Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Know How This Story Ends
Malam merayap perlahan di atas Istana Tianyu, membawa udara dingin yang menembus kisi-kisi jendela kayu Kediaman Fenghua. Di dalam kamar yang hanya diterangi remang cahaya lilin, Ye Xinyue duduk bersila di atas tempat tidur porselen. Di hadapannya terbentang gulungan kertas beras kosong dan sebuah kuas yang telah dicelupkan ke dalam tinta hitam.
Mingzhu baru saja tertidur di kamar sebelah setelah kelelahan menangis dan mencemaskan nasib ginseng salju yang disita oleh Selir Liang. Ketenangan malam ini adalah kesempatan emas yang telah ditunggu-tunggu oleh Xinyue.
Aku harus mencatat semuanya sekarang, batin Xinyue seraya memegang kuas dengan jemarinya yang lentik. Ingatan manusia itu terbatas, apalagi ingatan tentang detail alur webtoon yang kubaca sambil terkantuk-kantuk di sela-sela pengerjaan revisi bab empat.
Xinyue mulai menuliskan nama-nama tokoh utama, garis waktu peristiwa penting, serta peta konflik politik Kerajaan Tianyu menggunakan aksara kuno yang diwariskan dari memori pemilik tubuh asli. Setiap kali tintanya menggores kertas, perasaan asing bercampur cemas merayap di dadanya.
Ia memegang rahasia terbesar di kerajaan ini: Aku tahu bagaimana cerita ini berakhir.
Secara garis besar, webtoon The Tyrant of Tianyu adalah kisah sejarah kelam yang dipenuhi pertumpahan darah. Dalam versi aslinya, Kaisar Zhao Fengting bukanlah pahlawan yang mulia. Pria itu adalah sosok sosiopat cerdas yang memanjat takhta di atas tumpukan mayat saudara-saudaranya. Intrik utama cerita berpusat pada persaingan sengit antara klan kekaisaran dengan tiga klan bangsawan terbesar Klan Liang, Klan Gao, dan Klan Shen.
Xinyue mencoret nama Selir Liang di kertasnya dengan garisan tebal.
Selir Liang dari Klan Liang... pikir Xinyue seraya menatapi tulisan itu. Perempuan itu merasa menang hari ini karena berhasil merebut dua kotak ginseng salju dariku. Padahal, dia tidak tahu kalau di Bab 45 webtoon, klan keluarganya akan dieksekusi mati atas tuduhan pengkhianatan dan penyelundupan senjata di wilayah utara!
Xinyue mengingat dengan sangat jelas adegan tragis tersebut. Selir Liang yang congkak akan dipaksa meminum anggur beracun di hadapan Kaisar sendiri setelah ayahnya terbukti merencanakan kudeta. Hadiah-hadiah mewah yang dikumpulkannya dari istana belakang hanya akan menjadi barang bukti penyitaan harta benda oleh pengadilan kekaisaran.
"Menyimpan ginseng salju pemberian Kaisar dari gudang kekaisaran itu sama saja menyimpan barang bukti kejahatan yang mematikan," gumam Xinyue pelan dengan senyum miring. "Selir Liang pikir dia sedang memeras selir berpangkat rendah, padahal aku baru saja memindahkan 'bom waktu' itu ke kamarnya sendiri."
Jika Selir Liang menyimpan barang kekaisaran itu tanpa izin resmi titah tertulis, sewaktu-waktu Kaisar bisa menuduh Klan Liang melakukan pencurian atau ketidaksetiaan kepada takhta. Taktik hukum sederhana: memindahkan kewajiban kepemilikan barang berisiko tinggi kepada pihak lawan.
Selanjutnya, Xinyue menggeser kuasnya dan menuliskan nama lain: Pemeran Utama Wanita.
Dalam webtoon, sang pahlawan wanita seorang putri dari kerajaan tetangga yang dikirim sebagai tawanan perang sekaligus calon Permaisuri Utama baru akan muncul di pertengahan bab cerita, yaitu pada Festival Bunga Rembulan di musim gugur mendatang. Kehadiran pemeran utama wanita itulah yang nantinya memicu perang dingin skala besar di istana belakang dan memaksa Zhao Fengting memperlihatkan sisi kemanusiaannya yang sedikit tersisa.
Lalu, di mana posisiku dalam garis waktu ini? Xinyue mengetuk-ngetukkan gagang kuasnya ke pelipis.
