NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar yang Berbeda

Hujan akhirnya berhenti menjelang dini hari, meninggalkan jejak genangan air di halaman dan udara yang dingin serta lembap. Listrik belum juga menyala, membuat rumah tenggelam dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan pucat yang mulai menembus awan tebal. Suara jangkrik dan tetesan air dari atap menjadi satu-satunya musik pengiring malam itu.

Viona tertidur pulas di pelukan Zidan di sofa ruang tamu. Selimut wol tebal melilit tubuh mereka berdua, menciptakan gelembung kehangatan kecil di tengah dinginnya malam yang menusuk tulang. Zidan tidak tidur. Ia tetap terjaga, menatap wajah Viona yang damai dalam tidurnya dengan intensitas yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Jari-jarinya sesekali menyentuh helai rambut Viona yang berantakan, memastikan gadis itu nyata, hangat, dan ada di sana bersamanya.

Rasa takut yang sempat menghinggapinya sore tadi—ketika ia membayangkan hal buruk terjadi pada Viona dan ibunya saat ia terjebak macet di tengah badai—masih tersisa sebagai gema nyeri di dadanya. Namun, kini rasa itu telah berubah menjadi tekad baja yang dingin dan tajam. Ia tidak akan membiarkan ketidakpastian atau nasib buta mengambil alih hidupnya lagi. Ia akan mengendalikan takdir mereka, bukan dengan cara kaku, otoriter, dan penuh perhitungan seperti sebelumnya, tapi dengan perlindungan yang hangat, hadir secara utuh, dan tanpa syarat.

Perlahan, agar tidak membangunkan Viona yang kelelahan, Zidan bangkit dari sofa. Tubuhnya terasa pegal karena posisi duduk yang salah semalaman dan ketegangan otot yang menumpuk, tapi ia mengabaikannya demi kenyamanan gadis di pelukannya. Ia mengangkat tubuh Viona dengan hati-hati, memeluknya erat seperti membawa barang paling berharga dan rapuh di dunia, lalu membawanya naik ke kamar tidur gadis itu di lantai atas. Langkah kakinya ringan, hampir tanpa suara, melewati anak tangga kayu yang biasanya berderit.

Di ambang pintu kamar Viona, Zidan berhenti sejenak. Ia menatap gadis itu sekali lagi sebelum membaringkannya di kasur empuknya. Dengan gerakan sangat pelan dan penuh kelembutan yang kontras dengan sifat aslinya, ia melepaskan selimut dari bahu Viona dan menarikkan selimut kasur hingga ke dagunya, memastikan tidak ada angin dingin yang bisa menyentuh kulitnya.

"Selamat pagi, Vion," bisiknya, meski Viona masih terlelap dalam mimpi indahnya. Suaranya serak karena kurang tidur, namun terdengar begitu intim di keheningan kamar.

Sebelum berbalik pergi, Zidan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, sesuatu yang melanggar semua aturan logis dan batas sosial yang selama ini ia tegakkan. Ia membungkuk, dan dengan lembut mengecup kening Viona. Ciuman singkat, suci, dan penuh janji komitmen. Bukan ciuman seorang kakak tiri pada adiknya, melainkan ciuman seorang pria pada wanita yang telah berhasil meruntuhkan tembok hatinya.

Zidan tersenyum tipis, senyum yang tulus, bebas beban, dan jarang terlihat. Senyum yang hanya milik Viona. Lalu ia menutup pintu kamar Viona perlahan, seolah menutup rahasia terbesar dalam hidupnya.

Ia turun kembali ke lantai bawah, bukan untuk tidur, tapi untuk menyiapkan sarapan. Meskipun listrik mati, kompor gas di dapur masih bisa digunakan dengan bantuan korek api. Zidan memutuskan untuk membuat bubur ayam spesial resep neneknya—resep rumit yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk memasak kaldu dan suwiran ayam yang halus. Resep yang jarang ia masak karena dianggap tidak efisien bagi seorang pria sibuk. Tapi hari ini, efisiensi bukan prioritas. Ia ingin memberikan yang terbaik. Ia ingin menunjukkan bahwa dia bisa merawat, memberi kenyamanan, dan mencintai melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata kosong.

