Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Maya tidak berani keluar kamar selama hampir satu jam.
Alasannya sederhana: ia malu.
Semalam ia memegang baju Raka dan memintanya jangan pergi. Pagi ini ia bangun dengan kepala di paha pria itu seperti anak kecil yang takut ditinggal. Lebih parah lagi, Raka tidak terlihat terganggu. Ia hanya menatapnya dengan mata lelah, lalu mengatakan dirinya disandera.
Disandera.
Maya menutup wajah dengan bantal.
Ia sudah lima puluh tahun. Seharusnya ia lebih tenang. Seharusnya ia tidak bertingkah seperti perempuan muda yang baru merasakan perhatian suami. Tapi tubuh dan hatinya seperti tidak mau mendengar akal sehat.
Pintu diketuk.
“Bu Maya?” suara Wati terdengar. “Sarapan sudah siap.”
“Saya sebentar lagi keluar.”
“Pak Raka bilang kalau Ibu tidak keluar lima menit lagi, beliau masuk.”
Maya langsung duduk.
“Saya keluar sekarang.”
Di meja makan, Raka sudah duduk membaca berita bisnis di tablet. Ia tampak segar meski semalam hampir tidak tidur. Itu tidak adil. Maya sendiri merasa wajahnya pasti merah sejak bangun.
“Pagi,” katanya pelan.
Raka mengangkat mata. “Sudah selesai bersembunyi?”
Wati cepat-cepat menaruh sup di meja lalu kabur.
Maya menatap mangkuknya. “Saya tidak bersembunyi.”
“Kamu mengunci pintu.”
“Saya mandi.”
“Empat puluh tujuh menit?”
Maya mendongak. “Mas Raka menghitung?”
“Aku menunggu sarapan.”
“Mas bisa makan dulu.”
“Dokter bilang kamu tidak boleh makan sendirian kalau sedang mual.”
“Dokter tidak bilang begitu.”
“Aku menafsirkan.”
Maya tidak bisa menahan senyum kecil.
Raka melihat senyum itu, lalu kembali ke tabletnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sarapan baru berjalan setengah ketika Bima datang membawa beberapa dokumen.
“Pak, laporan dari rumah sakit soal Bu Vina sudah keluar. Ada jejak bahan herbal yang memang bisa memicu kontraksi. Dokter menduga pasien minum jamu pelancar haid sebelum tahu hamil.”
Maya menahan napas.
Raka menerima dokumen. “Kirim salinannya ke pengacara. Kalau Bu Ratna menyebar fitnah, kita jawab dengan bukti medis.”
“Baik, Pak.”
Maya meletakkan sendok.
“Jadi Vina benar-benar minum sendiri?”
Bima menjawab hati-hati, “Dari keterangan awal perawat, Bu Vina sempat meminta temannya membelikan jamu karena telat haid dan takut berat badannya naik sebelum acara keluarga. Tapi ini masih perlu dikonfirmasi.”
Maya memejamkan mata.
Rasa sedih tetap ada. Tapi kali ini ia tidak membiarkan dirinya ditarik menjadi kambing hitam.
Ponsel Maya berbunyi.
Dimas.
Raka menatap layar.
“Jangan angkat kalau tidak mau.”
Maya ragu, lalu mengangkat dengan speaker mati.
“Ibu.”
Suara Dimas terdengar lelah.
“Dokter bilang… itu bukan karena Ibu.”
Maya diam.
Dimas menunggu, mungkin berharap ibunya langsung berkata tidak apa-apa seperti dulu.
Maya tidak melakukannya.
“Lalu?”
“Aku cuma mau bilang… Bu Ratna sedang emosi. Vina juga terpukul.”
“Dimas, kamu menelepon untuk meminta maaf atau menjelaskan kenapa mereka boleh menuduh Ibu?”
Di seberang, Dimas terdiam.
Raka mengangkat mata dari dokumen.
“Aku…” Dimas menarik napas. “Maaf.”
Kata itu keluar kaku, seperti benda asing di lidahnya.
Maya menutup mata.
Ia menunggu kata itu bertahun-tahun. Tapi ketika akhirnya datang, rasanya tidak menyembuhkan sebanyak yang ia kira.
“Ibu dengar.”
“Cuma itu?”
Maya membuka mata. “Kamu ingin Ibu menjawab apa?”
“Biasanya Ibu…”
“Biasanya Ibu bilang tidak apa-apa. Tapi kali ini apa-apanya banyak, Dimas.”
Napas Dimas terdengar berat.
“Aku sedang pusing, Bu. Proyek gagal, Vina sakit, keluarga Vina menyalahkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Dulu, kalimat itu cukup untuk membuat Maya panik. Ia akan menawarkan tabungan, menjual barang, datang membawa makanan, memijat kepala Dimas, lalu melupakan lukanya sendiri.
Hari ini, ia hanya menatap bubur di depannya.
“Kamu sudah dewasa. Urus istrimu. Urus masalahmu. Ibu sedang menjaga kandungan.”
Dimas seperti tidak percaya.
“Ibu berubah.”
Maya menatap Raka.
Pria itu tidak ikut bicara, tapi keberadaannya di seberang meja membuat suara Maya lebih stabil.
“Mungkin Ibu baru berhenti membiarkan kamu memperlakukan Ibu seenaknya.”
Dimas memutus panggilan.
Maya menurunkan ponsel.
Tangannya gemetar sedikit.
Raka menggeser gelas air ke arahnya.
