NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MODUS TOKO BUKU DAN PENGAKUAN (1)

Menjelang ‌siang ‌di ‌hari Sabtu, Naya masih saja berkutat di depan cermin kamar. Bajunya sudah tiga kali ia ganti namun tak ada satupun yang menurutnya cocok untuk dikenakannya untuk acara hari ini. Ia tahu, dan ia mengakuinya pada diri sendiri, ini terlihat sungguh berlebihan. Di atas tempat tidur tersisa dua kandidat terakhir, dress putih selutut yang manis yang akan dipadukan dengan jeans biru dengan panjang tiga perempat dan blus biru yang memberikan kesan “terlalu rapi”, baju yang hampir tak pernah ia pilih jika tujuannya hanya ke toko buku.

Permasalahannya adalah hari ini ia yakin bukan hanya sekadar membeli buku. Naya sudah berulang kali menegaskan pada Nara, pertemuan mereka bukan kencan. Tapi setiap kali Nara tersenyum, ada sesuatu yang mengusik, seolah lelaki itu menangkapnya dengan cara lain.

Dari bawah, terdengar suara Reksa memanggil. “Naya!”

“Ya?”

“Kamu sudah terlalu lama berada di kamar. Ingat, kalian hanya membeli buku, bukan berkencan. Pakai pakaian yang biasa saja.”

Naya mengembuskan napas panjang. Ketahuan juga. Akhirnya ia menyerah dan menjatuhkan pada pilihan paling aman, kaos putih ketat, ditimpa kemeja gradien toska sebagai luaran dipadukan jeans panjang biru yang membuatnya merasa normal, atau setidaknya mendekati dan segera turun ke bawah.

Di ruang keluarga tampak Reksa sedang duduk di sofa krem dengan lututnya dikompres es. Kekalahan tim basket kemarin masih menyisakan ngilu dan kekesalan, meskipun wajahnya berusaha tampak santai.

Ketika Naya sudah berdiri di hadapan Reksa, lelaki itu memperhatikan penampilan adik satu-satunya seolah sedang melakukan screening dosa. Tatapannya bergerak dari rambut Naya yang ditata lebih rapi daripada biasanya serta make up tipis yang menghiasi wajah cantiknya, kemudian turun ke pakaian yang dikenakannya.

“Hanya ke toko buku kan?” Tanya Reksa memastikan.

“Iya. Sama Kak Nara.”

“Dia beneran butuh buku baru?”

“Katanya sih begitu.”

“Bagaimana kalau aku mengantarmu ke toko buku dan kalian bertemu di sana saja.”

“Oh ayolah Kak, aku bukan anak kecil yang harus ditemani kemana-mana oleh Kak Reksa. Lagipula lutut Kakak masih bengkak begitu.”

“Tapi kamu pergi dengan Nara yang…” Belum sempat Reksa melanjutkan kalimatnya terdengar klakson mobil dari luar rumah mereka. Naya pun segera menuju jendela untuk memastikan siapa yang mengklakson..

“Itu pasti Kak Nara.” Ia segera membuka pintu tanpa mengindahkan Reksa.

Tampak Nara sudah menunggu di depan, berdiri dekat mobilnya. Senyumnya langsung muncul ketika melihat Naya keluar dari rumahnya. Namun senyumnya segera berubah masam ketika ia melihat Reksa berdiri di belakang Naya.

Reksa memberi peringatan singkat, “Pulang sebelum jam tujuh malam.”

Nara pun tanpa memprotes seperti yang biasa dilakukannya jika berhadap-hadapan dengan Reksa di lapangan mengangguk mantap, menyanggupi tanpa banyak kata.

***

Seperti yang Nara dan Naya duga, akhir pekan membuat toko buku penuh dengan banyak orang. Begitu sampai di lantai atas, Naya langsung larut tenggelam di antara rak, memindai punggung-punggung buku. Sedangkan Nara ikut berjalan di sisinya, tapi pandangannya lebih sering tertambat pada sosok Naya dibandingkan judul-judul di etalase buku.

