Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Matahari pagi menyinari pelataran mansion Sterling dengan hangat, namun suasana di ruang kerja pribadi Hades justru dipenuhi oleh ketegangan urusan korporat tingkat tinggi. Di atas meja mahoni berukuran besar, setumpuk dokumen kontrak kerja sama internasional dan tiket penerbangan kelas satu tertata rapi.
Hades Sterling berdiri tegak di depan dinding kaca, mengenakan setelan jas hitam tailor made yang membalut tubuh atletis bak dewa Yunani. Hari ini, ia terpaksa harus meninggalkan New York selama beberapa hari ke depan demi memimpin langsung negosiasi akuisisi perusahaan energi raksasa di Eropa.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan, dan Percy melangkah masuk dengan balutan home dress sutra berwarna pastel. Wajah mungilnya tampak segar, dengan dua lesung pipi yang tercetak manis saat ia berjalan mendekati sang suami sambil membawa secangkir kopi hitam.
"Jadi, kau benar-benar harus terbang ke Zurich malam ini?" tanya Percy dengan nada santai, meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja kerja Hades.
Hades berbalik, langsung melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping sang istri, menarik Percy hingga menempel tanpa celah ke tubuhnya. Sepasang mata kelabu sedingin es miliknya menatap lekat-lekat ke dalam mata amber Percy.
"Hanya tiga hari, Ma chérie," jawab Hades dengan suara baritonnya yang berat dan lembut. "Begitu urusanku di sana selesai, aku akan langsung kembali ke pelukanmu. Jangan mencoba membuat kekacauan besar selama aku tidak ada, atau kau tahu apa hukumannya."
Percy mendengus manja, mengerucutkan bibir kecil ranumnya sambil memutar bola mata ambernya. "Iya, iya! Tuan Penguasa yang cerewet. Aku tidak akan membuat kekacauan, kok. Tenang saja."
Hades mengecup bibir istrinya sekilas, merasa sedikit tenang karena mengira Percy akan tinggal dengan aman di dalam mansion selama ia pergi. Namun, Hades tidak tahu bahwa di balik senyuman manis dan lesung pipi tersebut, otak licik sang ratu justru sedang merangkai jadwal liburan baru.
Di belahan kota Manhattan yang lain, di dalam sebuah kafe tersembunyi yang remang-remang, Iris Montgomery duduk dengan napas memburu dan senyuman penuh kelicikan di wajahnya. Meskipun kariernya sempat dihancurkan oleh Sterling Global beberapa waktu lalu, obsesinya terhadap Hades tidak pernah surut ia justru semakin gila.
Melalui jaringan informan bayaran di bandara, Iris mendapatkan informasi rahasia bahwa Hades Sterling akan melakukan perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri malam ini menggunakan jet pribadi perusahaan.
Bagi Iris, ini adalah kesempatan terakhir yang tidak boleh disia-siakan.
Jika aku tidak bisa merusaknya di New York, aku akan menjebaknya di luar negeri, batin Iris penuh ambisi.
Ia segera merogoh ponselnya, menghubungi agen perjalanan privat untuk memesan tiket penerbangan komersial di jam yang sama menuju destinasi yang sama di Eropa. Iris berencana untuk membuntuti setiap langkah Hades, sengaja muncul di hotel tempat sang miliarder menginap, dan membayar fotografer bayaran untuk mengambil gambar mereka dari jarak dekat agar ia bisa kembali menyebar rumor busuk ke media sosial menggiring opini publik seolah-olah ia dan Hades sedang menikmati liburan romantis berkedok perjalanan bisnis, bahkan menyebar rumor murahan bahwa mereka adalah sepasang kekasih sejak masa lalu.
Kembali di dalam mansion Sterling, begitu bayangan mobil Hades menghilang di balik gerbang utama yang membentang luas, senyuman lebar langsung terkembang di wajah Percy.
Ia bergegas berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya, mengambil iPad Pro miliknya, dan membuka aplikasi perencana perjalanan. Matanya berbinar terang, memancarkan semangat 'cegil' yang tidak bisa dibendung lagi.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Percy langsung mendial nomor sahabat setianya.
"Tyche!" seru Percy penuh semangat begitu sambungan terhubung. "Singa kita sudah terbang ke Eropa untuk urusan bisnis! Kau tahu apa artinya ini, kan?"
Di ujung sambungan, tawa renyah Tyche langsung terdengar penuh antisipasi. "Artinya sang ratu bebas dari sangkar emas dan siap membuat kehebohan lagi? Di mana destinasi kita kali ini, darling?"
Percy membuka daftar destinasi impian di layar tabletnya, menunjuk sebuah pulau eksklusif di Laut Mediterania dengan senyuman paling lebar di wajahnya. "Kita ke Santorini! Kemasi pakaian musim panas terbaikmu, tas desainer terbaru, dan kartu kredit hitam tanpa batas. Kita akan melakukan trip liburan paling gila sebelum Hades kembali!"
