Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjelang Lima Hari Festival
Hari sudah mulai petang, namun ketiga wanita itu masih belum juga pulang. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan tambahan yang benar-benar menguras tenaga dan waktu.
Alena sudah berkali-kali mondar-mandir mengendarai motornya antara rumah makan dan rumah pelanggan. Rambutnya mulai berantakan diterpa angin sore, telapak kakinya terasa pegal karena sejak pagi hampir tidak sempat duduk.
Bahkan beberapa kali tangannya sampai gemetar kecil saat membawa pesanan.
Namun semua rasa lelah itu seperti tidak berarti saat mengingat wajah Kai yang begitu antusias membuat layang-layangnya.
“Anakku harus ikut festival itu…” gumam Alena lirih sambil kembali menyalakan motornya.
Sementara di sisi lain, Senna juga tidak kalah kewalahan.
Sejak sore tadi wanita itu sudah membersihkan empat toilet umum sekaligus, mulai dari mengepel lantai, menguras bak air, sampai membersihkan wastafel yang kotor.
Padahal pekerjaan seperti itu benar-benar bukan hal yang biasa ia lakukan.
Beberapa kali Senna sampai mengeluh sambil memegangi pinggangnya sendiri.
“Ya Tuhan… pinggangku mau copot,” gerutunya.
Namun sedetik kemudian bayangan wajah Kai kembali muncul di kepalanya.
Tentang bagaimana anak itu menggambar dirinya di layang-layang dengan senyum penuh bangga.
Dan entah kenapa… rasa lelahnya perlahan menghilang begitu saja.
“Pokoknya anakku harus ikut festival itu,” ucapnya lagi penuh tekad sambil kembali mengambil alat pel.
Masih di tempat yang sama hanya berbeda ruang saja, Anne juga terus bolak-balik mengantar pesanan pelanggan yang tidak ada habisnya.
Langkahnya nyaris tidak berhenti sejak tadi. Belum selesai mengantar satu meja, pesanan lain kembali datang. Dalam situasi seperti itu, tenaganya dituntut untuk terus cepat agar tidak mendapat komplain dari pelanggan.
Keringat mulai membasahi pelipisnya, bahkan napasnya beberapa kali terdengar berat.
Namun wanita itu tetap tersenyum ramah pada setiap pelanggan yang datang.
Karena di dalam hatinya hanya ada satu hal yang terus ia pikirkan.
Kai.
Mimpi kecil anak itu kini perlahan berubah menjadi perjuangan besar bagi mereka bertiga.
"Festival itu tinggal hitungan hari saja, semoga saja hasil kerja keras kita hari ini bisa terkumpulkan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tidak hanya mereka bertiga yang ikut berjuang demi Kai. Di kota besar sana yang jauh dari pesisir sana, Rina juga tidak ingin tinggal diam.
Meski jarak memisahkan mereka, hatinya tetap tertinggal pada anak kecil yang selama ini selalu memanggilnya “Ibu Rina” dengan penuh hangat.
Malam itu suasana club kembali ramai seperti biasanya. Lampu remang-remang memenuhi ruangan, dentuman musik terdengar memekakkan telinga, sementara para tamu terus datang silih berganti.
Rina baru saja selesai mengantarkan minuman ke salah satu meja VIP sebelum akhirnya duduk sebentar di ruang istirahat karyawan.
Tubuhnya terasa lelah. Sepatu hak tinggi yang sejak tadi dipakainya bahkan mulai membuat tumitnya nyeri. Perlahan wanita itu mengambil ponselnya, lalu menatap foto Kai yang tersimpan di layar.
Foto saat anak itu tersenyum sambil memeluk tubuhnya dengan erat. Seketika dada Rina terasa sesak, karena untuk pertama kalinya, bulan ini ia benar-benar tidak punya cukup uang untuk membantu.
Gajinya bulan lalu sudah habis untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Mulai dari cicilan KPR kecilnya, biaya makan, tagihan listrik, hingga ongkos hidup di kota besar yang semakin hari terasa semakin menyesakkan.
Dari luar, orang-orang mungkin mengira hidupnya glamor karena bekerja di club malam. Padahal kenyataan kadang tidak sesuai dengan realita yang ada.
Rina juga sama seperti perempuan lain yang sering pusing memikirkan uang sampai sulit tidur.
