Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
"Edo Abimanyu?"
Hery menatap serius pada Joshua, seperti ada seutas pertanyaan di benaknya, tapi tidak tersampaikan pada Joshua. Ia tidak begitu enak, ada Dian di samping mereka saat ini.
"Hahaha, oh jadi begitu. Kau akan menikah dengan nya. Wah, wah. Nona Dian begitu cantik, pantas saja disukai sama Joshua."
Suasana yang awalnya sedikit tegang, berusaha dicairkan oleh Hery.
"Jadi ini bukan pertemuan bisnis?" Dian yang awalnya bingung, akhirnya menyadari sesuatu.
"Iya. Aku hanya ingin mengenalkan mu padanya. Makanya aku menyuruh pak Arya memasukannya ke dalam jadwal ku."
"Oh, lalu kenapa harus bicara formal tadi?"
"Kami biasa memang begitu. Kadang aku yang memulai, atau mungkin Joshua yang memulai." Jelas Hery.
"Dian, Hery adalah teman karibku. Dia telah banyak membantu ku, bahkan di saat kondisi keluarga serta perusahaan ku mengalami krisis yang sangat sulit ditangani. Dan aku juga menganggap nya seperti saudaraku sendiri. Jadi, dia perlu tahu pasanganku ke depannya."
Mereka terdiam saat seorang pelayan wanita datang mengantar makanan.
"Maaf, permisi. Ini pesanan anda."
Beberapa makanan mewah disajikan.
"Ya sudah, kita makan saja dulu."
Posisi Dian saat ini begitu sulit, banyak sekali lontaran pertanyaan yang diberikan Hery, seolah-olah sangat penasaran dengan dirinya.
Mulai bertanya dari SD, SMP, SMA di mana.
Hobinya apa, artis favorit, bagaimana keseharian nya, makanan kesukaannya, tempat wisata yang paling disuka. Pokoknya masih banyak lagi. Dian merasa seperti diinterogasi.
Makan panjang yang membuat Dian tidak tenang sepanjang mengunya makanannya. Ia harus bertarung dengan makanan di mulutnya, dan pertanyaan yang diberikan Hery bergantian.
Orang ini lebih cerewet dari Joshua.
Tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu makan mereka lumayan lama. Dan Dian melihat ke papan waktu yang muncul dari layar handphonenya.
"Pak, sebentar lagi pertemuan dengan pak Bimo."
"Oh, berarti habis ini masih ada pertemuan?" Tanya Hery sambil membersihkan sudut bibir nya dengan tisu.
"Iya, ada penandatanganan kontrak kerja."
"Baiklah, kalian lanjut saja. Aku juga ada pertemuan dengan seseorang di sini."
"Dian, tunggu di mobil. Aku ingin berbicara dengan Hery sebentar."
Dian menurut apa kata Joshua. Ia pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau benar yakin akan melakukan hal ini."
"Iya, aku sangat yakin. Pembalasan harus tetap dijalankan." Joshua mengepal tangannya dengan erat. Ada semburat emosi di wajahnya.
"Tapi, Dian. Dia tidak tahu apa-apa. Kenapa tidak perusahaan nya saja yang kau hancurkan."
"Peduliku Hery. Mereka semua harus hancur secara bersamaan. Aku tidak punya belas kasih sama sekali. Ayahnya menghancurkan hidup orang tua ku, tanpa mempedulikan kalau ada anak mereka yang masih butuh kasih sayang orangtua nya."
"Kau akan terlihat seperti mereka, jika kau melakukan nya."
"Apa peduliku Hery. Mereka yang mengubah ku seperti ini. Dan mereka harus menerima konsekuensi nya juga. Kau temanku. Kau tahu bagaimana penderitaan ku dan Cindy dulu. Kenapa sekarang kau begitu membela wanita tadi? Apa jangan-jangan kau tertarik dengan nya?"
"Aku tidak...." Belum selesai menjelaskan, Joshua memotong perkataan nya.
"Baiklah, aku mengerti. Tidak masalah. Karena kau sudah sangat membantuku, jika kau sangat menyukai nya, tidak masalah. Tapi tunggu aku menghancurkan nya dulu. Aku akan menyerahkan nya padamu."
"Sudahlah. Aku juga tidak berpikiran sejauh itu. Terserah apa yang ingin kau lakukan. Itu hak mu. Aku hanya bisa mendukung mu, tanpa melibatkan diriku."
"Ya itulah yang ingin kudengar. Terima kasih untuk dukungan mu. Kurasa tanpa kau melibatkan diri saja, atau mungkin tidak ikut campur dalam urusan ku, itu sudah cukup."
