pasrah sambil menarik napas panjang. "Kalau kita memang nekat mau menyusup ke sarang sindikat pasar gelap di Sektor 7, kita tidak bisa membawa kereta ini mendekat. Suara reaktor kita akan langsung menarik seluruh pasukan pemburu di kota itu. Kita harus parkir di terowongan pemeliharaan lama, lalu berjalan kaki menyusup ke dalam."
Ren mengangguk menyetujui rencana tersebut. "Siapkan perangkat pemindai portabel dan granat kejut. Kita berangkat sekarang."
Satu jam kemudian, kereta Vanguard telah terparkir tersembunyi di dalam kegelapan terowongan pemeliharaan rel yang tertimbun salju tebal, beberapa mil sebelum memasuki batas wilayah Sektor 7.
Suasana di luar terowongan sangat berbeda dengan Zona Periferi. Kota Bawah Sektor 7 adalah labirin reruntuhan beton bertingkat yang dipenuhi oleh lampu neon remang-remang berwarna merah dan ungu yang berdengung pelan menembus kabut asap pabrik ilegal. Di jalan-jalan sempit yang dipenuhi tumpukan es dan kotoran industri, para anggota sindikat The Iron Jackals—bertubuh kekar dengan tato rantai besi di leher mereka—berpatroli membawa senapan laras panjang, mengawasi setiap orang asing yang berlalu-lalang dengan tatapan penuh curiga.
Ren dan Leo berjalan mengendap-endap di antara bayangan dinding beton yang retak, memanfaatkan jubah tebal dan kabut tebal untuk menyamarkan keberadaan mereka. Langkah kaki mereka sangat senyap, terlatih oleh kehati-hatian yang mutlak di lingkungan yang mematikan ini.
Mereka melewati lorong-lorong pasar gelap yang bising oleh transaksi barang selundupan, hingga akhirnya tiba di sebuah bangunan pabrik kimia terbengkalai yang berdiri paling ujung di sudut sektor tersebut. Di atas pintu besi pintu masuk bangunan itu, sebuah simbol cat semprot bergambar serigala bermata satu terpampang jelas—tanda wilayah kekuasaan mutlak para pimpinan sindikat.
Sinyal sandi peretas yang mereka lacak berasal dari lantai paling atas bangunan itu.
Ren memberi gestur isyarat dengan tangannya agar Leo berhenti sejenak. Mereka berdua merayap melalui tangga darurat luar yang berkarat, menghindari sorotan lampu sorot penjaga yang berputar-putar di halaman bawah. Tanpa suara, mereka berhasil mencapai koridor lantai tiga yang sunyi. Suara dengung generator tua dan tetesan air es menjadi satu-satunya latar suara di lorong tersebut.
Di ujung koridor, sebuah pintu besi tebal dengan papan nama bertuliskan ‘Authorized Personnel Only’ berdiri kokoh. Dari celah bawah pintu itu, pendaran cahaya monitor komputer tampak berpendar lemah, disertai suara ketukan keyboard yang teratur.
Sinyal itu dari dalam sana, batin Ren, merasakan denyut The Core Engine di dadanya merespons kedekatan sumber frekuensi tersebut.
Ren memberi aba-aba agar Leo bersiap di sisi kiri pintu, sementara ia sendiri berdiri tepat di sebelah kanan gagang pintu. Dengan gerakan perlahan yang tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Ren meraba sakelar mekanis darurat di dinding samping, lalu menekan tombol pembuka otomatis yang terhubung ke sirkuit kabel.
Bum....
Pintu besi privat itu perlahan-lahan bergeser terbuka ke samping, menampilkan pemandangan ruangan yang dipenuhi tumpukan monitor tabung tua, kabel optik yang berseliweran di lantai, dan seorang sosok bertudung hitam yang tengah membelakangi mereka.
Melihat ruangan terbuka dan sosok di dalam sana, Leo langsung menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang karena takut tertangkap basah oleh sindikat berbahaya. Di sisi lain, Ren menyipitkan matanya, tangan kanannya perlahan meraba gagang Rust-Bite Blade di pinggangnya, bersiap menebas apa pun ancaman yang menyambut mereka di balik pintu tersebut.