NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4.

‎Frans mengambil sebuah amplop cokelat dari atas meja lalu mengelurkannya. Sebuah kertas dokumen formal digeser ke tengah meja, tepat di hadapan Papa.

‎"Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Bulan depan, tanggal empat belas," ujarnya dingin. "Segala biaya dan urusan resepsi biar pihak kami yang tanggung. Kamu cuma perlu memastikan anakmu hadir tepat waktu."

‎Papa buru-buru mengangguk lega, langsung menandatangani berkas tersebut tanpa ragu sedikit pun. "Tentu, Frans. Terima kasih banyak. Saya pastikan Ruby tidak akan bikin masalah."

‎Pria muda berparas dingin itu berdiri dari duduknya. Ia berjalan pelan menghampiri Ruby yang masih terpaku kaku di tempatnya. Langkah kakinya terdengar begitu berat dan mengintimidasi.

‎Tanpa permisi, pria itu membungkukkan badan, mencengkeram dagu Ruby cukup kuat hingga gadis itu terpaksa mendongak menatapnya. Tatapan matanya yang tajam dan menusuk meneliti wajah Ruby dari jarak dekat, sama sekali tanpa rasa hormat.

‎"Empat belas Oktober," bisik pria itu dengan nada suara yang begitu dalam, dingin, dan sarat nada meremehkan. "Catat tanggal itu baik-baik di otakmu."

‎Ruby meringis menahan sakit di dagunya, mencoba menepis tangan pria itu, tapi cengkeramannya terlalu kuat.

‎"Cukup cantik buat pajangan," lanjutnya santai sambil melepaskan dagu Ruby begitu saja hingga kepala gadis itu terdorong ke samping. Ia lalu mengusap jarinya pakai saputangan seolah-olah baru saja menyentuh barang kotor. "Tapi ingat satu hal. Jangan berharap jadi ratu di rumahku. Kamu cuman barang jaminan yang dibeli mahal."

‎Teressa menyeringai puas melihat Ruby diperlakukan sesuka hati seperti itu, sementara Papa hanya diam berpaling, pura-pura tidak melihat keangkuhan calon menantunya demi uang lima puluh miliar.

‎Pria itu berbalik arah tanpa memandang Ruby lagi, melangkah santai menuju pintu keluar. "Sampai jumpa di altar, Gadis Lima Puluh Miliar."

*****

‎Ruby merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang terasa makin menghimpit. Ucapan pria itu masih terngiang jelas di telinganya, menyatu dengan rasa panas di dagunya yang sempat dicengkeram kasar.

‎Barang jaminan, Kata itu terus berputar meremukkan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Ruby memejamkan mata rapat-rapat. Tak ada gunanya menolak atau memberontak. Papanya sudah menandatangani kertas itu, dan Teressa sudah mendapatkan apa yang dia mau. Hidupnya yang dari dulu suram, kini dipastikan akan makin neraka bersama pria asing bernada bicara dingin dan kasar itu.

‎Tak tahan dengan atmosfer rumah yang makin mencekik, Ruby membangkitkan tubuhnya. Ia menyambar jaket dan tas kecilnya, lalu melangkah keluar tanpa pamit pada siapa pun.

‎Ia butuh udara segar. Ia butuh tempat lari.

‎Begitu sampai di luar gerbang rumahnya, jari-jari Ruby yang gemetar mengetik nama Tisa dan Aprilia di grup obrolan telepon selulernya, meminta kedua sahabatnya itu berkumpul di kafe langganan mereka malam ini.

‎Suara musik akustik dan aroma biji kopi menyambut Ruby begitu ia melangkah masuk ke dalam kafe. Di sudut ruangan, Tisa dan Aprilia sudah melambai-lambaikan tangan.

‎"Ruby! Akhirnya datang juga!" seru Tisa saat Ruby melangkah mendekat dan langsung mendudukkan diri di sofa.

‎"Lama banget sih, By? Kita sampai udah pesan minum duluan tahu," sahut Aprilia santai, lalu matanya menyipit menatap wajah Ruby. "Eh... muka kamu kenapa layu banget gitu? Lapis bedak kamu kurang tebal atau gimana?"

‎Ruby memaksakan seulas senyum tipis, berusaha keras mengatur raut wajahnya agar terlihat normal. Ia menutupi rapat-rapat rasa sesak di dadanya, termasuk kabar pernikahan dadakan dengan pria kasar pilihan Papanya. Biarlah beban itu ia tanggung sendiri; ia tak mau merusak suasana atau membuat sahabat-sahabatnya khawatir.

‎"Nggak apa-apa, cuma capek aja habis jalan jauh sama Papa," jawab Ruby pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kalian gimana? Tadi katanya mau cerita soal tugas kampus?"

‎"Yakin cuma capek?" Aprilia menyipitkan mata curiga, lalu menggeser satu cangkir hangat ke hadapan Ruby. "Nih, aku udah pesenin *hot chocolate strawberry* kesukaan kamu. Mumpung masih hangat, diminum dulu biar agak mendingan mood-nya."

‎Aroma cokelat manis berpadu dengan sensasi stroberi hangat langsung menyapa indra penciuman Ruby. Ia meraih cangkir itu, menggenggamnya erat untuk menyalurkan rasa hangat ke jemarinya yang dingin dan gemetar.

‎"Makasih ya, Pril," bisik Ruby tulus, memaksakan seulas senyum manis.

‎Tisa menatap Ruby lembut.

‎"Beneran ya, By, kalau ada masalah apa-apa cerita ke kita. Jangan dipendam sendiri. Kita ini sahabat kamu."

‎"Iya, tenang aja, aku nggak apa-apa kok," potong Ruby secepat mungkin sambil menyesap minuman hangatnya, berusaha menyembunyikan getar di dadanya.

‎Melihat kedua sahabatnya mulai sibuk berdebat soal hal-hal kecil khas anak muda, Ruby menyandarkan punggungnya ke sofa. Di balik tawa palsu yang ia tampilkan malam itu, hatinya menjerit pilu. Waktunya tinggal hitungan minggu menuju tanggal empat belas Oktober—hari di mana kebebasannya benar-benar akan direnggut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!