Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di permukaan tenang
Pagi hari berikutnya membawa atmosfer yang sedikit berbeda di mansion. Ketika aku menuruni tangga menuju ruang makan pada pukul 06.55, Axel tidak ada di meja makan panjang itu. Hanya ada Pak Bara yang menungguku dengan nampan berisi sarapan sederhana dan secangkir teh hangat.
"Tuan Muda Axel sudah berangkat ke area operasional sejak subuh, Nona Aira," ucap Pak Bara seolah bisa membaca kebingungan dari sorot mataku. "Beliau meminta saya memastikan Anda berangkat ke kampus tepat waktu hari ini."
"Ah... begitu. Terima kasih, Pak Bara," jawabku, mendadak ada perasaan lega sekaligus sedikit janggal yang menyusup di dada. Meja makan ini terasa terlalu luas dan sepi tanpa kehadiran sosoknya yang dominan.
Aktivitas di kampus berjalan seperti biasa, namun aku benar-benar membatasi diri. Sesuai peringatan Axel, aku menjaga jarak interaksi dengan mahasiswa lain, termasuk Devan. Saat kelas fotografi selesai, Devan sempat melambaikan tangan mengajakku ke kantin, namun aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan langkah kaki yang dipercepat menuju gerbang depan. Aku tidak ingin kecerobohanku berakibat buruk pada orang lain.
Pukul tiga sore tepat, sedan hitam milik Axel sudah menungguku di tempat biasa.
Perjalanan pulang dipenuhi oleh keheningan, hingga mobil akhirnya melewati gerbang besi tinggi mansion dan berhenti di teras utama.
Saat aku melangkah masuk ke dalam aula, aku melihat Axel baru saja berjalan turun dari lantai dua.
Dia mengenakan kemeja kasual berwarna navy dengan lengan yang digulung, penampilannya terlihat sedikit lebih santai namun tetap memancarkan aura otoritas yang mutlak. Rambutnya agak acak-acakan, seolah dia baru saja menyelesaikan urusan yang menguras energi.
Langkah kaki kami terhenti di tengah aula marmer. Jantungku refleks berdegup lebih kencang saat mata hitamnya langsung mengunci pandanganku.
"Kau pulang tepat waktu," ucapnya, suaranya yang berat memecah kesunyian aula.
"Iya, Tuan Axel. Saya langsung kembali begitu kelas selesai," jawabku lirih, berdiri kaku dengan tangan meremas tali tas kuliahku.
Axel berjalan mendekat, berhenti sekitar dua langkah di depanku. Pandangannya turun, menatap pergelangan tangan kananku yang tertutup lengan kemeja biru. "Bawa bukumu ke ruang tengah setelah ini. Tunjukkan padaku apa saja yang kau pelajari di kampus hari ini."
Aku tertegun. "Tuan... ingin melihat tugas kuliah ku?"
"Aku penyokong dana terbesar di sana. Aku berhak tahu apakah investasiku berjalan dengan baik pada aset yang kudanai," jawabnya datar, memberikan pembenaran yang sangat logis namun terasa personal.
"Sepuluh menit. Jangan terlambat."
Dia memutar tubuhnya dan melangkah menuju ruang tengah yang dihiasi sofa beludru besar dan perapian.
Aku memandangi punggungnya selama beberapa detik sebelum bergegas menaiki tangga untuk mengambil diktat kuliahku. Hubungan di antara kami perlahan menunjukkan sesuatu yang baru di atas permukaan yang tadinya begitu tegang dan dingin.
Aku berdiri di dalam kamar selama beberapa saat, mencoba menetralkan detak jantungku yang kembali menggila.
"kenapa dia tiba-tiba ingin memeriksa tugas kuliahku? Apakah ini bagian dari taktik psikologis baru untuk mengawasiku, ataukah ada maksud lain di balik permintaannya?"gumamku pelan.
Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang terlalu jauh. Aku harus fokus pada aturan utama patuh dan jangan membuat kesalahan.
