Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Poster yang selama ini diam
Pagi itu, udara di dalam gedung perusahaan terasa jauh lebih tipis dan mencekam dari biasanya. Kabar mengenai kedatangan tim audit investigasi dari kantor pusat telah menyebar luas bagaikan api yang melahap padang rumput kering.
Dampaknya langsung terlihat. Semua orang sibuk merapikan meja kerja masing-masing hingga tak ada selembar kertas pun yang miring. Berkas-berkas disusun sesuai abjad, dan postur duduk para karyawan mendadak tegak lurus seolah mereka semua sedang mengikuti ujian nasional.
Namun, di tengah segala kepanikan profesional itu, ada satu hal yang paling menyita perhatian Fajar.
Ia berdiri mematung di dekat area mesin fotokopi, menatap lurus ke arah dinding utama koridor. Di sana, di dalam bingkai kaca akrilik yang mengilap, terpampang sebuah poster tata tertib perusahaan yang dicetak dengan huruf kapital tebal berwarna merah menyala:
"DILARANG MENJALIN HUBUNGAN ASMARA DI LINGKUNGAN KANTOR."
Fajar menatap poster itu lama sekali. Dadanya bergemuruh.
Bayu yang baru saja selesai menyeduh kopi di pantry menggeser kursi rodanya, berhenti tepat di samping Fajar. Ia ikut menatap poster tersebut, lalu menyenggol lengan sahabatnya itu dengan sikunya.
"Poster itu… kalau dilihat-lihat di situasi sekarang, jadi terasa ironis banget ya, Jar," komentar Bayu dengan senyum jahil yang mengesalkan.
Fajar menelan ludah, tersenyum kecut tanpa mengalihkan pandangannya dari dinding. "Dulu, waktu gue baru masuk ke sini, gue takut banget sama aturan itu. Jangankan pacaran, ngobrol sama karyawan divisi lain aja gue mikir dua kali takut dikira pedekate."
Bayu tertawa tertahan, memamerkan deretan giginya. "Dan sekarang? Lo malah pacaran sama orang yang bikin aturan itu dan yang punya kuasa buat mecat lo. Sumpah, hidup lo ini plot twist-nya ngalahin sinetron."
Fajar memejamkan mata, menghela napas panjang. "…tolong banget, Bay. Jangan diingetin. Jantung gue udah mau copot rasanya mikirin tim audit yang mau datang."
Sementara itu, di dalam ruang direktur, suasana yang tak kalah tegang sedang terjadi.
Kirana berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota. Wajahnya datar, namun pikirannya berputar cepat.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati mahal, tergeletak sebuah map berisi laporan persiapan audit. Dan tepat di sebelah map itu, terdapat sebuah buku panduan peraturan perusahaan, yang di halaman pertamanya menampilkan foto desain poster aturan kantor.
Termasuk… aturan tentang larangan hubungan personal.
Sinta berdiri dengan postur sempurna di seberang meja. Ia memeluk tablet kerjanya di dada.
"Bu Direktur," panggil Sinta dengan nada tenangnya yang selalu stabil.
"Iya, Sinta?" jawab Kirana tanpa menoleh.
"Seperti yang Anda ketahui, tim audit pusat sangat ketat mengenai profesionalisme. Jika dalam proses audit nanti mereka menemukan indikasi adanya hubungan personal di kantor, apalagi yang melibatkan jajaran direksi…"
Kirana memutar tubuhnya perlahan, menyela kalimat sekretarisnya dengan nada pelan namun tajam. "Lalu? Apa yang akan terjadi?"
Sinta menatap mata atasannya tanpa berkedip. "Itu akan menjadi pelanggaran berat, Bu. Karena aturan yang ada dan tertulis dengan jelas, melarang hal tersebut. Anda sendiri yang menyetujui pemasangan poster peringatan itu dua tahun yang lalu."
Hening sejenak. Kata-kata Sinta adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Kirana menunduk, menatap buku panduan di atas mejanya. Tangannya perlahan terulur, menutup buku itu dengan satu gerakan mantap. Ia kemudian mendongak, menatap Sinta dengan sorot mata yang telah berubah.
"Kalau begitu…" ucap Kirana dengan suara yang sangat tenang. Ia menoleh kembali ke arah pintu ruangannya. "Aturannya yang salah."
Sinta sedikit melebarkan matanya, terkejut mendengar kalimat itu, namun tak lama kemudian sebuah senyum tipis—sangat tipis—terukir di sudut bibirnya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang direktur terbuka lebar.
Langkah kaki dengan ketukan heels yang khas menggema di koridor. Kirana melangkah keluar dari ruangannya. Auranya memancar begitu kuat, membuat semua karyawan yang tadinya sibuk mengetik seketika menghentikan pergerakan mereka. Ruangan divisi pemasaran mendadak hening.
Kirana tidak berjalan menuju ruang rapat, tidak pula menuju meja staf. Ia berjalan lurus… menuju dinding utama kantor.
Semua mata mengikuti pergerakannya layaknya penonton yang sedang menyaksikan adegan puncak sebuah film.
