NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

BAB 15: Malam Tanpa Topeng

[Sudut Pandang: KIAN]

Akademi Gagak Putih yang biasanya dingin dan kaku malam ini berubah wajah.

Dalam rangka menyambut Final Turnamen Debat besok, Rektorat mengizinkan tradisi tahunan: Pesta Rakyat Malam Bulan. Ratusan lampion kertas berwarna merah dan emas digantung di sepanjang jalan setapak. Kios-kios makanan didirikan, menjual jajanan yang biasanya dilarang di area kampus: sate daging asap, jagung bakar pedas, dan ale jahe.

Kian duduk di atap landai Gedung Perpustakaan Lama, jauh dari keramaian di bawah. Kakinya menjuntai ke udara. Di tangannya, bukan gelas kristal berisi anggur mahal, melainkan tusuk sate ayam yang berminyak.

"Makanlah," suara Sura terdengar dari belakang. Gadis itu muncul sambil membawa dua botol ale jahe. "Jangan bilang kau takut kolesterol. Kau sudah selamat dari serangan mental Lysander, sate ini tidak akan membunuhmu."

Kian tersenyum tipis. Dia menerima botol itu. "Aku hanya sedang berpikir. Ini pertama kalinya aku melihat sekolah ini... hidup."

"Ini wajah asli dunia, Tuan Muda," Sura duduk di sebelahnya. Angin malam menerbangkan anak rambutnya yang hitam. Malam ini Sura tidak memakai gaun pesta ataupun seragam debat. Dia memakai kemeja putih longgar dan celana kain sederhana. Dia terlihat... bebas.

"Di bawah sana," Sura menunjuk kerumunan mahasiswa yang sedang menari mengelilingi api unggun, "Orang-orang tidak peduli siapa ayahmu. Mereka hanya peduli musiknya bagus dan makanannya enak."

Kian menggigit satenya. Pedas. Panas. Dan anehnya... nikmat. Jauh lebih nikmat daripada hidangan hambar di Rumah Kaca Lysander kemarin.

"Terima kasih," kata Kian tiba-tiba.

Sura menoleh, alisnya terangkat. "Untuk satenya? Dua koin tembaga. Aku traktir."

"Bukan," Kian menatap mata Sura. "Untuk kemarin. Di panggung. Saat aku membeku... kau menyelamatkanku. Kau memberiku suara ketika aku kehilangan suaraku."

Sura terdiam sejenak. Dia memalingkan wajah, menatap lampion-lampion di bawah. Rona merah tipis muncul di pipinya, tersamar oleh cahaya malam.

"Itu tugas mitra, kan?" jawab Sura pelan. "Lagipula, aku tidak mau kalah hanya karena kau sibuk mengasihani diri sendiri."

Kian tertawa pelan. "Kau selalu punya jawaban tajam."

"Itu mekanisme pertahanan," aku Sura, meneguk ale-nya. "Sama sepertimu dengan uangmu. Atau Lysander dengan mawar-mawarnya."

Kian meletakkan botolnya. Dia menatap langit yang penuh bintang.

"Kau tahu, Sura? Seumur hidup, aku diajarkan bahwa emosi adalah kelemahan. Ayahku bilang, 'Jangan pernah biarkan orang lain melihatmu berdarah'. Tapi kemarin... saat aku mengakui bahwa aku ambisius, saat aku mengakui bahwa aku 'lapar'... rasanya seperti beban seberat satu ton diangkat dari dadaku."

Kian menoleh pada Sura.

"Kau benar tentang hibrida. Tentang menjadi berbeda. Aku tidak ingin menjadi seperti Lysander lagi. Aku ingin menjadi diriku sendiri."

Sura tersenyum. Kali ini bukan senyum licik atau senyum politis. Itu senyum tulus yang lembut, senyum yang hanya dia berikan pada Ren atau Lila.

"Kian Arselio yang asli ternyata tidak seburuk itu," kata Sura. "Sedikit cengeng, tapi lumayan."

Kian mendengus geli. Dia menggeser duduknya sedikit lebih dekat.

"Besok Final," kata Kian. Nada suaranya berubah serius. "Lawan kita belum diumumkan. Tapi aku yakin itu Lysander."

"Biarkan dia datang," Sura meremas botolnya. "Kita sudah punya Ren untuk dokumen, Lila untuk logistik, dan kita berdua di panggung. Tim Golden Key siap."

"Tapi Sura..." Kian ragu sejenak. "Jika besok kita kalah... jika Lysander menghancurkan kita dan kita dikeluarkan dari akademi... apa rencanamu?"

Sura menatap Kian. Pertanyaan itu menggantung di udara.