“Bagus.”
“Rasanya tidak bagus.”
“Karena kamu belum terbiasa.”
Maya minum sedikit.
“Apakah saya jahat?”
“Tidak.”
“Saya ibunya.”
“Dan dia anakmu. Bukan pemilik hidupmu.”
Kalimat itu tinggal di dada Maya sampai siang.
Hari itu Raka bekerja dari apartemen. Ia berkata ada rapat daring, tapi Maya curiga ia hanya tidak ingin meninggalkannya setelah kejadian semalam. Ruang kerja Raka terbuka sedikit, dan dari sofa Maya bisa melihatnya duduk di depan layar, berbicara dengan direktur-direktur yang wajahnya tegang.
Raka di dunia kerja berbeda.
Lebih dingin. Lebih tajam. Ia tidak banyak bicara, tapi setiap kalimat membuat orang di layar langsung mencatat. Maya yang awalnya membaca buku panduan kehamilan tanpa sadar memperhatikannya terus.
Ketika rapat selesai, Raka keluar dan mendapati Maya masih menatap.
“Ada apa?”
“Tidak.”
“Kamu menatapku sepuluh menit.”
Maya panik. “Saya cuma… kagum.”
Kata itu keluar sebelum ia sempat menahan.
Raka berhenti.
Maya ingin menggigit lidah.
“Maksud saya, Mas Raka kalau kerja terlihat sangat…”
“Sangat apa?”
“Galak.”
Raka mendekat. “Itu bukan kagum.”
“Kagum karena semua orang takut.”
“Kamu takut?”
Maya menatapnya. Setelah beberapa detik, ia menggeleng.
“Tidak seperti dulu.”
Raka berdiri di depannya.
“Bagaimana sekarang?”
Maya meremas ujung buku.
“Sekarang kalau Mas Raka galak pada orang lain, saya merasa aman. Kalau Mas Raka galak pada saya, saya kesal.”
Raka menunduk sedikit. “Jadi aku tidak boleh galak padamu?”
“Boleh, kalau saya benar-benar salah.”
“Seperti lupa makan?”
“Itu bukan salah besar.”
“Untukku besar.”
Maya tertawa kecil. Raka menatap tawanya, dan suasana berubah pelan. Tawa itu berhenti di bibir Maya ketika ia sadar jarak mereka terlalu dekat.
Raka mengangkat tangan, menyentuh ujung jilbabnya yang sedikit miring.
“Berantakan.”
“Oh.”
Maya ingin merapikan sendiri, tapi Raka sudah melakukannya. Jemarinya menyentuh sisi wajah Maya. Ringan saja, namun cukup membuat tubuhnya diam.
“Mas Raka.”
“Hmm.”
“Kalau Mas terus seperti ini, saya benar-benar bisa salah paham.”
Raka menatap matanya.
“Mungkin aku sedang membuatmu paham.”
Napas Maya tertahan.
Ponsel Raka berbunyi, merusak keheningan.
Ia melihat layar, lalu wajahnya kembali serius.
“Mama datang.”
Maya langsung berdiri. “Ke sini?”
“Sudah di lift.”
“Mas Raka!”
“Aku sudah bilang jangan datang mendadak.”
“Tapi dia tetap datang!”
Maya panik melihat pakaiannya. Ia hanya memakai baju rumah longgar, tanpa riasan, rambut tertutup jilbab sederhana. Di meja masih ada buku kehamilan, gelas susu, dan piring buah.
Raka memegang bahunya.
“Maya.”
“Saya belum siap.”
“Tidak ada orang yang siap bertemu ibuku.”
Itu sama sekali tidak membantu.
Bel pintu berbunyi.
Wati keluar dengan wajah tegang. Bima muncul dari ruang kerja, sama tegangnya.
Raka menggenggam tangan Maya.
“Tetap di sampingku.”
Pintu dibuka.
Seorang perempuan tua masuk dengan langkah anggun. Rambutnya disanggul rapi, kebayanya sederhana tapi jelas mahal. Wajahnya tegas, matanya tajam seperti Raka.
Di belakangnya, seorang perempuan muda dengan wajah mirip Raka membawa tas.
Maya menahan napas.
Perempuan tua itu menatap Maya dari kepala sampai kaki.
Ruangan sunyi.
Lalu ia berkata, “Jadi kamu Maya.”
Maya menunduk sopan. “Iya, Bu.”
“Jangan menunduk. Aku ingin melihat wajah perempuan yang membuat anakku menikah tanpa memberi tahu ibunya.”
Raka langsung berkata, “Ma.”
Maya meremas tangan Raka, kali ini ia yang menahannya.
Ia mengangkat wajah.
“Saya Maya Lestari, Bu. Maaf karena pernikahan kami membuat Ibu terkejut.”
Ibu Raka menatapnya lama.
“Kamu takut padaku?”
Maya menjawab jujur, “Iya.”
Perempuan muda di belakangnya hampir tertawa.
Ibu Raka mengangkat alis.
“Bagus. Setidaknya kamu jujur.”
Maya tidak tahu apakah itu pujian atau awal perang.
Lalu mata ibu Raka turun ke perutnya.
Nada suaranya berubah sedikit.
“Sudah makan?”
Maya tertegun.
Raka memejamkan mata sebentar, seperti tidak percaya ibunya mengajukan pertanyaan yang sama persis dengannya.
Perempuan muda itu akhirnya tertawa.
“Nah, Kak. Terbukti. Galaknya turunan.”
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