Langit di atas Santorini terbentang luas dengan warna biru jernih yang memukau, berpadu sempurna dengan deretan bangunan putih beratap kubah biru khas Yunani yang menghadap langsung ke lautan Mediterania. Desir angin laut yang hangat menerpa rambut panjang berwarna chesnut brown milik Percy, yang kini berdiri bebas tanpa ada batasan tembok tinggi atau pengawal ketat yang mengekorinya di setiap langkah.
Mengenakan gaun musim panas bergaya bohemian berwarna putih gading dan kacamata hitam berukuran besar, Percy tampak menikmati es krim gelato rasa vanila di salah satu kafe terbuka di tepi tebing Oia. Di sampingnya, Tyche Vance sibuk berpose dengan latar belakang pemandangan matahari terbenam yang mulai meredup, mengabadikan setiap momen kebebasan mereka.
"Ah... udara kebebasan ini benar-benar terasa sangat manis, Tyche!" seru Percy riang, tertawa kecil sambil menyendok gelatonya. "Hades pasti sedang sibuk setengah mati dengan para dewan direksi tua di Zurich sana, sementara kita bersenang-senang di surga dunia ini."
Tyche mendengus di sela-sela tawanya, mengecek ponselnya sebentar. "Kau benar-benar tidak takut suamimu mengamuk begitu tahu kau kabur ke Yunani, darling? Ingat, dia pikir kau sedang manis berdiam diri di mansion Manhattan."
Percy mengangkat bahunya acuh tak acuh, lesung pipinya tercetak dalam. "Biarkan saja! Dia butuh sedikit pelajaran agar tidak terlalu sering meninggalkan istrinya."
Namun, di saat Percy menikmati indahnya angin Mediterania di pulau impian, badai kecil lain justru tengah bergerak mendekat di belahan benua yang sama.
Beberapa ratus mil dari Santorini, di sebuah hotel mewah bintang lima di jantung kota Zurich, Swiss, Hades baru saja menyelesaikan rangkaian rapat maraton yang melelahkan. Pria berdarah Yunani-Italia itu melangkah keluar dari ruang rapat utama, dikawal oleh Dionisos Volkov dan beberapa kepala keamanan lokal.
"Bagaimana laporan dari New York, Dionisos?" tanya Hades dengan suara baritonnya yang dingin, melonggarkan sedikit dasi hitam di lehernya.
Dionisos membuka tabletnya dengan ekspresi wajah yang mendadak tegang. "Tuan... ada laporan buruk. Seseorang melihat Nyonya besar menaiki penerbangan privat menuju Athena, Yunani, bersama Nona Tyche, beberapa jam setelah Anda bertolak ke Eropa."
Langkah kaki Hades seketika terhenti di tengah lorong marmer hotel. Suhu di sekitar pria itu mendadak drop drastis. Sepasang mata kelabunya menajam hebat, memancarkan kemarahan murni yang siap membakar apa saja.
"Istriku... kabur ke Yunani?" suara Hades berbisik rendah, sangat berbahaya hingga membuat Dionisos menunduk ngeri.
Sebelum Hades sempat meluapkan amarahnya, ponsel di dalam saku jasnya berdering keras. Sebuah panggilan dari manajer hotel di Zurich memecah keheningan. Dengan gerakan cepat, Hades mengangkatnya, namun sebelum ia sempat berkata, suara seorang wanita yang sangat dibencinya tiba-tiba terdengar di seberang sana.
"Halo, Hades... kudengar kau sedang berada di Zurich untuk urusan bisnis ya? Padahal aku baru saja mendarat di hotel yang sama denganmu. Bukankah ini takdir yang indah?"
Suara itu milik Iris Montgomery.
Hades tertegun sejenak, lalu melirik layar ponselnya. Melalui sistem keamanan siber miliknya, tablet Dionisos mendadak memunculkan foto-foto baru yang baru saja diunggah ke internet oleh akun-akun gosip bayaran foto Iris Montgomery berdiri di depan lobi hotel yang sama di Zurich, disandingkan dengan foto siluet Hades saat memasuki mobil, dengan caption provokatif yang menggiring opini publik bahwa sang aktris sengaja menyusul sang miliarder untuk menikmati liburan romantis rahasia di Eropa.
Kemarahan Hades mencapai puncaknya. Burung kecilnya kabur ke Yunani, sementara seekor tikus busuk justru dengan lancang datang mencarinya di Swiss untuk merusak nama baiknya.
"Dionisos," panggil Hades dengan suara dingin yang menjanjikan kematian mutlak.
"Ya, Tuan?"
"Batalkan seluruh sisa agenda rapat di Zurich. Siapkan jet pribadi sekarang juga." Hades mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kita terbang ke Santorini. Aku akan menyelesaikan dua masalah sekaligus hari ini."