"Aku akan kembali ke jalanan," jawab Sura santai. "Mencopet lagi. Menipu walikota korup lagi."

"Ikutlah denganku," potong Kian.

Sura terpaku. "Apa?"

"Jika kita kalah, dan aku diusir dari keluarga Arselio..." Kian menatap Sura intens. "Aku akan pergi ke benua Timur. Memulai bisnis dagang dari nol. Aku butuh mitra. Mitra yang bisa mencopet, berbohong, dan berdebat."

Kian mengulurkan tangannya di atas atap genteng yang dingin itu.

"Apa kau mau ikut, Sura? Kalah atau menang?"

Jantung Sura berdegup kencang. Itu bukan tawaran kerja. Itu janji. Janji bahwa Kian tidak akan membuangnya setelah semua ini berakhir.

Sura menatap tangan itu. Tangan yang dulu dia anggap tangan bangsawan manja, kini terlihat seperti tangan seseorang yang siap bekerja keras.

Perlahan, Sura meletakkan tangannya di atas tangan Kian.

"Ke Timur terdengar menarik," bisik Sura. "Kudengar di sana banyak orang kaya yang bodoh."

Kian menggenggam tangan Sura erat. Kehangatan menjalar di antara mereka, mengalahkan dinginnya angin malam.

Untuk sesaat, dunia berhenti. Tidak ada turnamen. Tidak ada faksi. Tidak ada Raja. Hanya dua anak muda yang mencoba bertahan hidup di dunia yang keras, menemukan rumah di dalam satu sama lain.

BOOM!

Sebuah kembang api meledak di langit, memecah momen hening itu. Cahaya merah, hijau, dan emas menghiasi malam.

Suara terompet kerajaan terdengar dari arah Alun-Alun Utama.

"Pengumuman Final!" seru suara penyiar yang diperkuat sihir pengeras suara.

Kian dan Sura melepaskan genggaman mereka, kembali ke mode siaga. Mereka berdiri di tepi atap, melihat ke bawah ke arah panggung utama di alun-alun.

Sebuah spanduk raksasa dibentangkan.

FINAL TURNAMEN DEBAT

Topik: "Masa Depan Ostand: Perang atau Diplomasi?"

Tim Proposisi (Diplomasi): Kian Arselio & Sura Valerine (Golden Key)

Tim Oposisi (Perang):

Nama yang muncul di spanduk itu membuat darah Kian membeku.

Itu bukan hanya Lysander.

Peraturan Final mewajibkan tim terdiri dari dua orang. Kian mengira Lysander akan membawa wakilnya, atau murid pintar lainnya.

Tapi nama yang tertulis di sana adalah mimpi buruk.

Tim Oposisi:

Lysander Arselio (Ketua Silver Quill)

Jenderal Hanzor (Panglima Perang Kerajaan Ostand - Alumni Kehormatan)

Sura ternganga. "Apa?! Jenderal Hanzor? Panglima Perang sungguhan?! Bagaimana bisa murid melawan Jenderal?!"

"Peraturan Alumni," desis Kian, wajahnya pucat. "Alumni kehormatan boleh berpartisipasi jika diundang oleh Ketua Faksi. Lysander... dia benar-benar curang."

Jenderal Hanzor dikenal sebagai "Si Jagal dari Utara". Pria yang tidak berdebat dengan kata-kata, tapi dengan intimidasi murni. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas ekspansi militer Ostand. Berdebat melawannya tentang "Perang vs Diplomasi" sama saja dengan menyuruh singa menjadi vegetarian.

"Kita harus meyakinkan Raja untuk memilih Diplomasi..." gumam Sura. "...sementara lawan debat kita adalah orang yang memegang pedang Raja."

Kian menatap nama itu dengan tatapan nanar.

"Lysander tidak ingin mengalahkan kita dalam debat, Sura," kata Kian berat. "Dia ingin Jenderal Hanzor menghancurkan kita secara mental di depan Raja, supaya kita tidak pernah berani bicara politik lagi seumur hidup."

Kian menoleh pada Sura. Ketakutan di matanya sudah hilang, digantikan oleh tekad yang dingin dan keras. Tekad seseorang yang sudah tidak punya jalan mundur.

"Kau masih mau ikut ke Timur bersamaku, Partner?" tanya Kian.

Sura menyeringai, meski lututnya gemetar. Dia merapikan kerah kemejanya.

"Ke Timur?" kata Sura. "Nanti dulu. Besok, kita akan membuat Jenderal tua itu pensiun dini."

Kembang api terakhir meledak, menandakan berakhirnya pesta dan dimulainya perang.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!