“Kak Nara ini sebenarnya mencari buku atau ngikutin aku?” tanya Naya yang merasa diikuti dan diperhatikan terus oleh Nara.

“Dua-duanya,” jawab Nara ringan.

Setelah hampir satu jam, mereka akhirnya membawa buku pilihan masing-masing untuk dibeli. Naya dengan satu buku novel dan buku tentang psikologinya, dan Nara dengan dua buku mengenai pendidikan di luar negeri dan satu buku tentang bisnis dan saham. Mereka pun berjalan menuju antrian di kasir. Setelah sampai di urutan mereka, Nara menyerahkan semua buku, termasuk buku milik Naya. Naya sudah siap membayar bagiannya, namun Nara menghalangi dan membayar dengan aplikasi bank online di ponselnya sebelum Naya sempat mengambil dompet. Setelah keluar dari toko, Naya masih terlihat tidak puas.

“Kakak tidak perlu membayar bukuku.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa dilakukan?”

“Karena aku mau.” Jawabnya seolah itu hal paling wajar yang dilakukan Nara di dunia. “Pemberhentian selanjutnya adalah ke café sepupuku. Dari tadi dia sudah menghubungiku berulang kali untuk lekas sampai disana dengan nada ancaman. Cih, benar-benar sepupu yang merepotkan! Ini pasti perbuatan sepupuku lainnya yang bernama Dharma. Aku yakin sekarang dia sedang sibuk mengejar tunangannya sehingga dia lepas dari pengawasan dan aku menjadi tumbal berikutnya. Kita akan makan disana sambil mendengarkan dia mengoceh tentang pelajaran bisnis. Dan jika kamu nanti bosan bisa menemaniku sambil membaca buku yang dibeli tadi.” Umpat kesal Nara. “Orang itu bener-bener deh, kalau sudah memutuskan single seumur hidup untuk mencapai puncak tertinggi yang menjadi obsesinya jangan pernah merepotkan orang lain kenapa? Heran aku, yang dididik keras untuk meneruskan bisnis tidak hanya dia, tapi nggak segitunya mengganggu ritme hidup normal orang lain bisa kan?”

Naya tertawa tak menyangka Nara memiliki sisi lain seperti ini. Mereka berjalan turun menuju parkiran untuk selanjutnya pergi ke destinasi berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB, waktu yang dapat dihitung terlambat untuk makan siang. Langit di luar masih cukup cerah untuk dianggap siang.

***

Dan disinilah Nara dan Naya saat ini berada. Four Leaves Café, sebuah tempat nongkrong berkonsep minimalis berbalut naturalis dengan tanaman-tanaman hijau merambatnya yang akan membawa para pengunjung seakan berada di dalam hutan tropis, penuh kedamaian di tengah-tengah Kota Jakarta yang penuh himpitan dinamika lalu lalang kesibukan berjibaku dengan kerasnya ibukota. Ketika Nara membuka pintu café, tanpa basa-basi dirinya sudah disambut oleh Ganendra yang sudah menunggu sejak tadi untuk masuk ke ruangan khusus miliknya di café tersebut. Begitu tersadar, Ganendra pun melihat gadis cantik nan imut disamping Nara.

“Siapa? Kekasihmu?” Tanya Ganendra penasaran karena tidak biasanya Nara membawa teman selain Ekky. Rupanya sepupu bungsunya itu sudah mulai beranjak dewasa.

“Masih calon.” Jawab Nara menyodorkan buku menu makan siang untuk mereka bertiga kepada Naya.

Mendengar ucapan Nara mengatakan bahwa dirinya ‘masih calon’ spontan membuat pipinya bersemu merah tak menyangka bahwa Nara akan seblak-blakan itu.

