Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto bayi kecil
Langit telah benar-benar gelap ketika mobil jenazah berhenti di depan rumah. Lampu teras yang redup menjadi satu-satunya cahaya yang menyambut kepulangan mereka.
Namun...
Kali ini Ibu tidak turun sambil membawa tas belanja. Tidak pula tersenyum sembari bertanya apakah Haseena sudah makan. Untuk pertama kalinya Ibu pulang dalam balutan kain kafan.
Rumah yang selama ini menjadi tempat paling hangat kini terasa begitu asing.
Tangis para tetangga memenuhi halaman.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar lirih dari ruang tamu.
Semua orang sibuk membantu. Semua orang sibuk menghibur. Namun tidak satu pun mampu mengisi ruang kosong yang baru saja ditinggalkan Ibu.
Malam semakin larut. Para pelayat mulai berangsur pulang. bagi Haseena dia benar-benar sendiri di tengah orang-orang itu.
Rumah kembali sepi.
Abah masih duduk di ruang tamu, menatap lantai tanpa suara. Sorot matanya kosong, seolah separuh jiwanya ikut pergi bersama perempuan yang telah menemaninya puluhan tahun.
Sementara itu...
Haseena berdiri cukup lama di depan pintu kamar orang tuanya.
Tangannya menggantung di gagang pintu.
Ia belum siap masuk.
Namun ada satu pesan Ibu yang terus terngiang di kepalanya.
"Kalau suatu hari Ibu nggak ada..."
"Di laci meja rias ada tabungan darurat. Pakai kalau benar-benar butuh."
Dulu Haseena selalu memotong ucapan itu.
"Ibu jangan ngomong begitu."
Ia tak pernah menyangka... Hari itu datang secepat ini. Perlahan, ia membuka pintu.
Cklek...
Aroma melati yang biasanya memenuhi ruangan telah bercampur dengan bau kayu tua dan debu yang lama tak terusik.
Kasur masih rapi.
Mukena putih Ibu masih tergantung di tempat semula, Kacamata baca masih terlipat di atas meja.
Semuanya masih ada.
Kecuali pemiliknya.
Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Haseena.
Ia memejamkan mata sejenak sebelum melangkah menuju meja rias. Tangannya gemetar ketika menarik laci paling bawah.
Ckiiit...
Suara gesekan kayu terdengar memecah keheningan. Laci itu terbuka perlahan.
Kosong.
Haseena terdiam.
"Mungkin..."
"...salah laci."
Ia membuka laci kedua.
Kosong.
Laci ketiga.
Kosong.
Napasnya mulai memburu.
Tidak...
Tidak mungkin.
Ia kembali membuka laci paling bawah. Tangannya meraba setiap sudut. Kotak beludru biru tempat Ibu menyimpan perhiasan...
Tidak ada.
Amplop cokelat berisi tabungan keluarga...
Juga lenyap.
Tubuh Haseena mendadak lemas. Jantungnya berdegup semakin cepat.
"Abah...?"
Ia berbalik hendak memanggil.
Namun langkahnya terhenti.
Pintu lemari pakaian Zafran terbuka, Beberapa potong pakaian berserakan di lantai. Tas gunung kesayangan Abang... Juga sudah tidak berada di tempatnya.
Haseena membeku.
"Bang...?"
Suara itu hanya bergema pelan di dalam kamar.
Tak ada jawaban.
Pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan yang selama ini tidak ia sadari.
Sejak siang... Abang tidak terlihat lagi. Saat dokter menyampaikan kabar duka... Abang juga tidak ada. Dan sekarang... Perhiasan, tabungan dan tas gunung. Semuanya menghilang.
Air mata yang sejak tadi mengalir perlahan berhenti.
Bukan karena ia sudah kuat.
Melainkan karena rasa kehilangan itu kini berubah menjadi kebingungan.
"Kenapa...?"
"Kenapa semua pergi...?"
Kalimat itu nyaris tak terdengar.
Haseena melangkah keluar kamar.
Koridor rumah tampak lebih gelap dari biasanya.
Hanya cahaya temaram dari ruang tamu yang memantul di lantai keramik.
Saat itulah...
Ia mendengar sesuatu.
Tok.
Tok.
Tok.
Langkah kaki.
Pelan.
Seolah seseorang sedang berjalan tanpa terburu-buru.
Haseena menoleh.
"Bah...?"
Tak ada jawaban.
Suara itu kembali terdengar.
Tok...
Tok...
Tok...
Berasal dari ujung koridor.
Bulu kuduknya perlahan berdiri.
Ia memaksakan diri melangkah mendekat.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Di ujung lorong...
Sebuah siluet berdiri membelakanginya.
Tubuhnya tinggi.
Diam.
Tak bergerak sedikit pun.
"Siapa...?"
Suara Haseena bergetar.
Sosok itu perlahan mengangkat kepala.
Lalu...
Berbalik.
Gerakannya lambat.
Sangat lambat.
Namun sebelum wajahnya benar-benar terlihat—
Lampu ruang tamu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Brak!
Lampu padam sesaat.
Saat cahaya kembali menyala...
Koridor itu kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Napas Haseena tercekat.
"Astaghfirullah..."
Bisiknya lirih.
Ia memberanikan diri berjalan hingga ke tempat sosok itu tadi berdiri.
Kosong.
Namun tepat di lantai...
Ada sebuah benda kecil yang memantulkan cahaya lampu.
Haseena berjongkok.
Tangannya mengambil benda itu perlahan.
Sebuah gantungan kunci berbentuk kubus kayu.
Di salah satu sisinya terukir tulisan yang mulai pudar.
> "Harapan terakhir."
Haseena mengernyit.
Ia belum pernah melihat benda itu sebelumnya.
Tetapi entah mengapa...
Saat jemarinya menyentuh kubus kecil tersebut...
Dadanya mendadak terasa hangat.
Dan untuk sepersekian detik...
Ia seperti mendengar suara seseorang berbisik sangat pelan di dekat telinganya.
"Jangan biarkan kubus itu kehilangan semua rusuknya..."
Haseena menoleh cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya rumah yang kembali tenggelam dalam sunyi.
Ia menggenggam kubus kecil itu erat-erat.
Tanpa pernah menyadari...
Bahwa malam itu...
Sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai.