Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Awal yang Baru
Malam itu, mereka mendirikan perkemahan sederhana di tepi hutan, cukup jauh dari kawah besar bekas dungeon yang masih mengepulkan debu tipis di kejauhan. Sasuke menyalakan api unggun kecil dengan satu jentikan jutsu api sederhana, cahayanya yang hangat menari-nari di wajah ketiganya yang masih lelah setelah pelarian panjang hari itu.
Elaina duduk paling dekat dengan api, matanya yang tadinya berbinar penuh semangat kini mulai berat, meski ia masih berusaha keras menahan kantuknya demi tidak melewatkan satu detik pun bersama sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat mimpi.
"Papa," ia bergumam mengantuk, menyandarkan kepalanya ke lengan Sasuke yang duduk di sampingnya, "besok kita ke mana?"
"Ada kota kecil beberapa hari perjalanan dari sini," Sasuke menjawab pelan, suaranya lebih lembut dari yang pernah ia dengar dari dirinya sendiri sejak reinkarnasinya. "Kita bisa singgah di sana, menyewa penginapan sampai kalian cukup pulih. Setelah itu... kita lihat saja ke mana kaki membawa kita."
"Elaina mau tinggal sama Papa dan Mama selamanya," gumamnya lagi, kata-katanya semakin tidak jelas seiring kantuk yang mengalahkannya, sebelum akhirnya benar-benar tertidur, napasnya teratur dan damai, sepenuhnya percaya pada keamanan di sekelilingnya.
Sasuke menatap wajah kecil yang tertidur itu lama sekali, sesuatu yang hangat dan asing menjalar di dadanya—perasaan yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya yang lama sebagai pemuda kesepian, maupun dalam ingatan Sasuke Uchiha yang kini menyatu dengannya.
---
Saviera duduk di seberang api unggun, memeluk lututnya sendiri, menatap nyala api dengan pandangan kosong yang sesekali beralih ke arah Sasuke dan Elaina yang tertidur nyenyak di sampingnya.
"Kau tidak perlu bercerita malam ini, kalau belum siap," Sasuke berkata pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Aku bisa menunggu."
Saviera mengangkat wajahnya, sedikit terkejut mendengar kepekaan itu dari seseorang yang baru ia kenal beberapa jam lalu.
"...Terima kasih," ia berkata akhirnya, suaranya lembut. "Tapi mungkin lebih baik kau tahu sekarang, daripada bertanya-tanya. Kau sudah mempertaruhkan nyawamu untuk kami hari ini. Kau berhak tahu untuk siapa kau melakukannya."
Ia menghela napas panjang, matanya kembali menatap api unggun, seolah mencari keberanian di antara kobarannya.
"Dunia Astral bukan tempat yang ramah bagi mereka yang lahir dengan kekuatan besar tanpa perlindungan," ia memulai, suaranya perlahan namun stabil. "Terutama jika kekuatan itu bisa dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan mereka sendiri."
Sasuke mendengarkan dalam diam, tidak menyela sedikit pun, membiarkan Saviera bercerita dengan kecepatannya sendiri.
Ia bercerita tentang masa kecilnya—kekuatan cahaya yang muncul terlalu awal, terlalu besar untuk seorang anak biasa mengendalikannya. Tentang bagaimana kabar itu menyebar cepat ke telinga bangsawan-bangsawan yang haus kekuasaan, yang melihatnya bukan sebagai seorang anak, melainkan sebagai investasi—alat perang yang bisa dilatih dan dijual.
Dan yang paling menyakitkan, ia bercerita tentang orang tuanya sendiri, yang menyerahkannya pada keluarga bangsawan kuat demi bayaran, tanpa sedikit pun keraguan atau rasa bersalah yang terlihat di wajah mereka saat itu.
Rahang Sasuke mengeras mendengar bagian itu, meski ia tetap diam, membiarkan Saviera menyelesaikan ceritanya sendiri.
Ia menceritakan pelariannya, bertahun-tahun hidup dalam ketakutan dan kewaspadaan konstan, sampai akhirnya pertemuannya dengan sosok misterius yang jauh lebih kuat darinya—pertarungan yang berakhir dengan kekalahannya, dan sebuah telur yang mengubah seluruh arah hidupnya.
"Aku tidak tahu kenapa ia memilihku," Saviera berkata pelan, menatap ke arah Elaina yang tertidur damai. "Orang asing yang baru saja mencoba menyerangnya, diberi kepercayaan sebesar itu. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Elaina adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku."
Ia menoleh menatap Sasuke, matanya berkilau dipantulkan cahaya api unggun.
