Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Beberapa hari yang cukup memeras otak berlalu dan Angel dapat melaluinya dengan cukup baik. Angel menghembuskan nafas lega setelah keluar ruang ujian, begitupun murid-murid yang lain. Senyum penuh kelegaan menghiasi wajah mereka. Saat ini, hanya tinggal fokus untuk tes persiapan masuk perguruan tinggi. Meskipun Angel masih ragu menentukan jurusan. Mungkin setelah mengobrol dengan paman dan bibi ia akan mengetahuinya.
Seseorang merangkul pundaknya tiba-tiba, Angel menengok melihat Avy yang terlihat bahagia. "Ada apa? Sepertinya kau bahagia sekali?"
"Siapa yang tidak bahagia saat ujian yang melelahkan berakhir," sahut Avy, ia melepaskan rangkulannya berganti menggandeng lengan Angel dan berjalan menuju tempat parkir. "Sesuai janjiku, ujian berakhir dan aku milikmu sekarang."
"Kau yakin?" Angel bertanya tak yakin. "Apakah Jackmu tidak akan marah?"
"Ohhh, my Angel maafkan sahabatmu ini yang tengah dimabuk cinta. Kau tahu bahwa aku dan Jack hanya memiliki waktu bersama saat pulang sekolah saja," Avy bergelayut manja, melayangkan tatapan memelasnya.
"Aku tidak marah Avy. Hanya saja, kalian sedikit berlebihan."
"Kami tidak berlebihan, Angel. Jack menoleransi banyak hal terhadapku. Dia tidak seperti ini pada mantan-mantannya dulu."
"Seperti apa yang kau maksud?"
"Kami hanya berciuman. Hanya bibir, tidak lebih."
"Memangnya saat bersama mantannya dulu, apa yang dilakukannya?"
"Ohh ayolah Angel, jangan sok polos begitu. Jack dengan harta dan wajah rupawannya, perempuan mana yang tidak bertekuk lutut? Di dunia yang gila ini, sangat sedikit menemukan manusia suci. Kecuali dirimu ya, aku yakin kamu masih seperti kertas putih polos tanpa noda."
Perkataan Avy membuatnya termenung sesaat. Ia bukanlah manusia suci seperti yang Avy maksud. "Aku seorang model, Avy. Bagaimana bisa kamu berpikir sepositif itu?"
"Aku mungkin bisa berpikir sebaliknya tentang model lain, Angel. Tapi tidak padamu. Kau mencintai profesimu, aku tahu itu. Dan yang beredar di luar sana itu hanya gosip. Tidak benar. Kau tidak akan melakukan sesuatu yang merusak profesimu. Dan tentang William Wijaya jika dia sungguh menyukaimu, dia tidak akan membuatmu menanggung kesulitan sendirian. Artinya, dia tidak akan melakukan sesuatu yang merusak citramu."
***
Memarkirkan mobilnya, Angel keluar dengan pikiran yang diliputi rasa bersalah. Semua yang dikatakan Avy tidak sepenuhnya benar ataupun salah. Benar jika malam itu William tidak melakukan apapun terhadapnya, terkait dengan gosip ia menjual diri juga tiba-tiba lenyap dan ia yakin bahwa William yang membantunya, William tidak akan merusak citranya. Tapi Avy salah jika menganggap bahwa dia seperti kertas putih kosong. Tidak lagi. Malam-malam yang Angel lalui sudah berubah, bersama William yang selalu membawanya melalui pengalaman berbeda. Haruskah ia menghentikan hubungannya dengan William?
Memangnya hubungan apa yang ia jalani bersama William? William hanya mengunjunginya setiap malam. Tidak lebih. Lagipula itu sesuai dengan keinginannya untuk tidak terang-terangan.
Setelah memasukkan PIN, Angel membuka pintu. Berbeda dari biasanya, William menyambutnya dengan setelan jas rapi dan sebuket bunga mawar. Senyum sumringah terpatri di wajahnya.
"Selamat datang, my little Angel," ucapnya sambil mengulurkan sebuket mawar.
Angel terpaku, pikirannya melayang entah kemana. Sedetik kemudian ia mengulas senyum kaku, tangannya terulur menerima buket mawar. "Dalam rangka apa ini semua?" tanyanya kebingungan melihat rumahnya penuh dengan lilin yang ditata sedemikian rupa serta berbagai macam bunga menghiasi setiap sudut ruangan.
William memeluk Angel erat, ia mengecup bibir Angel. "Merayakan atas kelulusanmu, tentu saja."
"Aku belum lulus, pak. Aku masih harus mempersiapkan ujian untuk kuliah."
