NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah mampir sebentar ke kediaman keluarga Bootes, Arina berpamitan kepada Stella.

"Kakak, kenapa kau tidak menginap saja?" tanya Stella untuk kesekian kalinya.

Arina menggeleng pelan.

"Aku juga harus mengunjungi Ayah."

Kediaman keluarga Volans juga berada di Kota Varendel. Rumah itu terletak di bagian utara kota, dekat perbukitan yang berhawa sejuk. Dari pusat kota, perjalanan ke sana hanya memakan waktu sekitar dua jam dengan kereta.

"Baiklah. Sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibu," ucap Stella.

Arina menatap Stella cukup lama, seolah ingin memastikan sesuatu. Setelah itu, ia mengangguk pelan.

Tatapannya kemudian beralih kepada Arcturus yang berdiri di samping Stella sambil merangkul pinggang istrinya dengan mesra.

"Jaga adikku baik-baik, Arcturus," kata Arina datar.

"Tentu, Kakak Ipar," jawab Arcturus sambil mengangguk mantap.

Namun, keraguan yang sekilas melintas di wajah pria itu tidak luput dari pengamatan Arina.

Akan kulihat sampai kapan kau bisa terus bersandiwara seperti ini, batinnya.

Setelah berpamitan, Arina naik ke dalam kereta bersama Alhena. Saiph memimpin rombongan meninggalkan kediaman keluarga Bootes menuju kediaman keluarga Volans.

Menjelang waktu makan malam, kereta akhirnya memasuki halaman kediaman Volans.

Julius menyambut kedatangan putri sulungnya dengan acuh, seperti biasanya. Sementara itu, Teresa berpura-pura bersikap ramah. Setidaknya, selama Julius berada di dekat mereka, wanita itu selalu pandai menyembunyikan wajah aslinya.

"Kau tidak membuat masalah di Regulus, kan?" tanya Julius di sela-sela makan malam.

"Bukannya bertanya apakah aku bahagia atau tidak, Ayah malah mengkhawatirkan masalah yang mungkin kubuat," jawab Arina datar sambil menikmati sepotong ayam panggang.

"Ayahmu hanya mengkhawatirkanmu, Arina. Selama ini kau jarang keluar rumah, jadi mungkin yang beliau maksud adalah apakah kau kesulitan berbaur di sana," ujar Teresa membela Julius. Atau lebih tepatnya, ia sedang memainkan perannya agar terlihat seperti ibu yang bijaksana di mata suaminya.

Arina mengangkat sebelah alis.

Jarang keluar rumah? Bukankah mereka sendiri yang membuatnya seperti itu? Selama bertahun-tahun, setiap kesempatan untuk bersosialisasi selalu diberikan kepada Stella, sementara dirinya sengaja disingkirkan.

"Kau harus mengerti, Arina. Sekarang kau membawa nama keluarga Volans. Jangan mempermalukan ayah dan para tetua keluarga," kata Julius dengan nada serius.

"Aku tidak membuat masalah apa pun, Ayah. Jadi, jangan khawatir."

Arina meletakkan sendoknya, menyesap segelas air, lalu berdiri dari kursinya.

"Aku lelah. Permisi, aku ingin beristirahat."

"Arina..."

Arina mengabaikan panggilan ayahnya dan terus melangkah meninggalkan ruang makan. Samar-samar ia masih mendengar suara Teresa yang berusaha menenangkan Julius.

Namun, alih-alih kembali ke kamarnya, Arina berjalan menuju halaman depan kamarnya, tempat Saiph sedang memberikan instruksi kepada para prajurit yang bertugas berjaga.

Sementara itu, Alhena sudah beristirahat di kamar yang berada tepat di sebelah kamar Arina. Arina sendiri yang memintanya beristirahat di sana, bukan menemaninya.

"Saiph."

Arina memberi isyarat agar pria itu mengikutinya ke kebun tanaman obat di samping kediaman. Tempat itu cukup sepi dan jauh dari jangkauan telinga orang lain.

"Terus berjaga di sini. Pastikan tidak seorang pun menyelinap masuk ke kamar Nona Arina," perintah Saiph kepada para prajurit sebelum pergi.

"Baik!" jawab mereka serempak.

Saiph mengangguk puas, lalu segera menyusul Arina.

Sesampainya di kebun tanaman obat, ia berhenti beberapa langkah di belakang Arina, menjaga jarak dengan penuh hormat.

"Ada apa, Nona?" tanya Saiph.

