Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Latihan Pertama
"Aku ingat wajahmu sekarang."
Kalimat Brandon belum sempat selesai bergema ketika Rayhan maju satu langkah.
Dua anggota yang memegang Brandon refleks menegang. Aldi bahkan sudah mengangkat tangan setengah, seperti siap menahan atasannya kalau perlu. Tetapi Rayhan tidak memukul. Ia hanya berdiri begitu dekat sampai senyum Brandon perlahan hilang.
"Bagus," kata Rayhan. "Ingat juga ini. Mulai hari ini, setiap pesan, setiap orang suruhan, setiap ancaman yang datang ke dia akan tercatat sebagai tambahan perkara. Aku akan pastikan namamu tidak keluar dari berkas sampai semua perempuan yang pernah kamu sakiti mendapat suara."
Brandon menelan ludah.
Rayhan menoleh pada dua anggota. "Bawa masuk."
Pintu ruang pemeriksaan tertutup. Baru setelah itu Kiara sadar ia menahan napas.
"Kiara."
"Aku nggak apa-apa."
Rayhan menatapnya.
Kiara menghela napas kecil. "Oke. Aku agak takut."
"Bagus."
Kiara menatapnya bingung. "Bagus?"
"Takut membuatmu sadar bahaya. Panik yang membuatmu salah langkah." Rayhan melirik pergelangan Kiara yang masih tertutup plester. "Mulai besok, kamu ikut aku."
"Ikut ke mana?"
"Gym."
Kiara berkedip. "Kak Rayhan, aku baru diancam tersangka pembunuhan. Respons normalnya bukan daftar gym."
"Kamu tidak daftar." Rayhan berjalan ke arah keluar. "Aku yang melatih."
Dan begitulah, kurang dari dua puluh empat jam setelah Kiara hampir diseret Brandon di lorong karaoke, ia berdiri di ruang latihan pribadi dalam kompleks olahraga kecil milik keluarga Tan.
Tempat itu berada tidak jauh dari Perumahan Graha Perwira. Dari luar terlihat seperti gym eksklusif biasa, tetapi ruang belakangnya lebih mirip tempat latihan polisi. Matras tebal menutup lantai, ada samsak, cermin panjang, rak handuk, dan bau karet bersih bercampur antiseptik.
Kiara memakai kaus longgar dan legging hitam yang baru dibelikan Rayhan pagi itu.
Tanpa bertanya ukuran.
Yang membuat Kiara lebih kesal, ukurannya pas.
Di atas bangku, Rayhan juga meletakkan benda kecil berwarna hitam sebesar gantungan kunci.
"Ini alarm darurat," katanya. "Tarik pinnya kalau kamu diikuti atau tidak bisa menelepon. Suaranya keras. Cukup untuk menarik perhatian orang sekitar."
Kiara mengambilnya. "Kak Rayhan bawa ini dari kantor?"
"Aku beli."
"Berapa banyak?"
"Tiga. Satu di tas kantor, satu di tas biasa, satu di meja samping tempat tidur."
Kiara menatap benda kecil itu, lalu menatap Rayhan. Ia tidak tahu harus merasa tersentuh atau dimarahi oleh tingkat persiapan pria itu.
"Dan live location aktif kalau pulang malam," tambah Rayhan.
"Ini latihan bela diri atau briefing operasi?"
"Dua-duanya."
"Aku bisa bayar sendiri," gumamnya sambil menarik ujung kaus.
Rayhan, yang sedang melepas jam tangan, melirik. Ia memakai kaus olahraga abu-abu dan celana training hitam. Tidak ada seragam, tidak ada pistol, tidak ada papan nama. Justru tanpa semua itu, bahunya tampak lebih lebar.
"Aku tidak meminta kamu bayar."
"Itu masalahnya."
"Masalahnya adalah kamu hampir diseret laki-laki mabuk dan masih lebih sibuk memikirkan harga baju."
Kiara langsung diam.
Rayhan meletakkan jam tangan di bangku. "Kita mulai dari melepaskan cengkeraman."
Ia berdiri di depan Kiara dan mengangkat tangan. "Pegang pergelanganku."
Kiara ragu.
"Kiara."
Ia memegang pergelangan Rayhan. Hangat. Keras. Urat di bawah kulitnya bergerak saat ia sedikit memutar tangan.
"Kalau orang menarikmu seperti ini," Rayhan mencengkeram pergelangan Kiara, jauh lebih ringan daripada Brandon, "jangan tarik lurus. Dia lebih kuat. Cari celah di ibu jari."
Ia menunjukkan gerakan memutar. Sekali. Pelan.
"Coba."
Kiara mencoba. Gagal.
Rayhan tidak tertawa. "Lagi."
Ia mencoba lagi. Gagal lagi.
"Kamu memakai tenaga di tempat yang salah."
