"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Mahendra tidak membiarkan keheningan itu bertahan lama.
Dengan gerakan tegas, ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat rahasia ke arah pintu utama.
"Masuk!" titah Mahendra singkat namun sarat akan titah yang tak boleh dibantah.
Detik itu juga, Kepala Tim IT kepercayaan Mahendra melangkah masuk bersama dua orang pengawal berbadan tegap.
Di tangan mereka, sebuah laptop khusus berspesifikasi tinggi sudah menyala, terhubung langsung dengan sistem proyeksi layar televisi layar lebar berukuran 85 inci yang tertanam di dinding ruang tamu mewah tersebut.
"Putar rekamannya. Biarkan tikus-tikus ini melihat dengan mata kepala mereka sendiri," perintah Mahendra dingin.
"Baik, Tuan Besar," sahut sang ketua IT patuh.
Bzzzt—
Layar televisi besar itu seketika menyala, menampilkan video mentah tanpa editan yang diambil langsung dari ponsel Mahendra semalam.
Di dalam video beresolusi tinggi tersebut, tampak jelas suasana kamar penthouse mewah di Bandung, lengkap dengan pantulan wajah Mahendra yang sedang memegang kamera di tepi ranjang.
Di sana, Luna memang sedang menari amatir dengan gaun tidur hingga tipisnya. Namun, tidak ada pria lain di ruangan itu.
Di dalam rekaman asli yang belum dimanipulasi tersebut, terdengar jelas suara bariton Mahendra yang penuh gairah memprovokasi istrinya, disusul tawa renyah Luna yang manja, dan diakhiri dengan momen di mana Mahendra meletakkan kamera lalu menarik Luna ke dalam pelukan intimnya yang sangat posesif sebagai suami sah.
Emma, Mila, dan Fauzan seketika mematung laksana batu. Wajah Mila yang semula pucat kini benar-benar kehilangan seluruh darahnya.
Video yang mereka kira sebagai rekaman perselingkuhan murahan Luna dengan pria lain, ternyata adalah dokumentasi keintiman pribadi antara Mahendra dan istrinya sendiri!
Mahendra melangkah maju, berdiri tepat di tengah ruangan dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Tatapan matanya yang tajam laksana elang menguliti wajah ketiga orang di depannya satu per satu.
"Dia menari di hadapanku, dan aku adalah suami sahnya. Apa ada yang aneh, Emma? Mila? Fauzan?!" tanya Mahendra dengan nada suara yang berangsur-angsur naik, bergemuruh memenuhi seisi langit-langit rumah mewah itu.
Ke ketiganya bungkam, tidak berani bernapas, apalagi menatap balik sepasang netra sang Titan Bisnis.
"ADA YANG SALAH?!" bentak Mahendra menggelegar, menghantam ego dan meruntuhkan seluruh keberanian Emma dan Mila hingga kaki mereka bergetar hebat.
"Kalian merancang skenario menjijikkan ini, menjebak istriku dengan obat sialan itu di dalam mobilku, dengan harapan dia akan mempermalukan dirinya di Bandung!" Mahendra menunjuk wajah Mila dengan jari telunjuknya yang kokoh.
"Tapi kalian terlalu bodoh untuk menyadari bahwa obat itu justru membuatku kehilangan kendali dan hampir merenggut nyawaku karena serangan jantung! Dan sekarang, kalian ingin menggunakan video kemesraan kami berdua untuk menuntut perceraian?!"
Aura kematian seolah melingkupi ruang tamu mewah kediaman Dirgantara.
Mahendra berdiri tegak laksana hakim tertinggi yang siap menjatuhkan vonis tanpa ampun.
Napasnya berembus teratur namun berat, memancarkan dominasi mutlak yang siap meruntuhkan siapa saja yang berani menantangnya.
Dengan tatapan sedingin es, Mahendra menatap Emma, Mila, dan Fauzan bergantian.