Aku mengambil beberapa buku diktat materi jurnalistik, teori komunikasi, dan sebuah folder berisi salinan cetak tugas fotografiku yang belum sempat kukumpulkan karena kejadian di dermaga malam itu. Dengan mendekap buku-buku itu erat di dada, aku melangkah keluar kamar dan berjalan menuju ruang tengah di lantai satu.
Ruang tengah mansion Reynard adalah perpaduan antara kemewahan klasik dan atmosfer yang dingin. Dindingnya dilapisi panel kayu jati gelap, dengan sebuah perapian marmer besar yang saat ini menyala redup, memberikan sedikit kehangatan di tengah udara sore yang mulai mendingin.
Axel sudah duduk di sana, bersandar di salah satu sofa beludru abu-abu gelap yang besar. Sebuah laptop tipis terbuka di atas meja kaca di depannya, namun pandangannya langsung beralih padaku begitu aku melangkah masuk.
"Duduk di sana," Axel menunjuk sofa tunggal yang berada di sisi kanan meja kaca, menjaga jarak aman yang tidak melanggar aturan mutlak kami.
Aku berjalan perlahan dan duduk di ujung sofa, meletakkan buku-buku tebal itu di atas meja dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi dentuman yang bisa mengganggunya. Aku melirik sekilas ke arahnya. Kemeja navy yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian bahu, menegaskan bahwa harinya sejak subuh tadi pastilah sangat padat.
"Apa yang kau bawa?" tanyanya, suaranya rendah dan bergema samar di ruangan yang sunyi itu.
"Ini... materi teori komunikasi massa dan beberapa tugas analisis media, Tuan Axel," jawabku lirih, mendorong salah satu buku diktat ke arahnya. "Dan yang ini adalah folder proyek akhir fotografi saya... sebelum dihentikan." Aku menurunkan nada suaraku di akhir kalimat, menyadari bahwa proyek foto itulah yang membawaku ke dalam sangkar emas ini.
Axel tidak merespons ucapanku tentang proyek foto itu. Dia mengulurkan tangannya yang besar, mengambil buku diktat teori komunikasi dan mulai membalik halamannya satu per satu dengan gerakan lambat. Bunyi gesekan kertas di keheningan ruangan itu entah mengapa terasa begitu mengintimidasi.
Aku hanya bisa duduk kaku, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan, menanti penilaian dari sang pemilik mansion.
"Analisis media," ucap Axel tiba-tiba, matanya masih tertuju pada halaman buku. "Duniaku sangat bergantung pada bagaimana informasi dikelola di permukaan. Satu narasi yang salah di media massa bisa mengacaukan perputaran logistik di dermaga dalam hitungan jam. Kau memahami konsep itu?,"
Aku tertegun sejenak, tidak menyangka dia akan mengaitkan materi kuliahku dengan dunia operasionalnya. Aku menelan ludah sebelum menjawab,
"I_iya, Tuan. Teori agenda setting menyatakan bahwa media tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi juga apa yang harus kita anggap penting. Jika pihak otoritas atau sindikat tertentu bisa mengendalikan narasi itu, mereka bisa mengalihkan perhatian publik dari aktivitas yang sebenarnya terjadi."
Mendengar jawabanku, Axel perlahan menurunkan buku itu ke atas meja. Dia bersandar, melipat tangan di depan dada, dan menatapku dengan sepasang mata hitamnya yang pekat. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat kilatan kejam atau dingin yang mematikan di matanya, melainkan sebuah pandangan penuh ketertarikan intelektual.
"Cerdas," ucapnya pendek, sebuah pujian langka yang keluar dari bibirnya yang biasanya hanya mengeluarkan ancaman.
"Kau tidak hanya menghafal teks, kau memahami fungsinya secara nyata. Pihak panti asuhan mendidikmu dengan cukup baik untuk tidak menjadi wanita yang kosong."
Nama panti asuhan yang disebutnya kembali memicu rasa haru sekaligus waspada di dadaku. "Ibu pengasuh selalu menekankan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi anak-anak seperti kami untuk bisa berdiri tegak di distrik ini, Tuan."
Axel menyipitkan matanya samar saat aku menyebut kata anak-anak seperti kami. Rahangnya mengetat sesaat, seolah kata-kata itu memicu kembali ingatan tentang rahasia masa lalu keluarga Pramesti yang masih dia sembunyikan.
