NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Parfum Siapa Ini?

Jarum jam dinding besar di ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan malam terasa begitu mencekam, Zarlin Rahesa yang masih duduk mematung di sofa kulit mewah.

Di atas meja kopi di depannya, makan malam yang dia masak sejak jam tujuh malam tadi sudah dingin.

Zarlin menghela napas pelan. Matanya yang indah tampak sayu, menyimpan kelelahan yang teramat sangat.

Tiga tahun, dia menanggalkan nama besar keluarganya, memutus hubungan dengan kemewahan Rahesa Group, hanya demi menjadi seorang istri yang berbakti untuk Theo Falcon. Dia memilih menyamar menjadi wanita biasa, mengurus rumah, dan mendukung karier Theo dari balik layar tanpa pernah menuntut publikasi.

Cklek

Suara pintu depan yang terbuka terdengar. Zarlin refleks berdiri, memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang sudah ngantuk.

Seorang pria bertubuh tegap melangkah masuk. Theo Falcon. Wajahnya yang tampan dan klimis tanpa cela tampak luar biasa kusut. Jas hitam mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini dipegang di lengan kirinya. Hanya menyisakan kemeja katun hitam yang dua kancing teratasnya sudah terbuka.

"Kamu belum tidur?" suara Theo terdengar berat, dingin, dan penuh dengan nada ketidaksukaan saat mengetahui Zarlin masih terbangun.

Theo bahkan tidak memberikan kecupan di kening istrinya.

"Aku menunggumu, Theo. Kamu bilang ada rapat penting sore tadi, tapi ponselmu tidak aktif setelah itu," ujar Zarlin selembut mungkin.

Ia melangkah mendekat untuk mengambil jas dari tangan suaminya.

Theo mendengkus, melangkah melewati Zarlin begitu saja tanpa memedulikan tatapan istrinya.

"Aku sibuk. Perusahaan Falcon sedang mengurus proyek besar dengan investor asing. Jangan seperti anak kecil yang harus terus dikabari setiap jam, Zarlin, itu melelahkan."

Zarlin menghentikan langkahnya. Kata-kata itu terasa sakit didadanya.

"Melelahkan? Apakah mengkhawatirkan suami yang pulang jam dua pagi adalah sebuah kesalahan?" batinnya.

Saat Zarlin membalikkan tubuhnya untuk menaruh jas Theo, dia harus mendekatkan tubuhnya ke kemeja hitam yang masih melekat di tubuh Theo untuk mengambil tas kerja suaminya.

Pada detik itulah, indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing. Sesuatu yang langsung membuat seluruh darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir.

Bukan aroma kopi, melainkan aroma parfum wanita. Wangi sweet vanilla yang sangat pekat, elegan, dan manis. Aroma yang sangat Zarlin kenali karena itu adalah parfum edisi terbatas milik Bianca Amsel, sekretaris suaminya sendiri di Falcon Corp.

Napas Zarlin tertahan. Dia menatap punggung Theo yang berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Dengan tangan gemetar, Zarlin memberanikan diri mendekatkan kerah jas hitam Theo ke hidungnya.

Benar saja, aroma parfum itu tercium jauh lebih jelas, bercampur dengan aroma maskulin milik Theo. Bahkan, di sudut kerah kemeja hitam Theo, ada noda tipis sewarna lipstik nude yang samar-samar berkilau di bawah lampu.

"Tuhan... jadi selama ini rumor itu benar?" batinnya lagi

Dada Zarlin berdetak kuat, rasa sesak luar biasa menghimpit paru-parunya hingga dia hampir kesulitan bernapas. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya, namun dengan sekuat tenaga Zarlin menahannya agar tidak jatuh. Dia menolak terlihat lemah di depan pria ini.

"Kenapa diam di sana? Kalau mau tidur, tidur saja. Jangan memasang wajah merana seperti itu, membuat kepalaku makin pusing," tegur Theo dingin, setelah menghabiskan air minumnya.

Dia menatap Zarlin dengan pandangan penuh penilaian, menilai pakaian rumah Zarlin yang sederhana dan rambutnya yang hanya digulung asal.

Di mata Theo sekarang, Zarlin tampak begitu membosankan dibandingkan dengan Bianca yang selalu tampil modis dan profesional di kantor.

Zarlin mengepalkan jemarinya di balik jas hitam yang dia pegang. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.

"Theo... apakah rapat sore tadi hanya dihadiri olehmu dan investor?" tanya Zarlin, matanya menatap lurus ke dalam mata Theo.

Theo mengernyitkan dahi, tampak terganggu dengan pertanyaan itu.

"Tentu saja tidak. Seluruh tim inti ikut. Bianca juga ada di sana untuk mempresentasikan materi pemasaran. Kenapa? Kamu mau menuduhku yang tidak-tidak lagi?"

"Aku tidak menuduh," sela Zarlin, suaranya terdengar datar namun tajam.

"Aku hanya bertanya kenapa parfum Bianca bisa menempel begitu pekat di kemejamu, Theo. Bahkan ada bekas lipstik di kerahmu."

Suasana di ruangan itu mendadak hening. Theo tampak termenung, keterkejutan terlihat di matanya sebelum akhirnya digantikan oleh amarah dan rasa angkuh.

