NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jejak yang Tertinggal

Hari-hari berikutnya terasa sangat berat bagi Dika. Meskipun masih diperbolehkan tinggal dan bekerja, suasana di rumah itu terasa berbeda. Sebagian besar pembantu lain kini menjauhinya, berbicara hanya seperlunya, dan sering melirik dengan pandangan curiga seolah sedang mengawasi setiap gerakannya. Gajinya ditahan sepenuhnya, jadi ia hanya bisa makan seadanya yang disediakan dapur, tanpa uang sepeser pun untuk keperluan pribadi.

Namun, Dika tidak membiarkan hal itu mengurangi semangat kerjanya. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyelesaikan tugas dengan lebih teliti, dan tetap merawat taman serta tanaman dengan perhatian yang sama seperti sebelumnya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk mempertahankan sedikit kepercayaan yang tersisa adalah dengan terus membuktikan bahwa ia masih bisa diandalkan, meski sedang dicurigai.

Setiap sore sepulang bekerja, saat semua orang sudah beristirahat, ia akan berjalan kaki menuju jalan tempat ia dikatakan dirampok. Ia menyusuri setiap sudut, melihat ke balik ruko kosong, di bawah jembatan kecil, dan di setiap gang sempit di sekitar lokasi itu. Ia berharap menemukan sesuatu — sekecil apa pun — yang bisa menjadi petunjuk.

Selama dua hari ia berjalan tanpa hasil. Sampai pada sore ketiga, saat matahari mulai terbenam dan cahayanya meredup, matanya menangkap sesuatu yang terselip di sela-sela batu besar di pinggir selokan, tidak jauh dari tempat kejadian. Ia mendekat, membungkuk, dan mengeluarkan benda itu dengan hati-hati.

Itu adalah sebuah kancing baju, terbuat dari logam berwarna perak yang sudah agak kusam karena kotoran dan air selokan. Bentuknya tidak biasa, tidak seperti kancing baju biasa yang banyak dijual di pasaran. Ada ukiran kecil berupa daun di permukaannya — ukiran yang cukup khas.

Dika memegang kancing itu erat-erat, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Mungkin ini milik salah satu dari mereka yang menyerangku, pikirnya. Ia menyimpannya di dalam saku baju, lalu berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Sekarang ia punya sesuatu, sekecil apa pun, untuk mulai mencari kebenaran.

Malam itu, saat suasana sudah sunyi, Kirana datang ke kamarnya secara diam-diam, membawa sepotong roti dan segelas air. Ia tahu Dika tidak punya uang untuk membeli apa pun, dan porsi makannya pun dikurangi karena dianggap sedang menanggung kerugian.

“Kamu harus tetap makan, jangan sampai sakit,” bisiknya sambil meletakkan barang itu di meja kecil. “Kalau kamu jatuh sakit, justru akan semakin mudah bagi mereka yang ingin menyingkirkanmu.”

Dika mengangguk terima kasih, lalu segera mengeluarkan kancing logam yang ditemukannya. Ia menunjukkannya pada Kirana dengan hati-hati.

“Ini saya temukan di dekat tempat kejadian tadi sore. Mungkin milik salah satu orang yang mengambil uang itu. Bentuknya tidak biasa, jadi mungkin bisa dilacak dari mana asalnya,” katanya pelan.

Kirana mengambil kancing itu, memeriksanya dengan cermat di bawah cahaya lampu redup. Matanya terbelalak sedikit. “Saya mengenali ukiran ini. Ini bukan kancing sembarangan. Beberapa waktu lalu, Paman Arga memesan sejumlah kancing dengan model yang sama untuk mengganti kancing baju kerja orang-orang yang membantunya di gudang dan kebun luar. Katanya model ini lebih kuat dan awet.”

Mendengar penjelasan itu, dada Dika terasa berdebar kencang. Potongan teka-teki itu mulai terhubung satu sama lain. “Jadi benar… bukan kebetulan. Semua ini memang diatur dari awal.”

“Tapi kita tidak bisa langsung menuduhnya hanya dengan sebuah kancing saja,” kata Kirana dengan nada hati-hati. “Kita butuh bukti lain yang lebih kuat, sesuatu yang bisa menghubungkan dia langsung dengan kejadian itu.”

