NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 desiran perasaan asing

Begitu listrik kembali menyala, Alex tanpa membuang waktu langsung memotokopi tugas milik Syafa. Ia tahu betul mahasiswi Psikologi itu sangat membutuhkan berkas ini untuk bahan penilaian besok pagi.

Namun, saat merapikan lembaran kertas yang baru keluar dari mesin, mata Alex tertegun menatap judul proposal tersebut. Sebuah judul yang terasa sangat menyentuh dan pas dengan kondisinya saat ini:

"Studi Fenomenologi: Proses Grief (Berduka) dan Penyembuhan Luka Trauma Masa Lalu dalam Membuka Lembaran Hubungan Baru"

"Njir... bagus juga judulnya. Penasaran gue," gumam Alex dalam hati.

Didorong rasa ingin tahu, Alex memberanikan diri membaca lembar demi lembar bab proposal itu. Ia benar-benar tak mengira tulisan Syafa bisa begitu tajam dan relevan dengan lukanya sendiri luka dari pengkhianatan sahabat dan mantan kekasihnya yang masih berbekas.

Saat Alex sedang asyik tenggelam dalam deretan kalimat ilmiah itu, ponsel di sakunya mendadak bergetar kencang. Nama Syafa tertera di layar. Seketika Alex tersadar dari lamunannya dan langsung mengangkat panggilan tersebut.

"UDAH BELUM? GUE MAU BELAJAR NIIH BUAT PRESENTASI BESOK!" cerca suara cempreng dari ujung telepon.

Alex terkekeh tipis sambil buru-buru merapikan lembaran fotokopi. "Iya, iya, ini gue otw bentar lagi. Cepat share lock alamat rumah Lo."

"Oke! Makasih ya, hati-hati di jalan," sahut Syafa sebelum memutuskan sambungan.

Setelah memastikan toko terkunci rapat, Alex langsung memacu motornya menuju lokasi yang dikirim Syafa. Begitu sampai di depan sebuah rumah megah di kawasan yang tenang, Alex menelepon Syafa kembali.

"Gue udah di depan nih," ucap Alex sambil mengamati sekeliling untuk menghafal patokan rumah tersebut.

"Oke, tunggu sebentar," jawab Syafa singkat lalu mematikan telepon.

Tak lama kemudian, gerbang tinggi itu terbuka. Syafa melangkah keluar masih mengenakan mukena putih bersih, sepertinya ia baru saja selesai menunaikan ibadah salat.

"Masuk dulu, Lex. Gue ambil uangnya di dalam," ajak Syafa sambil membukakan pintu gerbang lebih lebar.

Alex melangkah masuk dan dibuat kagum oleh keindahan serta kemewahan rumah itu. Namun, saat pandangannya menyapu area pekarangan, langkahnya terhenti. Perhatiannya terdistraksi oleh sebatang bunga matahari yang berdiri cantik dan segar di salah satu sudut taman. Alex berjalan mendekatinya, terpesona.

Syafa keluar dari pintu utama membawa nampan berisi secangkir air putih hangat, lalu meletakkannya di meja teras.

"Lex, ngapain di situ? Nih, minum dulu," panggil Syafa.

Alex membalikkan badan lalu menghampiri teras. "Rumah Lo gede banget ya, wkwkwk. Btw... Lo suka bunga matahari?" tanya Alex sambil menunjuk ke arah taman.

Syafa menoleh menatap bunga tersebut, lalu tersenyum tipis sebuah senyum yang berusaha keras menyembunyikan luka di matanya. "Oh, bunga itu... Bunga itu peninggalan seseorang. Tapi orangnya udah balik ke Tuhan."

"Maksudnya...?" tanya Alex, mencoba mencerna kalimat Syafa.

"Itu peninggalan almarhum pacar gue dulu. Dia meninggal satu tahun yang lalu," tutur Syafa perlahan, pandangannya menerawang menatap mahkota kuning bunga itu.

Alex terkejut. Teringat ucapan Umam tadi pagi, dada Alex mendadak diselimuti rasa simpati yang mendalam. "Oh... yang sabar ya. Gue yakin Tuhan pasti udah menyiapkan yang terbaik buat Lo."

"Amin... Makasih ya, Lex," sahut Syafa tulus, lalu melihat ke sekeliling meja. "Eh, mana tugas gue?"

"Nih," ucap Alex menyerahkan jilid fotokopi tersebut sambil mengambil cangkir minumnya. "Btw, judulnya bagus banget. Tadi gue sempat baca sedikit... nggak apa-apa, kan?"

Syafa mendelik berpura-pura galak. "Yeeuh! Nggak sopan banget main baca tanpa izin! Tapi... gimana? Ada yang kurang nggak menurut Lo?"

Alex menyeruput air hangatnya sejenak, lalu menatap Syafa serius. "Semuanya udah bagus banget. Cuma ada satu yang bikin gue penasaran... kenapa Lo nggak memasukkan pembahasan tentang bagaimana cara melupakan masa lalu? Di proposal Lo, fokusnya cuma gimana cara mengesampingkan masa lalu."