Dia mengalihkan pandangannya dari wajahku, lalu meraih folder beludru berisi tugas fotografiku yang sejak tadi tergeletak diam.
Dia membuka folder itu. Di dalamnya ada beberapa cetakan foto hitam-putih yang sempat kuambil di sudut-sudut kota sebelum malam petaka itu terjadi. Foto seorang pedagang tua yang sedang tersenyum di balik kepulan asap warungnya, anak-anak kecil yang berlarian di jalanan berdebu, dan siluet dermaga lama di waktu senja.
Axel memandangi foto senja di dermaga itu cukup lama. Jari telunjuknya yang panjang bergerak mengusap permukaan foto cetak itu perlahan.
"Kau memiliki mata yang bagus untuk menangkap detail," kata Axel, suaranya merendah, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri. "Tapi kau terlalu fokus pada keindahan permukaan. Kau tidak melihat apa yang tersembunyi di balik bayangan."
"Fotografi bagi saya adalah tentang menangkap kejujuran, Tuan Axel," sahutku, mencoba mengumpulkan sedikit keberanian untuk berdiskusi. "Di balik bayangan yang gelap sekalipun, pasti ada sisi lain yang ingin disampaikan."
Axel terkekeh pelan, sebuah tawa bariton yang dingin namun tidak berniat menyakiti. Dia menutup folder itu dengan bunyi klik yang tegas, lalu mendorongnya kembali ke hadapanku.
"Kejujuran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli di distrik ini, Aira. Dan di duniaku, bayangan adalah tempat terbaik untuk bertahan hidup. Jika kau terlalu lama mencari cahaya di tempat yang salah, kau hanya akan terbakar."
Dia bangkit berdiri dari sofanya, membuatku refleks ikut menegakkan punggung karena tegang. Kehadiran fisiknya yang tinggi tegap langsung mendominasi ruang tengah yang temaram itu. Axel melirik jam dinding marmer yang menunjukkan pukul lima sore.
"Selesai untuk hari ini. Bawa kembali bukumu ke atas," perintahnya kembali ke nada suaranya yang datar dan penuh otoritas.
"Dan bersiaplah. Nanti malam ada perwakilan legal dari yayasan yang akan datang untuk memastikan dokumen komitmenmu diproses ke tingkat administrasi distrik. Aku tidak ingin melihatmu tampak kuyu di depan mereka."
"Baik, Tuan Axel," jawabku patuh. Aku segera merapikan buku-buku tebal dan folder fotoku ke dalam pelukan saat aku berdiri dan hendak melangkah menuju tangga, Axel kembali bersuara dari belakangku.
"Aira."
Langkahku terhenti. Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan raut tanya.
"Iya, Tuan?"
Axel berdiri di dekat perapian, pantulan cahaya api membuat bayangan tubuhnya memanjang di lantai kayu. "Tanganmu... pastikan tetap memakai salep itu sebelum tidur. Aku tidak suka melihat aset milikku memiliki cacat saat proses administrasi nanti."
Aku menatap pergelangan tanganku sejenak, lalu kembali menatap mata hitamnya yang kini kembali kosong tanpa riak emosi. "Saya mengerti, Tuan. Terima kasih."
Aku melanjutkan langkahku menaiki tangga melingkar menuju lantai dua dengan perasaan yang semakin campur aduk. Pertemuan singkat di ruang tengah tadi terasa sangat aneh. Axel Reynard bisa menjadi sosok monster yang menyiksaku dengan air dingin di malam hari, namun di sore hari, dia bisa menjadi pria yang mendengarkan analisis kuliahku dan memperhatikan kesembuhan tanganku dengan caranya yang kaku dan mengancam.
Batas di antara kami antara rasa benci, rasa takut, dan rasa ingin tahu terasa semakin tipis dan mengabur di setiap detiknya. Aku masuk ke dalam kamar, menyandarkan tubuhku di balik pintu yang tertutup rapat, mencoba mempersiapkan diriku untuk menghadapi malam-malam selanjutnya di dalam sangkar emas sang naga.
kalo berkenan mmpir juga thor😉