Joshua pergi meninggalkan Hery yang masih tenang di tempat duduknya.
"Hah.. Sangat keras kepala. Saat ini, singanya masih berada di dalam sangkar. Dia masih berusaha tenang, tidak menunjukkan taringnya
Semoga Dian bisa menahan semua tindakan yang dia lakukan nanti. Tapi, berapa lama dia sanggup bertahan?"
Cukup lama Dian menunggu. Dan waktu bertemu dengan pak Bimo kian mepet. Bunyi pintu mobil yang terbuka tiba-tiba mengejutkan Dian.
"Kau..." Dian memegang dadanya karena kaget, apalagi pria itu membanting pintunya dengan lebih keras.
"Ayo jalan pak!" Joshua tidak peduli.
Pertemuan dengan pak Bimo sedikit terlambat, karena lewat dari waktu janji temu. Namun ternyata pak Bimo masih bisa menerima. Ternyata Joshua juga sudah menelponnya saat berjalan ke arah mobil.
Penandatanganan kontrak hari ini berjalan lancar.
Dian sangat lelah. Tidak terasa, hari keduanya bekerja, sudah se melelahkan ini. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Hari pertama masih sangat enak, karena ia punya alasan untuk menemani Cindy. Tapi hari ini, benar-benar full dirinya bekerja di kantor, tanpa istirahat.
Apa aku menelpon Cindy nanti. Biar waktu istirahat ku lebih banyak. Aku pasti kecapean nanti, kalau harus bekerja di kantor itu terus-menerus selama sebulan. Ditambah melihat wajah Joshua setiap hari.
"Apa nona Dian mau langsung di antar pulang sekarang?"
"Pulang?"
Melihat pria tua bangka, berserta istri jahanamnya lagi. Tapi ya sudahlah. Bagaimana lagi. Aku harus bertahan. Kalau tidak mereka akan melukai adik-ku.
"Iya Pak. Saya juga sudah pengen istirahat."
Pak Arya mengerti maksud pertanyaan pak Joshua. Mereka memutar haluan, langsung ke arah rumah Dian. Pak Arya membawa mobil nya lumayan cepat, jadi mereka tiba lebih cepat.
"Apa mau mampir?"
Dian merasa menyesal, karena mulutnya tiba-tiba melontarkan kata-kata yang tidak ingin ia ucapkan. Tapi ia hanya berharap, semoga Joshua tidak menanggapinya.
"Wah, aku jadi tidak enak nih. Aku jadi sedikit tersanjung, karena kamu mengajakku masuk. Tapi sayangnya aku tidak bisa, aku masih harus melakukan hal lain. Tapi mungkin nanti, bila kamu mengajakku lagi, aku akan mengikuti."
"Apa... Hehe..." Ketawa yang terdengar terpaksa.
Dian tidak ingin mendengar kata-katanya yang terdengar aneh. Bagi Dian, cuman kata-kata Tidak, tanpa panjang lebar sudah cukup baginya.
Saat akan turun, Joshua menahan tangannya. Membuat wajah wanita itu bingung, dan berbalik ke arahnya. Tanpa aba-aba, Joshua mencium keningnya. Dian terpaku kaget. Ciuman yang terasa lembut. Wajah Dian memerah, ia malu karena pak Arya melihat mereka berdua.
"Apa yang kamu lakukan?" Dia menutup keningnya, yang dikecup mesra Joshua barusan.
"Aku hanya ingin melakukannya...."
Kata Joshua tidak peduli.
Dian segera membuka pintu dan keluar dari dalam mobil dengan wajah yang masih memerah.
"Besok akan ada yang menjemput mu. Jadi bersiaplah lebih pagi."
Mobil yang ditumpangi Joshua akhirnya pergi, setelah pria itu memerintahkan pak Arya untuk melanjutkan perjalanan.
"Dasar tidak sopan." Dian berteriak saat mobil pria itu sudah hilang dari pandangan nya.
Di dalam mobil, Joshua terlihat mengambil tisu, dan mengelap bibirnya dengan kesal. Pak Arya hanya memperhatikan pria itu, yang terdengar menggerutu sendiri.
"Huh, berapa lama lagi."
Joshua bersandar. Pandangannya menatap ke langit mobil. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya untuk memijat pangkal hidung yang terasa berdenyut nyeri. Jari telunjuk dan ibu jarinya menekan pelan di sela antara kedua alis, mencoba meredakan rasa pening yang menjalar hingga ke pelipis.