Sementara Zidan sibuk di dapur yang gelap gulita, hanya menggunakan senter ponsel sebagai penerangan terbatas, Viona terbangun. Ia merasa hangat, aman, dan tercinta. Saat membuka mata, ia menyadari dirinya sudah berada di kamarnya, di bawah selimut yang nyaman. Apakah itu mimpi? Atau kenyataan?

Ia meraba keningnya, merasakan sensasi halus dan hangat yang masih tertinggal di kulitnya. Matanya melebar, jantungnya berdegup kencang. Dia menciumku. Pikiran itu berputar cepat di kepalanya, membawa serta gelombang emosi yang campur aduk: bahagia, gugup, dan harap-harap cemas.

Ia segera bangkit, mengenakan cardigan tebal, dan turun ke dapur dengan langkah cepat namun hati-hati. Aroma kaldu ayam yang gurih, jahe, dan bawang goreng yang renyah menyambutnya, menembus kegelapan dan membangkitkan selera makan. Di tengah kegelapan dapur yang hanya diterangi cahaya redup dari jendela, siluet Zidan terlihat sedang mengaduk panci besar dengan fokus penuh. Punggungnya tegap, namun gerakannya lentur dan sabar.

"Kakak..." panggil Viona pelan, suaranya bergetar karena haru.

Zidan menoleh, wajahnya sedikit kotor oleh tepung beras yang menempel di pipi kirinya. Pemandangan itu lucu, manusiawi, dan jauh dari kesan Zidan si arsitek sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Ada debu di kemejanya, ada keringat di dahinya, dan ada kelelahan di matanya. Tapi bagi Viona, itu adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat.

"Pagi," ucap Zidan, mencoba terlihat santai dan datar meski telinganya memerah jelas terlihat dalam cahaya remang-remang. "Listrik masih mati dari pusat. Aku buat bubur ayam. Ibu suka bubur kalau baru sembuh, kan? Teksturnya lembut, mudah dicerna."

Viona tersenyum lebar, mendekati Zidan dengan langkah mantap. Ia mengambil lap bersih dari meja, lalu mengusap noda tepung di pipi Zidan dengan lembut. Sentuhan itu intim, berani, dan penuh makna. Kali ini, Zidan tidak menghindar atau menegangkan tubuhnya. Ia malah menangkap tangan Viona yang sedang mengusap pipinya, memegangnya erat dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

"Vion," kata Zidan serius, matanya menatap lurus ke dalam jiwa Viona. "Tentang semalam... tentang apa yang aku katakan di sofa."

Viona menatapnya, napasnya tertahan, menunggu kalimat lanjutan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

"Aku tidak bermaksud menakutimu atau membebanimu dengan emosiku," lanjut Zidan, suaranya rendah namun tegas. "Tapi aku perlu kamu tahu satu hal yang sudah lama aku pendam, bahkan sebelum aku sadar apa artinya."

Zidan menarik napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian untuk melompat dari tebing tinggi. "Aku tidak melihatmu sebagai adik tiri lagi. Sudah lama sebenarnya, mungkin sejak pertama kali kamu masuk ke rumah ini dengan tatapan mata yang penasaran dan berani. Tapi aku menekan perasaan itu karena takut merusak dinamika keluarga, takut menghancurkan kepercayaan Bapak dan Ibu, takut kehilangan kamu jika aku salah langkah."

Air mata Viona mulai menggenang, tapi ia tidak mengalihkan pandangannya.

"Tapi setelah hampir kehilangan kalian kemarin... setelah melihat betapa hancurnya rasaku saat berpikir kamu tidak ada..." Zidan menggenggam tangan Viona lebih erat. "Aku sadar aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku tidak bisa hidup dalam kepalsuan."

