"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Yang Sebenarnya
"Tuan, apakah Tuan Leon ada di dalam?"
Malam berikutnya, Alina kembali berdiri di tempat yang sama, pada jam yang nyaris sama.
Membuat Max tertegun, menatap perempuan itu dengan dahi berkerut. Sebenarnya, urusan segila apa yang membuat perempuan itu sampai senekat ini?
"Beliau sedang tidak ada di kantor, Nona."
Alina menyipit, menatap Max penuh selidik. "Tidak ada? Tapi, tadi saya masih melihat tuan Leon ada disini."
"Itu karena ada beberapa berkas penting yang perlu beliau selesaikan sebelum berangkat. Dan sekarang, beliau sudah dalam perjalanan menuju bandara untuk urusan bisnis."
Bahu Alina merosot. "Jika boleh saya tau, untuk berapa lama, Tuan?"
"Dua minggu. Atau paling lama mungkin sampai tiga minggu."
Itu adalah informasi pribadi Leon yang tidak boleh diketahui sembarang orang. Namun, melihat sorot mata penuh putus asa itu, entah mengapa Max justru membocorkan jadwal pribadi atasannya kepada wanita yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan Leon.
"Apakah... bisa saya meminta nomor ponselnya?"
Alina tahu, itu adalah permintaan yang terlampau lancang dan mustahil untuk dikabulkan.
"Maaf, Nona. Itu di luar kewenangan saya."
Alina menggigit bibir bawahnya. "Kalau begitu... Jika bisa, tolong sampaikan saja pada tuan Leon jika Alina mencarinya."
"Baik, akan saya sampaikan."
Tiga minggu berlalu, namun sampai saat itu, belum ada kabar mengenai laki-laki itu.
Leon seolah ditelan bumi. Tak ada kabar yang ia dapati. Sedang kondisi Marsha kini semakin prihatin.
Alina di rundung putus asa.
Waktu yang dimiliki Marsha tidak banyak lagi, namun laki-laki yang menjadi satu-satunya harapan itu malah tak kunjung kembali.
Hingga akhirnya, secercah harapan itu pun datang.
Leon telah kembali.
Laki-laki itu melangkah tegap, diikuti oleh sang asisten yang selalu setia menemaninya ke mana pun ia pergi.
"Tuan Max."
Malam itu, untuk kesekian kalinya, Alina kembali menemui Max.
"Maaf jika saya selalu mengganggu waktu anda. Tapi, Bisakah anda membantu saya untuk bertemu dengan tuan Leon?"
Tanpa ba bi bu, laki-laki itu kemudian mengambil ponselnya. Ia secara langsung menghubungi Leon untuk menyampaikan pesan Alina.
"Silahkan nona, Anda bisa langsung masuk." Seru Max setelah panggilan itu terputus. Membuat Alina bernafas lega. Syukurlah. Akhirnya ia punya kesempatan untuk berbicara dengan laki-laki itu. "Terimakasih, tuan."
Baru saja pintu itu ia buka, sebuah tangan besar kini menariknya dengan kasar, mengunci tubuhnya hingga ia pun tak dapat bergerak leluasa.
"Apa kamu sangat merindukanku, hmmm... ."
Itu Leon.
Tatapannya sedingin es, sedang suaranya rendah penuh intimidasi yang pekat.
Jarak yang begitu dekat itu membuat Alina dapat merasakan embusan napas itu menerpan kulit wajahnya.
"Mas... Tolong, jangan seperti ini." Desis Alina, meronta meminta untuk dilepaskan.
"Kenapa, hmmm... Bukankah kamu kesini untuk melayaaniku?"
"Mas, tidak. Tolong, dengarkan aku sekali saja."
Namun laki-laki itu tak bergeming. Sebaliknya, Leon justru semakain merapatkan tubuhnya. "Badanmu semakin kurus sepertinya. Apa karena begitu merindukanku?"
"Mas, cukup!!!" Alina menyentak dengan sisa tenaga yang ia punya, membuat rengkuhan itu pun akhirnya terlepas.
"Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan segalanya." Pinta Alina.
Leon hanya diam, menatapnya nyalang.
"Saat itu, saat kamu kecelakaan waktu itu, aku terpaksa meninggalkanmu... karena, mama mengancam tidak akan membantu biaya operasimu." Alina menghela nafas dalam saat sesak itu kembali ia rasakan.
"Aku-aku tidak punya pilihan lain. Aku takut. Aku takut aku akan kehilanganmu. Jadi, aku menyanggupi permintaan mama. Saat itu, aku tidak tau jika aku pergi dalam keadaan hamil. Aku bingung harus bagaimana, tapi akhirnya aku putuskan untuk membesarkannya."
"Dan sekarang, Marsha sedang sakit. Marsha butuh kamu, mas. Ku mohon, tolong bantu selamatkan Marsha. Aku janji akan menuruti semua yang kamu inginkan. Jika kamu mau aku pergi, aku akan pergi sejauh mungkin. Jika, kamu mau tubuhku, maka nikmati saja. Aku-"
"CUKUP!!!" Bentakan Leon menggelegar, memotong kalimat Alina seketika. Tatapannya semakin nyalang, sarat akan kemarahan mendalam.
"Trik apa lagi yang sebenarnya kamu mainkan ini, hmmm..." Leon maju selangkah, menatap Alina dengan pandangan meremehkan.
"Apa uang yang kemarin aku berikan sudah kamu habiskan bersama selingkuhanmu?"
Tangis Alina pecah. Panjang lebar ia menjelaskan segalanya, namun sampai saat itu laki-laki itu bahkan tak sedikitpun mempercayainya.
"Tidak. Tolong, percaya sama Alina sekali saja, mas."
"Kamu berharap aku percaya pada seseorang yang berani menjelek-jelekkan nama ibu ku?"
"Tidak, aku- aku tidak bermaksud seperti itu mas. Tapi, itulah fakta yang sebenarnya. Mama memaksa aku meninggalkanmu. Mama bahkan melemparkan kartu agar aku mau menceraikanmu-"
Plakkkk... .
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy reading
tapi tunggu up nya harus bersabar