William melepas pelukannya, berjalan menuju salah satu sudut ruangan, menyalakan musik. Lagu dari Ed Sheeran Perfect berputar menambah kesan romantis.
"Bisakah kita melupakan semua itu sekarang? Aku ingin kita menikmati momen ini," ajak William, ia membantu melepaskan ransel dari punggung Angel, meletakkannya di salah satu sofa, lalu membimbing Angel untuk mengikuti gerakannya.
Mau tak mau Angel menuruti keinginan William, meskipun menurutnya ini sedikit tidak masuk akal. "Ini masih siang, pak. Bukankah dansa seperti ini biasanya dilakukan pada malam hari?" Angel bertanya sambil tertawa ringan.
William menunduk ikut tertawa mendengar pertanyaan Angel. "Benarkah? Kalau begitu mari kita menganggap sekarang sudah malam."
"Bisakah begitu? Bahkan ketika lilin-lilin itu kalah dengan terangnya cahaya mentari?"
William masih tertawa ringan, tangannya membimbing Angel untuk terus menari hingga lagu hampir berakhir. Angel sudah tak tahan lagi, tanpa sadar perutnya mengeluarkan suara.
Angel mendongak, ekspresinya memelas. "Aku lapar, pak."
"Oh, aku hampir saja lupa, sayang. Padahal aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu." William menuntun Angel menuju ruang makan yang juga dihias dengan sangat indah. Meja penuh dengan makanan dan lilin-lilin yang tertata rapi.
"Ternyata, kau sangat berusaha, Pak William Wijaya."
William menarik salah satu kursi, mempersilahkan Angel duduk, menuangkan jus untuk Angel dan wine di gelasnya. "Sekali lagi, selamat atas kelulusanmu, sayang," ucapnya lalu menyesap winenya.
Angel tersenyum. "Terima kasih untuk semuanya, pak. Ini sangat indah," pujinya sungguh-sungguh.
***
"Kau sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah dimana?" tanya William sambil menyendok makanannya.
"Entahlah, aku masih belum yakin."
"Apa ada sesuatu yang kau sukai?"
"Membaca novel...," jawab Angel sedikit ragu. "Apakah itu termasuk?"
"Tentu saja, jika kau tidak ingin merasa terbebani selama kuliah nanti. Ambilah jurusan yang sesuai dengan kesukaanmu," ujar William menasehati. "Lagipula kau sudah memiliki pekerjaan, jadi kalau bisa kuliah tidak terlalu menyita waktumu."
"Apakah akan sangat sibuk?"
"Tentu saja, tidak hanya masuk kelas saja, kau juga harus mengerjakan tugasmu agar kau lulus mata kuliah dan tidak perlu mengulang."
"Menurut bapak, aku harus mengambil jurusan apa?"
"Apapun pilihanmu, aku akan mendukungmu. Kau tidak perlu khawatir hal lainnya."
"Bukankah tadi bapak bilang agar aku memilih jurusan yang tidak akan membuatku lelah?"
"Itu jika kau tetap menjadi model. Lagipula, jika kau tetap kuliah dan tidak menjadi model aku akan membiayaimu."
"Aku rasa itu tidak perlu, pak. Lebih baik aku kelelahan karena bekerja dan kuliah. Aku tidak ingin terlalu merepotkan bapak," tolak Angel. Saat William mengatakan akan membiayai hidupnya saat itulah Angel merasa harga dirinya jatuh, ia merasa menjadi simpanan pria kaya.
"Hmmm, kau jangan berpikir berlebihan, Angel. Aku tentu saja akan memberikan uangku pada istriku." William mengedipkan sebelah matanya menggoda Angel.
"Bapak sudah memiliki istri?" Angel terhenyak dengan pernyataan William. Jika William sudah memiliki istri, lalu untuk apa semua kedekatan ini.
"Bukankah kau istriku di masa depan?"
"Bapak tidak perlu bercanda seperti itu denganku, pak. Aku sudah dewasa, sebaiknya kita bicara saja terus terang," elak Angel. Saat ini perasaannya campur aduk. Ia tidak mencintai pria ini, atau mungkin belum. Dan sebelum itu terjadi, dia harus memastikan keseriusan laki-laki ini. Dia tidak ingin terjebak pada situasi yang akan membuatnya merasakan sakit hati.
"Apakah kau berpikir bahwa selama ini aku hanya bermain-main denganmu, Angel?" tanya William tak percaya. Karena meskipun dia baru saja mendekati Angel, tapi semua hal yang ia lakukan benar-benar tulus. Dia tak menyangka jika Angel hanya menganggapnya sekedar gurauan saja.
"Bapak tidak pernah mengatakan mencintaiku...."
***