"Aku mencintaimu, Vion," ucap Zidan, setiap kata diucapkan dengan jelas dan berat. "Bukan sebagai saudara. Bukan karena kewajiban darah. Tapi sebagai wanita yang ingin aku lindungi, bahagiakan, ajak bertumbuh, dan bangun bersamanya setiap pagi sampai tua nanti."

Dunia Viona seolah berhenti berputar. Kata-kata itu adalah kunci yang membuka semua keraguan, semua rasa takut, dan semua penantian diam-diamnya. Air mata kebahagiaan menetes di pipinya. Ia tidak menjawab dengan kata-kata yang mungkin akan terdengar klise. Ia berdiri di ujung jari, meraih wajah Zidan dengan kedua tangannya, dan mencium bibir Zidan.

Ciuman pertama mereka. Lembut, ragu-ragu di detik awal, namun segera berubah menjadi penuh dengan emosi yang selama ini terpendam, dipendam, dan disembunyikan. Rasa manis, asin dari air mata, dan hangat dari napas mereka bercampur menjadi satu simfoni perasaan.

Zidan kaget sejenak, tubuhnya menegang karena kejutan positif, lalu membalas ciuman itu dengan passion yang tertahan selama bertahun-tahun. Tangannya melingkari pinggang Viona, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak fisik maupun emosional di antara mereka. Dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Tidak ada lagi masa lalu yang kelam, tidak ada lagi trauma ditinggalkan, tidak ada lagi ketakutan akan penolakan sosial. Hanya ada mereka berdua, di dapur yang gelap dan dingin, ditemani aroma bubur ayam yang hangus sedikit di bagian dasar panci karena lupa diaduk.

Saat mereka terpisah, keduanya terengah-engah, dahi mereka bersentuhan, napas mereka saling berbaur. Mata mereka terbuka, menatap satu sama lain dengan kekaguman baru.

"Buburnya hangus," gumam Viona tertawa kecil, suaranya gemetar karena bahagia, memecah ketegangan romantis yang pekat.

Zidan terkekeh, suara tawa lepas dan ringan yang jarang sekali keluar dari tenggorokannya. Tawa yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. "Biarkan saja. Kita pesan ojek online nanti. Atau makan roti tawar saja. Yang penting perut terisi."

"Tidak," tolak Viona tegas, masih tersenyum lebar. "Kita makan bubur ini. Karena ini dibuat dengan cinta. Dan cinta itu kadang memang sedikit hangus, sedikit berantakan, tapi tetap enak dan mengenyangkan hati."

Mereka tertawa bersama, suara tawa mereka mengisi kekosongan rumah yang sebelumnya sunyi dan mencekam. Saat matahari mulai terbit di ufuk timur, menyinari langit dengan warna jingga, oranye, dan merah muda yang memukau, listrik akhirnya menyala kembali. Lampu dapur berkedip dua kali, lalu terang benderang, menerangi wajah-wajah mereka yang bersinar.

Namun bagi Viona dan Zidan, cahaya terbesar dan paling berarti bukanlah dari lampu listrik yang baru menyala, melainkan dari harapan baru, cinta baru, dan janji baru yang telah mereka nyalakan bersama di dalam hati. Mereka tahu jalan ke depan tidak akan mudah. Ada stigma sosial masyarakat, ada pertanyaan sulit dari keluarga besar, ada tantangan untuk menjelaskan hubungan kompleks mereka pada Rani dan Pak Wahyu tanpa menyakiti perasaan mereka. Tapi mereka siap menghadapinya. Bersama. Saling menopang.

Karena cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk yang diharapkan atau dalam waktu yang konvensional, tapi selalu datang dalam waktu yang tepat bagi dua jiwa yang siap menerima. Dan bagi mereka, waktu itu adalah sekarang. Hari ini. Dan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!