Dia mendengkus remeh, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bersalah atau panik karena tertangkap basah.

"Oh, jadi sekarang kamu memata-matai suamimu sendiri? Murahan sekali," ujar Theo dengan senyum sinis yang menyakitkan.

"Tadi sore di mobil, Bianca tidak sengaja hampir terjatuh karena mengerem mendadak, jadi dia memegang bahuku. Hanya itu. Jangan menjadi wanita pencemburu yang picik, Zarlin. Bianca itu sekretarisku, dan dia bekerja keras siang malam demi kemajuan perusahaan ini. Sementara kamu? Kamu hanya duduk di rumah mewah ini menikmati uang hasil keringatku!"

"Uang hasil keringatmu?" Zarlin ingin tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat itu, jika saja hatinya tidak sedang hancur berkeping-keping.

Theo lupa. Pria itu benar-benar sudah buta oleh kesuksesannya sendiri. Dia lupa bahwa Falcon Corp bisa setegap ini karena analisis bisnis, strategi rahasia, dan pengembangan dana awal yang Zarlin berikan secara diam-diam melalui koneksi keluarga Rahesa yang dirahasiakannya.

Theo mengira semua kesuksesan ini adalah murni karena kegeniusannya sendiri. Dan sekarang, setelah berada di atas awan, dia menganggap wanita yang menemaninya dari nol ini sebagai beban yang tak tahu diri.

"Jadi, menurutmu aku hanya menumpang hidup dan menghabiskan uangmu, Theo?" Zarlin bertanya pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu dingin.

"Memang begitu, bukan?" Theo melangkah mendekati tangga, enggan memperpanjang perdebatan.

"Besok-besok, jangan bicarakan hal tidak penting seperti ini lagi. Aku tidak punya waktu untuk drama rumah tangga yang tidak bermutu. Bersihkan dirimu, aromamu bau dapur."

Tanpa menoleh lagi, Theo melangkah menaiki tangga menuju kamar utama, meninggalkan Zarlin sendirian di tengah ruangan yang sunyi.

...****************...

Zarlin terdiam, Ia menjatuhkan jas hitam di tangannya ke atas lantai dingin. Matanya menatap ke arah tangga dengan tatapan yang tidak lagi menyimpan kesedihan, melainkan ketetapan hati yang membeku.

Pengorbanannya sudah selesai, rasa hormatnya sudah habis terinjak. Zarlin berjalan perlahan menuju kamar tamu di lantai bawah.

Dia tidak akan sudi lagi berbagi ranjang dengan pria yang tubuhnya telah dinodai oleh wanita lain. Dibukanya lemari pakaian di kamar tersebut, lalu dia menarik sebuah koper hitam berukuran sedang dari atas lemari.

Dengan gerakan yang tenang dan tanpa air mata, Zarlin mulai melipat pakaian-pakaian miliknya. Tidak ada barang mewah dan perhiasan yang dibeli dengan uang Theo. Hanya pakaian sederhana yang dia bawa saat pertama kali melangkah ke rumah ini.

"Cukup, Theo Falcon. Kamu menginginkan wanita mandiri seperti Bianca? Maka nikmatilah. Mari kita lihat, seberapa jauh Falcon Corp bisa bertahan." ujar Zarlin

Zarlin menutup kopernya dengan di tengah keheningan malam. Dia menatap keluar jendela, menembus kegelapan malam, bersiap untuk langkah pertamanya meninggalkan sang suami yang tak tahu diuntung itu.

1
Xlyzy
ngapain di lirik lagu si Theo itu, udah bagus zarlin bersifat seperti itu
Xlyzy
Yakin ?, cobak selidiki lagi siapa zarlin sebenarnya
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai, suatu saat pasti tercium juga
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
lagi lagi kamu bohong Theo, mau sampai kapan kamu menutupi perceraian kamu dan zarlin?
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
bukan sibuk pak, tapi diusir sama Theo. mereka juga udah cerai.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kamu yang berbuat maka kamu harus siap menanggung resikonya, theo
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya, jadi cowok itu yang bener, jangan main serong sana sini.
Mingyu gf😘
jalang teriak jalang, cuijj
Mingyu gf😘
yahh sama lah kayak kalian , sama smaa kotor dan busui
Mingyu gf😘
haha mampus kan lo😆😆
PrettyDuck
mamam tuh bianca sama pacar mokondonya 😆
PrettyDuck
manipulatif level dewa
PrettyDuck
kok kaget??? kamu emang melakukan kdrt. seharusnya gak kaget kalo bekasnya difisum.
PrettyDuck
gausah sok kaya.
PrettyDuck
wkwk pasangan mengenaskan. kalian gak tau aja zarlin itu sapa.
PrettyDuck
buyan bener si hendra 🥲
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙
kenapa bang? selama ini gapernah liat istrimu mengemudi kah?🤭
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙: harusnya kutambahkan 'mantan'
total 1 replies
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan bianca yg bodoh, masih aja mau hidungnya di tarij sama lelaki bo doh itu /Facepalm/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
kunci kesuksesan mu hanya pada zarlin. tapi kamu membuangnya. ya, salah sendiri 🤪🤪
Miu.Nuha
langsung takut dn mengelak 🤭
itu justru malah menguatkan kebenaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!