NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Cemburu yang Tidak Diakui

Moon Cafe malam itu tidak seperti biasanya.

Lampu gantung hangat berwarna keemasan memantul di dinding kaca, menciptakan suasana tenang yang sering dipilih orang untuk berbicara, bekerja ringan, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa gangguan.

Di salah satu sudut dekat jendela besar, Diara duduk dengan tenang.

Ia tidak datang untuk bersantai.

Ia datang untuk pekerjaan.

Di hadapannya terbuka tablet desain, beberapa sketsa interior, dan catatan proyek klien yang harus ia revisi. Wajahnya fokus, rambutnya tertata rapi dengan jilbab syar’i berwarna lembut yang menambah kesan profesional dan tenang.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung sendirian.

Ada seseorang yang sudah lebih dulu duduk di seberangnya.

Arshaka Aradhana.

Shaka.

Kakak kelas Diara semasa kuliah.

Pria dengan senyum yang selalu terlalu percaya diri, tapi tidak pernah melewati batas. Ia dikenal sebagai orang yang ambisius, komunikatif, dan mudah bergaul.

Dan sekarang, ia duduk sebagai klien Diara.

“Jadi konsep ini menurutku sudah mulai kelihatan hidup,” kata Shaka sambil menunjuk layar tablet Diara.

Diara mengangguk kecil.

“Masih perlu penyesuaian lighting dan flow ruang,” jawabnya tenang.

Shaka tersenyum.

“Kamu masih sama ya, Diara. Detailnya nggak pernah santai.”

Diara hanya membalas dengan senyum tipis.

“Kalau desain nggak detail, hasilnya berantakan.”

Shaka tertawa kecil.

“Logis.”

Percakapan mereka mengalir ringan.

Namun ada jarak profesional yang tetap dijaga

Diara dengan sangat jelas.

Bagi Diara, ini hanya klien.

Tidak lebih.

Tanpa mereka sadari, dari sisi luar kaca café, sebuah mobil hitam perlahan berhenti.

Jifan Artha Syahrezan baru saja keluar dari gedung meeting terdekat.

Ia tidak berniat mampir ke Moon Cafe.

Ia hanya kebetulan lewat.

Namun pandangannya berhenti saat melihat ke dalam.

Dan di situlah ia melihatnya.

Diara.

Duduk bersama seorang pria.

Tertawa kecil.

Berbicara dengan ekspresi yang… lebih hidup dibanding saat bersamanya di rumah.

Jifan berhenti berjalan.

Untuk beberapa detik.

Tidak bergerak.

Matanya tetap di arah yang sama.

Pria di sebelah Diara itu terlihat santai, terlalu dekat secara jarak meja, dan terlalu nyaman dalam percakapan mereka.

Arshaka Aradhana.

Informasi itu muncul cepat di kepala Jifan.

Ia mengenali nama itu dari laporan klien yang pernah ia lihat sekilas di perusahaan.

Seorang arsitek muda dan investor properti.

Klien yang bekerja sama dengan beberapa proyek Syahrezan Group.

Dan sekarang duduk bersama istrinya.

Jifan tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Tidak masuk.

Ia hanya berdiri di luar kaca café, seperti seseorang yang kebetulan melihat sesuatu yang tidak seharusnya menarik perhatian.

Tapi justru perhatian itu sudah tertangkap.

Dan tidak bisa dilepaskan.

Di dalam café, Shaka sedang menunjukkan sesuatu di tablet miliknya.

“Kalau kita pakai konsep ini, aku yakin space ini bakal jadi signature project kamu,” ucapnya.

Diara mengangguk pelan.

“Bisa dicoba, tapi aku perlu revisi di sisi struktur ruangnya.”

Shaka tersenyum.

“Kamu memang perfeksionis.”

Diara tidak menjawab, hanya kembali fokus ke desain.

Namun di tengah percakapan itu, ia merasakan sesuatu.

Bukan suara.

Bukan gangguan langsung.

Tapi seperti… tekanan halus di udara.

Ia menoleh sedikit ke arah jendela.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Jifan.

Berdiri di luar café.

Tidak masuk.

Tidak bergerak.

Hanya melihat.

Tatapan mereka bertemu.

Singkat.

Sangat singkat.

Namun cukup untuk membuat udara di antara dua dunia itu terasa berbeda.

Diara sedikit terdiam.