“Spesial hari ini traktiran disponsori lelaki terkaya di keluarga Adiwilaga, Ganendra Adiwilaga. Kamu bisa pesan apa saja secara gratis.” Lanjut Nara.

“Perkenalkan, namaku Ganendra Adiwilaga.” Ganendra mengulurkan tangan kanannya kearah Naya. “Sepupu dari pihak Ibunya Nara.”

“Naya, Kak. Salam kenal juga.” Ujar Naya malu-malu menerima uluran tangan Ganendra. Sosok lelaki yang berusia lebih tua sepuluh tahun dari Nara itu tampak gagah nan beraura penuh intimidasi namun dibalut dengan cara yang apik dengan kemeja putih dan celana panjang berwarna abu-abu tua serta sneakers senada kemejanya. Terlihat mudah didekati namun tak mudah dijangkau. Ada rasa segan yang ia rasakan seolah sedang menghadapi sosok ksatria dengan jabatan tinggi seperti putera mahkota sebuah Kerajaan Jawa Kuno~~~~.

Sambil menunggu makan siang mereka datang, Naya ditunjukkan bagaimana ekspresi Nara berubah menjadi serius. Lebih serius dibandingkan ketika bertanding basket. Ekspresi easy going, santai, dan terkesan narsisnya yang selama ini ia lihat berubah 180 derajat ketika mendapatkan pelatihan materi tentang bisnis dari sepupunya bernama Ganendra Adiwilaga dengan menggunakan televisi berlayar lebar yang semula berupa tampilan CCTV berubah menjadi materi pemaparan tentang pelajaran bisnis. Ia tak tampak seperti pemuda berusia 18 tahun. Begitu tekun mempelajari bisnis sambil membuka buku yang dibelinya tadi. Naya merasa ia diajak masuk ke dalam dunia baru yang tak pernah ditemuinya seumur hidup. Dunia orang dewasa dengan segala problematika kehidupan kerja. Diam-diam rasa kagumnya bertambah kepada Nara.

Bahkan ketika makan siang mereka datang, hanya Naya yang menikmatinya tanpa berani mengganggu keseriusan mereka berdua. Seperti kata Nara, jika dirinya bosan dengan kegiatan yang dilakukannya bersama sepupunya itu, Naya dapat menyibukkan diri dengan membaca buku novel yang dibelikan oleh Nara.

Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Langit diluar mulai berwarna oranye.

“Celaka, sudah jam berapa sekarang?” Nara tersentak kemudian menoleh kearah jam tangannya.

“Jam lima sore.” Potong Ganendra. “Memangnya kenapa?

“Sepertinya kita harus mengakhiri pelajaran hari ini Mas Ganendra.” Nara segera menutup laptop dan buku yang dibukanya tadi serta merapikan coretan-coretan kertas yang ada disampingnya.

“Ini masih sore lho, biasanya juga sampai malam.” Ganendra menghela napas dan bersedekap.

“Aku bawa anak gadis orang dan aku sudah berjanji mengantarkannya pulang paling lambat setengah tujuh malam.” Jawab Nara. “Lagipula aku besok ada pertandingan final basket sehingga harus istirahat lebih cepat.”

“Ya sudahlah, kita sudahi kegiatan hari ini.” Ganendra menghela napas panjang memaklumi kondisi pemuda yang mengalami pubertas itu. Ia pun mengantarkan mereka keluar dari café.

“Pergilah, kita lanjutkan di jumat minggu depan.”

“Ok.” Setelah Nara merapikan isi tas laptop-nya ia segera mengajak Naya keluar dari café menunju parkiran dan masuk ke mobilnya.

“Kami pulang dulu Kak Ganendra, permisi.” Naya pun bergegas mengikuti Nara dari belakang untuk duduk di kursi penumpang mobil Nara.

“Hati-hati di jalan.”

Mobil Nara melaju meninggalkan café dan mulai membelah jalan kota menuju pinggiran kota.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!