Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Satu Ranjang dan Celemek Merah Muda
"Itu kamar Edric."
Kalimat Eve jatuh polos di ruang tamu.
Oma Liana memegang cangkir teh, senyumnya tetap manis. "Oh. Kamar Edric."
Edric berdiri di dekat dapur dengan wajah datar, tetapi Eve mulai curiga karena telinganya memerah sedikit.
"Kami menikah mendadak," jelas Eve cepat. "Jadi masih beres-beres."
"Tentu." Oma menyesap teh pelan. "Menikah memang banyak yang harus dibereskan. Termasuk kebiasaan tidur sendiri."
Eve tersedak udara.
Edric batuk kecil. "Oma Liana, unit sebelah sudah siap. Saya antar pulang."
"Aduh, jangan." Oma langsung memegang pinggangnya. "Oma masih takut tidur sendiri di tempat baru. Tadi lift bunyinya aneh. Kamar tamu di sini kosong, kan?"
Edric menatapnya.
Oma menatap balik dengan senyum kemenangan.
Eve tidak tega. "Kosong, Oma. Oma tidur di kamar tamu saja. Edric bisa..."
Ia berhenti.
Kamar tamu adalah kamar Edric.
Edric menutup mata sebentar. Jerry pasti akan menertawakannya kalau tahu Direktur Utama Kho Group diusir dari kamar sendiri oleh oma kandung yang menyamar sebagai tetangga.
Malam itu, setelah Oma masuk kamar tamu dengan tas kecilnya, Eve berdiri di depan pintu kamar utama sambil memeluk bantal.
"Kamu tidur di ranjang. Aku bisa di sofa," kata Edric.
"Tidak. Kamu baru diusir dari kamar sendiri. Aku tidak sekejam itu."
"Saya sudah tidur di tempat lebih buruk daripada sofa."
"Aku tahu. Tapi sekarang kamu suamiku, bukan peserta pelatihan militer."
Edric diam. Kata suami dari mulut Eve masih selalu berhasil membuatnya kehilangan satu detik reaksi.
Akhirnya mereka sepakat satu ranjang. Eve menata lima bantal kecil di tengah kasur seperti benteng.
"Ini batas negara," katanya serius. "Wilayah kiri milikku, kanan milikmu."
Edric melihat deretan bantal merah muda, putih, dan satu bantal berbentuk stroberi. "Perbatasannya tampak rapuh."
"Jangan meremehkan stroberi."
Dari ruang tamu, suara Oma terdengar terlalu keras. "Oma mau makan malam kalau ada yang masak."
Eve langsung menoleh. "Aku masak saja."
"Tanganmu masih perban." Edric mengambil celemek dari gantungan dapur. "Saya yang masak."
Celemek itu milik Eve. Warnanya merah muda lembut dengan gambar kucing kecil di bagian dada. Masalahnya, celemek itu jelas dibuat untuk tubuh Eve, bukan dada dan bahu Edric.
Edric memakainya dengan wajah seperti menghadapi operasi rahasia.
Eve menggigit bibir agar tidak tertawa. "Kamu kelihatan..."
"Jangan selesaikan kalimat itu."
"Menggemaskan."
"Saya pernah memimpin tim evakuasi di daerah konflik."
"Dengan celemek ini, kamu akan memimpin tumis kangkung."
Oma di sofa pura-pura membaca majalah, tetapi bahunya bergerak kecil.
Tali celemek tidak cukup bertemu di punggung Edric. Eve berdiri di belakangnya. "Sini, aku bantu."
Tangannya melingkar di pinggang Edric untuk menarik dua tali pendek itu. Jarak mereka tiba-tiba terlalu dekat. Punggung Edric hangat di depan wajahnya. Aroma sabun dan kopi melekat di kausnya. Jari Eve menyentuh sisi pinggangnya tanpa sengaja.
Edric menahan napas.
Eve juga.
Tali itu akhirnya terikat asal, lebih mirip simpul darurat daripada pita.
"Sudah," gumam Eve.
"Terima kasih."
Mereka tidak saling melihat selama tiga menit penuh.
Makan malam ternyata enak. Edric membuat soto ayam bening, tumis kangkung, tahu goreng, dan sambal kecap yang tidak terlalu pedas karena Eve pernah bilang perutnya tidak tahan cabai malam-malam. Oma makan dengan mata puas.
"Eve," kata Oma setelah suapan ketiga, "kamu dapat suami bagus. Bisa masak, bisa menjaga, tidak banyak bicara."
Edric mengangkat alis. "Bagian terakhir itu pujian?"
"Tentu. Laki-laki yang terlalu banyak bicara sering lupa bekerja."
Eve tertawa. "Oma benar."
Edric menatap dua perempuan itu bersekutu di meja makan, lalu menyerah. Anehnya, ia tidak keberatan.
Malamnya, ranjang menjadi medan negosiasi sunyi. Eve berbaring di sisi kiri, Edric di sisi kanan. Deretan bantal berdiri di tengah. Lampu dimatikan.