"Mulai detik ini, lepaskan semua fasilitas kemewahan yang kalian pakai. Keluar dari rumah ini sekarang juga tanpa membawa uang sepeser pun!" titah Mahendra dengan suara bariton yang berat dan tak terbantahkan.
Fauzan yang masih memegangi pipinya yang memar akibat tamparan sang ayah seketika panik.
Ia menyadari bahwa ia akan kehilangan segala kenyamanan hidup yang selama ini menopang egonya.
"Papa, aku tidak ikut apa-apa! Aku bersumpah, Pa!" ucap Fauzan dengan suara gemetar, mencoba membela diri dan cuci tangan dari konspirasi menjijikkan yang dirancang oleh istri dan tantenya.
"Aku tidak tahu soal obat perangsang itu, Pa!"
Mahendra tidak memedulikan rengekan putranya. Pandangannya beralih menatap Emma, adik perempuannya yang selama ini selalu ia manjakan namun justru memelihara dengki di dalam selimut.
"Dan kamu, Emma, kembalilah ke keluarga suamimu, dan lupakan aku sebagai kakakmu. Hubungan darah kita terputus sampai di sini," ucap Mahendra dingin, memotong habis segala keterikatan keluarga yang tersisa.
Emma seketika lemas. Air mata penyesalan yang terlambat mulai merembes membasahi pipinya yang kencang karena operasi plastik.
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merangkak mendekati kaki tegap kakaknya.
"Tidak, Mas Mahendra... tidak! Aku mohon maafkan aku... aku khilaf! Maafkan aku, Kak!" ratap Emma, memohon belas kasihan sang Titan Bisnis yang kini telah menutup rapat pintu maafnya.
Melihat Emma dicoret dari silsilah keluarga, Mila tahu posisinya jauh lebih terancam.
Dengan panik, ia mencengkeram lengan kemeja Fauzan, menggoyang-goyangkannya dengan histeris untuk meminta pembelaan dari sang suami.
"Fauzan! Bicaralah sesuatu! Bela aku di hadapan Papa! Kita tidak bisa diusir seperti ini!" jerit Mila dengan mata membelalak panik.
Kemudian ia beralih menatap Mahendra dengan pandangan memelas.
"Papa, aku mohon jangan usir aku, Pa. Tolong ampuni aku..."
Mahendra menyunggingkan seringai miring yang begitu dingin dan penuh penghinaan.
Ia menatap Fauzan dengan tajam, memberikan sebuah ultimatum pamungkas yang akan menguji sisa-sisa harga diri putranya tersebut.
"Fauzan, aku berikan kamu satu kesempatan terakhir untuk menentukan nasibmu," ucap Mahendra, suaranya terdengar lambat namun menekan kuat.
"Pilih salah satu. Papamu atau istrimu?"
Ruangan itu seketika hening. Mila menatap Fauzan dengan binar penuh harapan, berharap ikatan pernikahan mereka—meski didasari keterpaksaan—bisa membuat Fauzan memilihnya. Namun, Fauzan adalah pria egois yang tidak akan pernah sudi hidup melarat di jalanan.
Bagi Fauzan, kehilangan harta Dirgantara jauh lebih menakutkan daripada kehilangan seorang istri.
Tanpa keraguan sedikit pun, Fauzan melepaskan cengkeraman tangan Mila dari lengannya, lalu mundur selangkah.
"Aku pilih Papa," ucap Fauzan tegas, membuang Mila demi menyelamatkan posisinya sendiri sebagai pewaris kekayaan Dirgantara Holdings.
Mila tertegun, dunianya seolah runtuh seketika mendengar jawaban instan dari suaminya sendiri.
Rasa syok, kecewa, dan amarah yang meledak-ledak berbaur menjadi satu di dalam dadanya.
Mila merasa dikhianati setelah semua rencana yang ia susun bersama Emma demi mendepak Luna.
PLAAKK!!
Dengan sisa tenaga dan rasa frustrasi yang mendalam, Mila melayangkan tamparan keras tepat ke wajah Fauzan.
"Pria pengecut! Kamu tidak lebih dari sekadar benalu yang berlindung di balik ketiak papamu!" teriak Mila histeris, napasnya memburu dengan air mata kemarahan yang terus mengalir, sementara Mahendra hanya menyaksikan drama kehancuran para tikus di rumahnya dengan tatapan penuh kepuasan yang dingin.
Atas isyarat mata dari Mahendra, para pengawal berbadan tegap langsung bergerak maju tanpa membuang waktu.
Dengan tindakan yang tegas dan tanpa kompromi, anak buah Mahendra mengusir Emma dan Mila keluar dari kediaman mewah Dirgantara.
Jeritan histeris Mila yang terus memaki Fauzan serta tangisan penyesalan Emma yang meratapi hilangnya status sosialnya perlahan-lahan menjauh, hingga akhirnya pintu jati ganda rumah itu tertutup rapat, mengembalikan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.
Di ruang tamu yang luas itu, kini hanya tersisa Mahendra dan Fauzan.
Sang Titan Bisnis membalikkan tubuh tegapnya, menatap lurus ke arah putranya yang masih berdiri mematung sambil memegangi pipinya yang memar akibat tamparan Mila.
"Papa harap setelah kejadian ini kamu bisa benar-benar berubah dan belajar menghargai Mamamu yang sekarang—Nyonya rumah ini!" tegas Mahendra, memberikan penekanan yang mendalam pada setiap kata-katanya. Suara baritonnya tidak lagi membentak, namun getaran otoritasnya justru terasa jauh lebih mengintimidasi.
"Jangan pernah ada lagi kelakuan tidak sopan atau pemberontakan di belakangku, Fauzan."
Fauzan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menelan paksa semua ego lelakinya yang telah runtuh tak bersisa.
"Baik, Pa. Aku mengerti," ucap Fauzan sembari menganggukkan kepalanya dengan patuh, tidak berani membantah sepatah kata pun demi mengamankan posisinya di rumah ini.
Sementara itu, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer dari ketegangan rumah utama, suasana justru terlihat jauh lebih tenang dan profesional.
Di dalam ruang rapat bernuansa modern yang sejuk, Luna sedang fokus menjalani meeting pentingnya bersama Pak Dika, mitra bisnis kepercayaannya.
Berkas-berkas laporan dan draf kerja sama tampak rapi tergelar di atas meja kaca.
Di tengah-tengah pembahasan materi, tablet milik Pak Dika mendadak bergetar, menampilkan sebuah notifikasi prioritas tinggi.
Pria paruh baya itu membaca pesan yang masuk sejenak, sebelum akhirnya mendongak dengan senyuman lebar yang penuh binar antusiasme.
"Luna, baru saja ada email masuk dari pihak penyelenggara utama," ujar Pak Dika, memotong pembicaraan mereka sebelumnya. "Dan besok malam, kita diundang untuk menghadiri acara besar."
Luna yang sedang mencatat poin-poin penting langsung menghentikan gerakan penanya. Ia menatap Pak Dika dengan kening yang sedikit berkerut heran.
"Di mana, Pak?" tanya Luna penasaran.
"Di perusahaan suamimu, Dirgantara Holdings," jawab Pak Dika mantap.
"Kita diundang langsung ke gedung pusat. Besok adalah agenda krusial di mana kita akan menandatangani kontrak besar yang sudah kita persiapkan berbulan-bulan ini bersama tim mereka."
Mendengar nama perusahaan suaminya disebut, jantung Luna berdesir halus. Namun, kalimat Pak Dika selanjutnya justru membuat kedua alisnya semakin terangkat tinggi.
