Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: MADU DI BALI, RACUN DI JAKARTA
Seminggu setelah konferensi pers, nama Clarissa udah tenggelem. Netizen balik arah, #TeamNyonyaPratama masih trending, akun-akun penyebar video pada minta maaf sambil nangis. Mas Arga beneran tepati janji. Semua bersih. Tapi Mas Arga bilang, "Ini baru babak pertama, Sayang. Musuh sejati biasanya diem di belakang."
"Sayang, packing," kata Mas Arga pagi-pagi sambil nyodorin koper Rimowa gede warna silver. Dia udah rapi pake kemeja linen putih, celana pendek, kacamata hitam. Kayak oppa-oppa drakor yang nyasar.
"Ke mana, Mas?" Aku masih di kasur, meluk guling. Badan masih pegel-pegel abis "perang" semalem. Dia nagih jatah "Sayang" 8x sehari sekarang. Katanya balas dendam karena telat 5 tahun nggak ngerasain punya istri.
"Bali." Dia senyum, nyopot kacamata. Matanya fokus ke bibirku yang kering. "Bulan madu. Telat seminggu. Lo mau protes?"
Mata gue langsung melek. "BALI?! BENERAN?! Aku belum pernah naik pesawat, Mas! Apalagi nginep di hotel bintang 5!"
"Ya udah, sekarang naik jet pribadi." Dia ngedip. "Punya Mas sendiri. Nggak usah desek-desekan sama turis. Kita langsung dari hanggar pribadi."
ANJIR. SULTAN BENERAN.
---
12 siang, kita udah landing di Ngurah Rai. Tapi nggak keluar lewat pintu biasa. Langsung dijemput Alphard hitam dari parkiran pribadi, dibawa ke villa di Uluwatu. Villa-nya? GILA. Punya pantai pribadi, infinity pool ngadep laut, kamar mandi outdoor, ranjang gede pake kelambu, sama... pelayan pribadi stand by 24 jam.
"Mas, ini villa apa istana?" Aku muter-muter kayak anak ilang. Nginjek lantai marmer dingin, liat patung-patung mahal.
"Rumah kedua kita," katanya santai sambil lepas kacamata, naruh di meja. "Mas beli 3 tahun lalu, pas lagi marah sama dunia. Tapi nggak pernah dipake. Hampa. Kayak kuburan. Sekarang ada lo, baru berasa rumah. Berasa ada nyawanya."
Gue langsung lari, nyemplung ke pelukannya. Wangi parfum kayunya langsung nyerang hidung. "Mas Arga! Aku cinta mati sama Mas!"
Dia nangkap gue, ketawa. Badannya keras, anget. "Baru bilang sekarang? Telat. Bunga-nya udah 5 tahun nggak disiram." Terus bisik di kuping, "Yang keenam."
---
Hari pertama bulan madu \= rebahan + makan + "perang" ronde kedua. Siang makan lobster, malem makan sate lilit, tengah malem "makan" Mas Arga. Hari kedua \= snorkeling di Nusa Penida. Gue nggak bisa renang, jadi Mas Arga gendong gue terus di air. Hari ketiga \= sunset dinner di tebing Rock Bar. Mas Arga ternyata romantis kalo mau. Dia suapin gue steak, ngelap bibir gue pake jempol, nyanyi lagu Sheila On 7 fals banget tapi gue tetep meleleh. "Sephia... telingamu merah..."
Malam ketiga, kita duduk di pinggir infinity pool, kaki celup air, nenggak kelapa muda langsung dari batoknya. Langit penuh bintang, suara ombak doang yang kedengeran. Romantisnya kebangetan.
"Mas," aku senderan di bahunya. Bahunya keras, tapi nyaman. "Makasih ya. Buat semuanya. Dulu aku cuma anak kos utangan 500 juta, tiap hari makan mie. Sekarang... aku di Bali, sama suami konglomerat, pake lingerie 10 juta, minum kelapa 200 ribu."
Dia ngelus rambutku yang masih basah abis keramas. "Harusnya Mas yang makasih. Lo ngajarin Mas ketawa lagi. Ngajarin Mas... jadi manusia lagi. 5 tahun Mas kayak robot. Kerja, tidur, kerja. Nggak ada tujuan." Dia diem sebentar, ngeliatin bulan. "Siska, Mas mau ngomong serius."
Jantung gue deg. Takut. "Apa, Mas? Mas mau cerai? Mas bosen sama aku?"
"Ngaco." Dia jitak jidatku pelan, tapi gemes. "Mas mau... punya anak. Sama lo. Lo mau nggak?"
Kelapa muda gue hampir jatuh ke kolam. "A-anak? S-sekarang? Aku masih 21, Mas! Aku masih mau main! Aku masih mau ke timezone sama Mas!"
Mas Arga ketawa ngakak. Kepalanya dongak. "Iya, iya, bercanda. Mas tunggu lo siap. 5 tahun juga Mas tunggu. Mas udah biasa nunggu." Dia genggam tangan gue, nyium buku-bukunya satu-satu. "Yang penting... Mas nggak mau lo ngerasa sendirian lagi. Mas mau keluarga. Beneran. Sama lo. Mau bangun tidur ada lo di sebelah, mau punya anak yang matanya kayak lo, bawelnya kayak lo."
Gue nangis lagi. Cengeng banget sejak nikah sama dia. "Mas... aku juga mau. Sumpah mau. Tapi... nanti ya? Kasih aku 2 tahun buat nikmatin jadi Nyonya Pratama dulu. Jalan-jalan, makan enak, 'perang' tiap malem sama Mas tanpa gangguan..."