“Saya tahu,” jawab Dika. “Tapi setidaknya sekarang kita tahu ke mana arah penyelidikan ini. Kita harus bergerak diam-diam, jangan sampai ada yang menyadari bahwa kita sedang mencari bukti.”

Sejak malam itu, keduanya sepakat untuk bekerja sama secara rahasia. Kirana, karena posisinya sebagai putri pemilik rumah, bisa bergerak lebih leluasa dan mengamati pergerakan Paman Arga tanpa menimbulkan kecurigaan. Sedangkan Dika akan terus mengumpulkan petunjuk-petunjuk kecil, tanpa membuat orang lain curiga.

Beberapa hari kemudian, saat Paman Arga sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, Kirana menyempatkan diri menyelinap masuk ke ruang penyimpanan barang bekas di bagian belakang rumah. Di sana ia menemukan kotak berisi sisa kancing logam dengan ukiran yang sama persis dengan yang ditemukan Dika. Ia juga melihat catatan kecil yang menunjukkan bahwa kancing itu dibeli tiga minggu sebelumnya — tepat sebelum masalah uang itu terjadi.

Ia segera menyampaikan hal itu pada Dika secara diam-diam. “Jumlahnya berkurang dua biji sejak catatan pembelian. Itu berarti memang sudah dipakai oleh dua orang,” jelasnya.

Dika mengangguk, pikirannya bekerja cepat. “Kalau kita bisa menemukan baju yang menggunakan kancing serupa, atau mengetahui siapa saja yang memakainya, maka kita bisa mendekati kebenaran itu.”

Namun, Paman Arga ternyata lebih waspada dari yang mereka duga. Begitu ia kembali dari perjalanan, ia segera menyadari ada sesuatu yang berubah. Ia melihat tatapan Kirana yang terlihat lebih waspada, dan Dika yang meski tertekan, tidak terlihat putus asa seperti yang diharapkannya.

Suatu sore, ia memanggil Sari lagi ke ruang kerjanya dengan wajah yang gelap. “Apakah kamu melihat mereka berdua bicara lagi? Atau ada hal lain yang mencurigakan?” tanyanya tajam.

Sari menggeleng ragu. “Tidak terlihat jelas, Pak. Tapi belakangan ini Dika sering berjalan ke jalan luar setelah selesai bekerja, dan Kirana juga sering ke ruang penyimpanan barang tanpa alasan yang jelas.”

Mendengar itu, Paman Arga mengerutkan dahi. Ia mulai merasa tidak tenang. Mungkinkah mereka sudah mulai menyadari sesuatu? pikirnya. Ia tidak bisa membiarkan penyelidikan ini berlanjut lebih jauh. Jika sampai rencananya terbongkar, bukan hanya kepercayaannya yang hancur, tapi posisinya di rumah ini juga akan hilang selamanya.

“Baiklah, perketat pengawasan lagi. Jangan sampai ada langkah mereka yang luput dari pandangan. Dan kalau perlu, segera buat langkah pengalihan agar mereka tidak punya waktu untuk mencari hal-hal yang tidak perlu,” perintahnya dengan nada tegas.

Malam itu, Dika kembali menulis di buku catatannya. Ia merasa lega karena sudah menemukan petunjuk pertama, tapi juga sadar bahwa bahaya semakin dekat.

“Hari ini saya menemukan jejak kecil yang menghubungkan semuanya. Benar saja, semua ini adalah rencana yang dirancang dengan sengaja. Sekarang bukan hanya soal membuktikan diri tidak bersalah, tapi juga mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Paman Arga pasti sudah mulai curiga, jadi kita harus bergerak lebih hati-hati dan lebih cepat. Satu langkah salah, dan semuanya bisa hancur.”

Di tempat lain, Kirana juga tidak bisa tidur nyenyak. Ia menyadari bahwa kini ia dan Dika berada di jalur yang berisiko tinggi. Namun, ia tidak bisa berpaling begitu saja. Ia tahu Dika tidak bersalah, dan membiarkan ketidakadilan terus berlanjut bertentangan dengan hati nuraninya.

Keduanya kini menyadari: pertarungan ini bukan lagi sekadar mempertahankan pekerjaan, tapi mempertahankan harga diri, kebenaran, dan kepercayaan yang mulai tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!