Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Bersama
Pagi harinya. Jeviza sudah siap untuk keluar kamar hotel, tetapi entah kenapa nyalinya sangat ciut untuk muncul di depan orang tuanya atau orang tua Keandra. Ia sengaja menahan diri di dalam kamar bahkan saat perutnya mulai minta diisi.
Berdiri sebentar, menatap pintu lalu kembali terduduk di sisi ranjang, entah sudah keberapa kali Jeviza melakukan itu, sampai akhirnya suara pintu kamar mandi terbuka bersama munculnya Kean dari dalam.
Jeviza menegang di tempatnya, aroma wangi khas Keandra yang mahal itu mulai menyeruak seiring dengan langkah Keandra, dan saat Jeviza memaksa untuk menoleh. Mulutny setengah terbuka, Keandra sedang memilih baju untuk ia kenakan pagi ini. Tetapi handuk kecil yang melilit tubuh Keandra membuat reaksi tubuh Jeviza sudah gila-gilaan di dalam sana. Darahnya seakan berdesir, dan entah itu apa namanya selain gugup dan tegang yang Jeviza rasakan, yang jelas ia juga merasa panas hanya karena melihat kondisi Kean dengan tubuh setengah telanjang.
Demi?
Jeviza meneguk ludahnya kasar. Tanpa disadari olehnya, bibirnya ia tahan agar tidak mengucapkan kata yang tidak pantas atau berlebihan di depan Kean.
Sadar sedang diperhatikan, Kean menoleh, membuat Jeviza buru-buru mengalihkan tatapan matanya, tetapi sangat disayangkan. Kean sudah melihat wajah merah Jeviza yang gugup itu.
Seakan tidak terdistrak keberadaan Jeviza, Kean melanjutkan kegiatannya sampai selesai, membiarkan Jeviza tetap memunggunginya dan menunduk, mungkin agar tidak sampai mengalihkan tatapan matanya.
Sudut Kean tertarik ke atas, tanpa suara ia sengaja mendekati Jeviza, berbisik yang membuat Jeviza tercekat dan menahan napas beberapa detik.
"Udah, lo bisa balik badan," bisiknya berhasil membuat bulu kuduk Jeviza merinding seketika.
Kean bukan setan, tetapi selalu berhasil membuat Jeviza tidak bisa melakukan apa-apa hanya dengan tindakan kecilnya yang impulsif.
Tidak mengidahkan ucapan Kean, Jeviza hanya mengangguk dan berniat menjauh. Tetapi lingkaran tangan Kean di pingganya membuat langkah Jeviza terhenti. Ia melirik kedua tangan kekar Kean yang tepat berada di pinggangnya, bahkan mulai terasa remasan kecil seperti saat mereka berciuman beberapa waktu lalu.
"Kita mau sarapan bareng kan nanti?" Jeviza bertanya dengan nada suara yang terdengar sedikit bergetar.
"Umm, mereka udah nunggu di bawah," balas Kean tepat di telinga Jeviza.
Jeviza mengangguk lagi, mencoba untuk membalikan tubuhnya agar tangan Kean di pinggangnya terlepas. Tetapi saat Jeviza baru membalikan setengah tubuhnya, wajah tampan Kean terlihat begitu dekat dengannya, berjarak sejengkal dengannya, bahkan Jeviza bisa merasakan hangat deru napas Kean pada permukaan wajahnya.
Cup
Mata Jeviza melotot, disaat pikirannga tengah bergelut dengan rasa gugupnya, Kean sudah memberi kecupan singkat di bibirnya. Memang sangat singkat, tidak seperti ketika masih menjadi mantan, tetapi efeknya tidak maim-main, detak jantung Jeviza semakin terpompa dengan sangat cepat di dalam sana.
"Biar nggak kaku banget," ujar Kean tersenyum tipis. Lalu tangannya menggenggam tangan Jeviza. Keduanya keluar kamar dengan perasaan yang berbeda-beda. Kean yang tenang dan sesekali melirik wajah Jeviza yang terlihat masih merah karena gugup. Sementara Jeviza yang sebenarnya merasa gugup dan ingin kembali ke toilet, tetapi untuk sekedar bersuara saja sekarang sangat sulit untuknya.
Hingga keduanya sampai di ruangan privat yang sudah dipesan orang tua Kean untuk sarapan bersama.
