NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Hening itu masih berlangsung, terasa berat sekaligus menyimpan ribuan rasa yang terpendam. Beberapa menit berlalu begitu saja, namun bagi mereka berdua rasanya seperti berjam-jam. Mata mereka tak pernah beralih satu sama lain, seolah ingin saling memastikan bahwa sosok di hadapan ini sungguh nyata, bukan sekadar khayalan semata.

Samantha menelan ludah dengan susah payah, hatinya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada. Akhirnya, dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, ia memanggil nama itu:

"Samuel..."

Panggilan itu begitu lembut, namun terdengar begitu jelas di telinga Samuel. Seketika itu juga, Samuel terbangun dari ketertegunannya. Ia berdeham pelan untuk menenangkan jantungnya yang juga berpacu cepat, suara dehemannya itu menjadi tanda yang memecah keheningan panjang di antara mereka.

Perlahan, Samuel melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat namun penuh tekad. Semakin ia mendekat, semakin jelas ia melihat wajah wanita yang selama ini tak pernah hilang dari ingatannya. Samantha kini tampak begitu cantik sederhana namun memancarkan keanggunan yang menenangkan, dengan hijab rapi yang menutupi kepalanya, menambah kesan lembut dan dewasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Samantha, Samuel menatapnya lekat-lekat. Rasa rindu yang selama ini ia pendam sendirian, yang ia coba tutupi dengan kesibukan dan sikap dinginnya, kini meluap tak terbendung.

"Jadi benar... itu kamu," ucap Samuel pelan, suaranya terdengar bergetar menahan emosi. "Sebenarnya sudah sejak lama aku mencarimu, Samantha. Sejak masa sekolah dulu, kamu adalah wanita yang diam-diam aku kagumi, yang selalu ada di pikiranku... dan aku tidak pernah berhenti merindukanmu."

Samantha menunduk sejenak, menahan air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka bahwa perasaan itu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.

"Samuel... aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini," jawabnya lirih. "Aku pikir kisah kita sudah berakhir saat aku harus pergi meninggalkan kota ini dulu. Aku pikir kamu sudah melupakanku."

Samuel menggeleng mantap, lalu tersenyum tipis senyum hangat yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Melupakanmu? Mustahil bagiku. Waktu berlalu, penampilanmu mungkin berubah menjadi lebih dewasa dan cantik seperti sekarang, tapi matamu... tatapan matamu itu tetap sama persis seperti yang aku ingat. Itulah yang selalu membuatku yakin bahwa wanita yang sering kutemui belakangan ini adalah kamu."

Suasana di antara mereka kini terasa lebih hangat, dinding keraguan yang sempat ada perlahan runtuh digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Pertemuan yang tak terduga ini seolah menjadi jawaban dari doa dan harapan yang selama ini mereka simpan masing-masing.

Mendengar pengakuan tulus dari Samuel, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya meluncur pelan di pipi Samantha. Ia menatap balik mata Samuel dengan berani, menyembunyikan lagi apa pun yang selama ini ia simpan rapat di dalam hatinya.

"Samuel... aku juga," ucapnya dengan suara yang bergetar namun jelas. "Dulu sejak masa sekolah aku pun diam-diam mengagumimu. Aku kagum pada ketegasanmu, pada caramu berpikir, dan pada kebaikan hatimu yang sering kali kau sembunyikan di balik sikap pendiammu itu. Aku pikir perasaanku ini hanya angan-anganku saja, karena aku tak pernah berani berharap kau pun merasakan hal yang sama."

Samuel tertegun sejenak, matanya melebar karena tak menyangka bahwa perasaan itu ternyata saling terbalas. Rasa haru yang luar biasa menyelimuti dadanya, membuatnya ingin sekali memeluk wanita itu namun ia menahannya dengan sopan.

"Kamu... kamu juga mengagumiku?" tanyanya tak percaya. "Padahal dulu aku sering melihatmu sibuk dengan buku-bukumu, tersenyum pada teman-temanmu... aku pikir aku hanyalah salah satu dari sekian banyak temanmu yang biasa saja."