"Tanganku kecil."
"Justru itu, celahmu lebih kecil. Manfaatkan."
Rayhan berdiri di belakangnya. Kedua tangannya menutup tangan Kiara dari belakang, mengatur arah pergelangan. Dada pria itu hampir menyentuh punggungnya. Napasnya jatuh di dekat telinga Kiara, pelan dan teratur.
"Putar ke sini," katanya.
Kiara tidak bergerak.
"Kiara?"
"Aku dengar."
"Kalau dengar, gerakkan."
Mudah baginya bicara. Ia tidak sedang berdiri dengan seluruh punggungnya merasakan panas tubuh orang yang semalam memeluknya.
Kiara menarik napas, memutar tangan mengikuti arah yang Rayhan ajarkan. Kali ini cengkeraman itu lepas.
"Bagus."
Satu kata itu membuatnya ingin tersenyum. Ia menahan diri.
Latihan berikutnya lebih berat. Cara menjaga jarak. Cara menendang tulang kering. Cara berteriak singkat agar orang sekitar sadar. Cara menjatuhkan pusat berat badan ketika ditarik dari belakang. Rayhan tidak memanjakannya. Setiap kali Kiara melakukan gerakan setengah hati, ia mengulang dari awal.
Setelah tiga puluh menit, Kiara duduk di pinggir matras dengan napas tersengal.
"Aku kira polisi cuma suka menyuruh orang jalan jongkok di film," keluhnya.
"Itu masih bisa."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Kiara menatapnya ngeri. Rayhan akhirnya mengambil botol air dan memberikannya. Ketika ia duduk di sebelah Kiara, aroma tubuhnya berbeda dari biasanya. Tidak ada bau kopi. Hanya sabun, keringat bersih, dan sesuatu yang dingin seperti mint.
Rayhan membuka bungkus permen mint dan memasukkannya ke mulut.
Kiara memperhatikan. "Kak Rayhan suka permen?"
"Tidak."
"Tapi dimakan."
"Dulu aku merokok."
Kiara menoleh cepat.
Rayhan menatap matras di depan mereka. "Berhenti sebelum menikah."
"Kenapa?"
Ia diam sebentar. "Ada orang yang tidak suka bau rokok."
Jantung Kiara berdetak aneh.
"Kevin?" tanyanya, mencari alasan paling aman.
Rayhan tidak menjawab. Ia hanya menggigit permen itu sampai terdengar retakan kecil.
"Kadang mulut masih mencari sesuatu," katanya datar. "Permen membantu."
Kalimat itu seharusnya biasa saja.
Entah kenapa telinga Kiara panas.
"Istirahat selesai." Rayhan berdiri. "Sekarang skenario dari belakang."
"Kak Rayhan, kakiku belum siap."
"Penjahat tidak tanya kakimu siap atau tidak."
Kiara mendengus, tetapi berdiri juga. Rayhan berjalan ke belakangnya, memberi jeda.
"Kalau ada orang menarikmu dari belakang, turunkan pusat tubuh, injak kaki, siku ke perut, lalu keluar dari garis serang."
"Oke."
"Aku pegang."
Kiara mengangguk.
Lengan Rayhan melingkar dari belakang, menahan bahunya dengan tekanan terkendali. Tidak sakit, tetapi cukup membuat tubuh Kiara terkunci. Refleks panik muncul cepat. Ia mencium aroma mint dari napas Rayhan, merasakan dadanya di punggung, dan seluruh instruksi yang tadi terdengar masuk akal langsung berantakan.
"Gerak," kata Rayhan di dekat telinganya.
Kiara menginjak kakinya terlalu pelan.
"Lebih kuat."
Ia mencoba menyikut, tapi siku itu berhenti di udara karena ia takut menyakitinya.
Rayhan mengencangkan lengan sedikit. "Kalau aku musuhmu, kamu sudah kalah."
Panas naik ke wajah Kiara. "Kak Rayhan bukan musuhku."
"Di latihan ini, anggap aku begitu."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
Kiara membeku.
Rayhan ikut diam.
Lalu entah karena panik, malu, atau terlalu ingin kabur dari pertanyaan itu, Kiara memutar tubuh mendadak. Gerakannya salah. Kakinya tersandung matras. Tubuhnya jatuh ke depan.
Rayhan menangkapnya sebelum lututnya menyentuh lantai.
Dalam satu gerakan, Kiara berakhir setengah bersandar di dadanya, tangan Rayhan di pinggangnya, wajah mereka begitu dekat sampai napas mereka bercampur.
"Begini juga salah," kata Rayhan rendah.
Kiara menelan ludah.
"Kalau salah terus, harus bagaimana?"
Mata Rayhan turun sesaat ke bibirnya, lalu kembali ke matanya.
"Ulang dari awal."