“Aduh Kai…” gumamnya lirih sambil menatap foto anak itu. “Ibu Rina belum bisa bantu banyak.”
Untuk beberapa saat wanita itu hanya diam termenung. Hingga tiba-tiba tatapannya jatuh pada kacamata fashion miliknya yang terletak di dalam tas.
Bukan barang mahal. Namun kacamata itu dulu ia beli cukup lama dengan uang hasil lemburnya sendiri. Harganya sekitar lima ratus ribu dan selama ini selalu ia jaga baik-baik karena membuatnya terlihat lebih percaya diri saat bekerja.
Rina menatap benda itu cukup lama. Lalu perlahan bibirnya tersenyum tipis seolah sudah mengambil keputusan.
“Kayaknya… ini masih bisa dijual deh.”
Malam itu juga ia mulai memfoto kacamata tersebut dari berbagai sosial media yang ia punya, lalu mengunggahnya ke marketplace sederhana di ponselnya.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
“300 ribu boleh?”
Seketika Rina terkejut, baru saja ia memposting dan barangnya langsung ada yang menawar, akan tetapi rasa terkejutnya itu perlahan sirna karena jujur saja ia menginginkan harga itu jauh seperti yang ia harapkan.
Namun setelah beberapa detik berpikir, wanita itu akhirnya tersenyum kecil sambil mengetik balasan singkat.
“Boleh kak."
Karena baginya sekarang bukan lagi tentang harga ataupun barang kesayangan. Melainkan tentang bagaimana caranya agar mimpi kecil Kai tetap bisa terbang tinggi.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di tempat lain, suasana ruang kerja Kael semakin mencengkam. Bahkan pria itu tidak mengenal waktu, hari-harinya ia gunakan untuk bekerja dan bekerja.
Dan malam ini, beberapa anak buah yang ia perintah untuk mencari keberadaan Alena. Dan lagi-lagi mereka gagal menemukannya.
Sudah entah berapa banyak informasi palsu yang ia dapatkan selama ini. Mulai dari kabar wanita mirip Alena di luar negeri, di kota kecil, bahkan sampai laporan orang suruhannya yang ternyata hanya memberi harapan kosong. Dan setiap kali harapan itu runtuh… emosinya selalu semakin sulit dikendalikan.
Brak!
Seketika gelas whiskey di tangannya menghantam lantai hingga pecah berkeping-keping.
“Apa kalian benar-benar mencari?!” bentaknya penuh amarah pada beberapa anak buahnya yang hanya bisa menunduk ketakutan.
“Delapan tahun!” rahangnya mengeras. “Delapan tahun tapi kalian bahkan tidak bisa menemukan satu perempuan dan satu anak!”
Kemarahan itu menggelegar, beberapa anak buahnya tidak ada yang berani menatap wajahnya, namun saat suasana genting seperti ini tiba-tiba saja.
Brzzztt…
Ponselnya bergetar di atas meja. Tatapan tajam Kael langsung beralih. Nama Edgar muncul di layar. Dengan rahang masih mengeras, pria itu menjawab kasar.
“Apa?”
Di seberang sana Edgar sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.
“Tuan… saya hanya ingin mengingatkan. Acara festival peresmian dermaga tinggal lima hari lagi.”
Deg.
Seketika wajah Kael berubah semakin dingin. Di saat hatinya sedang hancur karena kembali kehilangan jejak Alena, orang-orang itu justru sibuk menghubunginya hanya untuk membahas festival layang-layang.
Tawa pendek penuh emosi lolos dari bibirnya.
“Festival?” ulangnya lirih namun terdengar mengerikan.
Tangannya mengepal kuat hingga urat di lehernya terlihat jelas.
“Di saat seperti ini…” tatapannya berubah tajam penuh tekanan. “Mereka pikir aku peduli pada acara bermain layang-layang?”
Edgar langsung menelan ludah gugup di seberang sana. Namun belum sempat ia menjelaskan, Kael lebih dulu memotong dengan nada rendah yang membuat suasana semakin menekan.
“Kalau bukan karena proyek dermaga itu menghasilkan miliaran…” suaranya terdengar dingin. “Aku bahkan tidak akan melirik kota kecil itu sama sekali.”
Ucapnya terdengar menakutkan, namun tanpa ia sadari di tempat itulah, ia akan menemukan jawaban selama delapan tahun itu.
Bersambung ...
Selamat sore Kakak semoga suka ya