Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pria bertopeng kayu
Jayengrana membeku, menahan napas serendah mungkin. Detak jantungnya ia kendalikan hingga hampir tak bergetar.
Di balik celah dinding batu, pria bertopeng kayu melangkah perlahan menyusuri lorong sel. Langkahnya santai, tanpa ketergesaan. Tongkat kayu tebal berwarna hitam di tangan kanannya sesekali diketukkan ke atas ubin batu.
Tok... Tok... Tok...
Gema ketukan itu memantul dingin ke sekeliling aula bawah tanah. Para tahanan yang semula merintih mendadak membungkam mulut. Beberapa di antaranya bahkan merapatkan tubuh ke sudut sel, gemetar ketakutan.
Jayengrana mengamati sosok itu tanpa berkedip. Wajahnya tersembunyi rapat, namun dari gelasat para pengawal yang menunduk hormat, kedudukan pria ini jelas berada di puncak hierarki tempat tersebut.
Sosok bertopeng kayu itu menghentikan langkah di depan sebuah sel besi. Di dalamnya, seorang tawanan tua dengan kedua tangan terantai duduk bersandar. Tubuhnya kurus kering dengan rambut putih yang membalut kepala.
"Apakah kau sudah bersedia mengubah pikiranmu?" Suara pria bertopeng itu mengalun tenang, dingin tanpa intonasi.
Tawanan tua itu meludah ke lantai. "Kau boleh mematahkan seluruh tulang belulangku... tetapi bukan harga diriku."
Pria bertopeng kayu hanya mengangguk pelan. "Sungguh ketabahan yang luar biasa. Enam hari berlalu dan kau masih sekeras batu."
Ia mengangkat tongkat hitamnya, mendaratkan ujungnya tepat di dahi sang tahanan. Tanpa rapal mantra, tanpa kilatan cahaya gaib. Namun, detik berikutnya, lelaki tua itu mendadak menjerit histeris.
"Aaaarrgh!"
Tawanan itu mencengkeram kepalanya sendiri. Tubuhnya kejang-kejang hebat di atas tanah kotor. Para pengawal di sekelilingnya hanya menyaksikan pemandangan itu dengan raut datar tanpa empati.
Beberapa saat kemudian, pria bertopeng menarik kembali tongkatnya. Jeritan melengking itu terhenti seketika. Tawanan tua itu terkulai lemas, bernapas memburu dalam kepayahan.
"Kita lanjutkan besok," ucap pria bertopeng itu pendek, berbalik santai seolah tindakan kejam tadi hanyalah rutinitas harian biasa.
Di balik retakan dinding, Jayengrana mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dadanya, namun nalar bertahannya memaksa tubuhnya tetap bergeming. Satu tindakan ceroboh akan merusak seluruh rencana keselamatan istrinya.
Pria bertopeng melanjutkan langkahnya, memeriksa sel demi sel secara berurutan. Hingga akhirnya... langkahnya terhenti.
Ia tidak berhenti di depan pintu sel mana pun. Pria itu berdiri tepat menghadap dinding batu tempat Jayengrana bersembunyi—hanya terpisah beberapa jengkal fondasi.
Suasana aula bawah tanah mendadak senyap.
Pria bertopeng kayu itu miringkan kepalanya sedikit, seolah sedang menyimak getaran halus di udara. Kemudian, sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan senyum tipis di balik topengnya.
"Ada tikus menyusup."
Salah seorang pengawal serta-merta menggenggam hulu pedangnya. "Perlu kami periksa lorong belakang, Tuan?"
"Tidak perlu," sahut pria bertopeng itu dingin. "Tikus yang satu ini cukup cerdik. Biarkan saja. Semakin lama ia berkeliaran di kegelapan, semakin banyak rute yang akan ia bukakan untuk kita."
Jayengrana mencerna peringatan terselubung itu. Satu hal yang pasti: sosok misterius ini sungguh-sungguh menyadari kehadiran penyusup di balik dinding.
Tak lama kemudian, pria bertopeng itu melangkah pergi meninggalkan ruang bawah tanah. Begitu suasana kembali lengang, bisikan Penunggang Perjanjian mendadak terngiang di benaknya.
"Sekarang... mundur."
Jayengrana masih menajamkan pandangannya. 'Aku belum menemukan lokasi pasti istriku.'
"Jika kau bertahan lebih lama di sini... kau akan tewas," potong suara gaib itu. Nadanya tetap datar, namun diimbuhi ketegasan mutlak.
Jayengrana menarik tubuhnya perlahan dari celah batu. Ia tak membantah. Naluri bertarungnya dan peringatan tanda perjanjian memberikan muara jawaban yang sama: malam ini bukan saatnya menumpahkan darah.
Saat merayap mendekati mulut lorong air, langkah Jayengrana mendadak terhenti.
Di permukaan dinding sebelah kanan, tepat di atas genangan air lembap, matanya menangkap sebuah pahatan kuno. Ukiran kecil itu berwujud pola lingkaran tunggal dengan tiga garis melengkung di bagian dalamnya. Permukaannya telah melapuk dan tertutup lumut tua.
Ia mengusap guratan batu itu dengan ujung jarinya. Secara ajaib, tanda perjanjian di dadanya kembali bergetar hangat.
Suara Penunggang Perjanjian berbisik lirih, mengalun perlahan.
"...Lambang itu..."
Jayengrana menanti dalam keheningan.
Detik berikutnya, meluncur sebuah pengakuan yang membuat bulu kuduknya meremang.
"...Aku mengenalnya."
