Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Dylan melangkah perlahan menghampiri Viona.
Melihat pria itu semakin dekat, Viona justru mundur beberapa langkah hingga punggungnya hampir menyentuh meja dapur.
“Kau demam?” tanya Dylan sambil menatap wajah pucatnya. “Wajahmu sangat pucat.”
Viona buru-buru menggeleng.
“Tidak, Tuan Muda. Saya hanya kurang tidur.”
“Hanya karena kurang tidur?”
“Iya.”
Viona tetap menundukkan kepala, tidak berani menatapnya.
Namun di benak Dylan kembali terngiang ucapan Bibi Ma.
"Viona sering diancam oleh Tuan Besar dan Nyonya agar tidak memberi tahu bahwa dialah yang mendonorkan ginjalnya untuk Anda."
Tatapan Dylan semakin dalam.
“Tuan Muda...” ucap Viona pelan. “Kalau tidak ada yang diperintahkan, saya ingin kembali ke kamar.”
Tanpa menunggu jawaban, ia segera meletakkan gelas di atas meja dan berbalik.
Namun baru beberapa langkah...
Pergelangan tangannya ditahan.
Belum sempat Viona bereaksi, tubuhnya sudah terangkat ke udara.
“A-ah... Tuan Muda!”
Ia terkejut ketika Dylan menggendongnya.
“Jangan banyak bergerak,” ucap Dylan datar. “Kau pelayan pribadiku sekarang. Aku tidak ingin pelayanku sakit-sakitan.Beritahu di mana kamarmu.”
“Di... di belakang,” jawab Viona gugup.
Dylan langsung berjalan menuju gudang kecil di belakang rumah.
Saat pintu dibuka, ia langsung mengernyit.
Ruangan itu sempit dan lembap.
Di sudut ruangan bertumpuk kardus-kardus penyimpanan, sebuah lemari tua yang hampir rusak, dan di lantai hanya ada kardus dan selimut tipis.
Dylan menatap sekeliling dengan wajah dingin.
“Selama ini kau tinggal di sini?”
“Iya, Tuan Muda,” jawab Viona lirih. “Tolong... turunkan saya.”
Dylan tidak menjawab.
Ia hanya menatap gudang itu beberapa saat.
“Benar-benar tidak punya perasaan...” gumamnya pelan.
“Ha?” Viona menatapnya bingung.
Namun Dylan tidak menjelaskan apa pun.
Ia langsung berbalik dan kembali menggendong Viona keluar dari gudang.
“T-Tuan Muda, Anda mau membawa saya ke mana?” tanya Viona panik.
“Diam dan jangan banyak bertanya.”
Beberapa menit kemudian.
Dylan membuka pintu kamarnya.
Ia berjalan masuk, lalu dengan hati-hati menurunkan Viona di atas ranjang besar miliknya.
Viona langsung terkejut.
Ia buru-buru berdiri.
“Tuan Muda! Kenapa membawa saya ke sini?”
“Malam ini kau tidur di sini,” jawab Dylan singkat. “Ini perintah..Aku tidak ingin pelayanku tidur di gudang sempit."
“Tapi... ini kamar Anda,” ucap Viona gugup. “Tidak pantas saya tidur di sini.”
Dylan melangkah mendekatinya.
Viona tanpa sadar mundur hingga terduduk kembali di atas ranjang.
Dylan berhenti tepat di depannya.
“Perlu kuulang? Aku tidak suka dibantah. Mulai sekarang kau pelayan pribadiku. Artinya, makanmu, tempat tinggalmu, dan kesehatanmu menjadi urusanku. Kalau kau masih membantah...” tatapannya menajam, “aku sendiri yang akan menghukummu.”
Viona hanya bisa menatap pria itu tanpa berkedip.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Dylan lalu menunjuk ranjang.
“Sekarang tidur.”
Viona masih ragu.
Melihat gadis itu tidak bergerak, Dylan menyilangkan tangan di dada.
"Kalau kau masih melawan, maka aku sendiri akan menelanjangi tubuhmu."
Ucapan itu membuat Viona langsung panik.
Ia buru-buru naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, lalu memejamkan mata, seolah benar-benar sudah tidur.
Melihat tingkahnya, sudut bibir Dylan terangkat membentuk senyum tipis.
“Dasar penakut,” gumamnya pelan.
Keesokan paginya.
Sinar matahari menembus tirai kamar Dylan.
Viona perlahan membuka matanya.
Sesaat ia tampak bingung melihat langit-langit kamar yang asing, hingga akhirnya teringat kejadian semalam.
Ia langsung bangkit.
“Ah!”
Bekas operasi di pinggangnya masih terasa nyeri, tetapi ia tetap memaksakan diri merapikan selimut dan bantal agar kamar kembali terlihat rapi.
Dari arah kamar mandi terdengar suara air mengalir.
“Tuan Muda sedang mandi,” gumam Viona pelan. “Lebih baik aku cepat keluar sebelum beliau selesai.”
Baru beberapa langkah menuju pintu—
“Kakak, sarapan sudah siap!”
Suara Sanny terdengar dari luar kamar.
Langkah Viona langsung terhenti. Wajahnya seketika memucat.
Tak lama kemudian terdengar suara Moly.
“Bibi Ma, di mana Viona? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?”
“Maaf, Nyonya,” jawab Bibi Ma dari luar. “Sejak pagi saya juga belum melihatnya.”
Jantung Viona langsung berdegup kencang.
“Gawat...” batinnya. “Kalau mereka tahu aku berada di kamar Tuan Muda, Tuan Besar pasti mengusir Vivi dari rumah sakit.”
Ia panik mencari tempat bersembunyi.
Saat itulah
Klik.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Dylan keluar dengan rambut yang masih basah, hanya mengenakan jubah mandi.
Melihat wajah panik Viona, ia langsung memahami situasinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dylan meraih pergelangan tangan Viona.
“A-ah... Tuan Muda!”
Sebelum Viona sempat bereaksi, Dylan sudah menariknya masuk ke dalam kamar mandi.
Pintu kembali ditutup.
Di luar, terdengar suara gagang pintu diputar.
“Kakak, aku masuk ya. Sarapan sudah siap!” seru Sanny sambil membuka pintu kamar.
Sanny masuk dan melihat kamar itu kosong.
Hanya ranjang yang sudah rapi dan aroma sabun yang masih memenuhi ruangan.
Ia mengerutkan kening.
“Aneh... tadi aku seperti mendengar suara orang.”
Sanny melirik ke sekeliling kamar.
Sementara itu, di dalam kamar mandi.
Viona berdiri membeku.
Dylan memeluknya dengan erat hingga ia bahkan bisa merasakan embusan napas pria itu.