"Dia yang membangun dungeon itu untukku, sebelum akhirnya harus pergi," Saviera melanjutkan, suaranya melembut mengenang. "Bukan hanya untuk melindungiku sendiri, tapi terutama untuk melindungi Elaina—dari dunia yang sama kejamnya dengan yang pernah menghancurkan masa kecilku sendiri."
Hening menyelimuti mereka sejenak, hanya suara kayu yang terbakar perlahan di antara mereka.
"Sekarang rumah itu sudah tidak ada," Saviera melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak tahu bagaimana caranya melindunginya lagi, di dunia luar yang bahkan lebih luas dan lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan."
Sasuke menatapnya lama, mempertimbangkan kata-kata berikutnya dengan hati-hati.
"Kau tidak akan melakukannya sendirian lagi," ia akhirnya berkata, suaranya tegas namun tenang. "Aku tidak tahu apa yang menuntunku sampai ke dungeon itu hari ini, atau apakah ini benar-benar sebuah kebetulan. Tapi aku tidak berniat meninggalkan kalian berdua begitu saja setelah semua ini."
Saviera menatapnya, matanya melebar sedikit, tidak menyangka jawaban itu akan datang secepat dan setegas itu.
"Kau bahkan tidak mengenal kami," bisiknya.
Sasuke terdiam sejenak, seolah mencari-cari alasan yang masuk akal, sebelum akhirnya menghela napas dan menjawab dengan nada yang sengaja dibuat ringan.
"Sejujurnya, aku merasa sedikit bersalah," ia berkata, menggaruk belakang kepalanya dengan tangan kanannya. "Dungeon yang kalian tinggali bertahun-tahun itu hancur karena aku memasukinya. Anggap saja ini caraku bertanggung jawab." Ia berhenti sejenak, mengalihkan pandangan ke arah api unggun, sedikit canggung. "Lagipula... perjalananku sendirian selama ini cukup sepi. Mungkin tidak buruk juga punya teman seperjalanan. Elaina sepertinya juga menyenangkan untuk diajak bicara."
Alasan itu terdengar dibuat-buat, bahkan bagi telinganya sendiri, namun ia tidak berniat mengoreksinya lebih jauh.
Saviera menatapnya sejenak, sedikit tergelak mendengar alasan yang begitu sederhana dan agak canggung itu, jauh dari kesan pahlawan besar yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Air mata yang sudah lama tertahan akhirnya menetes di pipi Saviera, meski senyum kecil mengembang di wajahnya bersamaan dengan itu—campuran antara kesedihan yang lama terpendam dan harapan yang baru saja mulai tumbuh kembali.
"Terima kasih," bisiknya lagi, kali ini dengan suara yang jauh lebih mantap dari sebelumnya.
---
Jauh setelah Saviera akhirnya tertidur di sisi lain api unggun, Sasuke tetap terjaga, menatap langit malam Astral yang dipenuhi bintang-bintang asing dan dua bulan kecil yang tergantung tenang di atas sana.
Pikirannya melayang jauh, kembali pada citra yang ditunjukkan klon Eternity di lantai seratus—ribuan prajurit yang musnah tanpa usaha, kekuatan yang membunuh bukan dengan amarah, melainkan dengan ketidakpedulian total.
“Dewa Agung ingin aku menghentikan kekuatan seperti itu,” pikirnya, menatap api unggun yang mulai meredup. “Tapi bagaimana caranya seseorang bisa tumbuh menjadi sesuatu yang begitu berbahaya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Eternity, sampai ia menjadi seperti itu?”
Ia menoleh sekilas ke arah Saviera dan Elaina yang tertidur damai di sampingnya, dua orang yang beberapa jam lalu bahkan tidak ia kenal, kini entah bagaimana sudah menempati ruang yang begitu besar dalam benaknya.
“Dan bagaimana dengan misi ini sendiri?” pikirnya lagi, teringat kembali kata-kata Dewa Agung tentang batasan-batasan permintaannya, tentang misi yang harus ia jalankan sebagai balasan atas kesempatan kedua yang diberikan padanya. “Apakah aku benar-benar memahami seluruh cerita ini, atau hanya potongan kecil yang sengaja ditunjukkan padaku?”
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, keraguan yang sesungguhnya mulai menetap di benak Sasuke—bukan keraguan akan kekuatannya sendiri, melainkan keraguan akan tujuan yang selama ini ia jalani tanpa banyak bertanya.
Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke batang pohon di belakangnya, membiarkan kelelahan hari itu akhirnya menariknya ke dalam tidur—namun untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di padang rumput Astral, ia tidak tidur sendirian di dunia yang asing ini.
Ia tidur dikelilingi oleh dua orang yang, entah bagaimana, mulai terasa seperti rumah.
---
*Bersambung ke Bab 11: Kehidupan Bertiga*