Samantha tersenyum di sela isak tangisnya, menggeleng pelan. "Tidak begitu. Setiap kali kamu lewat, setiap kali kau berbicara di depan kelas, hatiku selalu berdebar tak tenang. Aku hanya malu dan takut untuk mengatakannya. Lalu takdir memisahkan kita begitu cepat, dan aku pikir kesempatan ini takkan pernah datang lagi."

Angin pagi berhembus lembut menerpa wajah mereka, membawa serta segala rindu yang selama ini terpendam. Di depan gerbang sekolah yang sering menjadi tempat pertemuan singkat orang tua murid, mereka berdua akhirnya membuka hati sepenuhnya, melepaskan segala beban kerinduan yang tak tertahankan.

"Selama bertahun-tahun ini," lanjut Samuel dengan nada lembut namun penuh penekanan, "setiap kali aku merasa lelah atau kesepian, bayangan wajahmu selalu datang menenangkan ku. Aku bertanya-tanya ke mana kamu pergi, apakah kamu bahagia di sana, apakah kau sudah menemukan orang lain... dan sekarang, melihatmu berdiri di hadapanku seperti ini, rasanya seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan."

"Aku juga, Sam," balas Samantha tulus. "Bahkan saat aku harus menghadapi masa-masa sulit dan kesepian, doaku selalu menyertaimu. Aku rindu suaramu, aku rindu caramu menatapku... dan aku rindu saat-saat sederhana yang pernah kita lalui dulu."

Mereka berdua terdiam kembali, namun kali ini keheningan itu bukan lagi canggung atau penuh keraguan. Keheningan ini penuh dengan rasa syukur, kehangatan, dan kepastian bahwa benang kasih sayang yang dulu sempat terputus, kini telah tersambung kembali dengan lebih kuat dari sebelumnya.

"Terima kasih, Tuhan..." gumam Samuel pelan, matanya tak lepas dari wajah Samantha. "Terima kasih karena Engkau telah mengembalikannya kepadaku."

Samantha tersenyum lembut, namun matanya menyiratkan sedikit keberatan untuk berpisah lagi secepat ini. Namun ia sadar, ada hal penting yang sudah dijanjikannya kepada Suci dan Bu Lastri.

"Samuel... sepertinya aku harus pamit dulu," ucapnya pelan. "Aku masih ada urusan penting yang harus aku selesaikan bersama Suci. Maaf ya, kita belum sempat mengobrol lebih lama."

Samuel sama sekali tidak keberatan, ia justru mengerti betul bahwa masing-masing dari mereka kini memiliki kesibukan dan tanggung jawab sendiri. Ia pun tersenyum pengertian, lalu segera merogoh saku jasnya mengambil ponsel.

"Tidak apa-apa, Samantha. Aku mengerti sekali," jawabnya tenang. "Tapi sebelum kamu pergi, simpan dulu nomor ponselku. Jangan sampai kita bertemu lagi dan hanya diam mematung seperti tadi."

Samuel menyebutkan serangkaian angka nomor teleponnya perlahan, sementara Samantha segera mencatatnya di ponselnya.

"Begitu urusanmu selesai dan kamu memiliki waktu luang, aku ingin sekali mengajakmu makan siang bersama. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," pinta Samuel dengan nada penuh harap.

Samantha mengangguk mantap, matanya berbinar cerah.

"Tentu saja, Samuel. Aku juga ingin sekali mendengar ceritamu. Jika nanti waktunya memungkinkan, aku yang akan menghubungimu," janjinya tulus.

"Baiklah, aku tunggu kabar darimu. Hati-hati di jalan ya," pesan Samuel sambil melambaikan tangan pelan saat Samantha mulai melangkah menuju mobilnya.

Samantha masuk ke dalam kendaraannya, melambaikan tangan balik melalui kaca jendela, lalu melajukan mobilnya perlahan meninggalkan halaman sekolah. Samuel tetap berdiri di tempatnya sebentar, menatap mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan, hatinya kini terasa jauh lebih ringan dan penuh harapan dibandingkan sebelumnya.

Bersambung...

 

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!