Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat yang Hangat
Malam semakin larut merayap, membawa embusan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di kompleks perumahan elite tempat kediaman Arsen berdiri mewah, suasana sunyi justru terasa jauh lebih mencekam.
Rumah megah berarsitektur modern itu tampak sepi, hanya diisi oleh beberapa pelayan yang bergerak tanpa suara dan petugas keamanan yang berjaga di gerbang depan.
Di dalam kamar tidurnya yang luas bernuansa abu-abu gelap, Axel duduk di tepi ranjang. Ia telah dipulangkan oleh sopir pribadi ayahnya sejak sore tadi, dan sejak saat itu pula, tidak ada satu pun orang yang menanyakan keadaannya. Kamar ini terasa seperti penjara berlapis emas baginya. Sunyi, dingin, dan asing.
Mengingat tatapan kecewa para guru dan sikap abai ayahnya yang hanya mengirimkan asisten untuk membayar uang ganti rugi, dada Axel terasa bergemuruh oleh emosi yang tertahan.
Ia benci tempat ini.
Ia benci keheningan yang menuntutnya untuk selalu menjadi anak yang sempurna tanpa cela.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan terencana, Axel meraih jaket hitamnya. Ia membuka pintu balkon kamarnya yang berada di lantai dua, memperhatikan situasi sekitar yang sepi.
Bagi anak seusianya yang cerdas dan tangkas, keluar dari rumah mewah ini tanpa terdeteksi oleh para penjaga bukanlah hal yang mustahil.
Ia memanjat pembatas besi, memanfaatkan dahan pohon besar di dekat balkon, dan turun dengan ringannya ke tanah. Axel melangkah cepat, menyelinap lewat pintu belakang taman, dan melarikan diri dari rumah yang menyesakkan itu menuju kegelapan malam jalanan kota.
...----------------...
Sementara itu, di sudut belahan kota yang lain, area kontrakan kecil milik Alana tampak bersiap untuk beristirahat.
Kedai ayam gepreknya terpaksa harus tutup lebih awal dari jadwal biasanya karena stok potongan daging ayam di dalam lemari es telah habis terjual tak tersisa.
Alana baru saja selesai mengelap meja panjang, merapikan kursi-kursi kayu, dan mencuci seluruh peralatan dapur yang berminyak di bawah kucuran air wastafel.
Ketika ia baru saja hendak mematikan lampu area depan, tiba-tiba saja suara bel kecil yang tergantung di atas pintu depan kedainya berbunyi nyaring.
Ting.
Alana seketika mengernyitkan keningnya heran. "Padahal plang depannya udah gue balik jadi tutup deh dari setengah jam yang lalu," gumamnya pelan dengan dahi berkerut.
Namun, begitu melangkah keluar dari area dapur untuk memeriksa siapa tamu yang datang kurang kerjaan malam-malam begini, kalimat teguran yang sudah berada di ujung lidahnya langsung terhenti seketika.
Sepasang matanya mengerjap polos, membulat sempurna mendapati sesosok figur yang kini berdiri diam di depan meja etalasenya yang kosong.
Anak laki-laki berwajah dingin dengan seragam sekolah yang kini tertutup jaket hitam yang sedikit kusut.
"Lho?" Alana membeo dengan ekspresi bingung yang sangat kentara, sementara Axel hanya berdiri mematung sambil menatap papan menu kayu yang sengaja sudah diturunkan oleh Alana. "Kamu lagi? Kok... bisa ada di sini?"
Anak laki-laki itu tidak segera menjawab, ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat pelan sebagai respons penanda kehadiran.
Alana secara refleks langsung menengok ke arah jam dinding usang yang tergantung di dekat mesin kasir manualnya. Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas malam.
"Kok jam segini kamu bisa keluyuran sendirian lagi sih, Bocah? Rumah kamu di mana sebenarnya?" tanya Alana dengan nada suara yang kini mulai dipenuhi oleh rasa cemas yang nyata.
Axel memilih untuk tetap diam.
"Kamu ini memang hobi banget ya bikin orang dewasa di sekitar kamu senam jantung karena khawatir? Kemarin malam juga begini, sekarang diulangin lagi," omel Alana panjang lebar sambil berjalan mendekatinya.
Tetap tidak ada jawaban.
Alana akhirnya mengusap wajahnya pasrah dengan kedua tangan, mengembuskan napas kekalahan.
Anak di depannya ini benar-benar memiliki kombinasi sifat yang sangat ajaib; keras kepala dan luar biasa irit bicara.
Entah kenapa, ketegaran sikapnya ini mendadak mengingatkan Alana pada dosen killer-nya di kampus, Pak Arsen.
Mereka berdua sama-sama memiliki kemampuan luar biasa untuk memancing tingkat emosi orang lain dalam hitungan detik tanpa perlu mengeluarkan banyak kata.
"Kamu... udah makan belum?" tanya Alana akhirnya, mencoba menurunkan intonasi suaranya menjadi lebih lembut dan keibuan.
Axel terdiam sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala perlahan. "Belum."
"Nah, loh!" Alana langsung berkicau kembali sambil berkacak pinggang di depan meja etalase, memandangnya dengan tatapan tidak habis pikir. "Terus ngapain dari tadi malah berdiri kaku kayak patung di depan kedai orang yang udah tutup? Kalau pingsan di jalan gimana?"
Anak itu tampak terdiam sebentar, seolah-olah tengah menyusun kalimat yang logis di dalam kepalanya yang kecil, sebelum akhirnya menjawab dengan raut wajah yang sangat polos namun bermata jernih. "Saya lapar, Kak. Dan saya cuma tahu jalan ke tempat ini."
Alana hampir saja menyemburkan tawanya mendengar kejujuran yang terlampau datar dan polos itu.
Rasa kesalnya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. "Ya ampun," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. "Kalau lapar ya tinggal bilang dari tadi pas masuk, jangan malah ngeliatin papan menu yang udah kosong. Sini, masuk dulu."
Beberapa menit kemudian, Axel sudah duduk dengan tenang di atas kursi kayu sudut pojok kedai—posisi yang sama persis seperti saat mereka pertama kali dipertemukan oleh takdir malam kemarin.
Sementara itu, Alana tampak sibuk kembali di balik kompor dapurnya. Ia menyalakan pemantik gas, memanaskan sisa minyak, dan mulai menggoreng seporsi sisa potongan daging ayam geprek terakhir.
Potongan ayam itu sebenarnya sengaja ia sisakan di mangkuk khusus untuk menu makan malamnya sendiri setelah lelah seharian kuliah dan bekerja.
Namun, melihat anak kecil di depannya kelaparan, Alana rela memberikan porsi makan malamnya.
Saat piring anyaman bambu yang dilapisi kertas minyak berisi nasi putih hangat kepul-kepul dan ayam geprek beraroma gurih itu diletakkan di depan Axel, anak itu tidak langsung menyambar sendoknya.
Ia justru menatap piring tersebut dalam diam untuk waktu yang cukup lama, seolah-olah sedang memikirkan sebuah teka-teki kehidupan yang teramat rumit di dalam benaknya.
"Kenapa? Takut kepedesan ya liat ulekan cabainya? Tenang, itu cuma kakak kasih cabai dua kok, nggak bakal bikin lidah kamu terbakar," tanya Alana santai seraya menarik kursi kayu lain untuk duduk di hadapan anak laki-laki itu, menemani proses makannya.
Axel perlahan mengangkat kepalanya, memutuskan kontak mata dengan piring makanan, lalu mengarahkan sepasang netra hitamnya untuk menatap lurus ke arah sepasang mata bulat milik Alana. Tatapannya begitu dalam, menembus pertahanan Alana.
Dan untuk pertama kalinya sejak rangkaian pertemuan tak terduga mereka terjadi di kedai ini, anak laki-laki itu mengajukan pertanyaan personal lebih dulu.
"Kak."
"Hm? Kenapa? Kurang minumnya?"
"Kenapa Kakak selalu bersikap baik sama saya?" tanya Axel dengan nada suara yang terlampau serius, berat, dan dingin untuk anak seusianya.
Alana terdiam sesaat di tempatnya duduk. Ia sedikit terkejut dengan kedalaman pertanyaan mendadak itu dari seorang anak kecil, sebelum akhirnya ia menyunggingkan sebuah tawa kecil yang renyah untuk mencairkan suasana. "Ya karena kamu itu masih anak kecil. Masa kalau ada anak kecil kelaparan malam-malam begini di depan kedai kakak, malah tega kakak usir atau cuekin. Lagian, berbuat baik kan nggak perlu nunggu alasan."
"Bukan itu," sanggah Axel cepat sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak jawaban klise Alana.
Tatapan matanya yang menghujam lurus ke arah Alana kini memancarkan sebuah kedewasaan yang asing dan menyakitkan untuk dilihat.
"Di dunia saya... tidak ada satu pun orang yang mau bersikap baik tanpa adanya alasan tertentu atau ekspektasi yang mereka inginkan dari saya."
Untaian kalimat dingin yang meluncur mulus dari bibir kecil Axel seketika membuat senyuman ramah di wajah Alana perlahan memudar hingga lenyap tak berbekas.
Kata-kata itu terdengar begitu pahit, begitu penuh akan luka penolakan yang mendalam.
Untuk sepersekian detik, Alana mendadak merasa seolah dirinya tidak sedang berbicara dengan seorang anak sekolah dasar yang polos, melainkan dengan sesosok jiwa muda yang telah lama kenyang akan dinginnya diabaikan dan dituntut oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.
Ada rasa sesak, ngilu, dan tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dalam lubuk hati Alana. Jiwa mudanya berbisik miris; seorang anak sekecil ini seharusnya memikirkan mainan, pelajaran sekolah, atau hobi yang menyenangkan, bukan memiliki beban pikiran secacat dan sedingin itu tentang ketulusan manusia. Sama sekali tidak seharusnya.
Alana mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menepuk pelan bahu Axel dengan kehangatan yang tulus. "Kakak nggak tahu dunia kayak apa yang kamu maksud. Tapi di kedai geprek kecil ini, aturan itu nggak berlaku. Kalau kamu lapar, kamu datang, kakak kasih makan, dan kamu kenyang. Itu aja, nggak ada alasan lain. Sekarang, habisin makanannya sebelum dingin."
Axel menatap jemari Alana di bahunya, merasakan kehangatan fisik yang sudah lama tidak ia rasakan dari sosok keluarga.
Perlahan, ketegangan di bahu anak itu mengendur, dan ia mulai menyuap nasi hangat itu ke dalam mulutnya dengan tenang.
Dan tanpa pernah disadari oleh keduanya dalam keheningan malam di kedai kecil itu, untaian benang takdir telah resmi terikat, bersiap untuk mengguncang dan mengubah jalannya roda kehidupan mereka semua.
Termasuk kehidupan seorang Arsen Laurent Wijaya, yang saat ini di ruang kerjanya yang mewah sama sekali belum menyadari bahwa putra sulung yang selalu ia anggap sebagai sumber masalah, diam-diam mulai menemukan tempat berlindung yang hangat di dekat mahasiswi paling berisik yang paling ingin ia hindari di area kampus.