Di sudut ruangan, Fajar menyusutkan tubuhnya. Keringat dingin kembali mengalir. "Bay…" bisiknya panik. "Gue gak enak feeling nih. Dia mau ngapain?"
Bayu yang ada di sebelahnya ikut menelan ludah, matanya membelalak lebar. "Gue juga gak tahu, Jar… tapi ini vibe-nya berasa kayak mau ada revolusi kemerdekaan."
Kirana akhirnya berhenti tepat di depan poster bertuliskan larangan jatuh cinta tersebut. Ia berdiri tegak, menatap deretan huruf merah itu selama beberapa detik dalam diam. Seolah sedang menantang sebuah entitas tak kasat mata.
Lalu—tanpa ragu sedikit pun, tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang sedang menatapnya dengan napas tertahan…
Kirana mengangkat kedua tangannya, membuka kuncian bingkai akrilik itu, dan menarik ujung kertas poster tersebut.
REEEK!
Suara sobekan kertas yang tebal itu memecah keheningan kantor dengan sangat nyaring. Kirana mencopot poster itu secara paksa dari tempatnya bernaung selama bertahun-tahun.
Seluruh penghuni kantor… membeku. Benar-benar diam. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Bayu membuka mulutnya perlahan, rahangnya seolah nyaris jatuh menyentuh lantai. "…dia… dia beneran nyopot poster itu…"
Fajar juga berdiri mematung, matanya mengerjap tak percaya. "…itu kan peraturan sakral perusahaan…"
Di meja seberang, seorang manajer senior berbisik gemetar kepada rekan di sebelahnya. "Ini… ini beneran kejadian? Bu Kirana ngelanggar aturannya sendiri?"
Setelah poster itu berada di tangannya, Kirana berbalik perlahan. Tatapannya sangat tenang, menyapu seluruh ruangan yang masih dilanda shock berat.
"Semuanya, dengarkan saya," suara Kirana menggema, jelas dan penuh wibawa. Tidak ada keraguan sedikit pun di sana.
"Mulai hari ini," lanjutnya, menatap lurus ke depan. "Tidak ada lagi aturan yang melarang perasaan manusia di gedung ini."
Semua karyawan saling pandang. Mereka saling melempar tatapan penuh kebingungan, seolah menunggu ada yang berani bertanya apakah mereka sedang berada di prank acara televisi.
Sinta, yang sedari tadi mengikuti dari belakang, melangkah maju sedikit untuk memecah kecanggungan massal tersebut. Ia memosisikan dirinya sebagai perwakilan para karyawan.
"Apakah ini bisa dianggap sebagai keputusan resmi dari direksi, Bu?" tanya Sinta lantang, sengaja memancing kejelasan.
Kirana mengangguk tegas. "Ya. Ini keputusan resmi."
Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih melembut, namun tetap tegas. "Selama hal tersebut tidak mengganggu profesionalisme kerja, selama output perusahaan tetap terjaga, dan tidak ada konflik kepentingan yang merugikan… hubungan personal antar karyawan diperbolehkan."
Mendengar deklarasi itu, Bayu langsung menyikut perut Fajar keras-keras sambil berbisik heboh. "Jar! Lo denger gak?! Ini keputusan bukan cuma buat ngubah budaya kantor…"
Fajar menelan ludah dengan susah payah, dadanya bergemuruh luar biasa kencang. "…iya, Bay. Ini dibuat khusus buat kita."
Seolah mengonfirmasi bisikan Fajar, Kirana yang masih berdiri di depan semua orang, perlahan menggeser pandangannya.
Lalu—untuk pertama kalinya di hadapan publik—ia menatap Fajar.
Bukan sekadar tatapan sekilas layaknya atasan yang sedang mengecek keberadaan bawahannya. Melainkan tatapan yang terang-terangan. Tatapan panjang yang penuh makna, tanpa berusaha menghindar, tanpa setitik pun keraguan.
Beberapa karyawan yang kebetulan berdiri di dekat Fajar mulai menyadari arah pandangan sang direktur. Mereka menoleh ke arah Fajar, lalu kembali ke Kirana. Otak mereka mulai merangkai kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berserakan.
Bayu mengangguk-angguk paham. "…oh. Oke. Go public jalur revolusi. Paham."
Sinta, dari tempatnya berdiri, hanya tersenyum kecil melihat keberanian atasannya.
Sementara Fajar berdiri kaku seperti papan kayu. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "…fix. Ini sih udah gak jadi rahasia lagi namanya."
Setelah pengumuman itu, kasak-kusuk mulai terdengar bagaikan lebah yang sarangnya baru saja diganggu.
"Eh, gila… Bu Direktur berubah banget ya sekarang," bisik seorang staf admin.
"Iya bener… tapi jujur aja, dia jadi kelihatan lebih manusiawi dan… hangat, kan?" balas temannya.
"Agak serem sih cara nyopot posternya, tapi asli, keren banget!"
Di tengah kasak-kusuk itu, Bayu entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba mengangkat tangannya dan bertepuk tangan kecil. Prok… prok… prok.