"Kau sudah mengirimkan surat itu?" tanya Arina sambil memetik beberapa kuntum kembang senja. Dalam mitologi Elarion, bunga itu dipercaya sebagai jelmaan Dewi Kecantikan.

"Sudah, Nona. Menurut perkiraan saya, surat pertama sudah tiba dua hari yang lalu. Sementara surat kedua akan sampai dalam dua atau tiga hari lagi."

"Bagus." Arina mengangguk puas. "Bagaimana dengan penyelidikanmu tadi? Apa kau menemukan sesuatu?"

"Belum, Nona." Saiph menggeleng. "Sepertinya wanita itu benar-benar disembunyikan dengan sangat rapi."

"Tentu saja. Jika identitasnya sampai terungkap, reputasi Arcturus akan hancur." Sambil berbicara, Arina dengan terampil merangkai kembang senja menjadi buket kecil.

"Kau tahu bunga ini, Saiph?"

Saiph mengernyit bingung. Mengapa Arina tiba-tiba membahas bunga?

"Tidak, Nona. Saya tidak terlalu memahami bunga."

Arina berbalik dan mengangkat buket kecil itu. "Ini adalah kembang senja. Bunganya indah, tetapi kisah di baliknya sangat tragis."

Setelah berkata demikian, Arina melangkah melewati Saiph, hendak kembali ke kamarnya.

"Apa yang terjadi dengan bunga itu, Nona?" tanya Saiph sambil segera menyusulnya.

"Shaula Scorpiona dihukum dengan sangat kejam akibat fitnah adik iparnya sendiri. Darahnya dikuras dari tubuhnya ketika ia sedang mengandung, sementara wajahnya dihancurkan hingga tak lagi dikenali. Semua itu adalah hukuman atas dosa yang tidak pernah ia lakukan."

Langkah Saiph tanpa sadar melambat. Bulu kuduknya meremang mendengar kisah mengerikan itu, terlebih Arina menceritakannya dengan nada yang begitu datar.

Saiph hanya mengetahui sedikit tentang Shaula Scorpiona. Pada masa awal berdirinya Kerajaan Elarion, wanita itu dikenal sebagai lambang kecantikan dan kemudian dipuja sebagai Dewi Kecantikan. Konon, pesonanya mampu mengguncang bahkan meruntuhkan sebuah kerajaan.

Namun, ia tidak pernah mengetahui bagaimana akhir hidup wanita itu.

"Saat mengembuskan napas terakhir, Shaula masih bersumpah bahwa dirinya tidak bersalah. Ia berkata, jika memang bersalah, bunga-bunga beracun akan tumbuh di atas jasadnya. Namun, jika ia tidak bersalah, bunga tercantik akan bermekaran saat matahari terbenam. Dari situlah kembang senja berasal."

Arina mengakhiri ceritanya tepat ketika mereka tiba di lorong menuju kamarnya.

Saiph mengangguk pelan, meski ia tetap tidak mengerti mengapa Arina menceritakan legenda itu kepadanya.

"Saat ini, aku merasa kisah itu akan terulang lagi, Saiph." Arina berhenti melangkah. Tatapan birunya yang misterius tertuju lurus kepada Saiph. "Menurutmu, siapa yang akan mengalami nasib seperti Shaula?"

Saiph menelan ludah sebelum menggeleng perlahan.

Ia benar-benar tidak mampu memahami jalan pikiran Arina. Dari sekadar membahas bunga, kini wanita itu justru memintanya menebak siapa yang akan mengalami tragedi serupa. Bagaimana mungkin ia bisa mengetahuinya? Ia bukan seorang peramal.

"Menurutku... orang itu adalah Stella." Suara Arina merendah hingga nyaris menjadi bisikan.

"Itulah sebabnya aku ingin kau menyelidiki adik perempuan Arcturus. Aku punya firasat, wanita itulah yang sedang kita cari."

Mata Saiph membelalak.

Ia yakin tidak salah dengar. Arina baru saja menyiratkan bahwa istri rahasia Arcturus mungkin adalah adik kandungnya sendiri.

"Nona..."

"Ini tetap menjadi rahasia di antara kita, Saiph," potong Arina tegas. "Selidiki wanita itu."

Setelah mengatakan itu, Arina kembali melangkah dengan tenang menuju kamarnya. Para prajurit yang berjaga segera membukakan pintu untuknya, sementara Saiph tetap berdiri di tempat, masih mencerna perintah yang baru saja diterimanya.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!