Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Perempuan muda di belakang Bu Laksmi memperkenalkan diri sebagai Nara, adik Raka.
Ia berbeda dari kakaknya. Wajahnya memang mirip, sama-sama tajam dan dingin pada pandangan pertama, tetapi matanya lebih hidup. Begitu duduk di sofa, ia langsung menatap Maya dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.
“Jadi Kak Raka benar-benar menikah,” katanya. “Aku pikir Bima salah kirim kabar.”
Raka menatapnya. “Kamu datang untuk mengejek?”
“Aku datang karena Mama menyeretku.”
Bu Laksmi meletakkan tasnya di meja. “Aku menyeretmu karena kalau aku datang sendiri, kakakmu akan memasang wajah seperti siap mengusir ibu kandung.”
Maya duduk di sisi Raka, punggungnya lurus. Ia merasa seperti sedang mengikuti ujian yang tidak ada kisi-kisinya.
Bu Laksmi menoleh kepadanya.
“Berapa usia kandunganmu?”
“Masih awal, Bu. Dokter belum memberi hitungan pasti, tapi sudah terlihat detak jantung.”
Mata Bu Laksmi bergerak sedikit.
“Dokternya siapa?”
“Dr. Laila.”
Bu Laksmi mengangguk. “Dokter yang bagus.”
Maya tidak menyangka ia tahu.
Raka berkata, “Aku sudah mengatur semuanya.”
“Aku tidak bertanya padamu.” Bu Laksmi tetap melihat Maya. “Kamu punya riwayat darah tinggi?”
“Tidak, Bu.”
“Diabetes?”
“Sejauh ini tidak.”
“Mual parah?”
Maya ragu. “Kadang.”
Bu Laksmi langsung menatap Raka. “Dia harus makan sedikit tapi sering. Jangan biarkan perut kosong. Kamu dulu waktu aku mengandung Nara hampir membuatku pingsan karena tidak mau berhenti bergerak di perut.”
Nara menunjuk diri sendiri. “Aku?”
“Kamu.”
“Kenapa aku yang disalahkan?”
Maya tanpa sadar tersenyum.
Bu Laksmi melihat senyum itu. Tatapannya melembut sedikit, meski suaranya tetap tegas.
“Kamu tinggal di sini sejak menikah?”
“Iya, Bu.”
“Barang-barangmu sudah lengkap?”
Maya menjawab hati-hati, “Sudah cukup.”
Raka langsung berkata, “Belum.”
Maya menoleh. “Mas Raka.”
Bu Laksmi memperhatikan mereka.
“Kamu sering membantah suamimu?”
Maya kaget. “Tidak, Bu.”
Nara menyandarkan punggung. “Kak Raka memang perlu dibantah sesekali.”
Raka menatap adiknya.
Nara pura-pura melihat kuku.
Bu Laksmi tidak tersenyum, tapi sudut matanya tidak sekeras tadi.
“Aku tidak akan berpura-pura tidak kaget,” katanya akhirnya. “Anakku menikah tanpa memberi tahu keluarga. Istrinya perempuan yang belum pernah kami temui. Sekarang istrinya hamil. Kalau aku bilang langsung senang, itu bohong.”
Maya menunduk sedikit, lalu ingat perintah Bu Laksmi tadi. Ia mengangkat wajah lagi.
“Saya mengerti, Bu.”
“Tapi aku juga bukan perempuan muda yang hanya tahu menilai dari luar.” Bu Laksmi menatapnya dalam. “Raka bukan laki-laki yang mudah dipaksa. Kalau dia menikahimu, berarti dia membuat keputusan sendiri.”
Raka diam.
Maya merasa matanya panas.
“Saya tidak ingin menyulitkan keluarga Mas Raka.”
“Sudah terlanjur.” Bu Laksmi menjawab cepat.
Maya membeku.
Nara menutup mulut.
Bu Laksmi melanjutkan, “Tapi keluarga memang selalu menyulitkan. Pertanyaannya, apakah kamu pantas dibela saat kesulitan itu datang.”
Maya menelan ludah.
“Saya tidak tahu bagaimana membuktikannya.”
“Jaga dirimu. Jaga anak itu. Jangan berbohong. Jangan mempermainkan Raka. Itu cukup untuk permulaan.”
Raka akhirnya bicara, “Maya tidak seperti itu.”
“Aku sedang bicara dengannya.”
Raka diam lagi.
Maya melihat itu dan hampir tak percaya. Pria yang membuat direktur perusahaan menunduk ternyata bisa diam di depan ibunya.
Wati membawa teh dan kudapan. Bu Laksmi melihat piring Maya yang masih ada potongan buah.
“Kenapa belum habis?”
Maya terkejut. “Saya…”
Raka menjawab, “Dia makan pelan.”
“Aku bertanya padanya.”
Nara berbisik, “Kak, hari ini kamu tidak punya hak jawab.”
Maya menggigit bibir menahan senyum.