"Gue dukung!" seru Bayu agak keras.
Sontak, seluruh kepala di ruangan itu menoleh tajam ke arahnya. Bayu langsung menciut, menelan ludahnya gugup.
"…eh… m-maksudnya… kebijakan yang bagus, Bu! Sangat mendukung kesejahteraan mental karyawan!" ralat Bayu gelagapan sambil mengacungkan dua jempol dengan kaku.
Fajar langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangan. "Ya Tuhan, angkat gue dari bumi sekarang juga," ratapnya malu.
Beberapa menit kemudian, setelah Kirana kembali ke ruangannya, suasana kantor perlahan mencoba kembali normal. Semua orang kembali ke meja masing-masing, meskipun grup percakapan internal kini pasti sedang meledak oleh gosip baru.
Fajar berdiri sendiri di dekat jendela koridor, masih berusaha mencerna rentetan kejadian gila yang baru saja berlangsung dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Tiba-tiba, aroma parfum lembut menguar di udara. Kirana mendekat dari arah belakang. Ia tidak berdiri terlalu dekat untuk memancing kehebohan baru, namun jarak mereka cukup dekat untuk sekadar mengobrol berdua.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Kirana pelan, nada suaranya kembali melembut, kontras dengan ketegasan yang ia tunjukkan beberapa menit lalu.
Fajar menoleh. Ia menatap wanita luar biasa di sampingnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum hangat. "Berani banget. Lo benar-benar bikin jantung satu kantor berhenti berdetak."
Kirana membuang pandangannya ke luar jendela, namun sudut bibirnya terangkat. "Itu… perlu dilakukan."
Fajar mengangguk setuju. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk mencari tatapan Kirana. "Jadi, kalau aturannya udah dicabut… sekarang…"
"Iya?" Kirana menoleh kembali menatapnya.
"Kita beneran udah gak perlu sembunyi-sembunyi lagi kayak buronan?" tanya Fajar memastikan.
Kirana menggeleng kecil. Sorot matanya memancarkan kedamaian. "…tidak. Kita tidak perlu sembunyi lagi."
Mendengar itu, Fajar tersenyum sangat lebar. Perasaan lega luar biasa membanjiri dadanya. "Wah… kalau gini ceritanya, hidup gue beneran naik level. Dari remah-remah kantor jadi orang spesialnya bos."
Kirana menahan tawanya, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona di pipinya. "Jangan terlalu percaya diri, Fajar. Kembali bekerja."
Saat Kirana berjalan pergi, ekor mata Fajar menangkap sebuah pemandangan di sudut ruangan. Di dalam tempat sampah hitam berbahan jaring-jaring kawat, poster lama itu terlipat dan terbuang begitu saja.
Tulisan "DILARANG JATUH CINTA" yang selama ini menjadi momok menakutkan, kini sudah tidak lagi memiliki arti apa-apa. Aturan kaku itu telah mati, digantikan oleh sesuatu yang sama sekali baru di gedung ini: Sebuah pilihan untuk berani merasa.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Belum sampai sepuluh menit Fajar mendudukkan diri di kursinya, Sinta tiba-tiba keluar dari area lobi tamu. Ia melangkah terburu-buru menuju ruangan direktur. Wajahnya yang biasanya tenang, kini terlihat sangat serius dan tegang. Ia bahkan tidak mengetuk pintu, melainkan langsung membukanya.
"Bu Direktur," panggil Sinta dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya.
Fajar dan Bayu yang duduk tak jauh dari sana langsung menoleh dengan waspada.
Kirana mendongak dari mejanya. "Ada apa, Sinta?"
"Tim audit dari pusat… mereka baru saja tiba di lobi bawah dan sedang naik ke lantai ini," lapor Sinta cepat.
Fajar langsung melompat dari kursinya. Tubuhnya kembali menegang sempurna. "HAH?! Cepet banget?! Katanya minggu depan?!"
Bayu tak kalah panik, ia memutar kursi rodanya dengan gelisah. "Woy, ini konspirasi macam apa?! Bu Kirana baru aja nyopot poster lima menit yang lalu, dan sekarang langsung diuji langsung sama tim pusat?!"
Kepanikan mulai melanda divisi itu lagi. Karyawan lain yang mendengar kabar itu langsung kasak-kusuk merapikan meja mereka dua kali lebih cepat.
Namun, di tengah badai kepanikan tersebut, Kirana perlahan bangkit dari kursinya. Tidak ada gurat ketakutan di wajahnya. Ia merapikan kemejanya dengan gerakan tenang, lalu melangkah maju ke ambang pintu ruangannya.
"Tidak apa-apa," ucap Kirana dengan suara lantang yang menghentikan kepanikan semua orang.
Ia menatap lurus ke arah pintu masuk utama, siap menyambut para petinggi dari kantor pusat, sebelum akhirnya menoleh sekilas ke arah Fajar dengan tatapan yang sangat menenangkan.
"Kali ini…" kata Kirana penuh keyakinan. "…kita tidak akan menyembunyikan apa pun."