Itulah kali pertama Penunggang Perjanjian mengutarakannya secara terbuka—mengakui jejak keberadaan sesuatu di alam manusia. Dan untuk pertama kalinya pula, di dalam gaung suara gaib tersebut, terselip sebuah getaran emosi yang amat asing: sebuah kenangan masa lalu.
Jayengrana menatap ukiran kuno itu lebih lama.
Sebuah lingkaran tunggal dengan tiga garis melengkung di dalamnya. Sederhana, namun sanggup membuat Penunggang Perjanjian mendadak bungkam.
'Apa sebenarnya makna lambang ini?' tanya Jayengrana dalam hati.
Tak ada sautan. Hanya keheningan panjang yang mengendap di relung benaknya.
Beberapa saat kemudian, suara berat gaib itu kembali terngiang. "Sudah teramat lama... hingga batu-batu ini mulai melupakan nama pemilik aslinya."
'Kau belum menjawab pertanyaanku.'
"Jangan menyentuhnya lagi," tegur Penunggang Perjanjian dingin.
'Mengapa?'
"Belum saatnya kau menyingkap rahasia itu."
Jayengrana menghela napas pelan. Makhluk itu kembali mengunci rapat lembar informasi. Namun kali ini ia memilih tidak mendesak. Bila entitas gaib yang biasa tampil tenang itu sampai enggan meneruskan pembicaraan, lambang tersebut dipastikan memuat sejarah yang tidak sepele.
Ia melangkah keluar meninggalkan lorong air, kembali menyusuri tepian sungai yang sepi.
Hari kian melarut. Jayengrana memutuskan untuk tidak kembali ke warung Mbok Sari malam ini. Ia memilih membaringkan diri di sebuah surau tua tak terawat di pinggiran Kotaraja. Lantai ubinnya dingin, sedang atap tembus pandangnya bocor di beberapa sudut, namun cukup tersembunyi untuk berteduh hingga fajar.
Ia menyandarkan tombak berbungkus kainnya di sudut dinding, lalu duduk bersila.
Kepalanya dipenuhi oleh benang-benang teka-teki: Siapa gerangan pria bertopeng kayu itu? Mengapa istrinya sengaja dibiarkan hidup? Serta apa keterikatan lambang tua itu dengan masa lalu Penunggang Perjanjian? Tak satu pun pertanyaan itu menemukan muara jawaban.
Menjelang tengah malam...
Bisikan Penunggang Perjanjian kembali merayap di benaknya.
"Jayengrana."
'Ada apa?'
"Kau sanggup menahan diri."
'Aku memang harus melakukannya.'
"Padahal kekuatanmu sanggup menghabisi seluruh pengawal di aula bawah tanah itu dalam sekejap."
Jayengrana mengangguk pelan di kegelapan malam. 'Mungkin saja.'
"Lalu mengapa kau memilih berbalik arah?"
Jayengrana membisu cukup lama sebelum melontarkan sautan. 'Karena aku tidak sedang memburu pertumpahan darah tak berguna malam ini. Jika aku memaksakan serbuan, keselamatan istriku bakal dijadikan taruhan, dan seluruh jejak kebenaran akan lenyap seketika.'
Suasana kembali senyap, lalu bisikan gaib itu memantul ulang. Kali ini, terselip sedikit nada kepuasan di dalamnya.
"Garis perjanjian ini mencatat keputusanmu."
Simpul di dada Jayengrana terasa menyengat hangat. Sensasinya berbeda dari biasanya—tidak menyebar luas, melainkan berdenyut halus meresap ke pembuluh darahnya.
"Simpul ketiga memang belum terbuka sepenuhnya," desis suara itu. "Namun jiwamu telah kian mendekati batasnya."
Jayengrana menyunggingkan senyum tipis. 'Jadi aku hanya perlu duduk menanti?'
"Tidak. Teruslah melangkah. Setiap pilihan dan dorongan hatimu sedang menempa hakikat jiwamu menjadi sesuatu yang baru."
Gema suara itu perlahan menguap.
Keesokan paginya...
Jayengrana kembali melangkah menuju gudang beras kerajaan, menyamar sempurna sebagai "Saka". Sang mandor tetap melontarkan makian, para kuli tetap bertukar kelakar kasar—semuanya berlangsung normal tanpa cela.
Saat ia sedang memikul karung beras menuju tumpukan utama, Giman berlari menghampirinya dengan napas memburu.
"Saka!" panggil pemuda itu gugup.
"Ada apa, Giman?"
"Temanku ditangkap oleh perwira jaga!"
Jayengrana menahan karung di bahunya. "Atas tuduhan apa?"
"Mereka menuduhnya mencuri sekatung gandum," sahut Giman dengan wajah pucat.
"Apakah dia benar-benar mengambilnya?"
Giman menggeleng keras. "Sama sekali tidak! Aku mengenal perangainya sejak kecil. Tapi para prajurit itu tidak mau mendengarkan pembelaan apa pun!"
Jayengrana mengalihkan pandangannya ke tengah pelataran gudang. Seorang kuli muda tampak tersungkur, dipukuli bertubi-tubi oleh dua prajurit berzirah. Sang mandor hanya berdiri menonton tanpa berniat melerai, sementara kuli-kuli lain tertunduk takut.
Jayengrana menurunkan karung berasnya ke atas tanah.
Giman serta-merta menahan lengannya dengan jemari gemetar. "Jangan mendekat, Saka! Kau bisa ikut diseret dan ditangkap!"
Jayengrana menatap kuli muda yang kini terbaring dengan bibir berdarah, lalu mengunci pandangannya pada dua prajurit yang terus mengayunkan cambuk.