Syafa tersenyum kecil, lalu menjelaskan dengan nada suaranya yang tenang.

"Soalnya kalau menurut gue... melupakan masa lalu itu nggak akan pernah bisa, Lex. Setiap kejadian yang pernah kita alami entah itu manis atau menyakitkan bakal tersimpan di ingatan kita sampai kapan pun. Tapi kalau kita memilih untuk mengesampingkan masa lalu... kita memberi ruang bagi diri kita sendiri untuk fokus pada masa depan, tanpa harus membenci apa yang sudah terjadi."

Penjelasan Syafa bagaikan tamparan lembut yang menembus dada Alex. Pikiran yang selama satu bulan ini menyiksanya mendadak terasa lebih ringan.

"Oh... gitu ya? Bagus banget logikanya," gumam Alex tulus. Ia lalu bangkit dari kursi teras. "Ya udah deh, tugas udah aman, gue pamit balik dulu ya."

"Eh, sebentar! Ini uang fotokopinya," kata Syafa sambil menyodorkan beberapa lembar uang.

Alex menggeleng halus dan menolak uang itu. "Udah, nggak usah. Ilmu yang gue dapat dari baca proposal Lo barusan udah lebih dari cukup buat ganti ongkosnya."

"Maksudnya...?" Syafa mengerutkan kening, bingung dengan ucapan misterius Alex.

"Udah, simpan aja uangnya," balas Alex tersenyum tipis sambil melangkah keluar menuju gerbang.

"Ya udah... makasih banyak ya, Lex!" ucap Syafa menyusul ke luar gerbang.

Alex menaiki motornya, memakai helm, lalu menatap Syafa sejenak. "Gue pamit ya. Assalamu’alaikum."

"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan!" sahut Syafa melambaikan tangan

.

Di sepanjang jalan menuju rumah, angin malam menerpa wajah Alex. Dadanya terasa hangat. Ada letupan perasaan aneh yang sudah lama tak ia rasakan. Alex bingung... Apakah ini rasa kagum? Ataukah ia mulai jatuh cinta pada wanita itu?

Entahlah. Mungkin ia hanya terlalu lelah, atau mungkin... hatinya mulai menemukan penawarnya.

Sesampainya di rumah, Alex langsung membersihkan diri dengan mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Entah kenapa, hari ini badannya terasa jauh lebih lelah dibandingkan biasanya. Beban emosi dan kesibukan seharian ini seolah menyerap seluruh tenaganya.

Setelah mandi, Alex berbaring di atas tempat tidur. Saat menatap langit-langit kamar, bayangan Syafa kembali melintas. Jemarinya mendadak gatal. Entah mengapa, rasa penasaran yang besar mendesaknya untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita yang baru saja mengobrol bersamanya itu.

"Penasaran gue... Coba kali ya gue lihat Instagram-nya?" gumam Alex.

Ia meraih ponsel di samping bantal dan membuka aplikasi Instagram. Setelah beberapa saat mengetik dan mencari nama serta nama pengguna yang dituju, Alex akhirnya berhasil menemukan akun utama Syafa. Namun sayang, akun tersebut dikunci (private), sehingga Alex tidak bisa mengintip foto-foto maupun unggahannya.

Didorong rasa nekat, Alex akhirnya menekan tombol Ikuti (Follow).

Saat menatap bagian bio pada profil utama Syafa, mata Alex menangkap tautan ke akun kedua (second account) milik cewek itu. Tanpa ragu, Alex mengetuk tautan tersebut.

Beruntung, akun kedua Syafa tidak dikunci.

Isi akun kedua itu didominasi oleh unggahan berupa tulisan, kutipan kata-kata, dan puisi pendek buatan Syafa sendiri. Alex tertegun saat menggeser satu per satu postingan di sana. Setiap bait kata tersusun dengan begitu indah, puitis, dan penuh makna mendalam mencerminkan kerapuhan sekaligus kekuatan jiwa penulisnya.

Saat Alex berniat keluar dari aplikasi, sebuah notifikasi pembaruan muncul di layarnya. Akun kedua Syafa baru saja mengunggah cerita (story) baru berupa tulisan sederhana di atas latar belakang putih polos:

"Apakah ini awal dari bab baru dalam kehidupanku?"

Alex mematung menatap tulisan ringkas itu di layar ponselnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang. Ia terdiam cukup lama, menatap kalimat tersebut dengan berbagai spekulasi yang berkecamuk di dalam kepala.

Apakah tulisan itu ditujukan buat gue? Atau... gue aja yang kepedean?

Pertanyaan itu terus menggantung di benak Alex, mengiringi malam yang makin larut dan menutup harinya dengan secercah harapan baru.

[ AKHIR BAB 9 ]

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!