Bu Laksmi mengambil piring kecil, menaruh beberapa potong buah, lalu mendorongnya ke depan Maya.
“Makan. Kalau mual, kunyah pelan.”
Maya menerima garpu.
Tindakan itu tidak lembut seperti ibu yang memanjakan, tetapi ada perhatian di dalamnya. Perhatian yang keras, mirip Raka.
Ia makan.
Bu Laksmi mengawasinya sampai tiga potong.
Setelah itu, pembicaraan beralih ke keluarga. Bu Laksmi bertanya tentang orang tua Maya, suami pertama, Dimas, dan pekerjaannya. Maya menjawab tanpa menyembunyikan apa pun. Ia mengatakan pernah bekerja sebagai cleaning service, laundry, dan penjaga toko roti. Ia juga mengatakan hubungannya dengan Dimas sedang buruk.
Ketika mendengar Dimas mencoba menjodohkan Maya dengan pengusaha demi modal, wajah Bu Laksmi menjadi dingin.
“Anak itu masih hidup?”
Maya terkejut. “Bu?”
Nara berbisik, “Mama kalau marah memang begitu.”
Raka berkata datar, “Aku sudah mengurusnya.”
Bu Laksmi menatapnya. “Jangan setengah-setengah.”
Maya langsung panik. “Bu, Dimas tetap anak saya.”
Bu Laksmi memandangnya.
“Itulah yang membuatnya masih berani.”
Kalimat itu menusuk, tapi Maya tahu ada benarnya.
Sebelum pulang, Bu Laksmi meminta nomor dokter Maya dan menyuruh Wati mengirim laporan makanan harian. Raka tampak tidak setuju, tapi Bu Laksmi tidak peduli.
“Kamu sibuk kerja. Aku pernah hamil di usia sulit. Aku tahu apa yang perlu dilihat.”
“Mama tidak perlu mengawasi.”
“Aku tidak mengawasi. Aku memastikan cucuku dan ibunya tidak diurus oleh laki-laki yang baru belajar membedakan folat dan kalsium.”
Nara tertawa sampai bahunya bergetar.
Raka terlihat tersinggung.
Maya tidak bisa menahan senyum.
Di depan lift, Bu Laksmi berhenti.
“Maya.”
“Iya, Bu.”
“Datanglah ke rumah keluarga minggu depan. Aku ingin mengenalkanmu pada beberapa orang. Tidak semua akan baik. Jangan berharap begitu.”
Maya mengangguk. “Baik.”
“Dan jangan memanggilku Bu Laksmi.”
Maya bingung.
Bu Laksmi menatapnya seperti keputusan itu sudah final.
“Panggil Mama. Kalau kamu istri Raka, panggilan itu tidak bisa setengah-setengah.”
Maya kehilangan suara.
Nara tersenyum padanya sebelum masuk lift.
Setelah pintu lift tertutup, Maya masih berdiri diam.
Raka menatapnya. “Kamu mau menangis?”
“Tidak.”
Air matanya jatuh.
Raka menghela napas, lalu mengeluarkan saputangan.
“Pembohong.”
Maya menerima saputangan itu sambil tertawa kecil di antara tangis.
“Saya hanya… sudah lama tidak dipanggil masuk ke keluarga orang tanpa dihina.”
Raka menatapnya.
“Kamu akan tetap dihina oleh sebagian orang.”
“Mas Raka benar-benar tidak pandai menghibur.”
“Aku sedang jujur.”
“Saya tahu.”
Maya mengusap air matanya. “Tapi hari ini, rasanya tidak terlalu takut.”
Raka mengangkat tangan, menyentuh pipinya dengan ibu jari. Gerakannya singkat, tapi membuat Maya diam.
“Bagus.”
Ponsel Maya berbunyi.
Pesan dari Yudha.
`Aku dengar Ratna masih menyebarkan video itu. Aku punya salinan rekaman asli dari panitia. Kalau kamu ingin membuktikan siapa yang mengirimnya, aku bisa bantu.`
Maya membaca pesan itu.
Raka juga melihat.
Keheningan hangat barusan langsung retak.
“Dia sering sekali muncul,” kata Raka.
Maya menutup mata.
Hari itu belum selesai, rupanya.
Ia menatap saputangan di tangannya, lalu melipatnya pelan. Saputangan itu milik Raka, tapi air matanya sudah meninggalkan bekas samar di salah satu sudut. Entah kenapa, hal kecil itu membuatnya merasa lebih dekat dengan hidup baru yang masih asing ini.
Di satu sisi ada keluarga Raka yang keras tapi mulai membuka pintu.
Di sisi lain ada masa lalu yang terus mengetuk, kadang dengan wajah Dimas, kadang dengan nama Yudha.
Maya menarik napas dan menyimpan saputangan itu di pangkuan.
Kalau ia ingin berdiri di samping Raka, ia harus belajar menghadapi keduanya.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