Di sana sudah ada kedua orang tua Kean dan juga orang tua Jeviza. Juga Jova yang duduk di sebelah pak Radit.
Jeviza menyunggingkan senyumnya, ia ingin sekali memeluk maminya dan mengatakan betapa ia gugup berada di kamar yang sama dengan Kean setelah menjadi suami istri, meski tadi malam tidak terjadi apa-apa diantara mereka, bukan berati malam berikutnya sesuatu yang masih Jeviza takuti bisa saja terjadi.
"Pengantin baru, gimana tidurnya? Nyenyak enggak?" Revina bertanya dengan senyum cerah menghiasi wajah cantiknya.
"Nyenyak kok tante."
"Eh, kok tante sih, Je? Panggil mama dong, kamu sekarang sudah bukan lagi mantan Kean ya, tapi istri."
Jeviza sedikit terperanjat mendengar kata "mantan" yang keluar dari wanita yang sekarang menjadi mama martuanya itu, tetapi untuk menanyakan lebih lanjut lagi sepertinya bukan waktu yang tepat.
Ini mama, kak Kean tahu kita mantan?
Keduanya duduk secara bersisian, senyum bahagia dari kedua keluarga sangat terlihat, terkecuali pak Abas yang sedari tadi memasang wajah datar tanpa ekspresi seperti yang lain.
"Ayo sarapan dulu, kita ngobrol lagi nanti," ajak Revina pada semuanya.
Sepanjang makan bersama, baik Jova atau pak Radit sendiri cukup mengamati interaksi Kean dan papanya. Mereka seperti orang yang sedang bermusuhan, dingin, saling menyerang melalui tatapan yang terlihat tajam dan sama-sama tidak mau mengerti dan mengalah. Bahkan tidak ada obrolan diantara keduanya. Tidak seperti beliau sendiri yang sesekali mengobrol dengan Kean.
Setelah selesai sarapan. Masih dengan suasana hangat yang tetap ada ketegangan di dalamnya, suara satu-satunya orang yang sedari tadi diam seakan tidak tersentuh mengudara, membuat ketegangan di sekitar ruangan semakin terasa nyata.
"Setelah menikah, bukan berati kamu lepas tanggung jawab kamu dengan proyek di Semarang, sesekali kamu tetap harus melihatnya secara langsung." Pak Abas merapihkan setelan jasnya. "Dan tetap lakukan apa yang papa bilang, lulus tahun ini."
Kean mengangguk, tidak begitu terbawa suasana dengan sindiran halus dari papanya. "Aku tahu pa." Kean menatap papanya dengam sorot mata tak kalah serius, lalu beralih pada Jeviza yang berada di sebelahnya. "Justru setelah menikah, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Pak Abas tidak mengiyakan, beliau beranjak dari kursinya, menatap lurus dengan angkuh, lalu pada kedua orang tua Jeviza. "Maaf pak Radit, saya harus ke kantor sekarang, permisi," ujar beliau melirik istrinya.
Revina yang sudah paham langsung pamit dengan sangat sopan, juga memeluk Jeviza singkat. "Nanti ke rumah dulu ya sebelum berangkat."
Jeviza mengangguk dengan senyum, menatap kepergian orang tua Kean. "Iya, ma."
Setelah kepergian kedua orang tua, Ayumi mama Jeviza langsung bernapa lega, begitu juga dengan Jova. Berbeda dengan pak Radit yang kini beralih serius tatapan matanya pada Keandra.
"Papi tahu, papa kamu tidak setuju dengan pernikahan ini, tapi nak, buktikan kalau kamu bisa lakukan lebih dari apa yang papa kamu inginkan." Radit menepuk pundak Kean pelan.
Kean mengangguk, menatap papi martuanya dengan begitu dalam dan penuh akan tekad. "Maaf ucapan papa terdengar kurang sopan tadi," ada jeda dikalimat itu. "Jeviza sekarang istriku, apapun tentangnya menjadi tanggung jawabku, termasuk kebahagiaannya."
Mendengar kata "istriku" yang diucapkan langsuny oleh Kean, rasanya Jeviza ingin teriak. Masih setengah tidak percaya kalau mereka sudah menikah, meski rasa gugup itu sebagai bukti hubungan nyata keduanya.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