"Tapi ada yang unik dari konsep acara besok malam, Luna. Pihak penyelenggara menerapkan aturan yang sangat ketat untuk seluruh tamu undangan VIP. Dresscode yang wajib dikenakan adalah gaun malam berwarna hitam pekat, dan semua hadirin diharuskan memakai topeng mewah untuk pesta dansa bertopeng," lanjut Pak Dika menjelaskan detail surel tersebut.
Luna menganggukkan kepalanya dengan patuh, mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya di depan rekan bisnisnya itu.
"Baik, Pak. Saya akan menyiapkan gaun hitam dan topengnya untuk besok malam," sahut Luna profesional.
Namun di dalam lubuk hatinya, Luna didera rasa bingung yang amat sangat.
Sepanjang ingatan dan obrolan intim mereka di Bandung hingga di dalam mobil tadi pagi, Mahendra sama sekali tidak ada membocorkan atau menyebut-nyebut soal pesta dansa bertopeng skala besar ini kepadanya.
Luna benar-benar tidak tahu apa rencana tersembunyi yang sedang dirancang oleh suaminya di balik kemegahan acara topeng tersebut.
Tepat pukul lima sore, Rolls-Royce Phantom hitam milik Mahendra sudah terparkir dengan gagah di lobi gedung kantor Luna.
Pria paruh baya itu benar-benar menepati janji setianya.
Begitu Luna melangkah keluar dan masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, aroma parfum maskulin yang familier langsung menyambutnya, membawa rasa aman yang seketika meluruhkan seluruh rasa lelah setelah seharian bekerja.
Mobil mewah itu kembali melaju membelah jalanan Jakarta.
Luna menoleh ke samping, menatap suaminya yang mengemudi dengan satu tangan kekar sementara tangan lainnya bergerak santai menggenggam jemarinya.
Luna menggigit bibir bawahnya, bersiap memancing sang suami mengenai surel misterius dari Pak Dika tadi siang.
"Mas... oh, maksudku, kenapa acara besok pakai rahasia segala, Tuan Mahendra? Aku jadi penasaran tahu," ucap Luna dengan nada manja sekaligus menyelidik, mengerucutkan bibirnya yang ranum ke arah sang suami.
Mahendra tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu tetap bersikap tenang, mengemudikan kendaraan dengan kestabilan yang luar biasa.
Ia hanya menoleh sekilas, memamerkan pesona karismatik matangnya yang selalu sukses membuat jantung Luna berdebar, lalu seulas senyuman misterius terbit di sudut bibir tegasnya.
"Ikuti saja alurnya, Sayang," sahut Mahendra
"Kamu tidak perlu pusing memikirkan konsep acaranya. Cukup persiapkan gaun hitam terbaikmu, karena sebuah kejutan besar sudah menantimu di sana."
Luna merengut gemas mendengar jawaban yang begitu minim informasi tersebut, namun di dalam hati, getaran antisipasi mulai meletup-letup.
"Lalu, bagaimana urusan di rumah utama, Mas?" tanya Luna lagi, mengalihkan topik pada kekhawatiran utamanya sejak pagi tadi.
"Ular-ular itu, apa mereka membuat masalah lagi?"
Mahendra mengulas senyum hangat yang menenangkan, mengusap punggung tangan Luna dengan ibu jarinya.
"Semuanya sudah selesai, Nyonya Mahendra. Kondisi rumah utama sekarang sudah bersih, tenang, dan sangat aman untukmu pulang. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun lagi," jawab Mahendra dengan nada santai.
Sang Titan Bisnis sengaja memilih untuk menyimpan rapat-rapat detail drama pengusiran Emma dan Mila secara tragis serta tamparan maut yang ia berikan pada Fauzan tadi siang.
Mahendra sama sekali tidak ingin istri kecilnya didera stres atau beban pikiran yang tidak perlu, terutama menjelang malam perayaan besar di mana Luna akan menjadi bintang utamanya di hadapan seluruh jajaran Dirgantara Holdings esok malam.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi