Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang hilang di balik kabut
Satu minggu telah berlalu sejak kepergian Elfesya, dan kantor Arshaka Group terasa seperti medan perang yang sunyi. Ravion tidak lagi mempedulikan jadwal pertemuan, tidak juga peduli pada laporan audit yang menumpuk di mejanya. Fokusnya hanya satu: layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dan laporan dari detektif swasta.
Di tengah kekacauan pikiran itu, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Calista Ziva melangkah masuk dengan gaun musim panas yang mencolok dan aroma parfum yang biasanya akan membuat Ravion langsung menyambutnya.
"Rav, Sayang! Kamu ke mana saja sih? Teleponku tidak diangkat, pesan-pesanku cuma dibaca. Kamu tahu kan malam ini ada pembukaan galeri temanku?" Calista mendekat, mencoba mengelus bahu Ravion dengan manja.
Ravion tidak bergerak. Matanya tetap terpaku pada tumpukan foto Terminal bus yang buram di atas mejanya. "Keluar, Calista," ucapnya dingin.
Calista tersentak. Ia tertawa kecil, mengira Ravion hanya sedang kelelahan. "Ayo dong, jangan kaku begitu. Si sekretaris kampung itu kan sudah pergi. Bukannya ini yang kamu mau? Kamu bebas sekarang, tidak ada lagi yang mengawasimu di rumah."
Mendengar kata 'sekretaris kampung', Ravion mendongak. Sorot matanya begitu tajam hingga Calista mundur selangkah. "Aku bilang keluar. Dan jangan pernah sebut dia dengan sebutan itu lagi."
"Rav, ada apa denganmu? Dia cuma alat untuk menyenangkan nenekmu, kan? Kamu sendiri yang bilang dia pajangan!" seru Calista dengan nada tinggi, mulai merasa terancam.
Ravion berdiri dari kursinya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dia istriku. Dan mulai detik ini, hubungan kita selesai. Jangan pernah datang ke kantor atau rumahku lagi. Jika aku melihat wajahmu di sekitarku, aku akan pastikan kontrak modelling-mu dengan Arshaka Group dibatalkan secara permanen."
"Kamu mencampakkan aku demi gadis miskin itu?!" Calista berteriak tidak percaya.
"Aku mencampakkanmu karena aku sadar, wanita sepertimu tidak ada artinya dibanding satu helai rambutnya," jawab Ravion lugas. "Sekarang, sebelum aku memanggil keamanan, pergi."
Calista menghentakkan kakinya, keluar dengan wajah merah padam dan air mata kemarahan. Namun bagi Ravion, kepergian Calista tidak memberikan rasa lega sedikit pun. Ia justru merasa semakin kosong.
Ravion mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju rumah yang sempat ia tinggali bersama Elfesya. Ia masuk ke dapur, tempat di mana terakhir kali ia melihat Elfesya menyiapkan sarapan sementara ia membawa wanita lain masuk. Ia melihat kompor yang dingin dan meja makan yang bersih.
Ia teringat betapa lugasnya Elfesya menolak permintaannya untuk membuatkan kopi bagi Calista. Saat itu ia marah, tapi sekarang ia mengagumi harga diri gadis itu.
"Kenapa aku baru sadar sekarang?" gumamnya sambil meremas rambutnya frustrasi.
Ponselnya bergetar. Sebuah telepon dari detektif kepercayaannya. "Pak Ravion, kami menemukan sesuatu. Ada penggunaan kartu identitas atas nama Elric Arshaka di sebuah klinik kecil di daerah pesisir Jawa Tengah tiga hari yang lalu. Sepertinya adiknya mengalami demam tinggi."
Jantung Ravion berdegup kencang. "Pesisir Jawa Tengah? Di mana tepatnya?"
"Desa nelayan terpencil di Kabupaten Brebes. Mereka menggunakan nama asli saat pendaftaran karena klinik itu meminta data untuk subsidi pengobatan," lapor sang detektif.
"Siapkan helikopter sekarang juga. Aku akan ke sana," perintah Ravion.
"Tapi Pak, cuaca sedang buruk di sana. Hujan deras dan angin kencang—"
"Aku tidak peduli!" bentak Ravion. "Jika aku harus menerjang badai untuk menemukan istriku, aku akan melakukannya. Kirimkan lokasinya sekarang!"
Ravion berlari menuju helipad di puncak gedung kantornya. Ia mengabaikan semua panggilan dari ayahnya dan neneknya. Di dalam kepalanya hanya ada bayangan Elfesya yang sedang berjuang sendirian di sebuah desa nelayan, mengurus adiknya yang sakit tanpa uang yang cukup, sementara ia di sini hidup bergelimang kemewahan hasil merampas harta keluarga istrinya.
Ia melihat ke arah langit yang mulai meredup. Senja sedang turun, berwarna merah darah yang biasanya akan membuatnya gemetar ketakutan. Namun kali ini, Ravion tidak menutup gorden. Ia menatap langit itu dengan keberanian yang baru muncul.
"Tunggu aku, Elfesya. Kali ini, biarkan aku yang membawakan cahaya untukmu," bisiknya di tengah deru baling-helikopter yang mulai berputar.
Ia mengabaikan rasa trauma masa lalunya. Rasa takut kehilangan Elfesya jauh lebih besar daripada ketakutannya pada bayang-bayang kematian ibunya. Pria kaku yang tajam itu kini hanya ingin menjadi seorang pria biasa yang menjemput pulang separuh jiwanya yang hilang.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...