NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Bel tanda masuk hampir berbunyi. Satu per satu siswa segera menempati kursi masing-masing karena guru mata pelajaran Geografi sebentar lagi masuk.

Jolina masuk ke kelas dengan langkah tergesa, lalu duduk di bangkunya seperti biasa.

Tak lama kemudian, Bu Sandra datang dan menyapa seluruh murid. Setelah melakukan apersepsi singkat, ia mulai menjelaskan materi yang akan dipelajari hari itu.

Jolina merogoh kolong mejanya.

Kosong.

Ia menunduk, menoleh ke kanan, lalu ke kiri.

Loh?

Ia kembali mengecek—kali ini lebih panik.

Tas gue mana?

“Kenapa, Jo?” bisik Audrey dari samping.

“Tas gue mana? Lo lihat tas gue nggak?” suara Jolina direndahkan, tapi jelas terdengar panik.

Audrey mengernyit. “Lah, lo kan baru masuk barusan. Masa nggak ada?”

“Pagi tadi gue taruh di sini,” Jolina menunjuk kolong mejanya.

“Dari tadi nggak ada, Jo. Gue dateng duluan,” jawab Audrey pelan.

“Hah? Seriusan, Drey?”

“Iya. Lo lupa kali naro di mana. Coba diinget-inget.”

“Sial…” Jolina menghembuskan napas kasar.

Pandangan Jolina tanpa sadar beralih ke arah Jeremy. Cowok itu terlihat santai, duduk rapi sambil membuka buku Geografi, seolah tidak ada apa-apa.

“Kenapa, Jo?” tanya Audrey lagi.

Jolina mendekat sedikit. “Gue tadi pagi nyuruh Jeremy buat masukin tas gue ke kelas.”

Audrey menoleh ke arah Jeremy. “Tapi Jeremy pas masuk tadi cuma bawa tas dia doang, Jo.”

Rahang Jolina mengeras.

Jeremy sialan…

Dadanya naik turun menahan kesal. Sekarang bagaimana ia akan mengerjakan tugas? Buku, catatan, semuanya ada di tas itu.

Bu Sandra masih berbicara di depan kelas, menjelaskan peta dan kontur wilayah. Sementara itu, Jeremy sama sekali tidak melirik ke arahnya—bahkan sedetik pun—seolah Jolina tidak ada di sana.

Dan entah kenapa, sikap santai Jeremy justru membuat amarah Jolina semakin membara.

Kegelisahan Jolina akhirnya menarik perhatian Bu Sandra. Gadis itu tampak tak fokus, tangannya terus bergerak di bawah meja, wajahnya pucat dan resah.

“Jolina,” panggil Bu Sandra. “Kamu kenapa dari tadi kelihatan gelisah?”

Jolina terkejut. Semua mata langsung tertuju padanya.

“E-emm… itu, Bu…” Jolina menelan ludah. “Saya lupa ambil tas.”

“Hah?” Bu Sandra mengernyit. “Lupa ambil tas? Maksudnya gimana?”

“Itu…” Jolina terdiam, bingung harus menjelaskan dari mana.

“Jadi kamu ke sekolah tanpa bawa tas?” tanya Bu Sandra, nadanya meninggi. “Terus bukumu gimana?”

“Di… di dalam tas, Bu.”

“Kalau begitu, gimana kamu mau belajar? Buku saja tidak punya.”

“Maaf, Bu…” suara Jolina mengecil.

Bu Sandra menghela napas panjang. “Astaga, Jolina. Jadi sebenarnya kamu datang ke sini mau ngapain?”

Jolina ragu sejenak, lalu berkata cepat, “Tas saya ada sama Jeremy, Bu.”

Ia menunjuk Jeremy. Seketika kelas menjadi riuh. Jeremy mendongak, tampak benar-benar terkejut.

“Sama gue?” Jeremy berdiri setengah. “Maksud lo apa, ya?”

“Tadi pagi gue minta tolong lo buat bawain tas gue ke kelas. Sekarang mana?” suara Jolina mulai meninggi.

“Lah? Itu kan barang lo. Buat apa gue bawa-bawa?” Jeremy terlihat kesal.

“Ya kan gue minta tolong!” Jolina membalas. “Gue minta tolong, Jeremy!”

“Lo nggak ada bilang apa-apa,” potong Jeremy. “Jangan asal nuduh.”

“Lo nggak usah bohong! Lo pasti tahu!” Jolina makin emosi.

“Saya nggak tahu apa-apa, Bu,” kata Jeremy menoleh ke arah Bu Sandra.

Jolina berdiri dari kursinya dan menghampiri meja Jeremy.

“Lo nggak usah bohong! Mana tas gue?!” bentaknya tertahan.

“Apa sih? Gue bilang gue nggak tahu!” Jeremy ikut berdiri.

“Gue aduin papa lo, ya!” ancam Jolina dengan mata berkaca-kaca.

“Aduh, sudah-sudah!” Bu Sandra menepuk meja. Suaranya tegas. “Kenapa jadi ribut begini?”

Kelas langsung hening.

Bu Sandra menatap Jolina dengan sorot mata kecewa. “Jolina, kamu itu seharusnya bertanggung jawab sama barang-barang kamu sendiri. Kenapa malah dititipkan ke orang lain?”

Jolina terdiam, bibirnya bergetar.

“Kamu harus lebih peduli sama diri kamu sendiri,” lanjut Bu Sandra. “Bukan malah menyalahkan orang lain.”

Jolina menunduk. Dadanya terasa sesak—antara marah, malu, dan kecewa.

Sementara itu, Jeremy kembali duduk dengan wajah datar. Tapi tatapan matanya… sama sekali tidak terlihat polos.

“Kamu saya anggap tidak masuk pelajaran saya, ya, Jolina.”

Ucapan Bu Sandra membuat Jolina tersentak.

“Loh? Kok gitu sih, Bu?” Jolina spontan berdiri. “Jelas-jelas saya hadir.”

“Hadir?” Bu Sandra mengangkat alis. “Kamu bahkan tidak mengerjakan tugas yang saya berikan. Buku tidak ada, catatan tidak ada, fokus pun tidak.”

Beberapa murid mulai berbisik. Dari bangku belakang, Jeremy terkekeh pelan di balik buku yang ia baca.

Itu cukup.

Amarah Jolina yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak. Tanpa pikir panjang, ia melompat dari kursinya dan menghampiri Jeremy.

“Lo kemanain tas gue, brengsek?!”

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangan Jolina sudah menjambak rambut Jeremy—saudara tirinya itu.

“Tolol! Sialan lo, JEREMYYYY!!!”

Kelas langsung ricuh.

“Eh, eh! Udah, Jo!” Bagas buru-buru berdiri, berusaha menarik Jolina.

“Jo, udah! Lepasin!”

“Ih! Lo nyebelin banget!” Jolina meronta. “Lo cari tas gue! Lo buang ke mana, hah, brengsek?!”

“Iya, iya! Lepasin dulu!” Jeremy berusaha melepaskan diri.

“Jolina, sudah! Cukup!” teriak Bu Sandra panik.

“Nggak!” Jolina berteriak dengan mata memerah. “Dia yang salah, bukan aku, Bu! Dia yang harus dihukum karena ngilangin barang orang lain!”

“Mati lo, Jeremyyy!!!”

“Jolina?! Jolina?!”

“Hei… Jolina?”

Audrey menggoyangkan lengan Jolina pelan.

Jolina tersentak, napasnya tertahan. Matanya membesar.

“Hah?”

“Ah… iya, Bu?”

Bu Sandra menatapnya tajam dari depan kelas. “Kamu itu kenapa lagi, Jolina? Dari tadi saya bicara, kamu malah melamun?”

Jolina terdiam. Tangannya gemetar di atas meja. Rambut Jeremy masih rapi. Kelas tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada keributan.

Itu semua… hanya di kepalanya.

Pagi ini Jolina benar-benar apes. Dimarahi Bu Sandra di depan kelas—memalukan, menyakitkan. Dadanya terasa sesak.

Dan semua ini, menurut Jolina, gara-gara satu manusia gila bernama Jeremy.

Jeremy semakin terkekeh. Bagi dirinya, raut kesal di wajah Jolina adalah kemenangan kecil yang sangat memuaskan.

“Sudah, Jolina. Duduk kembali,” perintah Bu Sandra dengan nada tegas.

“Kamu kerjakan tugas di selembar kertas saja.”

Jolina menunduk pelan, kembali duduk di bangkunya tanpa membantah. Tangannya gemetar saat menarik kertas dari buku tulis Audrey. Ia mulai menulis, meski pikirannya sama sekali tidak tenang.

Beberapa menit berlalu.

Tanpa sadar, Jolina melirik ke arah Jeremy.

Dan sialnya, mereka bertatapan.

Jeremy menyunggingkan senyum nakal—senyum penuh arti yang seolah berkata gue menang. Senyum itu sukses membuat dada Jolina panas.

Tangannya mengepal di bawah meja.

“Jo… udah, Jo,” bisik Audrey pelan. “Mending lo kerjain tugas yang dikasih Bu Sandra. Nanti abis jam ini, kita cari tas lo.”

“Sumpah gue kesel banget, Audrey,” Jolina berbisik balik, rahangnya mengeras.

Zoya yang duduk di bangku depan menoleh ke belakang, ikut menimpali dengan wajah kesal.

“Jeremy bener-bener keterlaluan sih kalau kata gue.”

Jolina mengangguk pelan. Matanya masih menyimpan bara.

“Tenang aja,” ucapnya lirih, hampir seperti sumpah.

“Gue bakal kasih pelajaran ke tuh anak. Dia yang mulai duluan… dan gue bakal balas.”

Jeremy di bangku belakang masih terlihat santai—tak tahu, atau pura-pura tak tahu—bahwa kali ini, kesabarannya benar-benar sedang diuji.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!