"Kamu belum tidur?" tanya Eve.
"Belum."
"Kenapa?"
"Saya sedang menghormati perbatasan stroberi."
Eve tertawa pelan. "Tidur, Edric."
Ia tertidur lebih dulu. Lima belas menit kemudian, satu bantal jatuh. Sepuluh menit berikutnya, bantal stroberi ditendang ke lantai. Setengah jam kemudian, Eve bergeser mendekat dan menyandarkan dahi ke lengan Edric.
Edric kaku seperti patung.
Ia menghitung napas sampai seratus. Lalu dua ratus. Lalu menyerah, pelan-pelan keluar dari ranjang, dan pergi mandi air dingin.
Ketika kembali, Eve sudah menggulung seluruh selimut seperti kepompong, meninggalkan Edric hanya dengan sudut kain selebar sapu tangan.
"Luar biasa," bisiknya.
Pagi datang dengan lebih brutal.
Eve bermimpi dikejar Jess yang membawa map saham, lalu kakinya menendang keras.
Tendangan itu mengenai sasaran yang sangat salah.
Edric langsung meringkuk tanpa suara.
Eve terbangun karena kasur bergerak. "Edric? Kamu kenapa?"
Edric tidak menjawab. Wajahnya pucat, napasnya tertahan.
Eve melihat posisi tangannya, posisi lututnya, lalu memahami.
"Ya Tuhan." Ia menutup mulut. "Pembunuh suami sendiri!"
Edric terbatuk antara sakit dan tertawa. Eve panik mengambil bantal, lalu tidak tahu harus menaruhnya di mana. Akhirnya ia duduk di sampingnya dengan wajah merah sampai telinga.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja."
"Saya tahu," kata Edric lemah. "Kalau sengaja, saya akan menulis wasiat."
Eve menatapnya, lalu tawa mereka pecah bersamaan.
Tawa itu menghapus sisa canggung yang semalam masih berdiri di antara mereka. Saat tawa mereda, Eve baru sadar jarak wajah mereka sangat dekat. Edric berbaring miring, satu tangan masih di perut, tetapi matanya lembut.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Eve.
"Mungkin butuh beberapa menit untuk memaafkanmu."
"Aku bisa menunggu."
"Atau..." Edric perlahan mendekat.
Jantung Eve berhenti sebentar.
Tok tok tok.
"Sarapan sudah siap belum?" suara Oma dari balik pintu terdengar cerah.
Eve langsung menjauh. Edric menatap langit-langit seperti seseorang yang baru dikalahkan oleh takdir berusia tujuh puluh tahun.
Menjelang siang, Oma berkata anaknya sudah kembali dari luar kota. Eve mengantar sampai lift sambil membawa sekotak tahu goreng untuk bekal.
"Sering-sering main ya, Oma."
"Pasti." Oma menggenggam tangan Eve. "Kamu anak baik. Jaga Edric."
"Iya."
Pintu lift tertutup. Eve tidak melihat Oma turun ke basement, tidak melihat sopir berseragam membuka pintu Rolls-Royce Phantom, dan tidak melihat Oma Liana Kho masuk dengan sikap seorang ratu keluarga besar.
Yang Eve lihat hanya Jerry datang setengah jam kemudian dengan Bentley hitam dan sepasang sandal rumah merah muda bergambar kelinci.
Eve tertawa sampai memegang perut.
Jerry menatap Edric dengan putus asa. "Feli bilang ini nyaman."
"Memang nyaman?" tanya Eve.
Jerry menunduk pada kakinya. "Sayangnya, iya."
Saat mengantar Edric turun, Eve terlalu sibuk menahan tawa sampai tasnya tersangkut di pintu mobil. Kait logam di tas itu menggores pintu Bentley dengan suara panjang yang membuat darahnya hilang dari wajah.
Krrrrt.
Jerry membeku.
Eve juga.
"Aku..." Eve hampir menangis. "Aku minta maaf. Itu mobil kantor, kan? Itu mahal sekali, kan? Mobil seperti ini pasti ratusan juta. Atau lebih? Aku harus bayar berapa?"
Edric melihat goresan di pintu mobilnya sendiri, lalu melihat wajah Eve yang pucat.
"Tidak apa-apa," katanya tenang. "Bukan mobil mahal."
Jerry seperti tersedak udara.
Eve menatapnya ragu. "Benar?"
"Benar."
Setelah Eve naik kembali ke apartemen, Jerry masuk ke kursi pengemudi dengan wajah kaku.
"Bos," katanya, "itu Bentley edisi terbatas."
"Perbaiki."
"Dari rekening perusahaan?"
"Dari kartu saya. Jangan beri tahu dia itu mobil saya."
Jerry menghela napas. "Bos, ini sudah ketiga kali Anda membayar sesuatu atas nama Nyonya."
Edric menatap jendela apartemen di atas. Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Anggap saja biaya rumah tangga."