Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Pukulan Pamungkas
Aroma antiseptik yang menyengat memenuhi seluruh sudut kamar perawatan VIP lantai lima Rumah Sakit Medika Pratama. Di atas ranjang berseprai putih bersih, Helena duduk bersandar dengan gaun pasien yang kebesaran. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mewah kini pucat pasi, matanya sembab, dan wajahnya menyimpulkan guratan frustrasi yang amat mendalam.
Di tangannya, sebuah tablet digital menampilkan grafik merah yang merosot tajam—saham perusahaan keluarganya terjun bebas setelah berita pembatalan kerja sama secara sepihak oleh Pratama Group tersebar luas di bursa saham pagi ini.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu yang teratur dan sangat santai memecah keheningan kamar. Sebelum Helena sempat merapikan rambutnya atau bersuara, pintu kayu mahoni itu terdorong terbuka.
Clarissa melangkah masuk dengan keanggunan mutlak.
Penampilannya yang luar biasa memukau dengan gaun sutra merah marun dan jubah hitam yang tersampir anggun di pundaknya menciptakan kontras yang teramat menyengat dengan kondisi Helena yang berantakan. Di belakangnya, Tulus berjalan patuh sembari membawa seikat bunga mawar putih yang mekar sempurna.
"Kau...!" Helena tersentak hebat, jemarinya mengepal kencang meremas seprai. Matanya membara oleh kebencian yang mendidih.
"Untuk apa kau ke sini?! Mau memamerkan kemenanganmu, iblis?!"
Clarissa tidak membalas makian kasar itu dengan emosi. Ia justru menyunggingkan senyuman paling ramah dan paling menyebalkan yang pernah ada. Dengan isyarat tangan yang santai, ia meminta Tulus meletakkan buket bunga mawar putih tersebut tepat di atas meja samping ranjang Helena.
Dengan gerakan yang teramat halus, Clarissa menarik kursi empuk di samping ranjang, merapikan gaunnya, lalu duduk menyilangkan kakinya yang jenjang dengan santai.
"Aduh, Helena sayang... kenapa menyambutku dengan nada tinggi seperti itu?" tutur Clarissa dengan suara yang mengalun amat lembut, jernih, dan bernada manis yang sangat memancing emosi.
"Aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menjalankan kewajibanku sebagai istri sah Dominic. Menjenguk sahabat kecil suamiku yang mendadak 'sakit' setelah atraksi hebatnya di hotel semalam."
"Tutup mulutmu, Clarissa!" jerit Helena serak, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang hampir meledak.
"Kau yang merencanakan semua ini! Semua ini ulahmu!"
Clarissa tertawa pelan—sebuah tawa renyah dan anggun yang terdengar bagai bisikan ejekan di telinga Helena. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Helena yang kacau.
"Ulahku?" bisik Clarissa, nada suaranya turun satu oktaf namun tetap terdengar santai dan penuh dominasi.
"Kapan aku memaksamu membawa obat perangsang itu ke hotel, Helena? Kapan aku memaksamu memandu Kakek Silas dan para wartawan ke kamar 808? Kau sendiri yang menggali lubang kuburmu dengan begitu semangat.
Aku hanya bersikap sopan dengan tidak menghalangi langkahmu, lalu dorong sedikit agar kau jatuh cukup dalam ke dalamnya."
Helena membeku seketika. Kata-kata santai Clarissa bagaikan belati es yang menancap telak di dadanya. Memang benar, seluruh skenario awal dirancang oleh tangannya sendiri, namun Clarissa dengan cerdik memutar balikkan belati itu persis ke jantungnya.
"Kau pikir kau sudah menang total, hah?!" desis Helena dengan tawa sumbang yang amat getir, mencoba menegakkan punggungnya yang gemetar.
"Dominic mengenalku sejak kecil! Dia hanya emosi sesaat padaku! Begitu amarahnya reda, dia pasti akan kembali padaku dan menyadari betapa licik dan busuknya wanita sepertimu!"
Clarissa menaikkan satu alisnya dengan raut wajah pura-pura terkejut yang sangat menggemaskan sekaligus mengejek. Ia mengambil satu tangkai mawar putih dari buket di meja, memutar-mutar tangkainya di antara jemarinya yang lentik dengan penuh gaya.
"Kembali padamu?" Clarissa terkekeh anggun, menatap Helena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Kasihan sekali... Kau tahu, Helena? Pria yang kau harapkan itu, semalam berlutut memohon maaf padaku di dalam kamar. Dan pagi ini? Dia bahkan tidak sanggup menahan fisiknya dan kehilangan kendali penuh di atas pangkuanku hanya karena aku memakai gaun ini."
Mata Helena membelalak lebar, napasnya tertahan. "K-Kau... bohong! Dominic tidak mungkin melakukan itu!"
"Mengapa aku harus berbohong pada wanita yang sudah kalah?" sahut Clarissa amat manis. Ia lalu mencondongkan tubuhnya, meletakkan tangkai mawar putih itu tepat di atas pangkuan Helena yang gemetar.
"Bunga ini adalah hadiah perpisahan dariku," bisik Clarissa tepat di depan wajah Helena yang memerah padat oleh rasa malu dan amarah.
"Perusahaan keluargamu hancur, aksesmu ke klan Pratama ditutup selamanya, dan nama baikmu musnah dalam semalam. Kau tahu apa yang paling menyenangkan? Kau sendiri yang menghancurkan hidupmu, sementara aku hanya duduk manis menikmati pertunjukannya."
"WANITA JALANG! PERGI KAU!" raung Helena histeris, melempar tangkai mawar itu ke lantai.
Clarissa berdiri tegak dengan sangat anggun, merapikan jubah hitamnya tanpa ada sedikit pun raut terkejut atas amukan Helena. Ia memandang Helena dari atas bagai menatap debu jalanan yang tak berarti.
"Nikmati masa pulihmu di ruangan dingin ini, Helena. Karena melihatmu meraung dalam kehancuran seperti ini... akan menjadi hiburan favoritku untuk beberapa waktu ke depan."
Tanpa memedulikan raungan dan tangisan histeris Helena yang pecah memenuhi seluruh ruangan VIP, Clarissa menyunggingkan senyum Ratu yang paling dingin, berbalik anggun, dan melangkah keluar. Tulus menyusul di belakangnya, menutup pintu VIP itu rapat-rapat.
Di koridor rumah sakit yang lengang, Clarissa menghentikan langkahnya sejenak, mengibaskan tangannya dengan santai.
"Tulus," panggil Clarissa datar.
"Hamba, Nyonya?"
"Permainan dengan sampah kecil ini sudah selesai. Sekarang, alihkan perhatian kita pada musuh yang sebenarnya di dalam klan Pratama," ujar Clarissa dengan binar mata yang dingin dan mematikan.
"Siapa anggota keluarga yang menyuplai racun halus untuk tubuh Clarissa di masa lalu?"
"Melaporkan, Nyonya. Jejak transaksi medis mencurigakan mengarah kuat pada Bibi Sarah dan putra sulungnya," jawab Tulus mantap.
Clarissa menyunggingkan senyuman dominannya. Benalu-benalu beracun di dalam klan Pratama harus dicabut satu per satu hingga ke akar-akarnya.
sangat menarik sekali