"Deal." Dia nyium keningku, lama. "Yang ketujuh. Pinter nawar."
---
Tapi namanya hidup, nggak ada tenang lama-lama. Iblis nggak suka liat orang bahagia.
Jam 11 malem, pas kita udah di kamar, lampu udah dimatiin, AC 16 derajat, gue udah pake lingerie baru warna merah, Mas Arga udah lepas baju, tinggal boxer... mau "perang" ronde ketiga... HP Mas Arga bunyi. Dari Elang. Nada dering khusus. Darurat.
Mas Arga angkat, pake loudspeaker. Mukanya langsung serius. "Ngomong."
"Tuan, gawat!" suara Elang panik, ngos-ngosan. "Saham Pratama Group anjlok 20% dalam 2 jam! Ada yang goreng saham! Isu-nya... Nyonya Pratama hamil di luar nikah sebelum nikah sama Tuan! Terus... ada foto USG palsu nyebar di forum saham! Investor panik, Tuan!"
Gue langsung duduk. Dingin. Badan yang tadinya panas, langsung beku kayak es. Lingerie merah rasanya jadi kain kafan. "Apa? Foto USG? Hamil?"
Mas Arga mukanya udah balik mode es kutub. Es yang bisa bekuin neraka. Dia turun dari ranjang, pake jubah mandi hotel. "Siapa mainnya, Lang?"
"Belum tau pasti, Tuan. Tapi jejaknya dari Singapura. Dan... dan ada nama di belakangnya, Tuan. R... Rendra. Rendra Mahardika."
BRAK! Mas Arga nonjok dinding samping ranjang sampe buku jarinya berdarah, tembok retak dikit. "BRENGSEK! DIA BERANI!"
"Mas, Rendra siapa?" Aku pegang lengannya. Gemeteran. Takut liat Mas Arga semarah ini.
Mas Arga narik napas panjang, ngusap mukanya pake tangan berdarah. "Adik tiri gue. Anak papa dari istri kedua. Umur 32. Dia udah 5 tahun di Singapura karena Mas usir pas Alina meninggal. Dia... dia yang dulu kerja sama sama Dimas. Dia yang mau rebut perusahaan pas Mas lagi hancur. Dia yang ngasih ide ke Clarissa."
Jadi... musuh baru. Darah daging sendiri. Lebih sakit.
"Dia denger Clarissa gagal, sekarang dia maju sendiri," lanjut Mas Arga, suaranya rendah banget. "Dia mau hancurin nama lo, biar Mas jatuh. Biar reputasi Mas rusak. Biar dia ambil alih perusahaan sama semua aset. Termasuk... lo."
Gue gigit bibir sampe berdarah. "Terus... kita gimana, Mas? Balik Jakarta sekarang? Lawan dia?"
Mas Arga diem 10 detik. Otaknya pasti muter cepet. Kayak komputer 1000 core. Terus dia noleh ke gue. Senyum. Tapi senyumnya nyeremin. Senyum orang mau perang dan udah tau bakal menang.
"Nggak. Kita nggak balik." Dia jalan ke lemari, buka brankas sidik jari, ngeluarin laptop khusus warna hitam. Nggak ada merk. "Kita bulan madu terus. Biar dia pikir kita lengah. Biar dia makin jadi."
"Tapi saham, Mas? 20% itu triliunan, Mas!"
"Biarin anjlok dulu." Dia buka laptop, jarinya nari di keyboard, cepet banget. Layarnya muncul grafik merah. "Rendra mau main kotor? Oke. Mas layanin. Tapi di kandang Mas. Di ring Mas. Mas bakal beli semua saham yang dia buang. Pas harganya murah. Pake duit pribadi Mas. Terus... Mas bikin dia bangkrut sampe dia jual ginjal, jual rumah, jual nama buat beli nasi bungkus pinggir jalan."
Anjir. CEO Psikopat mode on. Level dewa.
"Terus aku, Mas?" tanyaku lirih. Suara udah mau nangis. "Aku harus ngapain? Aku takut, Mas. Namaku jelek lagi..."
Mas Arga nutup laptop, nyamperin gue, ngangkat dagu gue pake dua jari. Matanya nyala. "Lo? Lo tugasnya satu, Sayang." Dia nyium bibirku dalem, lama, nuntut, sampe gue kehabisan napas. Pas lepas, dia bisik, bibir nempel bibir: "Tetep cantik. Tetep di samping Mas. Tetep jadi ratu. Urusan perang, biar Mas yang maju. Lo tinggal duduk manis di singgasana, nonton Mas bakar semua musuh lo, satu-satu."
"Yang kedelapan," bisikku lemes. Badannya anget, tapi omongannya dingin.
Dia ketawa, idungnya ngesek idungku. "Pinter. Nah, sekarang... karena bulan madu kita diganggu..." Dia narik tali jubahku, terus narik tali lingerie-ku, "Kita lanjut 'perang' aja. Biar Rendra di Singapura sana stroke denger desahannya Nyonya Pratama dari sadapan. Kalo dia berani sadap."
"MAS! GILAK! MASIH MIKIRIN ITU?!" Aku jambak bantal, lempar ke mukanya. Tapi dia nangkap, terus naik ke ranjang lagi, ngurung gue.
Dan malam itu, di villa Uluwatu, di antara suara ombak sama suara keyboard Mas Arga, ada dua perang. Perang saham di Jakarta yang Mas Arga kontrol dari laptop, sama perang cinta di Bali yang Mas Arga kontrol di atas ranjang. Dan gue tau, Mas Arga bakal menangin dua-duanya.
Karena ratu nggak pernah kalah. Apalagi kalo rajanya udah murka. Dan rajanya... lagi horny.