Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Nasi Goreng dan Bos yang Kena Mental
Aroma gurih bawang putih dan kecap manis menyeruak dari dalam dapur petak rumah kos sempit itu. Di depan kompor dua tungku yang salah satu knopnya sudah diganjal kertas, Kenji berdiri santai sambil mengayunkan wajan usang. Penampilannya masih sama:
kaos oblong pudar yang agak bolong di bagian bahu dan celana pendek kain.
Siapa yang bakal percaya kalau tangan yang sekarang lagi lincah megang sudit kayu ini, baru saja meledakkan belasan server utama organisasi kriminal terbesar dunia kurang dari beberapa jam yang lalu?
"Kak Ken... baunya enak banget!"
Suara ceria itu datang dari Hana. Adiknya yang beberapa hari lalu terbaring pucat di rumah sakit gara-gara stres dijebak Megacorp, pagi ini sudah kelihatan jauh lebih segar dengan seragam kampus rapi. Dia duduk di meja makan kayu lipat sambil menopang dagu, matanya berbinar menatap sepiring nasi goreng telur buatan kakaknya.
"Habisin. Jangan ada yang sisa. Anak kuliahan gak boleh lemes di kampus," kata Kenji sambil meletakkan piring itu di depan Hana, lalu dia sendiri duduk di lantai, bersandar pada tembok kos yang catnya mulai mengelupas.
Hana langsung menyuap nasi goreng itu dengan lahap. Di sela-sela kunyahannya, dia meraih remot dan menyalakan televisi tabung 14 inci di sudut ruangan. Begitu layar berkedip, sebuah tayangan Breaking News langsung muncul dengan visual yang bikin Hana tersedak.
...Melaporkan langsung dari markas besar Megacorp Jakarta. Pagi ini, kondisi perusahaan raksasa tersebut mengalami kelumpuhan total setelah seluruh aset digital dan dokumen rahasia mereka bocor ke publik semalam. Tak hanya itu, Manajer Utama Adrian baru saja digelandang oleh tim Bareskrim Polri atas dugaan pencucian uang global dan manipulasi data siber...
Di layar kaca, Adrian yang biasanya selalu pakai jas mahal dan dikawal bodyguard, sekarang cuma bisa nunduk dalam-dalam dengan rompi oranye dan tangan diborgol besi. Mukanya yang semalam sombong pas mengancam Hana, sekarang mendadak keriput dan basah air mata.
"Kak! Lihat itu, Kak! Megacorp hancur! Si Adrian ditangkap!" teriak Hana heboh sampai hampir lompat dari kursinya. Matanya berkaca-kaca, ada rasa lega yang luar biasa besar di dadanya.
"Keadilan ternyata masih ada ya, Kak? Tuhan baik banget langsung ngebalas perbuatan mereka!"
Kenji cuma melirik sekilas ke arah TV, lalu kembali menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin dengan ekspresi super datar.
"Iya, hukum tabur tuai itu nyata," jawab Kenji pelan, senyum sinisnya tersembunyi di balik cangkir kopi.
Tuhan emang baik, Han. Tapi semalam, Tuhan minjem sepuluh jari kakakmu buat ngirim kiamat digital ke mereka, batin Kenji santai.
Setelah memastikan Hana berangkat ke kampus dengan aman naik angkot, Kenji mengambil jaket hitamnya yang agak bau matahari. Petualangan semalam di Menara Narendra sudah selesai, sekarang saatnya kembali ke dunia nyata: jadi Kenji si montir loak sandal jepit.
Begitu melangkah masuk ke toko servis komputer "Darwin Jaya", suasana toko langsung mendadak sunyi. Koh Darwin, yang biasanya jam segini sudah berdiri di depan pintu sambil pakai kaos kutang dan maki-maki karena Kenji telat, malam ini—maksudnya pagi ini—malah duduk kaku di kursinya dengan muka pucat pasi.
Di atas meja kaca toko, sebuah laptop usang milik pelanggan menyala, menampilkan grafik sisa-sisa
"gempa siber" yang melanda jaringan Jakarta semalam. Sebagai mantan teknisi jadul, Koh Darwin tahu betul kalau pusat ledakan data semalam berasal dari wilayah sekitar sini. Dan yang bikin jantungnya mau copot, ada satu IP Address lokal terenkripsi tingkat tinggi yang sempat nembus server pusat Megacorp... dan IP itu berasal dari modem rahasia yang terpasang di meja kerja Kenji.
Deg!
Melihat Kenji masuk sambil menenteng sandal jepitnya yang putus sebelah, lutut Koh Darwin langsung lemas seketika. Rokok murah di jarinya jatuh tanpa dia sadari.
"Ken... Kenji..." suara Koh Darwin bergetar hebat, nadanya gak ada lagi galak-galaknya, malah kedengaran kayak orang mau nangis.
"Kenapa, Koh? Laptop pelanggan yang kemarin belum saya sentuh ya? Sini saya kerjain," kata Kenji santai, melangkah menuju meja kerjanya yang berdebu tanpa dosa.
"Enggak! Jangan! Eh... maksud saya, gak usah repot-repot, Bos Kenji!" Koh Darwin langsung lompat dari kursinya, setengah berlari mendekati Kenji dengan posisi tubuh yang agak membungkuk, mirip pelayan di depan raja.
"Mulai hari ini, kamu gak usah megang obeng lagi! Tugas kamu cuma duduk, ngopi, atau tidur juga gak apa-apa!"
Kenji menaikkan satu alisnya. "Gaji saya dipotong lagi?"
"Potong dengkul saya, Bos! Gaji kamu saya naikkan sepuluh kali lipat! Mulai bulan ini dua puluh juta! Kurang? Nanti saya tambah lagi, asal jangan hancurin toko kecil saya ini, Bos!" ratap Koh Darwin dengan muka memelas, tangannya sudah gemetaran mau menjabat tangan Kenji tapi gak berani.
Kenji cuma mengembuskan napas pendek, lalu duduk di kursi plastiknya yang reyot. Dia tahu, identitasnya pelan-pelan mulai tercium. Tapi melihat Koh Darwin yang tadinya hobi maki-maki sekarang malah sujud syukur di depan mejanya, ada rasa kepuasan tersendiri yang bikin Kenji geleng-geleng kepala.
Tepat saat Kenji mau menyalakan komputer tabungnya, sebuah bayangan tinggi besar mendadak berdiri di depan pintu toko, menghalangi cahaya matahari pagi.
Pria itu pakai setelan jas hitam rapi, kacamata hitam, dan punya aura militer yang sangat pekat. Genta—utusan dari Narendra Group. Di tangannya, ada sebuah koper titanium hitam dengan kode kunci digital yang rumit.
Genta melangkah masuk, mengabaikan Koh Darwin yang makin gemetaran di pojokan, lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat tepat di depan meja loak Kenji.
"Tuan Zeus... Narendra Group mengonfirmasi ancaman baru. 'Pluto' telah mendeteksi pergerakan Anda semalam, dan satelit nasional kita sekarang berada dalam bahaya besar."
Kenji tidak terkejut. Dia perlahan berhenti mengetik, matanya yang kuyu mendadak berubah menjadi sedingin es. Pertempuran kecil di Jakarta baru saja usai, tapi genderang perang melawan sang pengkhianat masa lalu baru saja resmi dimulai.