Ye Xinyue, Selir ke-20, sejatinya hanyalah karakter pengisi latar belakangan. Dalam alur asli, pada Festival Bunga Rembulan mendatang, Selir ke-20 akan dituduh meracuni teh Selir Agung oleh persengkongkolan klan lawan. Tanpa ada yang membela dan tanpa kekuatan klan yang memadai, Ye Xinyue yang asli dijebak, dijebloskan ke penjara bawah tanah, dan dieksekusi mati secara diam-diam bahkan sebelum pemeran utama wanita sempat menjejakkan kaki di istana ini.
Xinyue mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku mati di dunia nyata karena kelelahan mengerjakan skripsi hukum," bisik Xinyue pada kegelapan malam, matanya berkilat penuh tekad. "Aku tidak akan membiarkan diriku mati untuk kedua kalinya di dunia fiksi ini hanya karena menjadi kambing hitam dalam permainan politik orang lain! Hukum dasar kehidupan adalah pertahanan diri!"
Xinyue mulai menyusun strategi berdasarkan pengetahuan masa depannya.
Pertama, mengenai Festival Bunga Rembulan yang tinggal dua bulan lagi. Karena ia tahu persis bahwa tragedi racun teh akan terjadi di festival tersebut, ia harus berpura-pura sakit keras beberapa hari sebelum acara dimulai. Jika ia tidak menghadiri festival, ia tidak bisa dijadikan tersangka atau saksi dalam kasus peracunan tersebut. No alibi, no crime.
Kedua, mengenai Kaisar Zhao Fengting. Dalam webtoon, sang tiran sangat membenci wanita yang haus kekuasaan dan berpura-pura suci, tetapi ia juga memusnahkan siapa pun yang terbukti tidak setia atau mencoba membodohinya. Oleh karena itu, Xinyue harus tetap menampilkan citra selir penakut, tidak berambisi, dan benar-benar tidak berguna agar Zhao Fengting merasa bosan dan tidak lagi melirik ke arah Kediaman Fenghua.
Ketiga, mengenai Klan Ye. Keluarga pemilik tubuh asli ini berada di perbatasan selatan dan tidak memiliki pengaruh besar di ibu kota. Ini adalah keuntungan hukum yang sangat besar bagi Xinyue. Tanpa sokongan klan yang kuat, ia tidak akan dilirik oleh pihak pemberontak untuk dijadikan sekutu, dan tidak akan dianggap ancaman oleh pihak Kaisar.
"Menjadi orang yang tidak penting adalah perlindungan terbaik di istana ini," gumam Xinyue puas seraya memandangi lembaran peta alur cerita yang baru saja diselesaikannya.
Namun, tepat saat Xinyue hendak mengangkat kertas itu untuk mengeringkan tintanya, sepoi angin malam yang sangat dingin mendadak bertiup menerobos celah jendela yang terkunci. Nyala lilin di atas meja bergetar hebat, lalu padam seketika, melemparkan seluruh ruangan ke dalam kegelapan pekat.
Xinyue membeku. Bulu kuduknya berdiri.
Sensasi dingin yang menusuk bukan berasal dari angin malam biasa. Itu adalah hawa keberadaan seseorang sebuah tekanan berat dan pekat yang pernah ia rasakan di Paviliun Anggrek tadi pagi.
Di dalam kegelapan kamar yang sunyi, suara gesekan kain sutra tebal bertabur benang emas terdengar menggeser lantai dari arah sudut ruangan dekat pintu.
"Menulis sesuatu di tengah malam yang gelap, Selir ke-20?"
Suara itu rendah, dalam, dan bergema halus bagaikan bisikan iblis di kegelapan.
Jantung Xinyue serasa berhenti berdetak saat bayangan tinggi besar perlahan melangkah keluar dari sudut gelap. Sinar bulan yang menerobos celah tirai menyinari separuh wajah tampan yang dingin bagaikan es Zhao Fengting berdiri di sana, menatap lurus ke arah kertas catatan alur cerita yang berada tepat di bawah jemari Xinyue.
Xinyue menahan napas, hatinya menjerit histeris. Bagaimana bisa dia ada di sini tanpa ada pengawal atau pelayan yang menyadarinya?! Dan naskah rahasia ini... masih terbentang di atas meja!
Zhao Fengting melangkah mendekati meja kerja Xinyue. Jari-jarinya yang panjang mengusap permukaan kertas beras yang berisi nama-nama klan dan alur kematian di istana ini.
"Cerita apa yang sedang kamu tulis ini, Ye Xinyue?" tanya Kaisar tiran itu seraya menundukkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam iris mata Xinyue dengan tatapan berbahaya yang sanggup mencabut nyawa.