“Jifan?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Shaka menoleh.

“Kenal?”

Diara ragu sepersekian detik.

“Suami saya,” jawabnya singkat.

Shaka langsung mengerutkan sedikit alis.

“Oh…”

Suasana berubah tipis.

Namun tidak ada yang benar-benar panik.

Diara justru berdiri pelan.

“Maaf, aku harus keluar sebentar.”

Shaka mengangguk.

“Silakan.”

Diara keluar dari café.

Angin malam menyentuh wajahnya saat ia melangkah keluar.

Jifan masih di sana.

Berdiri di dekat mobilnya.

Tangannya masuk ke saku celana, ekspresinya tetap seperti biasa—dingin, stabil, tidak terbaca.

Namun Diara tahu.

Ada sesuatu yang berbeda.

“Ada apa?” tanya Diara pelan saat mendekat.

Jifan menatapnya.

Lama.

Tapi tidak terlalu lama.

“Meeting selesai,” jawabnya singkat.

Diara mengerutkan sedikit alis.

“Dan kamu berhenti di sini?”

Jifan diam sepersekian detik.

“Tidak sengaja lewat.”

Kalimat itu terlalu rapi.

Terlalu cepat disusun.

Diara tidak langsung percaya, tapi juga tidak ingin memperpanjang.

Namun sebelum ia masuk kembali ke café, Jifan berbicara lagi.

“Dengan siapa kamu di dalam?”

Diara berhenti.

Menoleh.

“Klien,” jawabnya.

“Laki-laki,” kata Jifan, datar.

Bukan pertanyaan.

Lebih seperti observasi.

Diara menatapnya.

“Ya. Klien.”

Hening.

Angin malam bergerak di antara mereka.

Tidak ada suara lain.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Namun sesuatu di mata Jifan tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Diara akhirnya kembali masuk ke café.

Shaka masih menunggu.

“Suamimu?” tanya Shaka pelan.

Diara mengangguk.

“Iya.”

Shaka tersenyum tipis.

“Kelihatan dingin.”

Diara tidak langsung menjawab.

“…dia memang begitu.”

Namun saat ia kembali duduk, pikirannya tidak sepenuhnya di desain lagi.

Ada sesuatu di luar sana yang masih berdiri.

Sementara itu, Jifan masuk ke mobilnya.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Arkan yang duduk di kursi depan menoleh sekilas.

“Pulang, Pak?”

Jifan tidak langsung menjawab.

Matanya masih mengarah ke café.

Beberapa detik.

Lalu ia berkata singkat.

“Ya.”

Mobil mulai bergerak.

Namun pikirannya tidak ikut bergerak dengan jalan.

Di dalam kepalanya, gambar itu terus muncul ulang.

Diara.

Duduk bersama pria lain.

Tertawa kecil.

Berbicara dengan ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di rumah.

Dan itu mengganggu.

Bukan karena ia tidak percaya.

Bukan karena ia takut.

Tapi karena sesuatu yang jauh lebih sederhana dan tidak ia sukai untuk diakui:

Diara terlihat hidup… tanpa dirinya.

Arkan memperhatikan dari kaca spion.

“Ada masalah, Pak?”

Jifan menjawab tanpa menoleh.

“Tidak.”

Namun jarinya sedikit mengetuk pelan sandaran tangan.

Sesuatu yang sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tapi cukup untuk menunjukkan satu hal:

ia tidak setenang yang ia tunjukkan.

🪻🪻🪻🪻

Di rumah malam itu, Diara pulang lebih larut.

Jifan sudah lebih dulu ada di dalam.

Seperti biasa.

Diara melewati ruang tamu.

“Assalamualaikum,” ucapnya pelan.

“Waalaikumsalam,” jawab Jifan.

Singkat.

Namun kali ini, Diara merasa ada sesuatu yang berbeda di udara.

Ia berhenti sedikit sebelum naik tangga.

“Di cafe tadi… itu klien,” katanya pelan.

Jifan menatapnya.

“Sudah saya tahu.”

Hening.

Diara mengangguk kecil.

Lalu pergi.

Namun di lantai atas, Jifan tidak langsung kembali ke ruang kerjanya.

Ia berdiri di balkon.

Malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ia mengakui sesuatu dalam pikirannya sendiri tanpa suara:

yang ia lihat tadi…

mengganggunya lebih dari yang seharusnya.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!